
Memilih untuk bekerja sebagai karyawan biasa. Itulah keputusan yang diambil Kimi saat ini. Dia tidak akan bergantung kepada Paman dan Bibinya. Pengasuhnya, bisa dikatakan begitu.
Dia sedang sangat gugup saat menunggu giliran untuk di interview. Bahkan tangannya sudah dingin sejak menginjakkan kaki di sini.
Saatnya dirinya masuk.
~
Murung. Itulah wajah yang di tampakkan Kimi ketika sampai di rumah.
"Kamu kenapa Kim? Nggak di Terima kerja? Kan bibi sudah bilang. Tinggal jalanin saja anak perusahaan milik keluarga kita. Kenapa kamu ngeyel mau kerja di perusahaan lain?"
"Bi Re" memeluk Bibinya.
"Aku, diterima kerja tau. Orang aku pintar dan berprestasi gini kok"
"Huh! Dasar anak drama!" cibir nya dengan menjauhkan tubuh Kimi.
Kimi hanya tercengir saja dan masuk ke dalam dapur. Matanya langsung berbinar ketika mendapati banyak sekali makanan yang tersaji di meja itu.
Menarik kursi,
Duduk,
Ambil piring,
__ADS_1
Ayam masuk ke dalam piring,
Makan,
"Kenapa Bibi masak sebanyak ini? Apa ada tamu yang datang?" suaranya tidak jelas karena mengunyah.
"Sengaja, agar kamu semangat ketika pulang dari kantor baru kamu. Bibi kira kamu nggak akan lolos. Jadi, biar kamu nggak sedih, bibi buatin makanan"
"Doanya selalu jelek. Ck, nggak pernah bener" gumamnya dengan terus mengunyah.
"Disini sepi, tapi kenapa saya rasa berisik sekali ya" sindir Bibinya.
Kimi acuh saja, dia hanya melirik sebentar ke bibinya dan meneruskan mengunyah makanannya.
"Oh ya Bi." menelan makanan
"Bibi akan melakukan yang terbaik untuk kamu Kim. Bibi akan mendukung apapun keputusanmu" memberi jeda sebentar
"Tapi bagaimana dengan tempat kerja yang sekarang akan kamu geluti?"
"Hm, aku akan mengumpulkan uang dari situ dulu Bi. Setelah mendapat uang yang sekiranya pas. Nanti aku akan buka toko"
"Emang kamu mau buka toko apa? Toko roti seperti milik Jey dulu?"
"Mungkin iya. Tapi entahlah. Menurut Bibi bagaimana seharusnya. Maksudnya, buka toko apa? Yang lagi tren gitu loh Bi. Biar rame"
__ADS_1
"Kalau jaman sekarang, kebanyakan buka tempat buat nongkrong anak muda."
"Jadi Bi Re saranin, kamu buka... Ah iya buka kedai Coffe"
"Nanti siapa yang akan buat kopinya. Aku nggak bisa loh. Apa Bibi bisa?"
"Nggak bisa sih."
Kimi terlihat mencibir Bibinya. Dia berfikir keras tentang usahanya.
Brak!
Jantung Bi Re seakan-akan melompat keluar dari tubuhnya. Gebrakan meja tadi membuat buah yang sudah di temannya hendak keluar kembali.
"Aku tau Bi. Bagaimana kalau jualan Burger dan Kebab saja. Nanti buka warung kecil-kecilan di pinggir jalan raya."
"Kalau mau ngomong jangan pakai nggebrak meja segala!"
Kimi tercengir saja menatap ke arah bibinya yang sedang meminum air.
"Kenapa kamu nggak buka toko yang besar? Kenapa harus kecil-kecilan? Atau buat kafe saja kan? Mungkin malah tambah laris. Nanti emage kamu turun loh kalau jualan dipinggir jalan. Kesannya kamu kayak bangkrut"
"Kalau mau buat kafe. Kafenya mau di dirikan dimana? Emang Bibi punya lahan yang masih kosong gitu? Seingatku, semua tanahnya sudah di jadikan vila kan?"
"Beli, gitu aja kok repot. Nanti biar pamanmu yang mencarikan lokasi yang strategis."
__ADS_1
"Ah, ini sangat membantu sekali." berjalan mendekat ke arah Bibinya. Langsung memeluknya dan mencium pipinya.
"Terimakasih Bi." mwah. mencium kembali.