Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Dihadang


__ADS_3

Kota Semarang sudah di hiasi akan langit yang mendung. Matahari seakan tak mau menampakkan dirinya untuk menyinari kota Semarang. Terlihat Kimi yang masih meringkuk di bawah selimut yang menutupi tubuhnya. Dan Kama yang sedang duduk di karpet bawah kasur Kimi. Kama sedang bermain game di hpnya. Terlihat raut wajahnya yang tegang sekali saat melihat hpnya


"Nah kan kalah lo haha" Kama berteriak sambil tertawa. Membuat Kimi langsung keluar dari dunia fantasinya dan kembali ke dunia asli.


"Kama! Ngapain lo disini ha!" Kimi duduk dan dan menatap punggung Kama yang berjoget seperti mendapatkan lotre.


"Akhirnya bangun juga lo ya" Kama menghampiri Kimi yang masih memasang wajah kusut nya. Kama duduk di samping Kimi dan membenarkan rambut Kimi.


"Apaan sih lo!" ketus Kimi sambil menyentak tangan Kama dari rambutnya.


"Gue kan mau kasih perhatian sama lo" Kama memegang kembali rambut Kimi dan merapikannya lagi. Kimi diam saja.


"Udah ah cukup! Sana lo ke kamar lo sendiri!" seru Kimi dengan mendorong tubuh Kama tanpa menjauhkan tangan Kama dari rambutnya.


"Iya ah" Kama melepaskan tangannya dari rambut Kimi dan berlalu keluar dari kamar Kimi.


"Jam berapa ini?" Kimi melihat keluar, gelap. Kimi berfikir ini masih jam 5 pagi. Kimi menjatuhkan diri lagi ke atas kasur dan terlelap.


Sudah 1 jam lamanya Kimi meringkuk di bawah selimut yang hangat. Hingga sang mama sudah berdiri di hadapannya dengan berkacak pinggang.


Mama Kimi duduk di pinggir tempat tidur. Dia mulai menepuk pelan pipi anaknya. Kimi menggeliat tapi tidak bangun. Bahkan Kimi hanya berpindah posisi tidurnya.


"Kimi! Bangun!" seru Mama Kimi di telinga Kimi. Kimi langsung terlonjak bangun karena kaget dengan alarm dadakan.


"Kenapa sih ma? Masih pagi juga" bibir Kimi manyun dengan jari-jarinya mengucek mata agar tidak buram.


"Masih pagi gimana! Lihat dong jam berapa ini! Baru juga masuk sekolah baru! Kenapa kamu nggak bangun lebih pagi! Kamu mau bolos!" seru Mama nya.


"Siang gimana? Lihat dong ma jendelanya aja masih redup gitu kok!" sewot Kimi dan hendak mengambrukkan diri lagi. Namun tangannya sudah ditarik Mama nya untuk bangun.


"Ini mendung! Sudah sana mandi! Udah jam 7 lebih ini!" seru Mama Kimi sambil mengambil selimut dari tubuh Kimi.


"Dingin banget ma" Kimi pura-pura menggigil kedinginan agar selimutnya kembali ke dekapannya.


"Nggak usah lebay! Sudah sana mandi!" Mama Kimi membawa selimut keluar dari kamar Kimi dan hendak dicuci.

__ADS_1


Kimi masih


menguap saja dari tadi. Dengan malas Kimi berjalan ke kamar mandi dan memutar shower ke kiri agar hangat airnya.


Kimi memakai sepatu sekolahnya dengan asal, tidak tapi dan berantakan.


"Hai jam lihat nih gara-gara lo gue terlambat ke sekolah!" seru Kimi dengan menatap tajam ke atas mengarsh ke jam berada. Dengan tangan yang masih sibuk memasukkan kaki ke dalam sepatu Kimi tak henti-hentinya memaki benda mati itu.


"Hei kenapa lo daritadi cuma tik tik tik tik aja! Jawab dong!" seru Kimi yang sudah menghentakkan sepatunya ke tanah agar masuk semua kakinya ke dalam sepatu.


"Dasar jam oon!" gerutu Kimi dan berlalu ke luar dari kamar.


"Ngegrutu kok sama jam" ledek Kama.


"Sejak kapan lo disini ha?"


"Sejak awal lo mandi sampe rutinitas memaki jam yang lo buat" ledek nya lagi.


"Dasar lo ya!" Kimi memukuli lengan tangan Kama.


"Kimi nggak usah ribut terus! Ayo makan!" teriak Mamanya dari dapur.


Mereka makan dengan tenang. Kecuali Kimi tentunya karena dia sudah sangat terlambat. Bahkan sejak pertama kali suapan Kimi selalu melihat ke arah jarum jam berada. Tidak terlihat nenek Kimi dan Rian disana. Masih tidur mungkin?


"Kalau makan fokus Kimi. Jangan meleng kalau makan nanti kesedak lho. Makanya lain kali kalau bangun lebih awal!"


"Sudahlah ma! Sudah terlanjur juga kan" ucap Kimi dengan mulut yang penuh dengan nasi.


"Telan dulu makanannya baru ngomong. Nih minum" Kama memberikan air putih ke Kimi. Kimi langsung menelan makanannya dan meminum air putih dari Kama.


"Ma, Pa, Om, Tante aku berangkat dulu ya. Ayo Kam buruan" Kimi langsung menarik tangan kiri Kama sedangkan tangan kanan Kama hendak menyuapkan nasinya ke mulutnya.


"Eh, " dengan serentak Mama papa dan om tantenya berbicara seperti itu saat Kama hendak kesandung pembatas antara ruang tengah dan ruang makan


"Kimi, " serentak pula mereka menggelengkan kepalanya dan berkata seperti itu.

__ADS_1


"Heran deh gue, kayaknya kalau mereka di masukkan grup paduan suara, juara satu deh kayaknya" Kimi berucap sambil menarik kembali tangan Kama.


"Duh bensinnya kayaknya habis deh Kim" Kama melihat tangki bensinnya yang memang tinggal 5 tetes saja.


"Apa! Kok bisa sih!" Kimi ikut menengok ke arah tangki bensin motor Kama.


"Yah, terus gimana dong" Kimi menekuk wajahnya. Mendung ini seperti perasaan Kimi sekarang. Tidak secerah biasanya. Kama memikirkan caranya. Taksi melintas


"Nah ada taksi tuh" Kama menunjuk ke arah taksi dan memberhentikan nya. Kimi masuk ke dalam.


"Eh ngapain lo ikut-ikutan gue!" seru Kimi karena mendapati Kama yang ikut-ikutan masuk ke dalam taksi tersebut.


"Gue mau nganterin lo sampe tujuan. Jalan pak" titah Kama. Taksi melaju meninggalkan kawasan rumah Kimi menuju sekolah barunya.


"Sampe mas" ucap sopir taksi tadi. Kama mengeluarkan uangnya dan menyerahkan ke sopirnya. Kama dan Kimi keluar dari taksi dan berjalan ke arah depan gerbang sekolah.


"Yah Kam, gue nggak bawa duit. Gue pinjam ya" Kimi menggelayuti tangan Kama


"Cih, sok manis. Ada maunya aja. Nih" Kama mengeluarkan uang dari saku celananya dan menyerahkan kepada Kimi. Saking senangnya Kimi langsung menerima uang dari Kama dan hendak mengecup pipi Kama. Namun diurungkannya karena ini kawasan sekolah, takut-takut guru melihat dan iri wkwk.


"Kok nggk jadi?"


"Nggak ah malu. Udah ah gue salim aja" Kimi menarik tangan kanan Kama dan mengecupnya.


"Hahaha kayak bapak dan anak aja" tawa Kama.


"Iya lo bapaknya!" Kimi melepaskan tangannya dari Kama dan masuk hendak masuk ke dalam sekolah.


"Gue masuk dulu" Kimi berbalik dan melangkah masuk ke dalam sekolah.


"Eh tunggu Kim" Kimi berbalik lagi karena Kama memegang tangannya. Kama mengecup gantian tangan Kimi.


"Biar nggak jadi Bapak-bapak yang anterin anaknya" Kama menatap wajah Kimi yang tersenyum tipis.


"Hahaha. Udah ah sana balik malu tau!" Kama meninggalkan Kimi dan mencari taksi untuk dinaikinya. Sedangkan Kimi menggelengkan kepalanya saja heran dengan tingkah Kama yang satu ini.

__ADS_1


"Dasar Kama" Hari yang mendung ini kembali cerah seperti halnya dengan hati Kimi. Kimi mulai menapaki lantai menuju kelasnya. Namun dia dihadang oleh segerombolan siswa laki-laki.


Bersambung...


__ADS_2