Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Brian


__ADS_3

Operasi yang dijalankan Mama tidak berhasil dan aku menjadi yatim piatu, hanya ada Bibi dan Paman saja yang menemaniku. Kama dan keluarganya sudah kembali ke Jakarta. Mereka tidak bisa datang ke pemakaman Mama karena ada hal yang tidak bisa ditinggalkan.


|--------------------


Hampa, itulah yang saat ini sedang melanda Kimi. Kimi berdiri di ruang tamu, menatap foto lengkap semua anggota keluarganya.


Berjalan mendekat menyentuh foto berbingkai itu. Tangannya bergetar menyentuh foto itu. Menunduk dan menangis lagi.


Tangannya berayun ke bawah. Kakinya bergerak mundur. Berbalik badan, Beralih ke ruang keluarga, dia memegang foto yang berada di tak jauh dari jangkauannya. Dia memegang, terduduk di atas sofa sambil menangis menatap wajah neneknya.


Drttt


Suara ponsel Kimi berbunyi.


"Hallo"


"Hai Kim, lo apa kabar? Sudah lama nggak ketemu ya. Apa lo tau, ternyata di Jepang enak sekali lho. Ada juga restoran halal. Dan lo tau nggak sekarang gue lagi apa? Gue lagi ke, apa itu namanya, yang mirip salon itu lho. Ah pokoknya itu lah. Enak banget tau Kim. Maaf Kim ini udah hampir selesai aku tutup dulu ya. Oh iya ucapkan salamku ke mama kamu ya Kim bay"


Kimi menangis mendengar itu semua, nasib Jey memang beruntung sekali. Dulu dia merasa kalau dia manusia dengan kehidupan paling beruntung di dunia ini. Tapi sekarang berbanding berbalik dengan apa yang dipikirkannya dulu.


Lihatlah sekarang, rumah itu sunyi. Tidak ada neneknya. Mamanya, papanya. Dia teringat kenangan saat dimarahi mamanya. Dongeng neneknya. Baiknya papanya.


Dengan wajah datar Kimi mulai menapaki anak tangga menuju ke kamarnya.


Krekk


Membuka pintu kamar orang tuanya. Dia melihat kamar yang tertata rapi. Ruangan ini sangat wangi. Bersih tak ada debu sedikitpun.


Duduk di pinggiran ranjang, mengusap kasur yang dingin, badannya mulai tertidur di atasnya. Bulir mata jatuh kembali di sudut matanya. Sampai suara Bi Re yang menggema tidak didengarnya sama sekali. Dia hanya fokus dengan jam di depannya. Memperhatikan jarum jam yang bergerak setiap detiknya.


"Kimi, kamu dima-na" Bi Re menemukan Kimi di kamar itu dengan mata terpejam. Berjalan pelan mendekatinya. Duduk dan Mengusap kepala Kimi dengan lembut.


"Kasihan sekali kamu nak, kamu masih beruntung walaupun kamu ditinggalkan orang tua kamu dan, kamu masih punya paman dan bibimu ini. Dan anak bibi, Brian. Semoga kamu tidak pernah merasa sendiri ya" Ucapnya dalam hati.


Bi Re menghapus bulir matanya yang menetes. Beranjak berdiri dan menutup pintu kamar itu.


Lama Kimi tertidur disana. Dia terbangun ketika perutnya terasa perih. Mengingat kembali kenapa dirinya berada di kamar ini.


Dan kerutan di dahinya pun pudar ketika mengingatnya.


"Aku pasti akan merindukan kalian Ma, Pa" Ucapnya ketika menutup pintu.


Berjalan menuruni anak tangga. Dia melihat bibinya sedang memasak didapur. Menghampirinya dan mengagetkannya.

__ADS_1


"Astaga Kimi" Terjengit kaget Bi Re sambil memegangi dadanya.


Kimi hanya tercengir saja dan mengambil minuman di kulkas. Menuangkannya di gelas dan meminumnya.


"Ah leganya. Bi aku lapar. Bibi lagi buat apa?"


"Opor ayam"


"Cuma opor ayam?"


"Iya, kamu mau apa emangnya?"


"Aku pingin makan bakso bi"


"Beli sana, Brian udah berada di rumah tuh. Kamu ajak saja dia ya" Ucapnya tanpa menoleh ke arah Kimi.


"Brian udah datang? Kenapa nggak kesini Bi?"


"Tidur mungkin. Coba aja kamu kesana"


Kimi pun menutup kulkasnya dan berjalan menuju rumah bibinya


"Syukurlah, semoga kamu bisa melupakan kesedihanmu Kim" Batin Bi Re ketika menatap punggung Kimi yang menjauh.


Ketika sampai di depan pintu kamar Brian. Dia mendengar Brian sedang berbicara dengan seseorang. Telinga Kimi menempel di pintu itu. Mencoba mendengar suaranya dengan jelas. Seketika dia menutup mulutnya, saat mendengar suara wanita.


Brak.


Pintu terbuka lebar. Dia melihat ada wanita duduk berdekatan dengan Brian.


"Astaga, " Berjalan mendekat ke arah Brian dengan wanita itu.


Duduk di tengah-tengah mereka. Dan melirik ke kanan dan kekiri dengan wajah yang mengukir senyum. Bagaimana dia tidak berhenti tersenyum, melihat dua wajah yang sangat gugup di kanan dan kirinya.


"Ternyata adik sepupuku laku juga ya" Gemasnya sambil mencubit pipi Brian.


"Dan untuk kau adik manis. Siapa namamu? Berapa umurmu? Siapa orang tuamu? Tinggl dimana kamu? Dan, "


"Duh Kim. Kenapa banyak banget yang ditanyakan!"


"Kalian ngapain aja dikamar hayoo. Ha? Apa kalian, "


"Jangan aneh-aneh! Mendingan lo keluar deh Kim, ganggu aja"

__ADS_1


"Astaga, apa aku akan mendapatkan baby lucu dari kalian?" Tanyanya dengan tampang kaget.


"Apa?! Jangan ngawur!"


"Ayo Sa keluar dari sini. Ada kuntilanak tak diundang disini" Tangan Brian menarik tangan wanita itu dan mengajaknya keluar dari kamar ini.


"Nggak nyangka banget. Ternyata Brian sudah bisa pacaran. Dan gadis itu, pemalu sekali."


"Ah iya sampe lupa. Baksonya" Berdiri dengan kasar dan berlari menyusul Brian.


Sampai di depan rumah. Dia melihat Brian dan... wanita itu, Brian sedang memakaikan helm di kepalanya.


"Ah so sweet" Memegang pipinya saat berada di tengah-tengah mereka.


"Duhh apa lagi ini?" Gumam Brian geram.


"Oh. Aku mau titip beliin bakso aci oke. Ini uangnya dan ya lo harus beli ini secepat mungkin. "


"Nyusahin aja lo Kim"


"Lo nggak kasihan sama gue?"


"Adik manis, saya nggak ngrepotin kan? Saya mau titip ke kamu saja. Anggap saja ini restuku untuk kalian."


Wanita itu mengangguk kaku dan menerima uangnya.


"Oh ya siapa namamu?"


"Sabrina, emm."


"Kakak. Panggil aku kakak"


"Baiklah kak"


"Cih, kakak. Panggil aja tante" Sahut Brian yang membuat mata Kimi memicing kesal ke arahnya.


"Ya udah sana. Beli ya, jangan lupa" Sabrina dan Brian menaiki motornya. Melambaikan tangannya ke arah Kimi dan membalasnya.


"Bibi taukah kau. Brian membawa seorang wanita ke dalam rumah kalian" ucapnya ketika sampai di dalam rumah dan duduk di atas kursi meja makan.


"Benarkah?"


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2