
Di dalam mobil. Maya dan Kama sama-sama membisu. Tidak bersuara sama sekali. Hening tercipta, hanya ada suara mobil yang didengar. Kama hanya menatap ke arah luar mobil.
"Ngapa lo diam aja dari tadi? Lagi PMS? Atau Masih masalah HP lo lagi?" tanya Maya sambil menatap kilas ke arah Kama dan kembali menatap lurus ke jalanan.
"Emang gue perempuan pake PMS segala!" ketus Kama tanpa menoleh ke akan Maya.
"Terus? Kenapa lo diam aja dari tadi?"
"Ya suka-suka gue lah" Maya hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Ngajak bocil kayak gini banget resikonya" lirih Maya.
"Hallo orang dewasa! Gue kayak gini juga umur gue hampir 20 tahun lho!" Kama menoleh ke arah Maya dengan tampang kesalnya. Maya hanya tersenyum sinis saja.
Sampai di rumah. Maya menurunkan Kama di depan rumahnya. Brak! Kama menutup pintu mobil Maya dengan keras.
"Hee bocil! Ingat nih mobil harganya triliun-an!" seru Maya dari dalam mobil. Kama kembali ke mobil Maya, dia membuka pintunya dengan pelan dan menutupnya dengan hati-hati pula.
"Udah? Puas lo sekarang!" ucap Kama menunduk memperhatikan wajah Maya dari luar jendela mobil. Kama meninggalkan Maya tanpa mendengar jawaban darinya.
"Bocil makasih ya!" seru Maya. Tidak ada jawaban dari Kama. Dia langsung menlajukan mobilnya ke rumahnya.
"Darimana kamu Kama?" tanya Mamanya saat melihat Kama masuk.
"Dari mall ma" jawab Kama dan masuk ke dalam kamarnya. Dia berbaring menghilangkan lelah. Membuka ponselnya menatap wallpaper dirinya dan juga Kimi.
Membuka aplikasi untuk mengechat Kimi. Dia tersenyum melihat balasan dari Kimi. Mereka bertukar pesan melakukan panggilan suara
video dan berakhir.
"Ya udah Kam, gue mau makan dulu" pamit Kimi
"Oke" jawabnya senang. Dia merasa jiwa Kimi kembali ke asalnya. Bukan seperti yang kemarin, yang hanya mengatakan iya oke dan jawaban singkat lainnya. Sekarang Kimi menceritakan hal-hal yang tidak penting menurutnya.
"Gue juga sembelit tau Kam! Lo tau nggak rasanya? Sangat sakit sekali!"
Kama mengingat kata itu. Dia tertawa kecil dan berdiri masuk ke kamar mandi. Kama ceria sekali sampai dia mandi sambil bernyanyi.
Seusai mandi. Kama memakai piyamanya dan turun untuk makan. Tumben Kama sudah pakai piyama aja malam ini. Mama Kama memperhatikan wajah anaknya dari meja makan.
"Malam ma, malam pa" Kama memeluk orang tuanya dan mengecup pipi mereka bergantian.
__ADS_1
"Tumben sekali kamu mau makan disini dan juga, kenapa kamu pakai piyama? Padahal belum malam banget kan?" hardik mamanya.
"Mama ku tersayang, aku mau langsung tidur setelah ini. Karena apa? Karena kan kita mau ke Semarang besok. Apa mama lupa" Kama memasang wajah cemberut.
"*Kama, gimana kalau kita ke rumah Kimi? Mumpung weekend kan?"
"Apa benar ma*?"
"Benarkah?" Kama menganggukan kepalanya.
"Ah iya mama lupa. Baiklah sekarang kita semua harus tidur awal agar bangun awal juga" imbuhnya.
Mereka mulai memasuki kamarnya. Kama sudah tidur memeluk guling guna menambah kenyamanan tidurnya. Sampai suara dering ponselnya yang membuat mata kantuk nya seketika menyipit dan meraba letak ponselnya berada.
"Hallo" ucap Kama dengan nada serak.
"Lo kesini sekarang cil"
"Gue ngantuk bay!" Kama langsung menutup telponnya dengan sepihak. Dia membuang hpnya ke sembarang arah. Namun tetap saja bunyi ponsel itu selalu mengganggu nya. Dengan terpaksa bangun dia mengambil hpnya. Dan meletakkannya di lipatan baju lemari. Sungguh aneh kalau Kama bangun tidur. Kenapa tidak di nonaktifkan kan?
Dia langsung ambruk tengkurap dan berusaha tidur. Kama membolak balikkan tubuhnya mencari kenyamanan yang sudah didapatkannya tadi.
"Sekarang gue nggak bisa tidur! Ah!" seru Kama sambil meremas kepalanya.
Dor dor dor
Kama mengetuk pintunya dengan keras. Bukan ketukan mungkin? Itu sebuah pukulan ke arah pintu.
"Hei tante oon! Lo tau nggak gue udah tidur nyenyak! Lo malah nelpon gue! Kenapa ha! Lo mau apa ganggu gue malam-malam gini! Nggak ada sopan santunnya tau nggak!" Maya hanya mengendikkan bahu kilas dan menarik tangan Kama untuk masuk.
"Jangan pegang-pegang!" Kama menyentak tangan Maya yang menuntunnya masuk ke dalam rumah. Kama duduk di sofa ruang tamu. Tentunya dengan manta yang tak lepas dari wajah Maya.
"Ayo ikut gue" Maya menarik tangan Kama kembali. Kali ini Kama tidak berusaha menolak. Namun wajahnya tetaplah kusut seperti tadi.
Ngapain dia ngajak gue masuk ke kamarnya? Apa dia mau melecehkan gue?
Kama langsung melepaskan tangan Maya dari pergelangan tangannya. Maya menoleh ke arah tangan dan beralih ke wajah Kama.
"Heyy tante! Jangan kira gue sebodoh itu sampai lo mah ngelecehin gue" ucap Kama.
"Dasar bocil! Kalau ngomong di saring dulu kenapa? Apa tampang gue yang sholehah ini perlu diragukan?" ucap Maya sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk. Kama menatap ke arah Maya dengan menautkan alisnya. Dia berjalan mengitari tubuh Maya.
__ADS_1
"Kayaknya nggak sih" Maya langsung saja menarik tangan Kama untuk mengikutinya.
"Lo! Duduk disini! Jangan sentuh barang mewah gue! Dan jangan banyak gerak. Satu kali gerak hukuman mati!" Ucapnya sambil menuding Kama. Kama menaikkan salah satu alisnya. Dia merasa heran dengan tingkah wanita satu ini.
Maya berjalan ke arah lemari. Dia membokar semua yang berada di lemari. Maya mengambil jas dan juga kemeja dari dalam sana.
"Nih pake" Maya menaruh kemeja dan juga jasnya ke dada Kama.
Kama hanya menurut saja. Daripada dia harus berlama-lama terkurung disini dan juga mengganggu tidurnya. Loh? Kenapa dia nggak menolak.
"Nggak! Gue mau balik" Kama berdiri meletakkan pakaian itu kepada Maya dan berlalu pergi dari sana.
"Apaan balik-balik! Nggak! Lo harus pakai baju ini! Kalau nggak, gue akan selalu ganggu tidur lo" ancam Maya sambil melipat tangannya di atas perut.
Kama hanya menghembuskan nafas putus asa. Dia menyahut dengan kasar pakaian itu dari tangan Maya dan berlalu pergi ke dalam kamar mandi.
"He bocil! Kenapa lama? Apa lo BAB juga? Apa lo sembelit sampai lama banget didalam sana" ucap Maya sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Heyy lo nggak bunuh diri di dalam sana kan?" sekarang suara kerisauan yang terdengar dari mulut Maya.
Kama keluar dari sana, membuka pintu dan membuat tubuh Maya terjatuh ke lantai. Kenapa nggak terjatuh di atas tubuh Kama? Karena Kama sempat menghindar.
"Lo mau modus kan? Ah, sudah ketebak akal-akalan lo!" Kama keluar dari dalam kamar mandi dengan senyuman mengejek yang terbesit di wajahnya.
Maya berdiri dari posisinya. Dia hendak memarahi Kama namun saat melihat penampilan Kama niatnya menjadi terurungkan. Kerutan kesal di wajahnya memudar.
"Ah, karena lo bocil. Gue nggak akan marahi lo" ucap Maya sambil menepuk dada Kama pelan.
Maya mengambil ponselnya. Dia mengarahkan ke arah Kama.
"Kam! Senyum dong! Dan gaya lo itu lho! Norak banget!" ketus Maya.
Kama tersenyum dan berpose layaknya model baju.
Cekrek cekrek cekrek
Banyak hasil gambar yang dihasilkan Maya. Dia merasa puas dengan hasilnya. Tapi dia mengerutkan keningnya karena ada satu foto yang menunjukkan pose Kama seperti anak monyet.
"Kenapa? Ah pasti lo tersanjung dengan hasil gaya gue kan?"
"Lihat nih lo lagi ngapain hahaha" Maya tertawa terbahak-bahak ketika melihat satu foto itu. Kama mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan tingkah manusia satu ini? Apa dia gila? batinnya
__ADS_1
Kama mendekat ke arah Maya. Dia memperhatikan ponsel Maya yang menunjukkan aib dirinya. Seketika dia langsung melotot melihatnya.
Bersambung...