Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Andai


__ADS_3

Hari hari telah berlalu, banyak sekali kenangan yang sudah Kama dan Kimi buat. Dari cerita nenek Kimi. Menjahili Brian. Jalan keluar. Dan lain sebagainya. Sekaranglah saatnya sekolah dimulai. Besok? sangat cepat sekali.


"Hati-hati Kim" Kama melambaikan tangannya saat mobil Kimi pergi melesat menjauhi kawasan rumahnya. Kimi membalas lambaian tangan Kama dari jendela mobil sambil tersenyum.


Tidak ada kesedihan seperti waktu Kimi pergi meninggalkannya saat pertama kali. Kama tersenyum ditinggal Kimi. Bukan tersenyum senang karena Kimi meninggalkannya. Namun, Kama menunjukkan sifat dewasanya dengan tidak merengek ditinggal oleh Kimi.


Kimi pun tidak perlu menonaktifkan ponselnya lagi untuk menghindari telepon yang beruntun dari Kama. Dia melihat ponselnya, tersenyum sebentar dan memasukkannya ke dalam tas.


.


.


.


Gue sangat bahagia sekali liburan sekolah kali ini. Gue jadi lebih mengerti bagaimana rasanya rindu dan ketemu. Sangat menyenangkan. Mungkin dulu gue berfikir tidak akan meninggalkan Kama walau hanya beberapa meter saja. Tapi sekarang gue meninggalkannya dengan waktu yang cukup lama.


"Kimi ayo sini. Makan siangnya sudah siap" Kimi terkesip dengan lamunannya. Dia menjawab panggilan Mamanya. Berdiri dan pergi meninggalkan jendela kamarnya.


Kama.


Rindu gue terbalaskan dengan hadirnya Kimi disamping gue. Rasanya waktu berjalan bergitu cepat. Kimi sudah pergi meninggalkan gue sendiri disini.


"Woy Kam ayo pulang" Kama terkesip. Dia gelagapan menyembunyikan ponselnya.


Ada senyuman usil yang terbesit dari wajah Rian. Dia paham kalau Kama sedang melihat foto Kimi di ponselnya.


"Udah nggak usah disembunyiin HP lo." Rian duduk di samping Kama dan merangkulnya.


"Gue tau kok kalau lo sedang melihat foto Kimi" imbuhnya.


"Udah ah ayo balik" Kama mengambil tasnya dan berdiri. Daripada dia diledek sampai keesokan harinya kan? Mending pulang. Pikirnya.


Rian hanya tertawa geli saja. Menurutnya Kama semakin bucin setelah ditinggal Kimi pergi. Dia menggelengkan kepalanya dan berdiri mengikuti Kama.


"Kam lo mau kemana?" teriak Rian saat didalam perjalanan. Kama hanya menoleh ke arah Rian tanpa menjawab pertanyaannya


Dia berhenti di warung pinggir jalan.


"Ngapain kesini?" tanya Rian lagi.


"Kayaknya lo harus di oprasi kelamin deh! Kenapa sikap lo kayak cewek banyak omongnya dan cerewet!" seru Kama yang membuat orang yang sedang makan didalam menoleh ke arahnya.


"Sssttt suara lo melebihi banci internasional" Kama melengos saja. Dia masuk dan memesan makanan.

__ADS_1


"Sepertinya Kama lagi mbokek deh. Tumben banget dia nggak pulang malah makan makanan di pinggir jalan kayak gini" gumamnya sambil berjalan mengikuti Kama.


"Gue masih dengar ocehan emak-emak lo" ucap Kama tanpa menoleh ke arah Rian. Rian menutup mulutnya dengan tangan dan duduk di samping Kama.


Kama mengucapkan pesanannya dan mulai memakannya.


"Mau?" tawar Kama karena Rian menatapnya daritadi. Rian menganggukan kepalanya dengan antusias dia membuka mulutnya karena Kama menyodorkan sendok kepadanya.


"Beli sendiri enak aja!" Kama membelokkan sendoknya dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri. Wajah kesal Rian semakin terlihat


dia menggebrak meja pelan dan keluar dari sana. Pergi adalah pilihannya


"Rian emang mirip cewek" decak nya.


Kama memasukkan lagi dan lagi nasi yang berisi ayam dan juga sambal ke mulutnya. Dia merasa ada Kimi di sampingnya. Habis sudah piringnya tanpa meninggalkan nasi sebutir pun.


Kama masuk ke dalam rumah. Orang tuanya sedang makan


Dia diajak tapi dia menolak, sudah makan katanya. Kama masuk ke kamarnya. Dia langsung meloncat ke atas kasurnya dan menutup matanya dengan tangan kanan.


Tik tik tik


Suara jam tangan Kama yang bergerak maju dengan Kama yang sudah memasuki alam mimpinya.


Sore hari


Ada yang menyodorkan minum kepadanya. Dia menoleh ke arah botol dan melihat si pemiliknya. Tidak kenal dan tidak pernah melihatnya.


"Siapa lo?"


"Gue maya. Gue akan tinggal di samping rumah lo" dia mengulurkan tangannya ke hadapan Kama. Kama menyambutnya dan tersenyum.


"Oh ya siapa nama lo?" tanyanya dengan menyandarkan punggungnya di bangku.


"Kama" singkat Kama sambil meminum minuman nya.


"Kama? Nama yang sangat bagus" puji nya.


"Dimana sekolah lo?"


"Nanti kita bicarakan saat dirumah" Kama berdiri dan berjalan meninggalkan Maya sendiri. Ada senyum sinis yang ditunjukkan Maya saat menatap punggung Kama yang menjauh.


Dia mulai berdiri, mengambil sepedanya dan mengayuh nya. Dia tersenyum saat melewati Kama.

__ADS_1


"Mau ikut?" tanya Maya kepada Kama.


"Serius lo nawari? Kuat boncengin gue?" Maya turun dari sepeda. Dia menatap lekat ke arah Kama.


"Hallo tuan Kama yang terhormat. Saya perempuan dan anda laki-laki. Jadi saya izinkan anda untuk menaiki sepeda saya." Kama mengernyitkan dahinya.


"Saya yang membonceng. Silahkan" Maya menyuruhnya untuk menaiki sepedanya. Kama mulai duduk dan menoleh ke arah maya. Maya pun duduk di belakang Kama.


Kama mengayuhnya dengan sekuat tenaga. Dia ngos-ngosan mengayuhnya. Sudah sangat lama sekali Kama tidak bersepeda. Dia kewalahan mengayuhnya.


"Hahaha. Apa anda sudah lelah tuan?" ejeknya.


"Diamlah dan jangan banyak bicara" Kama mengatur nafasnya dengan masih mengendarai sepeda.


"Baiklah kalau begitu. Lo aja yang mbonceng gue" ucap Maya sambil turun dari bangku sepeda.


"Gue kuat tenang saja" Kama turun dari sepeda. Maya beralih posisi. Dan yang lebih menjengkelkan lagi saat Maya meninggalkan dirinya sendiri.


"Gue tau gelagat dari lo!" teriak Kama.


"Gue nggak denger" jawab Maya dengan teriak.


"Dasar cewek nyusahin!"


Kama melihat diri Kimi dari tubuh Maya. Dia tersenyum saat melihatnya. Betapa besarnya cinta Kama kepada Kimi. Hingga dia melihat siapapun menjadi diri Kimi.


Kama berlari kecil hingga sampai di rumahnya. Dia masuk ke dalam rumah dan mendapati sebuah keluarga di sana. Dan ada Maya? Kama mengerutkan keningnya. Dia tersadar dengan adanya Maya disitu.


Pasti itu keluarganya. Tapi dimana suaminya? Oh mungkin dirumah.


"Kama sini duduk kenalin ini tetangga kita. Yang akan menempati rumah Kimi nantinya" Kama duduk disamping mamanya. Dia berkenalan dengan keluarga Maya. Dan ternyata Maya sudah kuliah. Sangat mengejutkan.


"Ma aku ke dalam dulu ya. Nggak enak keringatan" Mama Kama menganggukan kepalanya.


"Saya permisi dulu tante" mama Maya mengiyakan.


Kama berjalan menuju kamarnya. Dia tidak mandi melainkan berdiri di jendela yang mengarah ke rumah Kimi. Dia melihat Kimi sedang menyapanya.


"Halusinasi! Enyahlah lo dari pikiran gue" Kama memukul kepalanya sendiri. Dia melihat kembali ke arah rumah Kimi.


"Kimi, sekarang rumah lo sudah ditempati oleh orang lain, keluarga lain. Banyak sekali kenangan kita disana. Dan keluarga lo malah menjualnya. Rasanya aneh sekali kan Kim?"


Kama menundukkan tubuhnya di pinggiran kasur. Dia matanya masih saja menatap ke arah rumah Kimi.

__ADS_1


"Andai saja lo nggak pindah Kim"


Bersambung...


__ADS_2