Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Nyaris copot jantung gue


__ADS_3

"Ya ampun Kimi! Pasti kamu bikin uti kecapekan kan! Dasar kamu ya! Udah dibilangin jangan buat nenek kamu capek! Kenapa nggak dengerin Mama ha!" teriak mamanya yang melihat Kimi duduk di atas sofa ruang tengah dengan tampang kelelahan, terdengar helaan nafas tak enak yang dikeluarkan Kimi.


"Jess janganlah kamu marahin anak kamu, tadi ibu yang ngajak dia berkeliling" ucap neneknya seperti angin surga bagi Kimi karena dapat menyelamatkan dirinya dari amukan singa di depannya, ups!


"Oh ya, tapi itu masih tetap salah Kimi ibu, dia kan seharusnya menasehati ibu biar nggak sampai kelelahan, kalau nanti ibu sakit gimana?"


"Janganlah melarang ibu untuk tidak lelah Jess, ibu masih sehat kok lihat nih" nenek Kimi berdiri dengan tegak menunjukkan bahwa dia memang baik baik saja.


'Baru pulang dimarahin, huh!'


"Aku bawain oleh oleh lho bu" bujuk Kimi


"Oh ya? Kamu bawa apa?" dengan antusias mamanya langsung duduk disamping Kimi dan memperhatikan Kimi yang sedang mencari barang yang dimaksud.


"Apa ini?"


"menurut Mama apa?"


"Martabak?"


"Iya buat Mama makan biar nggak marahin aku terus" ketus Kimi.


"Ah kalau cuma martabak Mama bisa beli didepan gerbang sana"


Nih Mama nggak enak bener dikasih makanan!!


Jerit Kimi dalam hati, dia hanya menghela nafas malas dan masuk ke kamarnya.


"Nih Alice ngirim gambar apaan?" tanyanya pada diri sendiri ketika melihat notifikasi pesan dari sahabatnya.


"Apa?!" betapa terkejutnya Kimi saat melihat Kama membocengkan Sasa saat masuk kelas.


"Dapat Kama bener bener!" Kimi meremas hpnya dan Kimi menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, Kimi melakukan itu berulang ulang agar lebih rileks dan terkontrol emosinya.


"Sabar Kimi, tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan" Kemudian Kimi masuk ke kamar mandi membersihkan badannya dan mendinginkan otaknya agar tidak haredang.


Kimi mengeluh karena handuknya tidak ada ditempatnya, kebiasaan yang selalu melekat pada diri Kimi


"Dasar handuk, nggak disana nggak disini selalu aja bikin susah" gerutunya. Kimi mengintip dari kamar mandi, melihat ada yang mencurigakan ada orang yang masuk atau tidak, Kimi celingukan dan berlari ke arah pintu dan langsung mengunci pintunya.


Kimi melihat sekitar dan melihat handuknya yang terenggok di atas kasur. Dia langsung menyambar handuknya dan melilitkan ke tubuhnya.


tok tok tok


"Siapa" teriak Kimi dari dalam


"Gue Brian"


'Loh bukannya Brian bulan depan ya kesini kok sekarang'


"Kimi gue boleh masuk nggak!" serunya karena merasa jengkel tidak dibukakan pintu.

__ADS_1


"Eh apa? Iya sebentar gue lagi ganti baju"


"Buruan!" Kimi langsung bergegas memakai bajunya.


"Ada apa?" Tanya Kimi setelah membuka pintu. Brian langsung melotot saat melihat kancing atas Kimi yang terbuka. Brian langsung masuk mengambil handuk dan menutupi dada Kimi yang terbuka.


"Ngapain sih lo!" serunya saat Brian meletakkan handuk didadanya


"Kancing lo kemana ha?"


"Oh kancing, Eh iya lupa hehe" Kimi pun berbalik badan dan mengancingkan bola bola kecil itu.


"Kok lo udah balik? Bukannya bulan depan ya lo kesini" tanya Kimi dengan berjalan sambil meletakkan handuk ke hanger.


"Gue telat masuk, daripada di kostan gue sendirian mending balik kesini kan? Ada lo juga disini kangen gue sama lo Kim"


"Ah Brian, gue juga kangen sama lo" Kimi langsung balik badan dan memeluk saudaranya itu.


"Oh ya, tapi gue yang bilang tadi kebalikannya lho" godanya yang membuat Kimi melayangkan pukulannya.


"Ahh gue benci sama lo!"


"Iya ampun-ampun gue juga kangen kok sama lo walaupun cuma di mimpi lo hahaha" Brian langsung berlari keluar dari kamar Kimi.


Kimi menatap sinis ke arah Brian yang berlari keluar dari kamarnya. Dia sampai terlupa dengan pesan Kama yang dirinya hanya membalas maaf tadi.


"Kam lo lagi apa?" ucap Kimi setelah menelpon Kama.


"Emm Kam, kok lo bisa boncengin Sasa" ucap Kimi pelan. Terdengar Kama tersedak setelah mendengar pertanyaannya.


"Ee Lo tau dari mana?"


"Nggak penting gue tau darimana kan? Gue tanya sama lo, jawab dong!"


"Begini Kim, tapi lo jangan marah ya" seakan tau apa yang dikatakan Kama akan membuat Kimi sedih, hati Kimi seolah terjun dengan bebas dengan nada berdegup kencang.


"A apa? tanyanya dengan gugup.


"Sasa tinggal di rumah gue" deg seakan ada batu yang meninju hatinya. Dia meletakkan ponselnya dengan putus asa tanpa memutus panggilannya. Kimi pergi keluar dengan hati yang teriris.


"Kim? lo masih disana? " seolah tak mendengar apa yang dikatakan Kama dari telepon Kimi pergi begitu saja tanpa sepatah katapun untuk menutup telponnya


Kimi memilih untuk menenangkan diri di taman belakang rumah neneknya sebentar. Kimi duduk di kursi gantung itu dengan wajah yang terus menunduk. Sambil mengayun kursi tersebut, seolah memberi ketenangan bagi Kimi yang sedang bersedih.


***


Brian masuk kedalam kamar Kimi dan menemukan telpon yang masih aktif dan mengeluarkan suara lo masih disana? suara itu terus dikeluarkan dari HP Kimi. Brian melihat nama Kama yang tercantum. Apa ini pacar Kimi? batinnya.


"Halo, ini siapanya Kimi ya?" Brian bersuara dengan lantang.


"Gue pacarnya Kimi, lo siapa ha! " Brian menjauhkan ponsel Kimi dari telinganya setelah mendengar teriakan yang menggelegar dari ujung sana.

__ADS_1


Pacar Kimi? Lah Kimi kemana? Apa dia berantem sampai membiarkan ponselnya begitu saja.


Brian langsung mengaktifkan mode mute,


"Kimii lo kemana! Ini telpon dari pacar lo belum dimatiin" teriak Brian, tidak terdengar jawaban dari Kimi dia pun membuka kembali modenya.


"Siapa lo hah! Dimana Kimi! " Brian langsung memutus panggilan secara sepihak, diapun pergi keluar dari kamar Kimi untuk mencarinya.


Brian melihat Kimi yang sedang duduk sendirian di taman, diapun berniat maju ke arahnya. Sampai disana Brian langsung duduk di samping Kimi yang masih menunduk sejak tadi.


"Lo kenapa?" Kimi belum menyadari adanya Brian disebelahnya, Brian menggoyangkan badan Kimi yang belum merespon ucapannya.


"Eh Brian sejak kapan lo disini?"


"Baru aja" Ponsel Kimi yang digenggam Brian berdering. Kimi dan Brian sama sama mengalihkan pandangannya ke arah ponsel itu.


"Loh itu ponsel gue kok ada di lo?" Kimi langsung merampas ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Kama nama yang tertera membuat Kimi enggan untuk mengangkat telponnya. Kimi memilih untuk mematikan panggilannya saja


"Kenapa dimatiin?"


"Nggak penting" Brian menyimpulkan bahwa Kimi sedang ada masalah dengan pacarnya.


"Itu pacar lo?"


"Bukan"


"Terus?"


"Nggak penting" Kimi langsung beranjak dari duduknya daripada mendengar pertanyaan yang dilontarkan Brian kepadanya


"Dasar Kimi, seberapa gantengnya sih pacar Kimi itu? Ah kenapa gue tadi nggak salin nomornya ya! Dasar bodoh!" Brian mengutuki kebodohan dirinya sendiri dan Brian pun beranjak masuk kedalam rumah.


"Kimi lo dimana?"


"Eh Brian ngapain cari Kimi?"


"Eh tante, ya nggak ngapa-ngapain sih hehehe"


"Kimi lagi didapur" Brian langsung melangkah menuju dapur, dia mendapari Kimi yang sedang didepan kulkas membukanya dan mengambil semua cemilan yang ada disana.


"Buset, segitu banyaknya lo bawa cemilan segitu? Kuat makannya" Kimi melirik ke arah Brian tanpa menjawabnya dia langsung menutup kulkas dengan keras sampai Brian kaget karenanya.


"Kimi kalo lagi marah serem juga ya" gumam Brian sambil mata yang terus memperhatikan gerak Kimi yang berjalan ke arah sofa ruang tengah dan memakan cemilannya dengan cepat sambil menonton TV. Brian berjalan ikut bergabung dengan Kimi.


Brian masih merasakan hawa panas disisinya. Kimi seperti sedang marah besar ni batinnya.


"Apa lo liat liat! " Kimi melotot melihat Brian yang memperhatikannya sejak tadi. Brian terjengit kaget mendapat tatapan maut dari mata dan perkataan Kimi.


Nyaris copot jantung gue


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2