
Hari-hari berlalu. Sekarang cuti sekolah, sesuai dengan janji yang diberikan uti kepada Kimi. Saat ini mereka sedang memasukkan koper mereka dibagasi mobil keluarga untuk melakukan perjalanan menuju ke Jakarta.
Jey datang ke rumah Kimi untuk perpisahan dengannya. Dengan senang hati Kimi menyambut Jey. Sejak kejadian telepon itu, Kimi dan Jey sudah akrab layaknya Kama dan Kimi. Sikap dingin yang ditunjukkan Jey kepada Kimi pun mulai pudar.
"Hati-hati Kim" Jey melambaikan tangannya ketika mobil Kimi sudah melaju menjauh dari tempat Jey berpijak. Ada raut wajah sedih dari dalam diri Jey ketika Kimi menengok dari jendela mobil dan melambaikan tangannya ke Jey.
"Semoga lo balik secepatnya Kim" kata terakhir Jey sebelum menaiki motornya dan kembali ke rumahnya.
Kimi tidak berhenti tersenyum di dalam mobil. Dia sangat senang akhirnya dia akan tinggal dirumah yang dulu pernah ditempatinya, banyak kenangan disana.
"Keponakan om seneng banget kayaknya" goda Om Refan dari belakang kemudi dan melirik dari arah spion.
"Iya dong om, sudah kangen banget sama suasana Jakarta. Nanti aku ajak om ke mall, pasar, supermarket, taman yang paling cantik dan memenangkan ya" dengan antusias Kimi mendekat dan bersandar di punggung kemudi dan menatap wajah Refan
"Kamu yang traktir ya"
"No! Nggak ada traktir-traktiran. Om harus bayar sendiri."
"Kenapa? Kan kamu yang ngajak om buat jalan-jalan"
"Tapi kan aku belum kerja, belum ada uang buat nraktir om dan semuanya. Nanti kalau aku udah kerja pasti aku akan ajak kalian naik kapal pesiar" semua tersenyum mendengar ocehan Kimi.
Kimi kembali duduk dengan benar dan memakan cemilan yang sudah dibawanya.
Malam tiba, semua tertidur pulas. Hanya Bram saja yang tidak tidur karena dia yang bergantian menyetir mobilnya.
6 jam lebih sudah berlalu sekarang bulan dan bintang sudah menghiasi langit. Keluarga Kama berdiri di depan rumah Kimi untuk menyambutnya. Mobil berhenti di jalanan depan rumah dan semua orang keluar kecuali nenek Kimi, tante dan om, dan juga papanya yang menyetir.
"Kama," teriak Kimi kemudian memeluk tubuh Kama. Begitupun dengan Mama Kimi dan juga Mama Kama yang berpelukan melepas rindu berbulan-bulan.
Papa Kama berjalan menuju mobil Kimi dan membantu mereka membawa barang ke dalam rumah.
Keluarga Kama dan Kimi berkumpul di ruang tamu dan mereka bersenda gurau. Sedangkan Kama dan Kimi mereka memilih untuk ke taman belakang rumah Kimi.
"Gue seneng banget deh Kam, akhirnya gue bisa kembali lagi ke sini bersama lo dan juga bersama rumah ini" ucap Kimi ketika mereka sudah duduk diatas rumput.
"Iya akhirnya gue bisa ketemu lo lagi. Setelah berbulan-bulan lamanya lo ninggalin gue, hampa rasanya"
__ADS_1
"Lebay"
"Biarin" mereka tertawa bersama. Dan saling bertukar cerita saat Kimi menemukan sahabat baru teman baru dan Kimi juga menceritakan tentang cowok ketus yang bernama Jey. Miris rasanya ketika mendengar nama itu.
"Apa lo suka sama orang yang bernama Jey itu?" tanya Kama.
"Kalau suka sih suka ya, eh tapi lo jangan salah sangka, gue suka bukan karena cinta. Gue suka sama sikap Jey yang selalu mengutamakan orang lain. Ya walaupun dia mengutamakan orang lain dengan cara yang aneh si menurut gue"
" Udah jangan bahas orang lain! Cowok lagi" ketus Kama.
"Yee cemburu nih ceritanya" goda Kimi sambil menjawil hidung Kama.
"Gue nggak cemburu!" seru Kama sambil menatap ke arah Kimi.
"Santai Kam" Kimi merangkul Kama dan mereka tidak membahas tentang Jey lagi.
Suara telpon Kimi berbunyi. Kimi mengambil ponselnya dan melihat nama Jey yang tertera disana. Kimi ragu hendak mengangkat nya, dia melirik ke arah Kama dengan ragu-ragu
"Siapa?"
"Ohh angkat aja"
"Lo nggak marah" Kama menggeleng sambil tersenyum ke arah Kimi. Kimi mengangkat telponnya dan mengaktifkan mode Spieker agar Kama tak cemburu.
Halo Kim lo udah sampe belum?
Udah Jey ini baru saja sampai disini.
Oh okelah bay Kim
Jey mematikan panggilannya.
"Lohh cuma kayak gitu aja?" tanya Kama heran. Masa nelpon cuma kayak gitu aja? Anehkan? batinnya. Kimi mengendikkan bahu saja dan meletakkan ponselnya disamping badannya.
"Kama, Kimi masuk yuk kita makan-makan" seru Mama Kimi sambil mendekat ke arah Kama dan Kimi berada.
"Makanan" ucap mereka berbarengan dengan saling menatap kilas dan langsung berlari menuju ke dalam sampai menabrak Mama Kimi yang sedang berjalan ke taman.
__ADS_1
"Cepat sekali mereka itu, ckckck"
"Wahh banyak banget makanannya" histeris Kama karena melihat begitu banyak makanan dari semarang dan juga masakan Jakarta tersaji dibawah karpet depan TV. Sangat menggiurkan.
"seperti camping Saja ya kita" Kama dan Kimi langsung duduk bergabung dengan mereka yang sudah di atas karpet itu.
Mereka makan dengan sesekali bercanda, tertawa, dan sailing menggoda. Saat sedang asik-asiknya tertawa, pintu depan rumah langsung terbuka. Dan menghasilkan Suara
Brakk
Semua orang menoleh ke arahnya. Dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan itu. Brian masuk dengan nafas ngos-ngosan. Dia menundukkan badannya sambil tangan memegang dengkul nya.
"Kenapa haa kalian eng nggak tungguin aku" ucap Brian dengan ngos-ngosan. Dia berdiri tegak lagi dan melangkah menuju mereka semua. Mereka masih saja menatap Brian dengan keheranan. Apa dia berlari dari semarang?
"Lohh kamu kan pulangnya satu minggu lagi? Kenapa kamu pulangnya sekarang?" tanya mama Brian kepada anaknya yang sedang minum air putih.
"Kan aku udah SMS mama tadi!" ucap Brian setelah meletakkan gelas kosong di depannya. Mama Brian mengambil hpnya dan langsung menatap layarnya. Memang ada notifikasi dari Brian. Dia langsung menepuk jidatnya. Mama Brian tercengir dan semua orang langsung menepuk jidat mereka masing-masing.
"Maapkeunn mamamu yang banyak dosa ini ya Brian" ucap mama Brian kepada anaknya.
"Sudah-sudah ayo lanjutkan lagi makannya." ucap Papa Kimi dan semua langsung memakan kembali makanannya.
Semua kekenyangan. Kama beserta keluarganya hendak pulang, namun dilarang oleh orang tua Kimi. Mereka ingin bersama, itung-itung bayar kerinduan mereka selama ini. Kama beserta orang tuanya pun tidak keberatan. Mereka tidur di salah satu kamar tamu disini.
Dan Kama Kimi mereka tidur bersama, entah alasan apa yang dilontarkan Kama kepada nenek Kimi yang membuat neneknya yakin untuk tidak berfikir macam-macam.
Kimi langsung mengambrukkan tubuhnya memeluk guling dan langsung terlelap. Efek kecapekan mungkin? Kama juga langsung membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Kimi.
Jam 10 malam Kimi terbangun dari tidurnya. Kimi melihat Kama yang terlentang. Dia duduk dan menggoyangkan tubuh Kama agar bangun.
"Kam lo udah tidur belum?" hanya terdengar deheman dari Kama.
"Kama bangun dong!" seru Kimi sambil memukul tubuh Kama dengan tangannya.
"Udah lah Kim tidur lagi aja" ucap Kama serak tanpa membuka matanya dan malah memeluk Kimi. Kimi pun tertidur kembali. Dia melupakan hausnya dan memilih untuk tidur kembali.
Bersambung...
__ADS_1