
Panti Asuhan Najwa
Kama dan Maya turun dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam panti asuhan.
"Kenapa kita kesini?" tanya Kama kepada Maya heran. Dan lebih herannya lagi Maya hanya menjawab dengan senyuman saja.
"Kenapa dengan tante oon ini? Apa dia sudah mulai gila?" gumam Kama dalam hati sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Maya.
Maya mengerutkan keningnya "Ada apa dengan bocil ini?" batinnya.
"Hey! Nyentuh gue denda 100 ribu" seru Maya sambil menepis tangan Kama dari dahinya.
"Oh, masih normal ternyata"
"Apa!" Maya sudah mulai kesal. Dia berjalan mendahului Kama.
"Hey tante oon! Mau kemana lo ha?" Kama berlari mensejajarkan kakinya dengan langkah Maya.
"Inilah awal lo untuk bayar hutang lo" ucap Maya tanpa menatap ke arah Kama.
"Apa? Kenapa di panti asuhan? Kenapa nggak di mall? Dan gue juga bisa kok beliin sepatu, baju, tas dan barang branded lainnya. Kenapa harus di panti asuhan? Dan kenapa uangnya harus di letakkan di amplop?" protes Kama.
"Sudah diamlah dan jangan banyak bicara! Cerewet banget! Kayak cewek saja" gerutu Maya sambil menuding ke arah wajah Kama.
Maya menyapa ibu panti dengan hangat. Dia memeluk dan juga duduk di bangku yang berada di taman itu.
"Hei bocil sini!" Maya menaik turunkan tangannya agar Kama mendekat ke arahnya. Kama mengikuti perintahnya. Sekarang dia sedang salaman dengan ibu panti dan duduk di sebelah ibu panti itu.
"Kamu semakin cantik saja Maya, sudah lama banget lho kamu nggak kesini" tutur lembut ibu panti itu sambil mengelus kepala Maya yang tertutup hijab.
"Maaf Bu, Baru-baru ini aku pindah." Ibu panti itu tersenyum.
"Tidak apapa" Maya tersenyum mendengarnya. Sementara Kama hanya menatap mereka dengan wajah yang datar.
"Kama kasih amplopnya" ucap Maya dengan isyarat mata yang menunjuk ke tangan Kama yang di genggamnya.
Kama mengerti isyarat Maya. Dia tersenyum kikuk dan menyerahkan amplopnya kepada ibu panti.
"Apa ini?" tanya ibu panti itu sambil menggenggam amplopnya.
"Ini donasi dari kami untuk panti asuhan ini." ucap Maya. Dengan seketika ibu panti itu langsung memeluk tubuh Maya dan juga Kama.
"Terimakasih nak. Walaupun kalian masih muda, tapi kalian sudah sangat baik sekali untuk panti ini. Terimakasih banyak"
"Ini sudah seperti kewajibanku untuk ibu, untuk panti asuhan ini. Ibu seperti ibuku sendiri. Bahkan aku lebih sayang ke ibu daripada ke mom. Ibu sudah merawat aku dari aku bayi. Dan ini hanyalah balasan kecil dariku. Semua yang aku berikan selama ini tidaklah apa-apa, tidak sebantding dengan yang ibu berikan kepadaku" mereka melepaskan pelukannya.
"Sudah jangan menangis ibu. Maya akan sedih kalau ibu menangis seperti ini" Maya mengusap air mata ibu panti itu dengan kasih sayang. Dan dia langsung memeluk tubuh ibu panti itu dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Apa tante oon itu mau nangis?" batin Kama sambil menunduk memperhatikan wajah Maya. Dia tersenyum.
Maya melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya yang jatuh tak sengaja.
"Maaf Bu aku harus pamit dulu. Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan" pamit Maya dan mereka berdiri bersalaman dan melangkah meninggalkan panti.
__ADS_1
Tapi suara anak yang memanggil Maya membuat mereka berbalik dan memandangi anak laki-laki yang sedang merentangkan tangan sambil berlari menuju ke arah Maya.
"Candraaaa." Maya mensejajarkan tinggi badannya dan anak laki-laki itu. Mereka berpelukan melepas rindu.
"Kak Aya lama banget nggak datang kesini" muka anak laki-laki itu cemberut.
"Ahh, maafkan kak Aya yang pelupa ini. Sini peluk lagi setelah ini kak Aya mau pulang" anak itu menghambur kembali ke pelukan Maya
"Kenapa kak Aya cepat sekali"
"Kak Aya sibuk sayang. Maaf ya"
"Hallo adik manis, nama kamu siapa?" tanya Kama sambil menjawil pipinya. Anak itu bersembunyi di sebalik tubuh Maya. Dia menutup tubuhnya dengan tubuh itu.
"Sini dong Daf, nggak usah takut om itu nggak galak kok" ucap Maya sambil menuntun anak itu untuk maju ke depannya. Anak itu masih diam saja. Maya mengulurkan tangan anak yang bernama Dafa itu ke hadapan Kama.
Kama menjabat tangannya dengan tersenyum.
"Siapa nama kamu?"
"Dafa" ucap anak itu memperkenalkan diri dan langsung menyahut kembali tangannya. Dia pun bersembunyi kembali di balik tubuh Maya.
"Dia pemalu" ucap Maya sambil menatap ke arah Kama.
"Hey Dafa. Emm gimana kalau kita beli es krim, beli mainan aja gimana?"
Gue merasa ada yang mau ngosongin kantong gue nih
"Ayo kak Aya. Buruan" dengan antusias Dafa menarik-narik tangan Maya. Maya berdiri sambil menggendong Dafa.
"Ayo!"
Maya dan Kama berbalik badan. Dia kaget mendapati sekitar 10 anak yang sedang tersenyum kepada mereka.
"Hancurlah uang saku gue" gumam Kama.
Sekarang mereka semua masuk ke dalam mobil. Dan yang lebih parahnya lagi. Ada yang merengek meminta dipangku sopir. Siapa lagi kalau bukan Kama. Sungguh kasihan sekali nasib gue pikirnya.
"Hey Gan kalau kakak lagi nyetir nggak boleh kayak gini. Pangku-pangku kayak gini. Jadi kamu sama kak Aya aja ya" tutur Kama lembut namun terdapat ke geraman dalam suaranya.
"Baiklah om" anak itu berdiri dipaha Kama dan meloncat ke pinggir menuju tubuh Maya.
"Sial! Dipanggil om lagi. Huh! Dasar bocil!" lirih Kama.
"Apanya yang sial om?" ucap polos Gani.
"Hah? Bukan sial tapi siap. Ayo berangkat" Kama melajukan mobilnya. Semua anak tertawa senang. Ada yang bernyanyi dan berjoget didalam sana.
Oke sabar Kam. Ini ujian Kama menghela nafas kasar dan membuat Maya mengelus pundak Kama.
"Sabar" Kama menoleh ke arah Maya. Dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Cieee" ledek anak-anak itu. Yang langsung membuat Maya melepaskan tangannya dari pundak Kama.
__ADS_1
"Kak Aya perhatian banget sama pacarnya" ledek salah satu anak itu.
"Sstt diam. Itu bukan pacar kak Aya"
"Suami kak Aya ya"
"Bukan" Maya menoleh kebelakang sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus siapa dong?"
"Di, " Kama menganggukan kepalanya.
"Biarkan saja" ucapnya. Maya menganggukan kepalanya.
"Tuh kan. Benar hahaha" mereka melanjutkan kembali tingkah usil mereka.
"Heee anak manis jangan jewer kakak dong nanti nggak fokus nyetir gimana" Anak itu hanya tertawa saja dan mulai duduk manis kembali.
"Baiklah om nggak akan ulangi lagi"
Apa? om lagi? Mimpi apa gue semalam ya? kenpa mendapat musibah anak-anak gini. Kalau gue udah nikah sama Kimi. Gue jamin, gue nggak akan bikin anak banyak-banyak. Huh!
Sekarang mereka sudah sampai di resto terdekat di daerah sana. Mereka tertawa senang dan langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam.
"Eh, anak-anak jangan lari-lari gitu" seketika semua anak itu langsung berhenti dan menggandeng tangan Maya. Mereka bergandengan masuk ke dalam resto. Merek menjadi pusat perhatian disana.
"*Gila anaknya banyak banget"
"Iya, bikinnya gimana tuh?"
"Gue harus berguru dengan dia*"
Semua orang membicarakan mereka.
"Maaf semuanya ini bukan anak saya. Dan saya ini masih anak SMA lho." terangnya. Seketika semua mangut-mangut mengerti. Memang iya tampangnya masih muda.
"Papa ayo ke meja itu" Kama melotot mendengarnya. Semua orang tersenyum mendengarnya.
"Iya ayo papa kita ke sana" ucap salah satu anak itu smbil menarik-narik tangan Kama agar mengikutinya.
Dasar para bocil ini!
Mereka duduk dan mulai memakan eskrim bersama-sama. Tiba-tiba ada orang yang lewat dan tersenyum melihat ke mereka.
"Mau saya fotoin kebersamaan kalian tuan? Nyonya?" ucap orang itu.
"Oh boleh" Kama menyerahkan ponselnya kepada orang itu. Dan mereka berpose seimut mungkin.
"Makasih ya mas" orang itu tersenyum dan menundukkan badannya sedikit.
"Kirim ke gue Kam" Kama tidak menggubrisnya. Dia sibuk melihat-lihat foto mereka.
"Ah, gue jadi punya ide. Gue akan ajak Kimi ke panti asuhan. Ya benar itu" ucapnya dengan diri sendiri.
__ADS_1
Bersambung...