Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Sembuh total?


__ADS_3

Tengah malam perut Kama tiba-tiba mulas. Dia menyibak selimutnya dan buru-buru masuk ke dalam. Setelah selesai Kama keluar dari kamar mandi dengan mata yang kasih sayup-sayup.


Dia berbaring kembali ke atas kasur dan memiringkan tubuhnya. Dia menepuk kasur disebelahnya.


"Kemana Kimi" Kama mengucek matanya yang buram sambil berusaha duduk dengan benar.


"Dimeja itu Kimi?" Kama memperjelas penglihatannya. Penglihatannya benar, ternyata Kimi yang ketiduran di meja belajarnya.


Kama beranjak bangun dari kasur dan berjalan menuju ke arah Kimi. Dia mengamati wajah Kimi yang sedang tidur. Sangat cantik.


"Kim bangun dong ayo tidur di kasur lo" lirih Kama sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kimi. Kimi hanya mengulet saja dan malah berpindah posisi.


"Kim, bangun dong. Ayo ke kasur biar lebih nyaman lo tidurnya" Kama masih saja menggoyang-goyangkan tubuh Kimi agar bangun. Bukannya bangun Kimi malah mengalungkan tangannya di pundak Kama dengan mata yang tertutup.


"Gendong" ucap Kimi. Kama langsung menggendongnya menuju kasur. Dia mempercepat jalannya karena berat tubuh Kimi yang semakin berat menurutnya.


"Lo makan apa sih disini Kim, kayaknya lo makin berat aja" ucapnya setelah menurunkan Kimi di atas kasur. Tentu saja Kimi tidak menjawab, dia sudah terlelap kembali di tidurnya.


Kama merangkak menuju ke sebalah badan Kimi. Dia menyelimuti dirinya dan juga Kimi. Kemudian dia memeluk Kimi.


"Emhh" Kimi menyingkirkan tangan Kama dari tubuhnya dan dia berbaring miring.


"Dasar nggak tau terimakasih!" ucap Kama dengan kesal. Diapun melepaskan tangannya dari perut Kimi dan tidur terlentang dengan menutup matanya dengan bantal guling


Pagi harinya.


Kimi bangun lebih dulu dari Kama. Dia bingung karena melihat dia sudah berada di atas kasur.


Bukannya tadi malam gue ketiduran di meja belajar ya.


Kimi menoleh ke samping, dia mendapati punggung seorang pria disampingnya. Dia berfikir kalau itu Kama. Dan benar saja, pria itu berbalik dan melihat wajah Kimi.


"Bangun juga lo."


"Ya bangunlah! Apa lo mau gue nggak bernafas selamanya!" seru Kimi dengan jengkelnya.


"Ya nggaklah mana mungkin kayak gitu" Kama merayunya dengan memeluknya dan membenamkan wajahnya di atas bantal yang ditiduri kepala Kimi.


"udah ah sana. Gue mau mandi" Kama melepaskan tangannya dari tubuh Kimi dan membiarkan Kimi berlalu pergi ke kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu. Kama menunggu Kimi mandi dengan memainkan ponselnya


"Kamaaa" panggil Kimi dengan lantang dari dalam kamar mandi.


"Apaan Kim" jawab Kama.


"Ambilin handuk dong. Gue lupa bawanya" Kama menghela nafas kasar. Dia sudah sangat hafal dengan handuk Kimi yang tidak pernah dibawa ketika mandi. Kenapa tadi dia nggak mengingatkannya?


"Iya sebentar." Kama mulai keluar dari dalam kamar. Dia kembali dengan membawa sebuah handuk di tangannya.


Dor dor dor

__ADS_1


"Buka pintunya Kim, handuk lo nih" Kimi membuka sedikit pintunya. Dia menengok dengan hanya kepalanya saja yang terlihat disana. Kama mengulurkan tangannya meminta handuk dari Kama. Kama menyerahkan handuknya dan Kimi menutup kembali pintunya serta menguncinya.


"Kam, lo keluar dong! Gue mau ganti baju" tanpa menjawab Kama keluar dari kamar Kimi.


Kimi membuka kepalanya lagi dan melihat ke sekeliling kamar. Tidak ada Kama. Dia menuju ke arah pintu dan menguncinya agar tidak ada orang yang masuk tanpa sepengetahuannya.


"Loh kemana kuncinya?" Dia ingat pertengkarannya dengan Brian waktu itu. Dan Brian meletakkan kuncinya di atas lemari tinggi yang berada di dalam kamar Kimi.


"Gimana gue ambilnya ya? Ah kursi" Kimi mulai mengambil kursi yang berada di meja belajar dan meletakkannya di depan lemari.


"Duh tinggi banget lemarinya." Kimi masih berusaha mencapainya. Dia menjinjit tinggi agar dapat menggapainya. Alhasil bukannya dapat malah dianya yang jatuh.


"Aduh" rintihnya sambil memegangi lututnya yang tergores dan juga telapak tangannya yang berdarah terkena lemari tadi.


"Nih kursi juga! Emang sial banget nih! Sudah jatuh tertimpa kursi pula!" ucapnya kesal dan langsung menjauhkan kursi dari atas tubuhnya.


Ceklek. Pintu terbuka Kama dengan nafas ngos-ngosannya membuka pintu sambil melihat keadaan Kimi.


"Lo nggak apapa kan Kim?" tanyanya dengan nafas yang tidak beraturan.


"Oh nggak kok, emang kenapa?"


"Tadi gue denger suara Brugh! Gitu? Benaran lo nggak apapa?" tanyanya khawatir sambil berjalan menuju ke arah Kimi.


"Kenapa lo nggak ganti baju? Malah cuma handukan kayak gini" Kama menatap ke arah Kimi yang sedari tadi hanya menatapnya.


"Ck, gue nggak apapa. Udah sana gue mau ganti baju" Kama menganggukan kepalanya dan berdiri. Belum sempat melangkah tangan Kama dipegang oleh Kimi.


"Emm, tolong panggilin Mama kesini" ragu-ragu Kimi berucap.


Kama pun pergi meninggalkan Kimi dan menemui Mama Jessy yang sedang sarapan dengan yang lainnya saat itu.


"Tadi suara apa Kama?" tanya Papa Kimi.


"Oh tadi Kimi nggak apapa kok om" semua mangut-mangut dan melanjutkan lagi makannya.


"Tante, Kimi ingin tante menemuinya" Mama Kimi mengangguk dan berjalan mendahului Kama. Dia membuka pintu dan melotot kan matanya karena melihat anaknya yang masih memakai handuk.


"Astaga Kimi! Kenapa kamu nggak ganti baju? Kalau kamu masuk angin gimana?" celoteh nya setelah masuk ke kamar Kimi.


"Kam lo keluar dulu ya" Kimi tak menggubris mamanya. Dia meminta Kama untuk keluar dan Kama mengikuti perintahnya.


"Ma sini duduk" Kimi menepuk sebelah pinggir dia duduk.


"Ayo ganti baju setelah itu, " Kimi langsung meletakkan jarinya dimulut Mamanya.


"Ma aku jatuh dari kursi, kakiku terkilir. Mama tolongin aku pakein baju ya" ucap Kimi dengan raut wajah melasnya.


"Astaga Kimi! Kenapa kamu bisa jatuh sih! Mana yang sakit? Kakinya yang terkilir? Apa kepalamu kejedot lantai? Apa, "


"Stop ma. Kalau mama Terus-terusan bicara nanti aku malah masuk angin! Ayo bantu aku dulu pakai pakaian Ma" Mamanya menurutinya. Dia mencari pakaian anaknya yang nyaman dipakai. Dia memilih untuk memakaikan kaos oblong dan juga celana boxer.

__ADS_1


"Kenapa boxer sih ma?"


"Biar lebih nyaman pakainya" Mama Kimi mulai membantu Kimi untuk memakai pakaiannya. Setelah selesai dia hendak berlalu dari sana.


"Mama mau kemana?"


"Mau hungungin tukang pijat. Biar dia yang memijat kaki kamu. Kimi pun menganggukan kepalanya.


Kama yang berdiri tak jauh darinya langsung bertanya kepada Mama Kimi tentang keadaan Kimi.


"Kaki Kimi terkilir dia masih duduk di atas kasur tuh. Tante mau panggil tukang pijat dulu. Dan ya kamu tolong ambil kotak P3K-nya tangan sama lutut Kimi kegores tuh" Kama bertanya letak P3K-nya dan setelah dapat, dia langsung berjalan ke arah kamar Kimi.


"Kenapa lo tadi nggak bilang ke gue kalau lo kekilir. Terus luka-luka kayak gini lagi. Kan lo bisa minta bantuan sama gue tadi" ucapnya sambil mengobati tangan Kimi yang tergores.


"Ya gue malu lah! Masa gue harus minta lo gantiin baju gue!" Kama menatap ke arahnya.


"Apa sesakit itu?" Kimi menganggukan kepalanya sambil berdesis karena obat antiseptik itu mengenai lukanya.


"Kayak gini aja sakit" Kimi langsung menatap Kama dengan tatapan tak suka.


"Iya, pasti sakit sekali. Kalau gue jadi lo pasti gue juga akan menangis seharian sampe stok air matanya kosong" Kimi tersenyum mendengarnya.


Tukang pijat sudah datang. Kama melihat ke arah pintu yang kedatangan orang. Dia langsung menyingkir dari sana menuju ke sebelah Kimi dan mempersilahkan tukang pijit itu untuk melakukan tugasnya.


Krek.


"Ahh sakit" seru Kimi sambil meremas pundak Kama dengan keras hingga Kama meringis kesakitan karenanya. Kaki itu masih di goyang-goyangkan. Kimi menangis dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Kama dengan berpegangan erat dengan tangan Kama.


"Sudah neng. Nggak sakit lagi kan?" tanya tukang pijat itu. Kimi menggerakkan kakinya dan benar saja sudah tidak terasa sakit lagi.


"Sudah mbok. Makasih ya" Kimi menghapus air matanya dan tersenyum kepada orang yang sudah menyembuhkannya.


"Yah baju gue basah" ucap Kama sambil melirik punggungnya.


"Nanti gue cuci ah!" Kama tersenyum melihatnya.


Mama Kimi mengantarkan tukang pijatnya sampai depan rumah. Dan hanya meninggalkan Kama dan Kimi disana.


"Kam, katanya mau ke panti asuhan? Ayo gue udah bisa gerak nih" Kimi bersemangat sekali untuk pergi kesana.


"Yakin lo bisa jalan? Masih sakit nggak tangan dan lututnya?" Kimi menggelengkan kepalanya dengan senyuman. Dia bahkan berdiri dan berjalan memperlihatkan kepada Kama.


"Nggak jadi pergi ah" Kama malah tiduran di atas kasur Kimi yang membuat Kimi menajadi berjalan cepat ke arahnya.


"Apa! Kenapa nggak jadi!"


"Karena lo masih belum sembuh total"


"Gue udah sembuh total!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2