Kama Dan Kimi

Kama Dan Kimi
Menyogok Mama


__ADS_3

"Kalau lo buat toko roti disini. Terus? yang di Semarang gimana? Dan, lo mau tinggal dimana? Rumah pacar lo itu? Kalau menurut gue, jangan deh Kim. Lo ngrepotin nanti disana. Fokus aja sama toko kue yang lo jalanin sekarang, di Semarang. Nanti kalau sudah berkembang. Nah lo buat tuh toko roti di sini"


"Apa menurut lo seperti itu? Tapi ada Jey juga kan di sana? Dia bisa kok nge-handle toko kue itu."


"Lo pikir lah Kim, Jey masih punya neneknya. Coba lo liat neneknya. Udah sering sakit-sakitan. Bolak-balik, keluar masuk rumah sakit kan? Kasihan dia. Lebih baik lo bantu dulu Jey mengembangkan toko kue nya itu. Lo dapat pahala, Dan Jey juga dapat uang untuk mencukupi kebutuhannya bersama neneknya kan?"


Kimi mangut-mangut mengerti akan yang diucapkan oleh Brian.


"Baiklah. Jika itu yang terbaik, maka akan gue lakukan."


"Emm, terimakasih adik" ucap Kimi sambil mencubit pipi Brian.


"Ini nggak gratis loh Kim" dengan menekuk wajahnya, Kimi melepaskan tangannya dari pipi Brian.


"Nggak ikhlas banget!"


"Ada uang ada barang."


"Terserah lo lah"


Mereka terdiam dan hanya menghasilkan suara deru mobil saja.


***


"Huhhh lelahnya" Kini terlentang di atas kasur dan memejamkan matanya. Langsung saja dia terlelap akan tidurnya, tanpa berganti baju dan tanpa menghapus make up nya.


.


"Mami" teriak Kimi sambil memeluk Mamanya dari belakang.


"Kamu selalu saja panggil Mama, Mami"


"Nggak apapa dong Mi. Biar terlihat waww hehe"


"Oh iya ma, hari ini menu sarapan paginya apa?" tanya Kimi sambil berjalan menuju ke arah kulkas dan mengambil cemilan disana.


"Kamu maunya apa?"


"Aku mau pecel ma. Sudah lama banget kayaknya nggak makan pecel. Tapi sayuran nya harus ada kacang panjang, ada mie kuning, terus ada sayur bayamnya juga. Dan, jangan lupa untuk sambel kacangnya yang pedes sekali. Oke"


"Banyak sekali mau mu? Apa bayarannya buat Mami?" tanyanya sambil berbalik badan dari kompor dengan memegang spatula."


"Cieee yang suka di panggil Mami. Hmm, aku akan bersihin kamar aku sendiri"


"Oke kalau gitu. Tapi kamu harus beli bahan-bahan-nya. Soalnya, disini cuma ada mie kuning aja, bayam dan kacangnya nggak ada. Jadi kamu harus beli dulu buat makan itu."


"Malas Ma" acuh Kimi dan berjalan ke ruang keluarga dan memencet tombol di remot itu dan tv pun menyala seketika.


"Kenapa malas-malas ha? Kenapa dari dulu kamu nggak mau bantuin Mama! Mama udah tua Kimi, tolong dong! Bantu mama sedikit aja!" Seru mama Kimi sambil berkacak pinggang di depannya.


"Mama ku sayang" rayu Kimi sambil berdiri dan menuntun tubuh Mamanya agar duduk di sampingnya.


"Aku sayang sekali sama Mama. Mama jangan kayak gitu dong. Kan baru kali ini aku nggak nuruti perintah Mama."


"Oh benarkah? Gimana dengan saat mama suruh kamu bersihin kamar? Bersihin toilet? Kamar mandi? Dapur? Ruang tamu? Ruang keluarga? Dan Mama pernah suruh kamu beli makanan. Tapi apa? Mama harus masak nasi goreng buat ganjalan lapar."


"Kan aku udah minta maaf ma" rayu Kimi lagi sambil memeluk mamanya.


"Kamu tau kan. Kamu sudah hampir berumur 20 tahun. Kamu harus bisa masak, bersih-bersih, melayani suami. Dan lain-lain. Mama tidak akan selalu bersama kamu Kimi. Mandiri sedikit dong!"


"Heeak, Yaudah Iya Ma iya. Sekarang sini uangnya akan aku belikan keperluan buat pecel nya"


Mamanya tersenyum dan masuk mengambil uang. Sementara Kimi, dia mengambil kesempatan ini untuk mengambil kunci mobilnya dan membawa permen untuk dia ****-**** di mobil.

__ADS_1


"Ini Kim uangnya, nanti beli cabai juga. Tinggal sedikit tuh," ucapnya tanpa memperhatikan depan. Mamanya sibuk menghitung uang yang pas. Dan saat mama Kimi mengadahkan kepalanya. Seketika dia menarik nafas dan membuangnya dengan cepat.


.


.


.


"Na na na na 🎶" berirama dengan lagu yang diputar di dalam mobilnya barusan.


"Astaga, gue nggak punya tujuan! Mau kemana gue? Ke toko kue Jey aja ah, lihat gimana toko kue itu berkembang"


Sampai di toko___


"Tampan sih, tapi ketus"


"Dingin pula"


"Tapi kue nya enak ya"


Komentar orang itulah yang didengar Kimi saat dia mulai memajaki masuk ke dalam toko kue itu.


"Pasti Jey nggak ramah sama pelanggan. Dasar bocah itu!" gumam Kimi dalam hati dan masuk dengan wajah tidak enak dilihat.


"Ini mbak pesenan nya"


Kimi sampai menepuk jidat ketika melihat cara Jey melayani pelanggan. Bagaimana mungkin, melayani pelanggan nggak ada ramah tamah nya sama sekali. Wajahnya datar, dan anti senyum. Kenapa gue harus ada hubungan sama nih orang sih!


"Jey, apa yang lo lakuin" geram Kimi berbicara.


Jey menunjukkan ekspresi bingung. Bukankah dari tadi dia melayani pelanggan?


"Lo lihat kan Kim, gue lagi jual nih kue nya"


"Kenapa lo ngelayani nya kayak gitu?"


"Terus gue harus apa? Apa gue harus anterin sampe rumah juga orangnya? Nggak kan."


"Ya ampun." menepuk jidatnya lagi.


"Lo duduk sini dan perhatikan gue layani pelanggan" Jey mengangguk dan duduk di bangku itu.


"Mau pilih yang mana mbak?" tanya Kimi ramah dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Mau pilih Jy 1 dan yang Jy 4 ya mbak"


"Mau berapa?"


"Satu saja"


"Oh baiklah" Kimi mulai memasukkan kue-kue itu ke dalam plastik mika, dan menyerahkannya ke pembeli itu. Mengucapkan terimakasih dan duduk di depan Jey.


"Gimana? Lo ngerti kan?"


Jey mengangguk dan mulai berdiri. Mengatur nafas dan duduk kembali.


"Kenapa duduk?"


"Kan belum ada yang beli"


"Oh iya"


Membunuh waktu dengan bermain ponsel agar tidak terlalu bosan.

__ADS_1


"Maaf, penjualnya kama ya?"


"Oh, saya mas mau apa?"


Jey memperagakan seperti yang diajarkan Kimi tadi, ramah, tersenyum. Ucapan itu yang berada di otak Jey sekarang.


"Ini mas terimakasih"


"Gimana? Keren nggak? Gue udah senyum tadi. Lo denger nggak sih Kim!" seru Jey karena Kimi malah asik bermain ponselnya daripada memperhatikan dirinya.


"Apa? Oh iya seperti itu. Lakukan terus seperti itu. Semoga berhasil!" Kimi menepuk pundak Jey dan berdiri meletakkan ponselnya ke tas.


"Gue harus balik. Mami marah-marah di rumah"


Jey mengiyakan dan berdiri. Bersalaman dengan Kimi dan menatap tubuh Kimi yang mulai memasuki mobil. Melambaikan tangannya saat mobil itu melaju keluar dari kawasan Jey saat ini.


"Si Mama, nyusahin banget!"


"Sampe rumah pasti kena dampret gue"


"Apa gue belikan sesuatu aja ya? Tapi apa?"


Kimi melajukan mobilnya ke penjual pecel dan melaju lagi membeli martabak.


"Apa lagi ya?"


"Sate? Uang gue cukup nggak ya?"


"Sangat cukup, gue harus beli itu. Beli apa lagi setelah sate?"


"Gue akan memikirkannya"


Kimi pun mulai masuk kembali ke dalam mobil dan melajukannya ke tempat sate ayam dijual.


"Budhe beli 3 porsi ya"


Setelah melakukan pembayaran Kimi pun melajukan kembali mobilnya menuju rumah.


Rumah__


"Mama, " panggil Kimi dengan teriakannya.


"Ma, aku bawain sate, martabak, pecel juga lho"


Belum ada sahutan darinya. Dia merasa rumah sangat sepi dari biasanya. Hanya ada paman dan juga bibinya di meja makan.


"Hai bibi. Dimana Mama?"


"Ke supermarket, tadi kamu di chat nggak dibalas-balas. Jadi Mama kamu yang beli sendiri ke supermarket"


"Oh iya Bi. Tadi ramai di toko jadi aku bantu Jey dulu dan men-silent ponselnya agar tidak terganggu"


"Ya sudah sini duduk beli apa aja kamu?"


"Banyak. Sebentar biar aku ambil piring dulu"


Piring sudah tersaji disana, Kimi meletakkan semua yang dibelinya ke atas piring itu. Dia duduk dan menyantapnya.


"Kenapa beli sebanyak ini?"


"Buat nyogok Mama agar tidak marah-marah"


Semua tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2