
Beberapa bulan telah berlalu. Hari ini adalah hari dimana Kama dan Kimi sudah tamat SMA. Sangat menyenangkan sekali saat-saat ini. Lihatlah wajah bahagia Kimi yang sedang merayakan lulusannya. Bagaimana dengan Kama? Dia sangat muram sekali.
"Kam ayo makan-makan mumpung ada yang ajak tuh, eh bukan hanya ngajak tapi nraktir, ayo" Rian menepuk pundak Kama yang sedang terdiam di kelas sambil menatap ponselnya.
"Ayolah Kam, sampai kapan lo nunggu pesan dari Kimi? Bukalah mata lo lebar-lebar seperti ini" Rian melebarkan matanya dengan ibu jari dan juga telunjuk didepan wajah Kama.
"Jauhkan muka lo itu! Jelek dibanggain!" Rian mendengus kesal.
"Terserah lo lah" Rian putus asa dan bangkit meninggalkan Kama yang masih setia menatap ke arah ponselnya.
"Kenapa Kama begitu bodoh sekali sih! Kenapa dia nggak mau makan besar coba? Traktiran pula. Malah termenung melototi ponsel. Menunggu Kimi? Cih, dasar bucin!"
Rian memilih menghubungi Kimi dan hendak melakukan unek-uneknya demi menyelamatkan jiwa sahabat dari kekonyoloannya menunggu yang tak pasti.
Satu kali panggil
Dua kali panggil
Tiga kali panggil
"Angkat dong Kim! Lo kenapa sih bikin rusuh hati sahabat gue aja!" gerutu Rian ketika Kimi tak kunjung menjawab panggilan nya.
***
"Hahaha"
Tawa itu menggema di sebuah restoran yang sedang Kimi beserta teman-temannya tempati. Mereka bersenda gurau dengan riangnya.
Kimi tersenyum bahagia melupakan orang yang sedari tadi menunggu kabar darinya. Dia sangat bahagia sekali dengan lulusan ini.
"Ayo kita bersulam" titah salah satu teman Kimi.
"Bersulam" ucap mereka bersamaan dan mulai menyatukan gelas mereka. Minuman sudah disruput oleh semuanya.
"Oh iya Kim. Gimana hubungan lo sama Jey" tanya Salsa sambil mengunyah makanan ringan miliknya.
"Emang kenapa dengan Jey? Gue nggak ada hubungan apapa kok sama dia. Cuma sebatas teman saja, nggak lebih dari itu."
"So, kalian kira kalau gue dekat dengan Jey karena gue suka sama Jey? Cinta sama Jey? No! Kalian salah besar. Emang sih gue suka sama Jey. Dia sangat berprestasi, tampan, dan juga, em semua bisa. The beast dah pokoknya. Tapi, gue udah punya pacar. Ingat itu baik-baik." Kimi meminum jusnya.
"Tapi kalau gue selingkuhin dia nggak apapa mungkin kalik ya" ucap Kimi sambil tertawa renyah.
"Wow sungguh hebat sekali! Hahaha"
__ADS_1
"Gilak, gue baru lihat sifat baru Kimi"
"Benar sekali. Emang sangat hebat lo Kim"
Semua seperti mendukung Kimi dan Kimi tertawa renyah saja mendengar semua itu. Apa ada pemikiran seperti itu di diri Kimi? Mungkin.
"By the way gue harus balik nih. Udah kesorean kayaknya. Kasihan mami dan papi nunggu gue di rumah" ucap Kimi dengan gaya centilnya.
"Dasar anak mami. Hu" Kimi tidak menjawabnya dan hanya tersenyum sambil berjalan keluar dari restoran itu.
"Oh gue lupa tasnya" Kimi menepuk dahinya ketika sudah di luar restoran.
"Kenapa balik lagi Kim? Cari ini?" ucap Bela sambil mengayun-ayunkan tas Kimi.
"Iya gue cari itu. Duh sampe lupa kan, hehe" Kimi hendak menyaut tasnya tapi Bela menjauhkan tasnya dari Kimi.
"Eits nggak gratis"
"Oke, berapa yang harus gue bayar" ucap Kimi sambil melipat tangannya di atas perut dan mengadahkan wajahnya ke atas,
"Berapa ya? Sepuluh juta" ucap Bela sambil mengerlingkan matanya.
"Oke. Kemarikan dulu tasnya. Uang gue ada disitu" Bela mengembalikan tas Kimi kepada empunya.
"Gue nggak denger" teriak Kimi dan mulai masuk ke dalam mobilnya. Kimi memutar musik dengan keras didalam mobil. Dia bersenandung dan menikmati kendaraan lain yang tak sabaran dengan kemacetan.
"Dasar orang! Kenapa nggak slow aja sih! Nggak sabaran banget! Dasar" gerutu Kimi ketika menengok dari dalam mobil lewat jendela.
"Oh iya. Gue disuruh beli makanan untuk Mama"
"Dasar macet! Bikin gue makin galak aja lo!" Kimi memukul stir berkali-kali. Sangat tidak sadar apa yang di gerutuannya kepada orang-orang yang tidak sabaran tadi. Sekarang dia yang tidak sabaran!
"Cepatlah! Kenapa lamban sekali sih! Gue harus beli jalan ini" Kimi menggeretakan giginya sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil dengan jarinya.
"Oh, shit! Gue harus nunggu berapa lama lagi!" Kimi hendak membuka jendela mobilnya dan berteriak sekencang-kencangnya. Tapi takdir tidak membiarkan itu terjadi. Mobil depan Kimi sudah melaju ke depan. Dan Kimi duduk kembali ke tempat semula.
"Nah gitu dong! Daritadi kek!" dengan masih menekuk mukanya Kimi melajukan mobilnya dan berbelok arah menuju ke restoran yang tadi. Bukan yang tadi, nanti Kimi akan diejek disana.
"Gue beli disana aja mungkin ya?" batin Kimi bertanya-tanya. Dan tiba-tiba dia mendengar notifikasi masuk.
"Kenapa nih Rian nelpon gue berkali-kali. Iseng mungkin ya? Sudahlah lupakan." Kimi tak menghiraukan kembali panggilannya. Dia melihat pesan masuk dari mamanya.
"Nggak usah beli makanan! Kamu lama sekali. Kasihan nih semua orang nunggu! Mama udah buat nasi goreng! Cepat pulang! Kelayaban saja sukanya!"
__ADS_1
"Cih, si Mama! Gue harus putar balik lagi kan jadinya! Huh, menjengkelkan! Menyebalkan!" Kimi melempar ponselnya dengan kasar ke bangku pinggirnya.
Kimi pun melajukan mobilnya kembali ke arah sebelum terjadi kemacetan.
"Ah males pulang. Gue mau ke rumah Jey saja" Kimi pun tidak melajukan mobilnya ke rumah melainkan kerumah Jey.
"Gue rindu kue buatan nenek Jey" Kimi senyum-senyum sendiri sambil membayangkan bagaimana rasanya kue di tambah susu putih. Umm membayangkannya saja membuat salivanya tidak terkendali
Melaju, sampai, mengetuk pintu.
"Hai Jey."
"Oh Kimi, ayo masuk" Jey membuka pintu lebar dan mempersilahkan Kimi untuk masuk ke dalam rumah.
"Siapa Jey?" teriak Nenek Suri dari dalam.
"Kimi nek."
"Eh ada Kimi. Ayo masuk kita duduk di sana ya. Sambil makan kue tuh. Nenek baru saja membuatnya" Kimi mengangguk senang dan langsung memeluk nenek Suri sambil mencium pipinya. Kebiasaan Kimi saat datang kerumah Jey
dan tanpa menunggu lama dia langsung berlari dan mencomot kuenya.
"Ini susunya." Jey menyerahkan susunya di depan Kimi.
"Hehe makasih." Kimi meneguk susunya dan mencelupkan kuenya itu ke dalam susu dan memakannya.
"Emm ini sangat enak sekali" Kimi menjilati jari-jarinya yang manis karena kue dan susu tadi.
"Masih ada lagi uti?"
Kimi sudah akrab sekali dengan nenek Suri hingga dia merasa utinya masih berada di sampingnya. Bahkan tanpa ragu lagi dia sudah berbicara seperti sedang berbicara dengan neneknya. Dia memanggil uti kepada nenek Suri agar dia merasakan neneknya berada di dekatnya.
"Sudah habis nak bahan-bahannya juga sudah habis."
"Nggak masalah nek, biar Kimi yang membelinya bersama Jey"
"Baiklah terserah kalian"
Jey pun mengangguk dan berjalan menuju ke kamarnya. Dia mengambil kunci motornya dan memboncengkan Kimi menuju ke supermarket terdekat disana.
Kembali dengan menenteng kresek besar dan masuk. Membuat kue bersama nenek Suri dan memakan kembali.
"Sangat indah sekali hari ini"
__ADS_1
Bersambung...