Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 10 Pernikahan


__ADS_3

" Saya terima nikah dan kawinnya Paramitha Putri bin Abdul Rozak dengan Mas kawin seperangkat perhiasan emas dan alat sholat dibayar tunai " Fatan mengucapkan ijab qabul dengan lancar dan fasih di hadapan penghulu dan juga Pak Rozak, bapak Mitha.


" Bagaimana? Sah? " tanya Pak Penghulu kepada para saksi dan juga tamu undangan yang hadir.


" Sahhh....! " jawab para saksi serempak.


" Alhamdulillah.... " Ucap Pak penghulu.


Setelah ijab qabul selesai, kemudian Pak penghulu memimpin pembacaan doa bagi pengantin baru. Hadirin yang hadir turut serta berdoa dan mengaminkan semua lantunan doa yang khusus ditujukan untuk keselamatan pengantin baru dalam membina dan mengarungi rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah.


Aku juga ikut tertunduk mendengarkan setiap doa yang terucap dari Pak Penghulu. Diam - diam, aku menyeka air mata yang menggantung di sudut mataku tanpa bisa kutahan. Ada perasaan haru yang tiba-tiba saja menyeruak di kalbuku bercampur dengan rasa sedih.


Aku terharu karena ternyata Tuhan masih bermurah hati memberikan jalan keluar atas semua masalahku. Namun, aku juga sedih karena merasa tidak berguna sebagai anak.


Entah disengaja atau tidak, diam - diam tangan Fatan yang berada di bawah meja menggenggam tanganku.


Aku sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. Tanpa sadar aku langsung menoleh ke samping dan saat itulah, pandangan mata kami bertemu.


Jantungku berdegup kencang. Pandangan mata Fatan kali ini kurasakan lain dari biasanya. Entah itu hanya perasaan aku saja atau memang begitu. Tak tahan lama - lama beradu pandang dengan Fatan, aku kembali lagi menunduk. Aku tak tahu seperti apa warna pipiku seandainya saja tidak tersamarkan oleh warna blouse on.


 


Acara pernikahan aku dan Fatan di gelar sederhana saja dan tertutup. Hanya pihak keluarga aku dan Fatan dan juga beberapa kerabat dan kolega papanya Fatan saja yang hadir. Termasuk papanya Reno dan papanya Aldo. Serta sahabat aku tercinta, Gadis.


" Selamat, ya Mit. Lo sekarang sudah jadi nyonya Fatanul Faqih Bramantyo." canda Gadis seusai acara terima tamu yang lumayan melelahkan bagiku. Walaupun digelar sederhana, tetap saja tamu undangan yang hadir berjubel.


Kami berdua berada di dalam kamar pengantin yang khusus di sediakan oleh keluarga mertuaku untuk aku dan Fatan.

__ADS_1


Gadis sedang membantuku untuk melepas hiasan pengantin di kepalaku yang ribet banget. Maklum saja, mertuaku yang cantik dan rada cerewet itu memilihkan pakaian adat Sunda untukku.


" Alahh..... sebenarnya gue kagak mau nikah sama tuh bocah. Tapi dia menjanjikan sesuatu yang membuat gue terpaksa menyetujui pernikahan ini. Karena gue kagak mau masa depan gue hancur lantaran gue kagak bisa kuliah akibat hamil. Jadi, Fatan menawarkan perjanjian pra nikah, bahwa jika kami menikah, aku masih bisa melanjutkan kuliahku dan aku boleh mengajukan cuti jika kehamilan aku sudah semakin besar sampai aku melahirkan. Dan lagi pula, setelah melahirkan, aku bisa mengajukan gugatan perceraian. "jelasku pada Gadis.


Mulut Gadis terbuka dan beberapa kali dia mengucap istighfar.


" Lo, tuh otaknya rada gesrek. Tapi, gue bersyukur lo akhirnya menikah dengan Fatan dan membatalkan niat lo buat menggugurkan kandungan lo. Namun, gue kagak terima, jika lo dan Fatan pada akhirnya nanti bercerai lagi, Mit. Itu sama saja lo bedua mempermainkan arti sebuah pernikahan." protes Gadis.


" Entahlah...Gue juga bingung dan takut, Dis. Coba saja lo ngebayangin jika jadi gue. Lo juga bakalan stress karena mikirin semua ini. Asal lo tau, yang terpenting bagi gue itu sekarang adalah kuliah gue, cita - cita gue..."


" Hemm..... " sebuah deheman kecil membuat aku dan Gadis langsung menoleh ke arah pintu.


" Permisi, boleh aku masuk? "


Gadis mengangguk dan mempersilahkan Fatan untuk masuk ke kamar yang seyogyanya memang diperuntukkan untuk dirinya dan juga aku. "Masuk saja, kami sudah selesai...!" ujarnya.


Aku melotot memandang Gadis dengan wajah seram. Gadis hanya menyeringai menggoda.


" Apa..?! " Aku bertanya dengan raut wajah jutek karena merasa terganggu dengan kehadirannya. Gadis langsung menyikut pinggangku sebagai protes atas sikapku.


Aku hanya meringis menanggapi sikap protes Gadis. Bagiku, kehadiran Fatan sungguh sangat membuatku tidak nyaman.


Walaupun aku sadar, jika saat ini kami sudah sah sebagai suami istri, tapi tetap saja, aku masih tak terbiasa dengan kehadiran cowok itu.


Lagi pula, aku berpikir bahwa pernikahan ini bukanlah keinginanku. Aku melakukannya karena aku merasa, hanya tawaran Fatanlah yang paling masuk akal untuk diriku jalani saat ini.


Dia menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus oleh kertas berwarna keemasan.

__ADS_1


" Nggak ada papa. Aku cuma mau nganterin titipan dari mommy aku. Katanya hadiah buat kamu atas pernikahan kita." katanya sambil menyerahkan hadiah tersebut kepadaku. Ekspresinya dingin dan datar.


" Apa ini? " tanyaku dengan heran. Keningku terangkat keatas tanda ingin tahu.


Fatan hanya mengangkat bahu tanda diapun tak tahu apa isi hadiah yang berasal dari mommy-nya itu.


" Kalau mau tahu, buka aja sendiri.! " jawabnya acuh tak acuh.


Tanganku sudah bergerak ingin membuka isi kado dari mommy Amel. Aku penasaran akan isi kado tersebut.


"Kalo aku jadi kamu, ? Mendingan buka hadiahnya entar malam aja. Sekarang semua orang kan, lagi sibuk. Memangnya besok - besok nggak punya waktu, ya? "


Tanganku urung untuk membuka hadiah dari mommy Amel. Sebenarnya aku masih sangat penasaran. Tapi gengsi juga saat mendengar perkataan Fatan. Jadi niat untuk membuka hadiah mommy Amel aku tunda aja dulu.


Sebenarnya aku belum terlalu dekat dengan mommy Amel, mommynya Fatan. Tapi sikap nyonya yang selalu tampil cantik dan anggun itu sangat hangat dan terkesan memanjakan diriku. Hal itulah yang aku rasakan sejak kemarin, mommy Amel selalu berusaha untuk mendekatkan diri denganku.


" Cie, cie... yang baru dapat hadiah dari mommy mertua." ledek Gadis. "Enak banget, lo. Punya mertua yang segitu perhatiannya dan baik hati pula. Gue juga mau... "


" Mau..? Buruan nikah..!!" semburku cepat.


" Gue..? Nikah..? Ogaahhhh...! " jawab Gadis sambil ngeluyur pergi ke luar kamar dengan cibiran.


" Nah, lo. Giliran gue, lo maksa banget buat nyuruh gue nikah. Giliran diri sendiri yang disuruh nikah, malah ngacir. Curang, lo..! " aku tak terima dengan Gadis dan berlari mengejarnya untuk memberi cubitan. Namun sayangnya, aku lupa jika kebaya yang aku pakai terlalu sempit. Aku nyaris saja terjatuh andai saja Fatan tak buru - buru menangkap tubuhku.


Tangan kekar itu kini memeluk erat pinggangku tanpa bisa kucegah.


" Hati - hati, kamu bisa melukai dirimu sendiri dan juga bayi di perutmu. Mulai sekarang, belajarlah untuk bisa menjaga diri sendiri. Jangan seperti anak kecil. " ujarnya dengan ekspresi dingin dan datar. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya di pinggangku dan berjalan ke luar kamar.

__ADS_1


Aku hanya melongo....


Gadis terpesona.....


__ADS_2