Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 51 Kembali Diteror


__ADS_3

Gadis tak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu terdiam. Permintaan dokter Rendi begitu mendadak dan sangat tiba-tiba. Dia mencoba untuk menalar apa yang telah terjadi.


Agra menatap ke arah Gadis yang masih terdiam. Tampak jelas di matany,a calon dokter itu sedang berpikir keras. Kemungkinan besar adalah penolakan yang bakal dia terima. Dia sudah menduga akan hal itu.


Hhmmm, Agra tersenyum sinis dan memberi isyarat kepada orang kepercayaannya agar mendekat.


" Baiklah, saya rasa mungkin dokter Gadis merasa keberatan dengan persyaratan yang saya berikan. Saya bisa memakluminya. Saya senang mengetahui akan hal itu. Itu berarti saya tidak perlu mengikuti terapi yang tak berguna ini, yang hanya membuang waktu dan tenaga saja. Permisi. " kata Agra dingin sambil mengisyaratkan kepada orang kepercayaannya untuk beranjak dari tempat itu.


" Saya menyetujuinya.... " Jawab Gadis tiba-tiba. Agra memberi isyarat kepada orang kepercayaannya untuk berhenti mendorong kursi rodanya. Sebuah seringai penuh kemenangan tercetak di sana. Dia tahu, dokter Gadis akan merasa tertantang jika dia mengatakan bahwa Terapi ini tidak berguna dan hanya membuang waktu dan tenaga.


Dia berbalik menatap ke arah Gadis. "Apa maksud anda, dokter Gadis. Saya tak berpikir anda menyetujui ide konyol dokter Rendi dan memaksa saya untuk menjalani terapi yang hanya membuang - buang waktu saya yang berharga."


" Tidak ada yang terbuang percuma, tuan Agra. Saya setuju dengan pemikiran dokter Rendi. Jika dokter Rendi mengatakan bahwa anda akan sembuh dengan terapi, so, mengapa tak mencobanya. Saya bersedia membantu. Semata-mata semua itu saya lakukan karena saya merasa terpanggil untuk menyangkal pendapat anda yang mengatakan bahwa terapi yang Anda lakukan tidak berguna dan hanya buang waktu saja."


" Benarkah.....Mengapa saya masih meragukan maksud anda. " ucap Agra dingin.


" Terserah bagaimana tanggapan anda, tuan Agra. Saya hanya akan membantu kali ini saja."


" Baiklah, kita lihat apakah itu akan berguna atau tidak. Semua tergantung pada kerja kerasmu, Agra." kata dokter Rendi bijak.


" Oke....Saya akan patuhi nasehat anda, dokter Rendi. Dan Dokter Gadis, senang anda mau menyetujuinya. Saya menjadi bersemangat dan tidak sabar untuk memulai jadwal terapi saya."


" Mengenai hal itu, saya akan atur lagi jadwal terapi buat kamu, Agra. Nanti akan saya hubungi kamu untuk atur ulang jadwal pertemuan dan terapi."


" Kalau begitu, saya permisi dulu, Dokter. Senang bertemu denganmu dokter Gadis."


" Sama-sama, tuan Agra" jawab Gadis


Gadis mengantarkan Agra sampai ke pintu. " Silakan, tuan Agra. "


" Bisakah kamu menghilangkan panggilan 'Tuan' untukku, Gadis."


Gadis terpana sesaat. Panggilan itu.... Seperti dia mengalami de ja vu . Mengapa rasanya suara panggilan itu seperti dia pernah mendengarnya.


" Selamat jalan, Tuan Agra... " kata Gadis. Dia bergeming mengeraskan hatinya. Profesionalitas itulah yang coba dia lakukan saat ini. Persetan dengan permintaan pemuda itu.


Agra menghela nafas sebelum akhirnya memilih meneruskan langkahnya. Gadis, benarkah kau tak ingat semuanya. Mengapa hanya Gara saja yang ada di dalam ingatanmu.


Sementara, Gadis, diam - diam menyesali diri karena telah menerima penawaran itu.


Kini permainan sudah di mulai. Dia terjebak masuk kembali di dalam kehidupan orang terdekat sang mantan, yaitu Saudara kembarnya sendiri. Sanggupkah Gadis menghadapi semua ini. Pikiran Gadis buntu kalau bicara ini.


Di satu pihak, dia sebenarnya ingin menolak keras tawaran itu. Tapi di sisi lain, seperti ada dorongan di hatinya untuk menerima tawaran itu. Selain itu, kata - kata Arga kepada dokter Rendi juga turut mempengaruhi.


...----...


Mitha dan Kenan sedang menikmati udara pagi di sekitar taman yang berada di sekitar apartemen. Fatan tadi sudah memberikan izin kepada sang istri untuk sekedar berjalan - jalan bersama Kenan karena dia hari ini mau ke bengkel. Dia mau menservis mobilnya karena memang sudah waktunya mobil Fatan di servis.


" Hai..... " sapa seseorang..


Mitha pun menoleh. Seorang cowok memakai trainning hitam sedang berlari kecil dengan handuk kecil yang di kalungkan di leher. Dia menghentikan larinya dan berjalan pelan di sisi Mitha.

__ADS_1


Mitha ingat sekarang. Itu adalah cowok yang menolongnya mengambil Baby Holder ketika di supermarket itu. Cowok yang sama yang meminta pertemanan dengannya di sosial media.


" Hai, juga....." balas Mitha


" Kamu ada di sini juga. Berarti rumah kamu tak jauh dari sini, dong. "


" Aku tinggal di apartemen itu. " tunjuk Mitha pada apartemen yang tak jauh dari tempat dia berada saat ini.


" Benarkah, kalau gitu kita tetanggaan, Dong! "


' Benarkah, kamu tinggal di apartemen itu juga. Kenapa bisa kebetulan sekali."


" Hmmm, aku rasa...kayaknya kita berjodoh.. Kamu di lantai berapa? " tanya cowok itu.


" Aku di lantai tiga. Kamu.., "jawab Mitha.


" Aku di lantai empat... " jawabnya.


Obrolan terhenti karena Kenan tiba-tiba saja menjadi rewel.. Bayi itu mendadak gelisah dan menangis. Mitha kemudian berjalan ke tepi. Dia lalu mengambil tempat duduk di kursi taman.


Cowok itu juga ikutan duduk di sana.


" Oh, iya. Kita belum kenalan. Namaku Axel. Kamu Mitha, kan...... "


Sejenak alis Mitha bertaut. Kok dia bisa tahu nama aku. Jadi dia juga tahu namaku dan nama Fbku, pikir Mitha.


" Kok, kamu bisa tahu nama aku...? " tanpa sadar tercetus juga pertanyaan itu.


" Biasa, orang cantik pastinya banyak yang kenal. Tak sulit untuk mencari tahu namamu. Kami cukup dikenal di sini." kata Axel sambil tersenyum seraya menggoda Mitha.


Mitha hanya tersenyum mendengar godaan Axel. Baginya, sudah kenal dia dengan pujian dan rayuan gombal seperti itu.


Dia lalu mengangkat Kenan dan menggendong balita mungil itu.. Mencoba memberikan susu pada Kenan, barangkali dia harus. Tapi Kenan masih saja rewel.


Akhirnya, Mitha memutuskan menyudahi acara jalan - jalan santainya dan memutuskan untuk kembali ke apartemen.


" Oh, iya Axel. Kenan rewel. Mungkin mau tidur. Aku duluan, ya.... " kata Mitha pamit pada Axel.


Axel tampak tidak rela karena. dia masih ingin bersama Mitha. Akhirnya...


" Barengan aja, Mitha. Aku juga sudah mau pulang. " kata Axel seraya berjalan menghampiri Mitha.


Mitha pun tak menolak, karena pada dasarnya mereka memang searah.


Sementara itu, Fatan yang sedang berada di bengkel kembali menerima pesan. Kali ini melalui chat. Chat tersebut berisi foto Mitha yang sedang berjalan sambil mendorong Kereta bayi Kenan.


"Istrimu sungguh amat menggemaskan.."


Seperti kebakaran jenggot, saat Fatan menerima pesan tersebut. Tangannya mengepal menahan geram.


Dia langsung menghubungi nomor sang istri. Sayangnya, berkali-kali dia menghubungi nomor Mitha, tapi tak satupun dari panggilan itu yang diangkat. Mitha, kamu kemana, sih...

__ADS_1


pikir Fatan cemas.


Fatan sangat panik sekarang. Dia mencemaskan Mitha yang bersama Kenan.


" Bajingan...! Rupanya dia masih terus mengikuti Mitha... " Fatan menggeram dalam hati.. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghubungi Ryan.


" Cari dan lacak, dimana nomor itu berada...... !! "


Ryan langsung melacak nomor WA yang masuk ke ponsel Fatan. Tak memerlukan waktu lama, nomor itu sudah terlacak.


Itu adalah orang yang sama dengan nomor yang berbeda. Orang itu ternyata cerdik, dia hanya menggunakan satu nomor untuk sekali pengiriman pesan.


Fatan heran, WA dan nomor ponsel miliknya bisa diketahui oleh orang itu. Bagaimana bisa....!


Bergegas Fatan pulang.. Dia tak peduli lagi dengan mobilnya yang belum selesai di servis.


Sesampainya di Apartemen, Fatan tidak langsung masuk melainkan ke taman dulu. Di sana dia melihat Mitha sedang berjalan beriringan dengan seorang pria..Ada cemburu yang menyeruak dalam dadanya..Maka dengan tergesa-gesa, dia langsung menghampiri sang istri.


" Sayang, kamu tak apa - apa, kan? "


Kening Mitha berkerut heran mendengar pertanyaan Fatan.


" Iya, aku baik-baik saja... Hanya Kenan saja yang sedikit rewel... Jadi aku putuskan untuk pulang saja. "


" Oh, syukurlah kalau begitu. Aku pikir kamu kenapa - napa. Soalnya handphone kamu nggak diangkat." Kata Fatan seraya melirik ke arah Axel yang sajak tadi hanya diam saja.


" Maaf, Kak.Handphone aku ke tinggalan di kamar. Makanya nggak di angkat.. Oh, yah.. Ini Axel.. Dia yang aku ceritakan pernah nolongin aku ketika di supermarket waktu itu. Dia teryata tetangga kita. Hanya beda satu lantai saja.. Dia di lantai empat. "


Fatan dengan malas terpaksa bersalaman dengan Axel.. " Fatan, suami Mitha.. " kata Fatan. Dia sengaja menekankan kata ' suami " biar cowok yang bernama Axel itu tahu dan sadar diri bahwa Mitha itu punya suami.


Karena dia melihat ada tatapan kagum dan memuja pada sang istri, dari pandangan Axel kepada Mitha


Dan Fatan sungguh amat sangat tidak menyukai cowok itu.


"Kebiasaan kamu, Mitha. Gimana kalo ada apa - apa. Atau ada orang yang berniat jahat sama kamu."


" Nggak ada yang berniat jahat seperti itu di sini, Kak. Udah, kakak nggak usah mikir yang aneh - aneh. " kata Mitha.


Karena Fatan sudah datang, Axel akhirnya pamit untuk kembali lebih dahulu ke Apartemen.


Sebenarnya, cowok itu merasa tak nyaman karena Fatan berada di sana. Dia ingin bersama - sama dengan Mitha tapi sudah keburu ada Fatan.


Sepeninggal Axel, Fatan langsung mengajak sang istri untuk pulang juga. karena hari sudah menjelang siang. Matahari juga sudah semakin tinggi.


" Lain kali, jangan lupa bawa handphone. Dan satu lagi, aku tidak suka kamu dekat - dekat dengan cowok itu."


Mitha heran dengan perkataan suaminya. " Kenapa.... apa ada yang salah? "


" Aku tak suka dengan dia. Sepertinya dia ada maksud lain denganmu. Aku tak tahu apa itu.. Tapi peeling aku mengatakan bahwa ada yang tak beres dengan orang itu. Sebaiknya kamu berhati-hati, Mitha. Aku tak ingin kamu terlalu dekat dengannya... "


Mitha mengangguk mengerti. Dalam pikiran dia, Fatan melarangnya dekat dengan Axel lantaran cemburu. Namun sebenarnya, Fatan lebih kepada curiga jika Axel lah orang yang selama ini meneror dia dengan SMS dan chat itu.

__ADS_1


Sementara itu, Axel telah sampai di apartemen miliknya.Dia langsung pergi ke toilet. Kembali dia membayangkan Mitha dengan cumbuan panasnya. Tubuhnya menegang dan napasnya memburu. Dia orgasme hanya dengan membayangkan dirinya bercumbu dengan Mitha hingga pada akhirnya dia mencapai pelepasannya..


" Akh..... Mitha. Kau nikmat sekali..... "


__ADS_2