
" Kak Fatan..! " ucapnya.
Sontak Fatan langsung menoleh. Pandangannya bertemu dengan pandangan Mitha. Ada bening kristal yang membayang di mata bulat jernih itu sebelum kemudian membuang pandangan itu jatuh ke dinding ruangan.
Leher Fatan serasa tercekat. Sebenci itukah Mitha padanya sekarang, melihat wajahnya saja, Mitha sepertinya muak dan membuang muka, bathinnya sedih.
Namun tak urung juga Fatan bergerak menghampiri Mitha. Tekadnya sudah bulat. Dia harus mendapatkan maaf dari Mitha bagaimana pun caranya.
Fatan pun meraih tangan Mitha. Namun, dengan cepat Mitha menepis dan berusaha beringsut menjauh ke sisi ranjang yang lain. Dia membiarkan luka di hatinya kembali terbuka agar dia bisa kembali merasakan sakit saat menelan hinaan Fatan saat itu.
Mata Mitha terpejam oleh rasa perih dan kebas yang datang bersamaan di hatinya seiring juga rasa nyeri yang kembali hadir di perutnya.
" Jangan sentuh wanita murahan ini, Kak. Nanti tanganmu yang suci itu menjadi kotor.. " desisnya lirih sambil membuang pandangannya jauh. Air matanya sudah kembali jatuh saat ini. Air mata itu dapat menyembunyikan sudut terdalam hatinya yang menyimpan rindu pada wajah dingin itu.
Hatinya masih terlalu dini untuk dikatakan sembuh dari rasa sakit yang dihujamkan oleh cowok itu saat menyebut dirinya perempuan murahan. Perkataan itu terus menerus terngiang - ngiang di telinganya. Hatinya kembali merasakan sakit yang luar biasa.
" Mitha, maafkan aku. Aku sungguh - sungguh tak bermaksud untuk mengatakan semua itu.. " ujar Fatan lirih. Dia juga menitikkan air mata karena di dera rasa bersalah yang besar. Untuk itulah dia memohon dengan sungguh - sungguh agar Mitha memaafkan dirinya. Saat ini, dia memang sungguh - sungguh merasa sangat terpukul sekali. Hatinya penuh diliputi oleh penyesalan.
Sebenarnya, Mitha bisa merasakan ada ketulusan yang terpancar di mata Fatan. Namun dia masih ingin melihat sejauh mana usaha Fatan untuk berubah. Dia tak ingin terjebak ke dalam sebuah rasa yang pada akhirnya akan dia sesali nanti.
Apakah Fatan sudah benar-benar menyesal dan berubah. Salahkan jika dia berharap jika hanya ada satu kali saja pernikahan dalam hidupnya. Apakah Fatan juga memiliki keinginan untuk itu.
" Sudahlah, kak. Pergilah..! Aku sudah memaafkan kakak. Namun untuk kembali lagi, aku rasa juga sudah tak bisa. Kata - kata kakak tempo hari sudah membuat aku sadar, jika aku tak. pantas bersanding hidup denganmu. Biarlah, aku juga tak ingin membebani kakak dengan tanggung jawab ini. Mulai sekarang kakak bebas untuk memilih jalan kakak sendiri. Aku membebaskan kakak dari semua tanggung jawab karena kehamilan ini. " Ujar Mitha lebih lanjut.
Hati Fatan serasa tertusuk ribuan paku saat mendengar ucapan Mitha. Dia menyadari, istrinya itu pasti masih belum bisa melupakan ucapannya yang sangat tidak berperasaan dan kejam.
"Aku mohon Mitha, maafkan aku. Percayalah, aku sungguh-sungguh tak bermaksud untuk mengatakan ucapan yang amat melukai hatimu saat itu.Jika kamu tidak terima, kamu boleh memukulku. Pukullah aku sepuas dan sesuka hatimu. Aku rela... Aku terima.." ucap Fatan seraya menempelkan tangannya di dada. Air mata Mitha semakin deras mengalir. Dadanya naik turun menahan isak. Demikian juga halnya dengan Fatan.
" Aku sanggup menahan semua ribuan siksa dan juga pukulan darimu, namun aku tak akan sanggup jika kamu benar - benar membenci diriku. Aku tak akan sanggup untuk bertahan jika kamu pergi meninggalkan diriku. Aku juga tak sanggup jika harus jauh darimu dan anak kita. Aku mohon, kamu mau memaafkan diriku. Memaafkan keangkuhan dan kebodohanku ini. Memaafkan semua kesalahanku.." isak Fatan. Dia mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah lama dia pendam.
Mitha ingin menghentikan tangisannya, namun yang terjadi justru air matanya semakin tak bisa berhenti mengalir.
" Saat itu aku benar-benar terbakar emosi karena.... aku, entahlah aku sangat marah ketika mendengar Edo mengatakan ingin menikahimu setelah kita bercerai. Maafkan aku... mungkin saja aku cemburu saat itu. Tapi ketahuilah, aku tak akan pernah menceraikanmu Paramitha Putri." kata Edo.
Ucapan Fatan yang terakhir mampu membuat Mitha menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bagaimana ini? Mengapa Fatan mengatakan bahwa mereka tidak akan bercerai..? Apakah Fatan ingin membatalkan kesepakatan yang telah mereka buat dulu.
Apakah itu berarti Fatan sudah mulai mencintainya.? Mitha tak menemukan jawabannya.
Fatan menatap wajah Mitha yang masih bersandar di pojok ranjang bersandar pada dinding. Air mata masih saja mengalir membasahi pipi Mitha yang putih dan mulus. Begitu menggoda bagi Fatan untuk mencium dan memeluk tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Fatan akhirnya tak tahan lagi. Dia beringsut mendekat dan duduk di depan Mitha. Di raihnya tubuh ringkih Mitha lalu dibawanya ke dalam pelukannya.
Awalnya Mitha mencoba menolak dan menepis pelukan Fatan. Namun itu hanya sesaat saja. Detik berikutnya, dia sendiri yang jatuh ke dada bidang Fatan. Tangisnya kembali tumpah di jas putih Fatan yang kini sudah basah oleh air mata Mitha.
Fatan membiarkan saja Mitha menangis sepuasnya di dadanya. Dia membelai dan menghirup aroma sampo dari rambut panjang Mitha yang sangat dia rindukan.
" Menangislah, tapi setelah ini, berhentilah menangis. Kasihan bayi kita yang ada di dalam sana." bisiknya lembut sambil membelai dan mengecup perut Mitha berulang - ulang. Bayi di dalam perut Mitha bergerak. Seolah-olah mengerti jika yang baru saja membelai dan mengecup perut ibunya adalah sang ayah.
" Baik - baik di dalam sana, sayang. Jangan nyusahin mommy. Cukup papa saja yang bikin mommy kamu nangis." bisiknya di perut Mitha.
" Dia merindukan ayahnya.. " jawab Mitha. Walau masih menangis tetapi dia masih sempat juga menanggapi ucapan Fatan. Ada rasa hangat yang menyeruak hadir di hatinya karena perlakuan Fatan saat ini.
" Hmm, sepertinya begitu. Tapi ayahnya juga sangat merindukan ibunya... " bisik Fatan di telinga Mitha. Pipi Mitha langsung bersemu merah mendengar perkataan Fatan.
" Kak Fatan bohong, buktinya aku pergi tapi kakak tak juga mencariku... " sungutnya sambil mencubit lengan Fatan. Fatan langsung tergelak. Dia kembali merengkuh tubuh Mitha. Enggan untuk melepaskan...
" Andai kamu tahu, sayang. Hampir seminggu aku menyusuri seluruh isi kota ini untuk mencarimu. Namun kamu terlalu pandai bersembunyi dariku, hingga aku tak bisa menemukan dirimu." jawab Fatan.
Dia mengikis rambut panjang Mitha yang tergerai lepas dari ikatannya.
CUP.....
Mitha kaget ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya.
" Nyebelin tapi kamu suka kan...? "
" Suka apa? Es balok disukai? Yang benar aja" dengusnya.
Kembali Fatan tergelak. Hatinya sangat bahagia. Kehadiran Mitha membuat suasana hatinya yang kelam menjadi kembali bersinar cerah. Kebekuan di hatinya mencair oleh hangatnya senyuman di bibir Mitha.
Bagi Mitha, kehadiran Fatan yang datang membawa segunung permintaan maaf dan jutaan penyesalan di hatinya, mampu membuat hati Mitha tergetar oleh rasa haru yang membuncah di hatinya.
Mitha tak memungkiri jika di dalam hatinya mulai tumbuh bunga - bunga indah untuk es balok itu. Aneh memang, es balok itu mampu menumbuhkan getar - getar rasa dan juga rindu di hatinya.
Ada juga hal aneh lainnya, Mitha tak lagi merasakan sakit di perutnya. Dia malah merasa tenang dan nyaman berada dalam pelukan Fatan.
Akhirnya tak berapa lama kemudian, Mitha pun terlelap dalam pelukan Fatan. Mungkin akibat lelah menangis atau juga memang dia sudah mengantuk.
Fatan tersenyum memandang wajah Mitha yang terlihat damai dalam tidurnya. Entah mengapa, hatinya merasa tak bisa melepaskan cewek itu. Meskipun Fatan ragu untuk menjawab sebuah pertanyaan di hatinya, apakah dia sudah jatuh cinta dengan istrinya itu? Namun yang jelas, dia tak ingin berpisah dengan Mitha. Apalagi sampai melihat ada orang lain yang menjadi pendamping wanita itu menggantikan dirinya.
__ADS_1
Akhirnya, terlepas dari itu semua, Fatan kini merasa lega dan juga bahagia. Dia telah menemukan Mitha kembali sehingga mereka bisa kembali lagi bersama. Masalah Edo ataupun yang lainnya, persetan dengan semua itu. Bukankah Mitha juga pernah berucap pada Edo agar cowok itu tidak usah lagi mengharapkan dirinya. Apakah itu pertanda jika Mitha juga menginginkan bahwa pernikahan ini terus berlanjut?"
Suasana hening menyelimuti ruangan itu. Tak ada suara - suara lain. Yang ada hanyalah suara helaan nafas Fatan dan juga dengkuran halus Mitha yang terlelap di pelukan Fatan. Ruangan itu hanya ada mereka berdua saja.
Sedangkan Bu Enah, wanita tua itu sejak tadi diam - diam sudah menyingkir ke luar ruangan. Mata tuanya bisa menangkap jika anak muda berjas putih yang datang ke kamar Mitha itu sudah pasti memiliki hubungan dengan Mitha. Mungkin dia suami Mitha, pikirnya.
Bu Enah sengaja memberi ruang untuk Mitha dan anak muda itu agar bisa leluasa untuk berbicara dari hati ke hati. Dia yakin, semua yang terjadi diantara mereka hanyalah sebuah kesalahan komunikasi semata. Dia berharap semoga hubungan keduanya kembali akur seperti semula.
Fatan melirik jam di pergelangan tangannya. Sepertinya sekarang dia harus meninggalkan Mitha sementara ini karena baru saja ada pemberitahuan dari dokter Dipta, bahwa ada pasien yang baru saja masuk. Pasien korban tabrak lari.
Fatan membenarkan posisi tidur Mitha. Dia lalu menyelimuti tubuh istrinya dan kemudian melangkah keluar ruangan.
Saat sudah berada di luar ruangan Mitha, dia bertemu dengan Bu Enah.
" Bu, saya mau berterima kasih kepada ibu yang sudah berbaik hati mau merawat dan menjaga istri saya. Saya pamit dulu karena mau bertugas. Setelah ini saya akan kembali lagi. Saya titip istri saya, ya Bu. Kalau ada apa - apa, ibu segera kabari saya. Ini nomor telepon saya."
Fatan menyerahkan kartu namanya pada Bu Enah.
Setelah berpamitan pada Bu Enah, Fatan kembali lagi ke ruangan dokter koas.
Sementara itu, sejak tadi seseorang tak lepas memperhatikan apa yang dilakukan oleh Fatan mulai dari Fatan di dalam ruangan, hingga keluar ruangan.
" Siapa dia, Bu...? " tanyanya pada Bu Enah.
" Dia adalah suaminya Mitha. Namanya dokter Fatan." jawab Bu Enah. " Lha, kamu, kenapa dari tadi duduk di situ saja. Apa kamu tak berniat untuk melihat keadaan Mitha? "
" Nggak, Bu. Sultan paling nggak bisa lihat perempuan yang merintih kesakitan. Kepala Sultan langsung pusing dan sakit, Bu." jawabnya sambil memegangi kepalanya yang masih saja sakit. Badannya masih lagi demam.
" Apa kamu sudah menghubungi Mira. Suruh dia membawakan makanan dan juga pakaian ganti untuk kita."
" Belum, kenapa harus Sultan sih, Bu..? Ibu saja, yah. Sultan mau kembali beristirahat." katanya.
Bu Enah hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sultan. Putranya itu memang paling tak tahan jika melihat orang lain sedang kesakitan, terlebih lagi jika orang itu adalah seorang wanita. Kepalanya langsung sakit dan tubuhnya langsung demam. Lebih parah lagi, dia kadang sampai pingsan karena shock.
Fatan lalu melangkah pergi menuju ke tempat ruang perawatan di mana dia dirawat. Sebelah tangannya menenteng selang dan botol infusan yang selalu dibawa - bawa olehnya.
Perawat jaga yang melihat apa yang dilakukan oleh Sultan cuma bisa geleng-geleng kepala. Pasien yang satu ini memang aneh. Bukannya istirahat, malah sibuk berkeliaran kesana - kemari.
Di kamarnya, Fatan sibuk menelpon seseorang untuk meng-handle semua pekerjaannya hari ini. Kondisinya sekarang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk bekerja, apa lagi untuk mengendarai mobil atau taksi.
__ADS_1
" Permisi, Mas.. Bajunya mau ditaruh di mana? " suara lembut yang keluar dari mulut seseorang membuat Sultan langsung mendongakkan kepalanya.
" Mbak Mira..... "