
Hari berganti hari, tanpa terasa kini Mitha sudah kembali menginjakkan kaki di kampus. Sedangkan Fatan, menjadi dokter residen di rumah sakit milik keluarga Reno. Kalau tak ada halangan, rencananya tahun ini Fatan akan mengikuti Ujian untuk diambil sumpah sebagai seorang dokter.
Untuk urusan kenan, Mitha terpaksa harus menyerahkan pada Mommy Amel karena Kenan hanya mau ikut dengan omanya saja. Kenan memang pilih - pilih terhadap orang yang dia sukai. Jadi Kenan dalam pengasuhan mommy nya Fatan saat Mitha pergi ke kampus.
" Selamat datang kembali, Mitha.. " seru Gadis.. Gadis menyempatkan diri untuk datang pagi - pagi dan bertemu dengan Mitha untuk memberikan selamat kepada sahabatnya itu.
" Idih... kayak aku dari mana aja, pake ucapan selamat datang segala.... " kata Mitha sambil terkekeh.. Dia lalu menggamit lengan Gadis dan berjalan menuju kantin. Semua masih sama, pikirnya saat berjalan menuju ke kantin.
" Karena ini hari pertama aku kembali lagi, maka aku yang akan traktir. Ayo kita makan soto ayam. "
Gadis langsung mengangguk setuju karena memang kalau soal soto ayam, mereka berdua ini memang kompak seleranya. Jadilah mereka berdua memesan soto ayam lengkap dengan Ekstra telur dan emping sebagai tambahan.
" Pake traktir segala. Lagi banyak duit, yah.." seloroh Gadis pada Mitha.
Mitha hanya nyengir mendapat pertanyaan dari Gadis. Tidak dipungkirinya, semenjak jadi istri Fatan, keadaan finansialnya berubah drastis. Fatan melimpahinya dengan materi. Uang yang diberi Fatan lebih dari cukup untuk Mitha. Hingga kadang, dia mengirimkan sebagian ke orang tuanya untuk membantu biaya sekolah adik - adiknya.
Orang tuanya pun merasa bersyukur karena sering dibantu oleh keluarga Fatan hingga sekarang keadaan ekonomi keluarganya sudah semakin baik.
" Iya, alhamdulillah, kalo sekedar traktir soto sepuluh mangkok, sih. Ada ajjaaaa.... " jawab Mitha sambil terkekeh.
" Selamat pagi, Mitha.... " sebuah suara menyapa Mitha. Membuat Mitha dan Gadis menoleh ke pemilik suara.
" Axel ....!"
Mitha merasa surprise melihat kehadiran Axel di kampus itu.
" kok, kamu bisa ada di sini..?" tanya Mitha tak dapat menyembunyikan keheranannya.
Gadis yang berada di hadapannya memberi kode dengan mata, ingin tahu siapa cowok yang menyapa Mitha.
" Oh, yah. Kenalkan ini teman aku, Gadis. Dia calon dokter kandungan." kata Mitha memperkenalkan Gadis kepada Axel.
" Axel.... " Axel menyebutkan nama dirinya sambil mengulurkan tangan. Dia tersenyum saat Gadis menerima ukuran tangannya.
" Oh iya, kamu belum menjawab pertanyaan aku, bagaimana bisa kamu ada disini? "
" Aku tadi mengantar adikku dan tanpa sengaja aku melihat kamu. Jadi, ya.. aku samperin saja.. " jawab Axel.
Mata Mitha membulat ketika Axel menyebutkan adiknya juga kuliah di kampus ini.. Siapa adiknya...
" Benaran adikmu kuliah di sini. Wah, kebetulan. Jurusan apa...? "
" Entahlah, kalau tak salah, dia ambil jurusan desain interior, deh.. "
" Wah, calon arsitek, dong..!"
Axel hanya nyengir sambil menggaruk Kepalanya yang tak gatal. " Yah, seperti itulah.. .. " jawab Axel kemudian.
Axel pamit setelah berbicara beberapa saat dengan Mitha. Diam-diam, Gadis memperhatikan gerak- gerik Axel yang dinilainya sangat aneh. Dia curiga, axel punya maksud lain terhadap sahabatnya itu.
"Sepertinya lo kudu hati - hati sama tuh bocah. Gue lihat dia suka sama lo. Apa Fatan kenal sama dia... " tanya Gadis khawatir.
"Kenal baik sih, enggak. Tapi kak Fatan sudah pernah bertemu dengan Axel sekali."
__ADS_1
" Lantas, gimana reaksi laki lo...? "
" sama seperti lo, kak Fatan juga kurang suka sama Axel. Dia memintaku untuk agar jangan terlalu dekat dengan Axel.."
" Nah, Fatan aja punya peeling kalau si Axel itu nggak benar. Lo emang kudu hati - hati... "
" Kalo menurut gue sih, Kak Fatan cemburu aja sama Axel... " jawab Mitha.
" Serah lo, dah. Gue cuma ingetin, lo jangan terlalu percaya sama Axel. Gue curiga sama tuh, bocah. Dan biasanya, firasat gue nggak pernah salah, Mit.. "
" Iya, gue akan ingat pesan lo... " jawab Mitha akhirnya.
Mereka pun menyudahi sarapan bersama karena hari sudah semakin siang dan sudah banyak mahasiswa yang berdatangan.
...Ω...
...***...
Lembayung senja beranjak turun membelah sore yang gerimis. Gadis yang sejak tadi termenung menatap ke arah titik air yang jatuh di kaca ruangan kerjanya. Dia tidak pulang ke kosan karena malas harus bolak balik lagi sementara nanti malam ada tugas jaga.
" Temani aku sebentar.... " sebuah pesan singkat masuk melalui whatsapp. Gadis sudah bisa menebak itu pasti dari Agra.
Gadis menghela nafas panjang. Teringat akan permintaan Agra tempo hari. Permintaan yang membuat dia tak dapat memejamkan mata karena yang empunya permintaan tak ingin ada kata penolakan.
" Gadis... jadilah kekasihku.. "
Kata - kata itu selalu menari - nari dalam pikiran dan ingatan Gadis. Dia sebenarnya tak tahu pasti, bagaimana hatinya saat ini. Apakah cinta itu masih dapat dia rasakan. Cinta yang ada di hati Gadis untuk Agra atau Gara. ..?
Seperti ciuman itu....
Tanpa sadar Gadis meraba bibirnya yang kembali terasa panas. Jantungnya kembali berdebar - debar.
" Aku sudah di depan. Aku tahu kamu ada di dalam. Apa perlu aku suruh orang suruhanku menjemputmu?? "
Astaga, nih orang...
Terlahir dari batu apa, ya.?
Kok keras sekali dan tak bisa ditawar - tawar.
Dengan gemas, Gadis menyambar tas selempang miliknya dan berjalan keluar dengan terburu - buru. Begitu sampai di depan rumah sakit, sebuah mobil mewah yang sangat di kenalnya sedang terparkir cantik. Dua orang suruhan Agra sudah siap sedia untuk membukakan pintu untuk Gadis.
" Memangnya mau kemana, sih." tanya Gadis begitu duduk di sisi Agra. Di liriknya Agra, cowok bermata elang itu sudah berpakaian rapi. Kemeja hitam dan jeans dengan warna senada, membuat penampilan Agra begitu memukau.
"Aku mau membeli hadiah untuk seseorang" jawabnya singkat.
" Aku tak bisa lama - lama. Nanti malam aku ada tugas jaga." kata Gadis. Dia berharap dengan mengatakan hal itu Agra akan mengurungkan niat untuk mengajaknya keluar.
" Jam berapa.... " tanya Arga kemudian setelah beberapa saat terdiam.
"Jam sembilan... " jawab Gadis.
" Hem, masih lama. Jalan pak...!" Perintah Agra pada supir pribadinya.
__ADS_1
Mobil pun bergerak membelah kesunyian senja di penghujung magrib. Sunyi dan hening sepanjang perjalanan.
" Apa kamu sedang memikirkan aku.? " pertanyaan Agra memecah kesunyian. Gadis tergagap mendapat pertanyaan seperti itu. Dia memang memikirkan tentang cowok itu.
Tentang mengapa akhirnya dia menerima saja permintaan Agra untuk menjadi kekasih cowok itu.
Mobil Agra berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Agra turun dengan menggerakkan sebelah kakinya. Akhirnya dia berhasil juga menapakkan kaki kanannya disusul kemudian dengan kaki kirinya.
" Agra, Kau..... "
Tak ada lagi panggilan tuan untuk Agra. Gadis teramat terkejut dengan semua itu. Agra mampu berdiri..!!!
"Kejutan...!! " kata Agra. " Aku melatih diriku sendiri beberapa hari ini. Hasilnya aku mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah.. " kata Agra lagi.
Supir pribadi Agra segera menyerahkan tongkat kepada Agra untuk menopang tubuh cowok itu.
" Kamu tidak malu kan, jalan sama aku yang cacat ini." tanya Agra lagi.. Astaga.... kumat lagi reseknya nih anak...
Tapi tak urung pertanyaan Agra membuat Gadis merasa terharu dan sedih. Rupanya kepercayaan diri cowok itu lagi di level bawah. Hingga sampai pertanyaan itu terucap juga.
Gadis menggeleng dan berucap, " Tidak, aku tidak malu jalan sama kamu..." jawab Gadis. Lalu meraih tangan cowok itu dan menggandengnya.
Mereka berjalan pelan masuk ke dalam toko perhiasan itu di ikuti beberapa pasang mata yang menatap iba kepada pasangan itu. Ada juga yang mencibir. Bahkan ada yang melecehkan.
Tapi Gadis tak peduli. Dia terus saja menggandeng Agra hingga sampai di depan penjaga toko yang berdiri dan memperhatikan keduanya.
" Ada yang bisa saya bantu, tuan." kata penjaga toko tersebut kepada Agra.
" Saya mau mengambil pesanan saya. Sebuah kalung atas nama tuan Agra.. " jawab Agra sambil memperlihatkan sebuah nota pemesanan barang yang sudah dibayar lunas.
Penjaga toko tersebut mengambil nota tersebut dan menyerahkannya kepada sang pemilik toko perhiasan.
Tak lama kemudian, pemilik toko pun kembali dengan membawa sebuah kotak kecil terbuat dari kayu berukiran. Dia kemudian menyerahkan kotak tersebut kepada Agra.
Agra membuka isi kotak kecil tersebut dan mengamati isinya. Sebuah kalung terbuat dari emas putih dengan bandul berbentuk seperti gambar hati yang ditengahnya ada inisial huruf GA.
"Sempurna! " desisnya.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Pemilik toko perhiasan, Agra dan Gadis lalu meninggalkan toko Emas itu.
Agra pun mengajak Gadis makan di sebuah restoran kemudian baru mengantar Gadis kembali ke rumah sakit. Sementara malam sudah semakin beranjak gelap.
" Gadis.... " panggil Agra saat Gadis hendak beranjak turun dari mobil Agra.
" Iya, ada apa...?" tanya Gadis.
" Terima kasih karena sudah mau menjadi kekasihku. Dan Terima kasih karena sudah mau menemani aku hari ini. "
Gadis memandang Arga. Mencari - cari sesuatu yang sudah lama dia rindukan. Tatapan itu. Ternyata waktu yang berlalu tidak mengubahnya.Tatapan memuja itu ternyata masih dimiliki Agra.
Entah siapa yang memulai..Lagi, kembali kedua bibir itu bertemu. Dalam, tapi hanya sesaat saja.
"Sama - sama.. " jawab Gadis.
__ADS_1