
" Arrgh....!" erang Mitha menahan nyeri di bagian pelipisnya bekas pukulan Fatan dan juga di dekat rahangnya akibat pukulan Edo. Selain itu seluruh tubuhnya terasa remuk dan Ia juga merasakan kram di sekitar perutnya.
Mitha ingin bergerak untuk mencari posisi nyaman, namun sebelah tangannya sudah dipasangi selang infusan. Mitha meringis ketika tubuhnya terasa sulit untuk bergerak. Tubuhnya terasa lemas tak memiliki tenaga.
Seseorang langsung berdiri dan memegangi dirinya, membantunya untuk bergerak. Kemudian sebelah tangan orang itu beralih mengusap kepalanya.
"Kau sudah sadar....? Mana yang sakit? Tahan sebentar, aku akan memanggil dokter.." itulah adalah suara Fatan yang terdengar panik. Suara yang pertama kali Mitha dengar ketika baru siuman dari pingsan.
Mitha menoleh ke arah Fatan sesaat yang kini sudah berjalan keluar untuk memanggil dokter, lalu bergegas kembali lagi.
Saat pandangannya bertemu dengan Fatan, Mitha langsung memalingkan wajahnya . Dia sungguh tak ingin menatap wajah itu. Wajah yang baginya sangatlah menyebalkan. Apalagi setelah kejadian tadi sore di halaman rumah sakit.
Dokter dan perawat segera datang dan melakukan pemeriksaan terhadap Mitha. Mereka memeriksa tanda - tanda Vital dan memastikan bahwa keadaan pasien baik dan stabil.
" Saudara Fatan, Kondisi pasien saat ini sudah stabil. Namun, sepertinya istri anda harus bed rest dulu selama satu minggu ke depan, karena saya mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam kandungan istri anda." kata dokter Indar Sp.og, dokter ahli kandungan yang menangani masalah Mitha.
Untuk sesaat, Mitha merasa de ja vu. Dokter tadi menyebutkan istri? Benarkah Fatan mengakui dirinya sebagai istri di depan dokter itu? Ada getaran aneh yang menjalari hati Mitha, terlebih ketika mendengar kelanjutan pembicaraan antara Fatan dan dokter Indar.
"Memangnya kenapa dengan bayi kami, dok? " tanya Fatan dengan wajah khawatir yang dibalut cemas.
" Kami belum bisa menyimpulkannya sekarang, karena masih terlalu dini. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan lebih lanjut." kata dokter Indar lebih lanjut. Dokter kandungan itu memang belum bisa memberikan informasi lebih lanjut tentang masalah kehamilan Mitha karena belum mendapatkan hasil lab secara lengkap.
Fatan tentu saja faham dengan maksud dokter Indar karena dia juga mahasiswa kedokteran. Dia harus bersabar menunggu laporan hasil informasi dari lab tentang kondisi kehamilan sang istri.
"Baik, saya faham. Lakukan yang terbaik untuk istri dan bayi kami, dok. Terima kasih banyak atas bantuan anda. " ujar Fatan sambil menyalami dokter Indar. Dokter Indar tersenyum sambil menatap ke arah Mitha.
"Mbak Mitha, usahakan banyak istirahat, ya. Nanti akan saya resepkan vitamin untuk menguatkan janin dan juga anti mual. Rajin kontrol, ya Mbak..." kata Dokter Indar lagi.
Mitha menanggapi anjuran dokter Indar dengan anggukkan lemah. Dia merasa tubuhnya lemas sekali dan juga mengantuk. Mungkin karena pengaruh obat yang baru saja disuntikkan oleh perawat.
__ADS_1
Dokter Indar memang memintanya untuk memperbanyak tidur demi mempercepat pemulihan atas kondisi Mitha.
Melihat kondisi Mitha yang tergolek lemah tidak berdaya, rasa bersalah kembali hinggap di diri Fatan.
Bergegas dia kembali mendekati ranjang Mitha setelah dokter Indar pamit untuk memeriksa pasien lain.
Dia meraih tangan Mitha yang tak dipasangi selang infus. Menggenggam jemari tangannya dengan lembut.
" Mitha, aku mohon maaf atas kejadian tadi. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mencelakai dirimu. Aku mohon, maafkan aku. Aku bersalah telah membuatmu jadi seperti ini..." ucapnya lirih nyaris terdengar seperti bisikan.
Mitha yang mendengar ucapan Fatan yang sarat dengan ungkapan penyesalan, pada akhirnya luluh juga. Air matanya tumpah membasahi kedua pipinya yang putih dan halus mulus.
Mitha yang sejatinya berhati lembut dan suka nggak tegaan, langsung lumer. Kemarahannya perlahan-lahan sirna. Diapun sudah memaafkan Fatan.
Hanya saja dia masih ingin membuat jera Fatan agar tak kembali berulah. Hingga saat ini, dia hanya memilih diam tak membalas perkataan Fatan. Takut cowok itu ngelunjak.
" Mitha, kamu mau, kan, buat maafin aku? Aku janji aku akan......"
" Tapi, Mitha. Aku nggak biarin kamu tidur dulu, sebelum aku mendengar sendiri kalau kamu sudah memaafkan diriku." rengek Fatan mirip bocah minta jatah uang belanja.
Tuh, kan..?! Apa kubilang, sungut - sungut Mitha dalam hati. Lelaki yang satu ini jika dikasih hati mintanya jantung. Selesai itu minta apa? Mungkin juga nantinya minta.... cinta. Lalu apakah juga akhirnya Mitha akan memberikan cintanya pada cowok itu. Karena yang Mitha tahu saat ini, dia sudah mengisi seluruh ruang di hatinya dengan nama seseorang. Seseorang yang ......
" Mitha..... "
Wajah Fatan yang semula lembut kini berubah keras saat melihat siapa yang datang menemui sang istri. Sontak cowok itu langsung berdiri.
" Kau..! Untuk apa kamu datang kemari? Apa kamu belum puas menyakiti istriku..? " Fatan menekankan kata istri kepada Edo, biar cowok itu tahu jika kini Mitha adalah miliknya.
" Aku kemari untuk menemui Mitha. Aku ingin minta maaf dan juga ingin minta penjelasan dari mulutnya sendiri apakah benar jika kalian sudah menikah." jawab Edo dengan berani.
__ADS_1
Dia menatap tajam ke arah Fatan dan kemudian tatapannya beralih kepada Mitha. Sorot matanya memohon kejelasan pada Mitha.
" Mitha, gue mohon maaf atas kejadian tadi. Sungguh gue tak bermaksud buat nyakitin lo... "
Mitha hanya mengangguk pelan.
"Sudahlah, gue sudah nggak papa, do. Gue juga bersalah. Karena gue, kalian berdua jadi salah faham dan akhirnya jadi bertengkar."
" Tapi, Mit. Tetap saja gue salah. Gue sudah buat lo jadi begini. Maafin gue, ya Mitha." kata Edo penuh penyesalan.
Mitha kembali mengangguk. Dia mencoba tersenyum supaya Edo merasa tenang.
" Istriku sedang sakit dan butuh banyak istirahat. Gue minta lo pulang sekarang, sebelum gue berbuat kasar sama lo..! " ujar Fatan kesal.
Sebenarnya dia sudah bergerak ingin menghajar Edo, namun cekalan tangan Mitha menahannya. Mitha menghiba melalui sorot matanya agar Fatan tidak berbuat gaduh dan kekerasan lagi karena ini adalah rumah sakit.
Fatan pun akhirnya luluh juga. Cowok itu pun mengalah dan harus bersabar menahan emosi yang meluap - luap di hatinya saat bertemu Edo. Dan semua dia lakukan hanya demi Mitha.
Demikian juga halnya dengan Edo. Walaupun kecewa karena tak bisa berbicara secara langsung dari hati ke hati dengan Mitha, namun dia bisa memahami kondisi Mitha yang masih lemah dan belum memungkinkan untuk bergerak leluasa.
Edo juga yakin, jika saat ini, kondisi kesehatan mental Mitha juga sedang tidak dalam kondisi yang stabil. Dia terlihat seperti tertekan dan juga stress.
Banyak hal yang ingin dia tanyakan langsung kepada Mitha. Bahkan tadi secara tidak di sengaja, telinganya menangkap pembicaraan antara dokter Indar dan Fatan. Dari pembicaraan kedua orang itu, Edo mengetahui satu hal, bahwa saat ini Mitha sedang mengandung anak Fatan.
Itulah sebabnya, Mitha sampai dilarikan ke rumah sakit lantaran kondisinya yang lemah. Ditambah pasca kejadian pemukulan oleh Fatan dan Edo secara tak sengaja, membuat cewek itu akhirnya ambruk.
Awalnya, Edo sempat kaget saat mengetahui fakta tersebut. Dia yang sejak tadi hanya menunggu di luar, langsung terduduk lemas. Jadi benar kata - kata Fatan saat di halaman rumah sakit waktu itu. Fatan melarangnya menyentuh Mitha karena pada kenyataannya, Mitha adalah istrinya.
Sungguh, dia tak menyangka jika Fatan dan Mitha sudah menikah dan bahkan kini Mitha sedang hamil anak mereka.
__ADS_1
Apa yang telah terjadi. Apa dia melewatkan sesuatu? Berbagai pertanyaan hadir di benak Edo. Dan dia butuh jawaban. Hanya Mitha yang bisa menjelaskan semua ini.
Hanya Mitha.....