Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 27 Pesan Papa Mertua


__ADS_3

POV Mitha ( Pesan Papa Mertua)


Astaga....


Apa itu tadi..? Apa aku sedang bermimpi? Fatan mencium keningku.


Aku meraba kening yang baru saja dikecup oleh Fatan. Masih terasa hangat bekas sentuhan bibirnya. Mendadak senyum di bibirku terkembang saat mengingat ekspresi Fatan usai mencium keningku tadi.


Huwahhahahaha......., lucu sekali.


Wajah Fatan bersemu merah seperti kepiting rebus. Mungkin dia merasa malu padaku. Andai aku tadi pegang kamera, sudah keabadikan momen langka tadi. Es balok itu akhirnya meleleh juga.


Puas tertawa sendiri, aku kembali merebahkan diriku di kasur. Aku mau rebahan lagi karena badanku masih lemas dan kepalaku masih terasa pusing. Tak lama kemudian aku sudah terbang lagi ke alam mimpi. Akh... dasar ibu hamil, kerjanya tidur mulu, nih. Untung saja nggak ada mertua. Coba kalo ada, aku bisa dicap sebagai menantu pemalas. Walau memang benar kenyataannya, tapi enggak enak juga, kalee.... hihihihi.


Aku tertidur cukup lama hingga ketukan di pintu kamarku membangunkan aku diriku dari tidur.


" Non..., Non Mitha..... " terdengar suara Bi Asih memanggil namaku.


" Masuk saja, Bi. Tidak dikunci..! " jawabku masih dengan mata setengah terpejam.


Cekrek, terdengar pintu dibuka. Wajah Bi Asih menyembul di balik pintu.


" Permisi, Non. "


" Masuk aja, bi."


Aku kemudian segera bangun dan duduk di atas kasur. Aku masih merasa sedikit lemas.


Bi Asih kemudian masuk ke kamar dan berjalan mendekatiku dengan sopan.


" Maaf, Non. Tadi Tuan besar menelpon. Tuan berpesan agar Den Fatan dan Non Mitha pergi menghadiri undangan jamuan makan malam di rumah kediaman keluarga besar Tuan Pramono Agung pukul 07.00 nanti malam. " lapor Bi Asih.


What....? Apa...?


Alhasil aku langsung shock mendengar pesan Papa mertua. Mendengar kata undangan makan malam, pikiranku langsung membayangkan pesta orang - orang kaya yang sering kulihat di film - film dan juga Drama Korea kesukaanku.


Pasti di sana semua orang tampil memukau dengan beragam balutan busana mewah.


Duh, Gusti....


Diriku ibarat upik walau tak pakai abu.


Aduh, gimana ini. Seumur hidup aku tak pernah pergi ke pesta - pesta seperti itu. Paling bantar pergi ke pesta nikahan teman saja. Itu juga masih di seputaran kampungnya saja. Dan pakaian yang kupakai biasanya paling mewah hanya kemeja plus rok panjang atau malah gaun hasil jahitan ibuku.


" Bi Asih, gimana ini. Saya tak punya pakaian yang pantas untuk dipakai ke pesta itu ? jawab Mitha dengan ekspresi panik.

__ADS_1


Bi Asih tersenyum mendengar kepanikanku. " Oh...kalau masalah itu sih, Non Mitha tak usah khawatir. Kata Nyonya Amel, dia sudah menghubungi Boutique tempat biasa Nyonya Amel membeli baju. Non Mitha bisa minta tolong Den Fatan untuk mengantar Non Mitha ke sana." lanjut Bi Asih.


Aku sejenak terdiam mendengar perkataan Bi Asih. Benaran. .? Aku Lagi nggak salah denger, kan..? Mommy mertuaku baik bangett....


" Benaran yang bibi bilang, itu....? Bi Asih mengangguk mengiyakan.


Aku menarik nafas lega mendengar keterangan dari Bi Asih. " Alhamdulillah. Bi, Makasih ya, atas informasinya."


" Sama-sama, Non. Kalau gitu, bibi mau ke bawah dulu. Mau bantuin Bi Surti masak."


Aku mengangguk dan segera meraih gawaiku untuk menelpon Fatan.


Ya Allah.....Ya Gusti.....


Aku menepuk jidatku sendiri. Tolol....tolol.....tolol..!!!


Aku merutuki diri sendiri. Kenapa....?Mau tau alasannya...?


Baiklah, aku beri tahu alasannya...


Aku baru sadar jika aku tak punya nomor Fatan. Sekarang, aku jadi bingung sendiri karena aku tak bisa menghubungi Fatan untuk minta tolong di antarkan ke Boutique yang disebutkan oleh Mommy Amel tadi.


Bego, bukan......?


Menikah dengan Fatan sudah hampir tiga bulan, tapi nggak punya nomor suaminya. Istri macam apa ya, aku ini?


Perlahan-lahan, aku menuruni tangga berkelok yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Saat sudah di bawah, aku segera mencari keberadaan Bi Asih atau Bi Surti di dapur. Aku yakin sekali mereka pasti ada di sana. Dan aku juga yakin seribu persen mereka pasti punya nomor telpon seluruh majikan mereka termasuk nomor suamiku, Fatan.


" Apa..!!? Non Mitha nggak punya nomor den Fatan?" Bi Asih tampak terkejut saat aku meminta nomor Fatan kepadanya.


Aku mengangguk malu sambil cengar - cengir. "Aku nggak pernah minta nomornya." jawabku enteng.


Bi Asih dan Bi Surti geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Bi Asih akhirnya memberikan nomor telepon Fatan kepadaku.


" Non Mitha ada - ada saja. Masa nomor suami sendiri ndak punya.. " celetuk Bi Surti kemudian.


" Ya, habisnya aku nggak kepikiran buat ngehubungi dia." jawabku asal.


" Loh, kok bisa. Dia itu kan suami Non Mitha. Kenapa nggak kepikiran mau menghubungi Den Fatan?


" Males.... " jawabku enteng sambil memasukkan nomor Fatan ke dalam gawaiku.


" Makasih ya, Bi... " Aku melangkah kembali ke kamar meninggalkan kedua wanita paruh baya itu yang menatap kepergianku dengan tatapan heran.


Di kamar, aku langsung menekan nomor Fatan dan alhamdulillah langsung terhubung.

__ADS_1


" Yah, dengan siapa ini....? "terdengar suara di seberang sana. Suara Fatan tentu saja. Siapa lagi..?


" Ehm... ini aku.. " jawabku ragu. Aku malu banget.


" Eh, Mitha. Ada apa...? " suara Fatan terdengar panik begitu mengetahui aku yang menelponnya.


"Aku tadi diberitahu Bi Asih kalau papa kamu berpesan bahwa kita berdua disuruh untuk pergi menghadiri jamuan makan malam di rumah kediaman keluarga besar.... keluarga besar.. aduh keluarga besar siapa, ya? aku lupa.. "


" Keluarga besar Tuan Pramono..? " tanya Fatan.


Wah, dia rupanya sudah tahu. Baguslah kalo begitu.


" Iya, aku sudah tahu. Tadi papa sudah nelpon aku. Tapi aku mau tanya, apa kamu bersedia untuk pergi ke sana bersamaku...? "


Aku terdiam sesaat oleh pertanyaan Fatan. Iya, yah. Benar juga. Apa aku tadi sudah bilang jika aku bersedia datang ke pesta itu. Jadi, bisa saja, kan, jika aku menolak untuk datang ke sana.


" Mitha.... kok diam. Kamu masih di sana, kan? " tanya Fatan.


" A....ku tak tahu. Aku nggak punya gaun yang pantas untuk dipakai ke pesta itu." jawabku akhirnya.


" Apa mommy aku tak bilang sesuatu..?" tanya Fatan kemudian.


" Iya, kata Bi Asih, mommy kamu bilang kalo masalah gaun, aku bisa pergi ke boutique langganan mommy. Dia bilang kamu bisa mengantar aku ke sana." jawabku lagi.


" Apa kamu mau aku mengantarmu ke sana? " tanya Fatan.


Kembali aku terdiam. Aku menimbang - nimbang sejenak. Mau pergi, nggak..? Mau pergi, nggak..? Nggak pergi..? Mau pergi....?


" Mitha, kalau kamu nggak berkenan pergi aku nggak maksa. Aku bisa bilang ke papa jika kamu sedang nggak enak badan atau sakit... "


" Iya, aku mau pergi...... " putusku kemudian.


" Apa...?


" Iya, aku mau pergi ke boutique. Jemput aku...! "


Aku langsung mematikan telepon secara sepihak. Astaga... jantungku deg - degan. Aku malu bangett.


Bergegas aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju kaos rumahanku dengan kemeja potongan berwarna putih dan celana tiga perempat berwarna hijau army.


Aku berdandan seadanya karena jujur saja selama masa kehamilanku aku sangat alergi mencium bau wangi - wangian termasuk juga bau harum parfum dan kosmetik. Terakhir aku memoleskan lipstik mate berwarna senada bibirku agar tidak terkesan pucat. Sempurna, pikirku sambil mematut diri.


Selesai berdandan aku menunggu Fatan sambil bermain Facebook. Sudah lama aku tak membuka aplikasi berlabel huruf f kecil itu. Aku asyik berseluncur di berandaku dan kadang membalas chat dari teman - teman FB ku.


Karena kelamaan menunggu aku jadi tertidur kembali. Aku baru tersadar saat merasakan seseorang sedang membelai pipiku.

__ADS_1


" Kak Fatan... "


__ADS_2