
Sultan langsung melongo melihat senyum Mira. Alamak, Manis banget, pikirnya. Mati kakak, dek.!!!!!
...----...
Hari masih pagi, namun Mitha sudah bangun dan bergegas ke dapur menyiapkan sarapan untuk Fatan. Itu sudah menjadi rutinitas kesehariannya semenjak tinggal di apartemen Fatan.
Dia memutuskan untuk menerima usulan Fatan agar mereka tinggal bersama di apartemen itu. Walaupun mommy Amel dan papa Bram awalnya keberatan dengan keinginan Fatan tersebut, namun pada akhirnya mereka tak bisa memaksa Fatan.
Fatan mengemukakan alasannya mengapa dia meminta Mitha untuk tinggal bareng dia di apartemen miliknya. Dia ingin belajar membangun rumah tangganya sendiri bersama Mitha.
Walaupun pernikahan ini berawal dari kesepakatan mereka berdua, tapi dia masih berharap, dikemudian hari dia dan Mitha bisa bersama selamanya.
Akhirnya Mommy Amel dan papa Bram bisa menerima alasan Fatan dan menyerahkan semua yang terbaik untuk sang putra.
Apartemen yang mereka tinggali sekarang ini hanya memiliki satu kamar tidur saja, satu ruang tamu, satu dapur dan satu kamar mandi.
Karena kamar tidur hanya satu, awalnya Fatan mengatakan bahwa dia akan tidur di sofa saja. Sama seperti saat mereka berada di rumah Mommy dan Papanya Fatan. Namun, kemudian Mitha sendiri yang meminta Fatan untuk tidur di sisinya, walaupun masih berbatasan guling.
Fatan merasa oke oke saja dengan batasan itu. Tak masalah meski dia tidurnya harus menghadap ke arah dinding. Toh, dia sudah cukup senang karena Mitha sudah memperbolehkan dia tidur di ranjang yang sama.
Malam pertama tidur berdua, Mitha memasang sebuah guling besar sebagai pembatas antara dirinya dan Fatan. Namun saat tengah malam, Fatan merasa seperti ada tangan seseorang yang sedang memeluk dirinya dari belakang.
Begitu dia berbalik, ternyata Mitha lah yang memeluk dirinya. Tubuh wanita itu bahkan sudah menempel erat di belakangnya.
Wanita muda yang sedang hamil tua itu rupanya merasa kedinginan karena Fatan terlalu dingin saat menyetel AC. Wanita hamil itu meringkuk di belakang Fatan seperti udang goreng dengan kaki ditekuk.
Fatan tersenyum samar. Ternyata siasatnya yang sengaja menyetel AC dengan suhu yang sangat dingin berhasil membuat Mitha beringsut mendekatinya. Hilang sudah guling pembatas antara mereka. Mitha sendiri yang menyingkirkan guling itu dan memilih memeluk Fatan untuk mencari kehangatan.
__ADS_1
Tanpa ragu - ragu, Fatan langsung balas memeluk tubuh Mitha dan mendekap tubuh montok itu di balik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua sampai menjelang pagi.
" Selamat pagi... " sebuah sapaan terdengar dari arah belakang. Di lanjutkan dengan sebuah pelukan dari belakang oleh seseorang. Tak lupa pula sebuah ciuman di dahi dan perutnya, melengkapi sapaan dan perlakuan manis Fatan untuk Mitha.
Itulah yang selalu dilakukan Fatan selama sebulan dia tinggal di apartemen ini. Walaupun pada awalnya Mitha protes karena merasa tidak nyaman. Namun Fatan selalu berkilah bahwa dia melakukan semua itu bukan untuk Mitha, tetapi untuk janin yang dikandungnya, yang merupakan anak mereka.
Mitha pun akhirnya hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan Fatan pada dirinya atau pada janinnya, terserah apa, Mitha tak perduli. Namun, sejauh ini, diam - diam dia menikmati semua perlakuan manis Fatan untuk bayi mereka.
" Mandilah, Kak. Lalu segera sarapan. Bukankah hari ini kakak ada ujian akhir. Sebaiknya kakak segera bersiap agar tidak terlambat." ujar Mitha.
Dia segera menghidangkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dan sosis serta segelas susu hangat. Itu adalah sarapan kesukaan Fatan. Tinggal serumah dengan Fatan sedikit banyak dia mulai mengenal tabiat dan kebiasaan cowok itu. Fatan adalah pribadi yang sedikit tertutup dan tidak mudah bergaul dengan seseorang. Temannya bisa dihitung dengan jari. Dan Fatan bukanlah orang yang mudah percaya orang begitu saja.
Mengenai makanan, cowok itu juga amat sangat selektif. Meskipun Dia seorang dokter, namun Fatan tidak menyukai ikan. Namun untuk makanan berbahan baku ikan seperti filed ikan atau empek - empek, dia masih bisa makanannya.
Untuk masalah belanja, mereka berdua selalu berbelanja bersama. Fatan tak pernah membiarkan Mitha berbelanja seorang diri walaupun supermarket tempat mereka berbelanja berada di lantai dasar apartemen mereka.
" Apakah hari ini kamu akan pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter Indar?" tanya Fatan seraya menggeser kursi meja makan. Tangannya bergerak meraih piring yang berisi nasi goreng buatan Mitha. Lalu tanpa babibu, langsung saja dia menyantap nasi goreng tersebut.
" Seperti biasa, selalu enak dan lezat." pikirnya dengan senyum merekah. Dia selalu menyukai nasi goreng telur dan sosis buatan Mitha yang rasanya luar biasa enak di lidah Fatan.
"Iya, hari ini jadwal aku bertemu dengan dokter Indar. Biasa, paling juga check kandungan." Mitha yang duduk di sisi dapur menjawab dengan nada malas. Tangannya sibuk mengutak atik handphone miliknya.
Fatan berhenti menyuap makanannya dan menatap heran ke arah Mitha.
" Ada apa? Kok kayaknya ogah - ogahan gitu? " tanyanya heran.
" Entahlah, hari ini sepertinya aku kurang enak badan." jawabnya lagi.
__ADS_1
Fatan menghentikan makannya dan bergerak mendekat Mitha. Tadi pada saat memeluk Mitha, memang dia merasakan suhu badan Mitha agak ssedikit hangat dari biasanya.
Tangannya bergerak memegang dahi Mitha. Agak panas. Sepertinya Mitha memang beneran demam.
Fatan langsung bertindak cepat. Dia lalu bergegas mengambil peralatan medisnya dan meminta Mitha untuk berbaring di kamar mereka agar dia bisa memeriksa kondisi sang istri.
" Sepertinya kamu memang agak demam. Ayo, sebaiknya kamu beristirahat di kamar saja. Janji dengan dokter Indar biar aku saja yang batalkan." kata Fatan. Dokter itu dalam sekejab langsung berubah posesif.
" Tapi Kak, itu dapur belum dibersihkan." bantah Mitha. Dia merasa tak nyaman jika membiarkan dapur berantakan.
"Mitha, dengarkan aku. Kamu istirahat saja. Tidak usah memikirkan yang lain. Nanti aku akan minta Mbak Ning, asisten rumah tangga di rumah mama untuk kemari. Biar dia yang mengerjakan semua. Mulai sekarang, kamu nggak boleh lagi kerja - kerja di dapur." pinta Fatan yang tak bisa lagi di bantah oleh Mitha.
" Tapi, aku jadinya nggak punya kerjaan, dong, Kak" protes Mitha. Dia langsung pasang wajah cemberut ke arah Fatan.
Melihat sikap Mitha yang seperti itu, Fatan jadi gemas. Kedua tangannya menungkup wajah Mitha yang sedang cemberut.
" Mitha, jangan membantah. Ini semua demi kebaikan kamu dan juga anak kita. Aku tak mau terjadi sesuatu baik denganmu atau dengan bayi kita." ucapnya dengan nada tegas. Ada kekerasan di wajah Fatan, namun sorot matanya terlihat penuh kelembutan.
" Baik, dokter Fatan. Saya akan patuh pada nasehat anda." kata Mitha sambil Huh, jadi dokter kok galak amat, sih... " gerutu Mitha kesal.
" Pasien bandel macam kamu memang harus galak - galak. Kalau tidak, ngak sembuh - sembuh." balasnya sambil mengecup pucuk kepala dan kemudian pipi Mitha. Kadang - kadang kalau lagi baper, Mitha suka tersipu sendiri usai Fatan mencium dirinya. Seperti sekarang ini.
" Ngapain kamu senyum - senyum sendiri? " tanya Fatan.
" Ahhh... Kak Fatan. Sudah sana, pergi! Entar terlambat, baru kapok." kata Mitha yang merasa malu karena ketahuan senyum - senyum sendiri saat memandang suaminya.
Fatan tersenyum simpul sambil meraih kunci mobilnya. Dia tahu saat ini, Mitha pasti sedang baper karena mendapati perlakuan manisnya.
__ADS_1
Mitha manis sekali kalo lagi baper, pikir Fatan.