Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 38 Bertemu Mbak Mira


__ADS_3

Di kamarnya, Fatan sibuk menelpon seseorang untuk meng-handle semua pekerjaannya hari ini. Kondisinya sekarang tidak memungkinkan bagi dirinya untuk bekerja, apa lagi untuk mengendarai mobil atau taksi.


" Permisi, Mas.. Bajunya mau ditaruh di mana? " suara lembut yang keluar dari mulut seseorang membuat Sultan langsung mendongakkan kepalanya.


" Mbak Mira..... "


Perempuan yang dipanggil Mbak Mira itu langsung menoleh.


" Iya, Mas Sultan. Saya Mira. Maaf sudah mengganggu istirahatnya ,Mas. Saya hanya bermaksud mengantarkan barang - barang pesanan ibunya Mas Sultan. Mau diletakkan dimana, Mas? " tanya wanita itu santun.


Sultan terdiam untuk beberapa saat. Jujur saat ini dia merasa sedikit agak canggung. Pasalnya baru kali ini dia berada dalam jarak yang sedekat ini dengan wanita yang belum genap tiga bulan bekerja mengais rezeki di rumahnya itu. Konon katanya wanita itu adalah seorang janda beranak satu.


Ternyata Mbak Mira orangnya masih muda dan cantik sekali. Kulit wanita itu putih bersih dengan wajah yang mirip seperti wajah - wajah wanita keturunan melayu Arab. Berhidung mancung, bermata besar dan berbibir tipis. Sultan sampai - sampai tak berkedip saat memandang wajah cantik itu.


Astaga,.... Sultan heran, mengapa wanita secantik Mbak Mira sampai bisa diselingkuhi dan dicampakkan. Apa mungkin selingkuhan suaminya itu lebih cantik lagi? Sultan jadi kepo sendiri.

__ADS_1


Walaupun Mbak Mira sudah bekerja hampir tiga bulan lamanya di rumah keluarganya, namun tak pernah sekalipun dia berbicara dengan wanita itu. Paling bentar, hanya ibunya saja yang berbicara jika dia butuh sesuatu.. Lagi pula, selama ini Sultan jarang sekali berada di rumah. Jadi ya, diharap maklum saja jika dia tidak pernah bertemu dengan Mbak Mira secara langsung. Dia hanya mendengar kasak - kusuk tentang wanita itu. Kabar wanita itu yang ditinggal dan dicampakkan oleh suaminya itupun juga dia dengar dari ibunya. Dia tidak pernah bertemu langsung dengan wanita itu karena jam kerja wanita itu hanya sampai jam lima sore saja. Sedangkan Sultan biasanya baru pulang pada malam hari.


"Mas.... " panggil Mira lagi.


" Eh, iya... letakkan saja di dalam lemari itu.. " jawab Sultan grogi. Telunjuknya mengarah ke lemari di samping ranjang. Saat ini, konsentrasinya benar-benar buyar. Pergerakan matanya tak hentinya mengikuti arah pergerakan wanita itu.


Wanita cantik berhijab itu melangkah ke samping tempat tidur Fatan, memasukkan pakaian dan keperluan lelaki itu di sana. Setelah itu, dia pamit mohon diri dengan sopan.


" Mas Sultan, pakaian ganti untuk ibu dan Mas Sultan sudah saya masukkan ke dalam lemari itu. Apa ada lagi yang Mas butuhkan...? Jika tidak ada, saya mohon izin mau nengok Mbak Mitha dulu."


Sesaat setelah Mira berlalu pergi dari kamarnya, Sultan menghela napas lega. Sial, mengapa dia bisa segrogi ini saat berhadapan dengan Mbak Mira. Wanita itu seperti memiliki daya tarik tersendiri. Sultan tak tahu rasa apa yang kini ada di hatinya. Namun, secarik senyum tipis terkembang di sudut bibirnya.


Ternyata, sakitnya dia membawa hikmah. Dia jadi mengenal Mbak Mira secara langsung. Dia tak lagi peduli tentang status wanita itu. Yang dia rasa saat ini dia merasa bahagia. Hatinya terasa hangat. Ibu, tolong lamarkan Mbak Mira untukku, bisik hatinya.


...-----...

__ADS_1


"Assalamu'alaikum... " Mira memberi salam sebelum memasuki ruangan Mitha.


" Walaikum salam. Kamu sudah datang, Mira..?" tanya Bu Enah. Wanita yang dipanggil Mira itu tersenyum seraya menghampiri dan mencium tangan Bu Enah.


" Sudah, Bu." jawabnya. "Saya juga membawakan baju ganti untuk ibu dan Mas Fatan. Semuanya saya letakkan di lemari kecil di samping tempat tidurnya Mas Fatan." jelasnya. Bu Enah hanya mengangguk kecil. Dia memang tidak pernah meragukan kerja Mira. Wanita itu cekatan dan patuh. " Oh iya, Bu. Saya sudah kadung masak tadi siang, biar tidak mubazir, saya bawa saja sekalian kemari, biar bisa dimakan buat ibu dan Mas Sultan. Lumayan, Bu. Daripada harus beli lagi." ujar Mira lagi seraya menyodorkan rantang yang berisi makanan kepada Bu Enah.


Wajah Bu Enah mendadak cerah. Sudah sejak tadi perutnya keroncongan menahan lapar. Dia memang sempat pergi ke kantin tadi siang, namun makanan di kantin itu tidak ada yang sesuai dengan lidahnya. Maka dari itu dia hanya mencicipi makanan itu sedikit hanya untuk sekedar mengganjal perutnya agar tidak lapar.


" Kebetulan sekali, Mira. Ibu memang sejak tadi sudah lapar sekali." kata Bu Enah seraya menerima rantang pemberian Mira. Dia berpindah ke kursi ruang tunggu dan bergegas membuka rantang yang dibawa Mira.


Ada nasi, sambal goreng hati ayam dan kentang. Ikan kakap masak asam manis dan sambal terasi goreng kesukaan Bu Enah. Terbit liur Bu Enah saat melihat semua makanan itu. Namun ketika baru saja dia hendak menikmati makanan itu, tiba-tiba saja Sultan masuk dan langsung duduk di samping sang ibu.


" Bu, Sultan juga lapar. Bolehkah Sultan makan nasi itu. Nanti Sultan ganti dengan Nasi padang kesukaan ibu atau sate ayam . "


" Iya, ini makan saja. Mira bawa banyak, kok. Ayo Mira, mari makan bersama kami." ajak Bu Enah pada Mira. Namun wanita itu hanya menggeleng. " Saya menemani Mbak Mitha saja, Bu. Saya tadi sudah makan di rumah." tolaknya halus.

__ADS_1


Sedangkan Sultan, lelaki itu langsung makan tanpa mempedulikan lagi Mira dan juga sang ibu yang menatap heran kelakuan sang putra.


__ADS_2