
Edo membalas pelukan Queen. Keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat.
Entah siapa yang memulai, bibir keduanya pun menyatu dalam diam.
Napas Queen memburu oleh gairah yang sudah menenggelamkan habis seluruh dinding dan pertahanan yang dia bangun untuk dirinya oleh batas logika dan etika ketimuran. Berenang di lautan madu cinta Edo yang manis dan memabukkan. Queen pun menyerahkan miliknya yang berharga pada Edo dengan segenap rasa cintanya.
Edo pun demikian. Dia mencurahkan semua rasa cintanya kepada wanita cantik pemilik pipi chubby yang sudah mengisi seluruh ruang di hatinya itu dengan sangat indah.
Queen benar-benar telah membuat seorang Edo mampu melupakan rasa cintanya untuk Mitha. Tak ada lagi bayangan Mitha dalam benak Edo. Semua hanya tentang Queen.
Edo sangat lihai dalam mencumbu Queen hingga wanita itu berulang kali memekik nikmat karena buaian dan hentakan Edo.
Queen yang awalnya malu - malu, perlahan-lahan berubah menjadi agresif. Wanita itu menjadi liar dan binal di ranjang panas Edo yang malam itu bergoyang untuk pertama kalinya. Bermacam - macam gaya pun sudah mereka berdua praktekkan. Dari gaya kodok tengkurep, ayam Betutu, sampai gaya cicak nempel di dinding. Gaya yang paling Queen suka adalah ayam Betutu. Berganti - ganti pula tempatnya, dari di ranjang, di sofa hingga di dinding kamar.
Gila, Edo benar - benar membuat sisi liar Queen bangkit dan Edo lah yang berperan sebagai pawangnya. Menaklukan sisi liar Queen yang membuat Edo mabuk kepayang.
Mereka berdua melakukannya sampai beberapa kali. Entah sudah berapa kali pelepasan yang keduanya alami hingga akhirnya keduanya pun tertidur karena kelelahan seusai pertempuran panas mereka yang menguras tenaga.
...----------------...
Pagi hari, di dalam sebuah kamar yang dindingnya di cat putih dan di penuhi oleh hiasan bunga - bunga lili dan mawar putih, Gadis terbangun oleh sebuah sentuhan lembut di pipinya.
Gadis membuka mata dan melihat siapa yang telah menyentuh pipinya. Ternyata itu adalah tangan Agra yang sedang mengelus lembut pipinya.
Gerakan tangan Agra terhenti ketika menyadari bahwa yang empunya pipinya sudah membuka mata.
" Selamat pagi, Sayang...?" ucap Edo pada Gadis yang baru saja membuka matanya.
" Kau masuk ke kamarku saat Aku sedang tidur..? " tanya Gadis.
" Kenapa, aku suka memandangi wajahmu saat sedang tidur. Kau sangat cantik. Innocent dan lucu. Walau terlihat tangguh, nyatanya kau sangat rapuh.... " bisiknya lembut.
" Aku baru bangun tidur, bagaimana mau cantik...? " kata Gadis.
" Bagiku kau selalu cantik dalam keadaan apapun, Gadis Prameswari.. " rayu Edo.
"Huh, dasar tukang gombal. Bilang saja kalau kamu ingin membangunkan aku. Oh, yah, hari ini kita mau kemana...? " tanya Gadis.
" Hari ini kita akan ke salon. Wanita cantikku harus perawatan dan pijat, buat persiapan acara pernikahan kita besok lusa, agar Fit dan segar. "
" Hmm, kedengarannya menyenangkan, terus apa lagi.. ? "
" Terus, sekarang, Nona Gadis yang sebentar lagi mau jadi pengantin ini harus bangun dan bersiap siap, karena karena kita mau sarapan bareng papi dan mami aku..." kata Agra.
WHAT....!
__ADS_1
Gadis langsung bangun dari tidurnya.
" Apa tadi, Kak. Papi dan Mami kakak ada di sini..? Aduh...kenapa tidak bilang dari tadi. Astaga....Bagaimana ini...?" Gadis mendadak panik. Dia langsung berdiri dan mondar-mandir di depan tempat tidur sambil mengomel.
Agra jadi geli sendiri melihat tingkah laku Gadis yang panik. Lucu sekali. Baru kali ini seorang Gadis bisa panik dan kalang kabut seperti itu.
" Sayang, stop mondar - mandirnya. Mereka hanya Papi dan Mami aku, bukan presiden Amerika." kata Agra menahan tawa.
" Tapi, Kak. Aku malu sekali. Mana bangunnya siang lagi. Entah apa nanti yang mereka pikirkan. Kakak juga, kenapa nggak bilang dari kemarin kalau papi dan momi kakak mau datang." omel Gadis.
"Terus kalau aku bilang sama kamu soal kedatangan papi mami, emangnya kamu mau melakukan apa..?" tanya Agra.
" Ya, apa, kek. Atau aku bisa pulang kembali ke kosan aku.." jawab Gadis.
" Hemmm, untung saja aku tak bilang. Sudah kuduga, kalau aku katakan perihal kedatangan papi dan mami aku, pasti kamu bakalan kabur. Jadi, aku tidak katakan saja. Aku ingin memperkenalkan kamu kepada mereka."
Gadis melotot kepada Agra. Laki - laki di depannya ini, memang selalu cermat dan penuh perhitungan.
" Terus aku harus bagaimana, Kak..? " tanya Gadis akhirnya pasrah.
" Ya, udah. Cepat kamu mandi dan bersiap diri untuk menemui mereka di bawah, dan kemudian kita sarapan bersama.. "
Gadis masih berdiri mematung enggan untuk beranjak. Dia merasa tidak percaya diri untuk bertemu dengan papi dan mami Agra.
" Tidak, aku pergi sendiri saja. Mobil aku sudah lama nganggur, Kak. Aku mau jalan - jalan sama mobil aku, boleh ya.. ya..., please.! " Gadis memohon dengan mata yang dikerjap - kerjapkan membuat Agra gemas dan ingin melabuhkan cium di bibir Gadis. Sayang itu hanya angan - angan saja.
" Baiklah, tapi telpon aku bila sudah sampai di sana..! "
" Ok,...!" kata Gadis sambil tersenyum penuh kemenangan. Huh, dasar tuan posesif, bagaimana nanti kalau sudah jadi suami. Sekarang aja segitu posesifnya Agra pada dirinya.
"Berjanjilah, jika sudah selesai. Cepatlah pulang, jangan pergi kemana pun lagi.... "
Tuh, Kan... Apa aku bilang. Pasti bakalan dapat pesanan, bathin Gadis.
Gadis diam tak berucap. Dia tahu, lelaki di depannya itu sedang berusaha mengungkapkan perhatiannya. Matanya hanya berkedip seraya menatap Agra yang juga tengah menatapnya.
Sudah beberapa hari ini memang Gadis tinggal di rumah Agra. Lelaki itu ngotot agar Gadis tinggal di rumahnya dengan alasan agar bisa mengontrol dan mengawasi Gadis. Di samping itu juga, biar lebih mudah untuk mengurus segala urusan pernikahan mereka yang rencananya akan di gelar lusa.
...----------------...
Setelah mandi dan berdandan, Gadis akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Di sana sudah menunggu papi dan maminya Agra, Bara dan adik mereka yang bungsu, Soraya. Papi dan mami serta Soraya serentak menoleh ke arah Gadis yang berjalan malu - malu sambil di gandeng Agra.
"Loh, Bukannya itu gadis yang dulu pernah nolongin kita saat di begal dulu, ya Pi.. ? " tanya Meiya, mami Agra.
" Kayaknya iya sih, Mi...?" kata Pandu, papi Agra.
__ADS_1
Gadis sudah berdiri di hadapan papi dan mami Agra. Gadis terbelalak saat mengenali siapa papi dan mami Agra.
" Loh, om dan tante.....?? " Gadis merasa sangat suprise. Ternyata papi dan Mami Agra adalah orang yang dulu pernah dia tolong. Saat itu, papi dan Mami Agra diserang oleh empat orang begal yang bersenjatakan masing - masing sebilah golok. Mereka kemudian dipaksa berhenti di suatu tempat yang sunyi.
Untung pada saat itu, Gadis kebetulan lewat dan menolong papi dan Mami Agra. Empat orang bersenjata itu akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh Gadis. Meskipun demikian, salah seorang begal itu berhasil melukai Gadis dengan golok pada lengannya.
Akhirnya mereka menyerahkan para begal tersebut ke polisi dan mereka juga membawa Gadis ke rumah sakit untuk mengobati luka di lengan Gadis akibat sabetan golok dari para begal yang berniat merampok papi dan Mami.
" Oh, jadi ini Gadis yang akan jadi istri Agra. Kalau yang ini mami sudah kenal. Mami sih, setuju pake banget ... " kata Mami Meiya sambil menarik tangan Gadis untuk duduk di sebelahnya.
" Papi dan Mami kenal Gadis...? " tanya Agra. Dia heran bagaimana papi dan maminya bisa mengenal Gadis.
" Lah, gimana nggak kenal. Yang nolongin papi dan Mami dari begal - begal tempo hari itu ya, Gadis." kata Mami Meiya. Papa Pandu mengangguk membenarkan.
"Gadis hebat banget. Empat begal itu bisa dia kalahkan.. " kata papi Agra menyambung.
" Ah, om bisa aja. Itu hanya kebetulan lagi beruntung saja... " kata Gadis yang merasa jengah karena dipuji sama Papi Agra.
" Tapi benaran, loh. Empat begal itu bersenjata golok. Mami sampai ketakutan liatnya... " kata mami.
Mata Agra melotot mendengar penuturan maminya. Empat orang begal dan bersenjata pula.
"Mulai sekarang, kamu jangan lagi sok - sok jadi pahlawan buat nolongin orang. Untung yang ditolong papi dan mami aku, kalau orang lain, dan kamu sampai kenapa - kenapa, aku tidak akan memaafkan orang itu, sayang.. " kata Agra.
" Agra, kamu jangan begitu. Gadis itu anak yang baik hati dan suka menolong. Awas saja, kalau kamu sampai berani marahin menantu mami, mami jewer kuping kamu..! " kata mami sambil mempraktekkan menjewer kuping Agra.
" Aduh, mami sakit, Mi. Kok Agra jadi berasa anak pungut, ya.."
"Habisnya kamu marahin, Gadis. Untung ada Gadis, kalau tidak, kamu sudah pasti tidak punya papi dan Mami lagi." kata maminya.
" Iya, iya... Gadis emang baik hati dan suka menolong. Duh... punya mama kandung berasa punya ibu tiri." gumamnya. Tapi ternyata, Mami mendengarnya. Habislah kembali Agra kena damprat maminya.
Suasana sarapan pagi itu sangat menyenangkan. Gadis tak perlu takut dan segan lagi pada papi dan maminya Agra. Karena ternyata mereka sudah mengenal Gadis jauh sebelum Agra memperkenalkan Gadis.
...----------------...
Di salon, Gadis sedang asyik menjalani serangkaian kegiatan perawatan untuk seluruh tubuh. Mulai dari luluran hingga manicure dan pedicure. Tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk melalui aplikasi WhatsApp miliknya.
Kening Gadis berkerut saat membaca sebuah pesan dari nomor yang tak Dikenalnya. Isinya aneh dan sangat mencurigakan.
"Temui aku di cafe Mozart, jika kamu ingin sahabatmu selamat!!! "
Sahabatku, apa maksudnya Mitha..? Gadis langsung terlonjak dan bangun setelah menyadari isi pesan tersebut
Mitha dalam bahaya...!!?
__ADS_1