
Pukul 11.30, hari sudah menjelang siang. Matahari bersinar sangat terik membakar kulit hari ini. Beberapa pejalan kaki enggan untuk menjajakan kaki di bawah panasnya sinar matahari dan memilih untuk berteduh di bawah pohon atau di emper - emper pertokoan.
Edo baru saja selesai melakukan operasi pemasangan infant pada pasien patah tulang kaki akibat kecelakaan.
" Dokter Edo, ada yang nyariin, tuh.." kata dokter Tano. Dokter Tano adalah dokter residen dari Surabaya. Dia juga seorang dokter ortopedi.
" Siapa, cewek atau cowok..? " tanya Edo kemudian.
" Cewek, cantik. Pipinya cubby.... " kata Dokter tano lagi.
Mendengar dari ciri-ciri yang disebutkan oleh dokter Tano, Edo bisa menebak jika yang dimaksud dokter Tano adalah Queen. Mendadak, ada rasa tak suka saat mendengar dokter Tano menyebut Queen cantik. Hatinya merasa panas terbakar oleh rasa cemburu.
" Oh, itu adalah istri saya... " kata Edo sambil menekankan kata 'istri' kepada dokter Tano. Biar dokter Tano tahu jika dia sudah beristri, pikirnya.
Dokter bermata sipit dan berkulit kuning karena masih keturunan Jepang itu terperangah tak percaya.
" Serius..? Dokter Edo sudah menikah....?"
Dokter Tano dan juga beberapa rekannya sesama dokter di rumah sakit itu sama - sama terkejut. Mereka juga baru tahu jika dokter Edo sudah menikah. Tapi kenapa dokter Edo tak mengundang mereka..
" kapan dokter Edo menikah? Kenapa tidak mengundang kita? " tanya dokter Indah.
Yang hadir di tempat itu langsung mengiyakan pertanyaan dokter Indah.
" Ceritanya panjang, tapi intinya kami sudah menikah baru - baru ini, tapi kami belum mengadakan resepsi pernikahan. Karena masih terkendala waktu.... " jawab Edo beralasan.
" Wah, jadi ceritanya pengantin baru, nih. Sudah belah duren, dong.. " seloroh dokter Tano kemudian yang disambut oleh tawa riuh teman - teman Edo sesama dokter di ruangan itu.
Edo hanya bisa tersenyum kecut. Boro - boro belah duren, disentuh aja belum, kata Edo dalam hati.
Sementara itu, di ruangannya, Gadis sedang melamun.. Sudah seminggu ini dia tidak menjumpai Agra. Saat di rumah sakit ini pun Dia hanya memantau kegiatan cowok itu dari kejauhan. Sama sekali tidak berniat untuk datang melihat keadaan Agra.
__ADS_1
Seminggu yang lalu pula, Agra sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Rendi. Semua itu atas permintaan dari pasien yang memilih perawatan di rumah saja dengan kontrol dokter rutin.
Dan lagi, Gadis memilih tidak berada di sana ketika Agra berpamitan untuk pulang pada dokter Rendi. Terlalu sakit bagi Gadis untuk sekedar mengucap kata perpisahan untuk Agra. Kembali, untuk kedua kalinya cowok itu menorehkan luka di hatinya. Tak tanggung - tanggung, kali ini Agra sendiri yang menancapkan sembilu itu ke dalam hatinya.
" Kamu tidak mengantarnya saat pulang..?" suara Dokter Rendi membuyarkan lamunan Gadis.
" Dokter tahu....? "
" Hahaha, dokter Gadis. Siapapun bisa melihat dengan jelas tatapan penuh cinta di mata Lelaki itu untuk Anda.. Apa yang terjadi..? Apa kalian bertengkar....? " tanya dokter Rendi.
Gadis hanya diam, tak menjawab pertanyaan dokter Rendi. Dan kediaman Gadis cukup untuk menjawab pertanyaan dokter itu. Dokter Rendi menghela nafas lalu berkata kepada Gadis.
" Ini, ada titipan dari Agra. Minggu yang lalu, dia menitipkan ini padaku sebelum pulang. Terimalah... ! " kata Dokter Rendi sambil menyerahkan sebuah kotak kecil ke tangan Gadis.
Dia mengamati kotak kecil yang ada di tangannya lalu bertanya, "Apa ini, Dok?"
Dokter Rendi mengangkat bahu tanda dia pun tak tahu apa isi kotak tersebut.
"Buka saja, kalau penasaran sama isinya.... " kata dokter Rendi sambil melangkah keluar meninggalkan ruangan Gadis.
Gadis akhirnya memilih kembali pulang ke kosannya karena dia ingin istirahat total tanpa mau di ganggu. Dia ingin tidur dan melupakan semuanya. Siapa tahu dengan begitu, dia bisa sejenak melupakan kesedihan hatinya karena putus dengan Agra.
Begitu tiba di kosan, Gadis langsung mandi dan berganti pakaian. Kini, tubuhnya hanya berbalut kemeja kedodoran dan celana baby shorts saja.
Gadis lalu merebahkan dirinya di kasur dan tak lama kemudian dia pun terlelap hingga sore pun berganti ke malam.
Tengah Malam, Gadis terbangun saat mendengar suara yang mencurigakan yang berasal dari ruang tamu. Dia merasakan ada seseorang yang berusaha menyelinap memasuki tempat kosannya.
Dengan mengendap - endap, Gadis keluar dari kamarnya dan berjalan pelan menuju ruang tamu.
Karena gelap, Gadis tidak bisa melihat dengan jelas. Dia hanya mengandalkan instingnya saja. Perasaannya mengatakan bahwa seseorang sedang mengintai dirinya. Merasakan adanya bahaya yang mengancam, instingnya bergerak cepat untuk menghindari bahaya.
__ADS_1
Namun, agaknya Gadis terlambat menyadari bahwa orang itu sudah berada pada jarak yang cukup dekat dengan dirinya.
Dan pada suatu kesempatan, bayangan orang itu langsung menyergap Dan menyerang Gadis dengan membabi buta.
Gadis tak bisa mengelak lagi. Dalam gelap, Gadis berusaha mati - matian untuk melawan dan melepaskan dirinya dari sergapan orang itu.
Berkali-kali, sebenarnya pukulan Gadis mengenai orang itu. Namun, orang itu seperti tak bergeming dengan pukulan Gadis. Dia masih saja terus mendesak dan memojokkan Gadis. Gadis tak mau tinggal diam. Dia terus saja melawan dan akhirnya berhasil melepaskan diri dari sergapan orang itu.
Gadis bergerak cepat untuk menjauh menghindari orang itu. Dia bermaksud untuk meraih pintu keluar, namun sayangnya karena gelap, Gadis tak dapat dapat menemukan pintunya.
Srettt........
Sesuatu yang berkilat nampak berkelebat dalam gelap.
Gadis terhenyak sesaat. Tubuhnya limbung ke belakang. Sebilah pisau telah tertancap di perutnya. Rasa sakit dan ngilu menjalani seluruh tubuhnya. Gadis merasakan ada cairan hangat yang merembes di balik baju kemejanyanya. Untuk sesaat, Gadis seperti hilang kesadaran karena terkejut.
Belum hilang keterkejutan Gadis, pisau di perut Gadis di cabut dengan paksa dan kembali kilatan itu berkelebat mengayun di hadapannya. Kali ini reflek Gadis menangkis serangan itu hingga berakibat tangan Gadis yang menjadi sasarannya.
Perih terasa menjalari tangan Gadis. Namun, sekuat tenaga dia mencoba untuk bergerak menahan serangan pisau tersebut sampai akhirnya sebuah tendangan bersarang di perut Gadis yang sedang terluka.
Gadis terhuyung ke belakang sebelum akhirnya terjatuh. Kepala belakang Gadis membentur meja hingga membuat pandangannya menjadi berkunang - kunang. Gadis semakin hilang kesadaran karena rasa sakit di dan darah yang terus keluar dari perutnya. Di tambah rasa sakit di kepala dan tangannya membuat Gadis semakin lemah.
Kesempatan ini tak di sia - siakan oleh orang itu. Dia mendekati dan mulai menggerayangi tubuh bagian bawah Gadis. Gadis hanya bisa pasrah karena dia sudah kehabisan tenaga akibat kehabisan darah.
Dalam keadaan setengah sadar, Gadis melihat pintu depan terbuka dan seseorang menerobos masuk. Orang itu langsung menyerang orang yang sedang berusaha menggagahi Gadis.
" Bajingan....! "
Bug.... Bug..... Bug
" Agra... ?? "
__ADS_1
Benarkah pendengarannya.
???