Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 39 Rencana Fatan


__ADS_3

Gadis baru saja keluar dari ruangan Dr. Mala ketika seseorang menarik paksa tangannya dan menyeretnya ke suatu tempat.


" Lo mesti jelasin ke gue, kenapa lo kagak bilangin gue kalo Mitha sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini" kata Edo dengan mimik wajah yang gusar. Iya, orang yang tadi menarik dan menyeret paksa lengan Gadis itu adalah Edo.


Sudah sejak tadi Edo menunggu Gadis keluar dari ruangan dokter Mala karena ingin bertemu dan berbicara dengan calon dokter kandungan yang berpenampilan tomboy itu. Ada kekesalan dan kekecewaan yang terlihat jelas di wajah tampan itu.


Gadis mendengus kesal. Jadi lantaran itu, Edo nekat menyeret paksa lengannya. Cuma lantaran ingin tahu alasan mengapa Gadis tidak memberitahukan dirinya bahwa Mitha sedang dirawat di rumah sakit ini.


Dengan kesal, Gadis menjawab pertanyaan Edo dengan ekspresi julid pake banyak.


" Dokter Edo yang tampannya nggak pake banget, kenapa juga gue mesti ngasih tahu elo. Yang jadi lakinya si Mitha kan Fatan, bukan elo..!" jawab Gadis dengan lirikan sinis sambil menunjuk ke dada Edo.


Ingin rasanya Edo meremas bibir tipis Gadis yang basah itu karena gemes dengan jawaban cewek itu. " Tapi kan, gue juga sahabatnya, gue temennya, Dis. Lo kok tega banget sama gue..."


" Kalo gue tega, gue nggak ngasih tahu lo dong tadi di SMS. Barusan, gue udah kasih tau lo kalo si Mitha ada di mari." tukasnya.


Edo meremas rambutnya karena jengkel. Berdebat dengan Gadis emang nggak ada menangnya. Gadis selalu saja punya jawaban yang akan memukul telak lawan bicaranya. " Iya, tapi lo ngasih taunya pas si Mitha udah mau pulang. Nah...ke.na.paa nggak dari kemaren kemaren, kemana aja sih, Neng...?"


" Nang neng, nang neng, lo sangka gue penjual nasi uduk. Lagian, si Mithanya sendiri yang kagak mau ketemu sama lo, kenapa lo jadi nyalahin gue, sih.." longos Gadis sambil ngeluyur pergi meninggalkan Edo yang menggerutu sendiri karena kesal dengan ulah Gadis yang dianggapnya sudah merugikan dirinya karena tidak bisa bertemu dan menjaga Mitha.


" Maafin gue, Do. Gue ngelakuin ini demi kebaikan lo dan Mitha. Gue kagak ingin lo jadi orang ketiga yang akan merusak pernikahan sahabat kita." kata Gadis dalam hati.


" Dis.., Gadis... tunggu gue... !" panggil Edo. Cowok itu langsung berlari menjejari langkah Gadis yang berjalan ke arah parkiran.


" Lo mau kemana? " tanya Edo dengan tatapan heran. Dipikirnya tadi Gadis mau ke kantin, tapi dilihatnya cewek itu berbelok arah menuju ke parkiran.

__ADS_1


" Gue mau makan di luar. Gue mau nyari Sop buntut soalnya gue lagi ngidam pengen makan yang berbuntut - buntut. Minggir lo, lo ngalangin jalan gue.. " kata Gadis sambil mendorong Edo hingga badan cowok itu terjejer beberapa langkah ke belakang.


" Gila, lo Dis. Tenaga lo udah kayak kingkong kalap gitu. Nah, barusan lo kata kalo lo lagi lapar. Gue juga lapar. Gue mo ikutan makan sop buntut. Kita bareng aja perginya, yah." bujuk Edo.


Gadis melongo takjub. Bisa - bisanya tuh cowok udah marahin dia kini malah merengek ngajakin minta makan bareng. Ada - ada aja, pikirnya.


" Gadis... " seseorang memanggil namanya membuat Gadis memutar lehernya untuk menoleh ke arah suara tadi.


Seorang cowok dengan stelan kemeja putih dan celana bahan biru navi sedang berdiri di samping sebuah mobil. Cowok itu menatap ke arahnya. Di tangannya memegang sebuah kunci mobil.


Tubuh Gadis terpaku diam tak bergeming. Dia tak mampu berucap untuk sesaat. Jangankan untuk berucap, bahkan untuk menarik nafas saja, rasanya sulit untuk dia lakukan.


" Gara.... " akhirnya nama itu terucap juga dari mulutnya.


Senyum lebar tercetak di wajah cowok yang bernama Gara itu. Bergegas dia mendatangi Gadis.


"Apa kabar, Gadis..? Astaga, gue nggak nyangka banget kalo ini adalah lo. Soalnya lo sekarang, beda banget." ucapnya dengan wajah yang berbinar gembira. Senyumnya masih belum hilang juga di wajahnya.


Namun Gadis hanya terdiam terpaku menatap Gara. Senyuman itu....masih sama seperti senyuman yang pernah membuat dia begitu tergila-gila saking memabukkannya. Namun cowok pemilik senyuman itu juga yang pernah menggoreskan luka yang begitu dalam di hatinya.


" Gue baik, Terima kasih..... " itulah jawaban Gadis setelah dia bisa kembali menguasai diri. Ketus dan dingin. Bahkan Gadis juga tak berniat menerima uluran tangan Gara.


Sungguh Gara adalah cowok yang paling tidak dia inginkan untuk bertemu. Gara sudah mengubah pribadi seorang Gadis yang lembut dan feminim menjadi Gadis yang tomboy dan sedikit bar-bar.


Senyum Gara berubah kecut saat menyadari bahwa Gadis tidak terlalu merespon kehadirannya. Dia sadar, mungkin Gadis masih belum bisa melupakan apa yang pernah terjadi antara dirinya dan cewek itu di masa lalu.

__ADS_1


Gara menghela napas panjang. Mendadak kenangan itu kembali melintas. Yah, dia mulai menyadari apa yang menyebabkan Gadis bersikap seperti ini. Rupanya, peristiwa itu masih membekas kuat dalam ingatan seorang Gadis.


" Ok, gue mau pamit dulu. Senang bertemu dengan lo. Dan.....Gue juga mau minta maaf untuk semua yang pernah terjadi di masa lalu. Gue hanya mau bilang, apa yang lo lihat saat itu sebenarnya tak seperti yang terlihat. Permisi.... " ucapnya.


Gadis diam mematung. Mencerna kata demi kata yang Gara ucapkan. "Yang gue lihat tak seperti yang gue lihat. Apa maksudnya, ya? " Bathin Gadis.


Sementara itu, yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya menjadi heran. Ada apa dengan Gadis?Edo melihat Gadis yang terlihat aneh kali ini. Apa yang terjadi dengan cewek itu. Kemana perginya kegarangan yang biasa dia perlihatkan kalo berhadapan dengan lawan jenisnya.


Namun sepertinya Edo dapat menarik sebuah kesimpulan saat melihat ke arah cowok yang tadi memanggil Gadis. Gadis sepertinya gak berkutik saat berhadapan dengan cowok tadi. Apakah cowok itu memiliki hubungan yang spesial dengan Gadis di masa lalu. Tapi kok dia tidak tahu..? "


" Ayo, Dis. Entar keburu habis waktu istirahat kita." Edo menarik tangan Gadis membuat Gadis tersadar dari lamunannya. Cowok itu menyeret Gadis memasuki mobilnya. Dia tak peduli dengan tatapan heran dari orang - orang dan tentu saja, dari cowok yang bernama Gara itu. Ternyata cowok itu belum juga beranjak pergi dari parkiran. Bodo amat, pikir Edo.


...---------------...


"Loh, ini bukan jalan menuju ke rumah kita, Kak.. " kata Mitha dengan paniknya. Dia menyangka jika Fatan telah salah mengambil arah. Matanya celingukan kesana kemari. Saat itu, dia dan Fatan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Setelah mengurus semuanya administrasi dan membayar biaya rumah sakit Fatan bermaksud memboyong Mitha ke apartemen miliknya sendiri. Dia ingin belajar untuk membina rumah tangganya sendiri bersama Mitha dan juga anak - anaknya kelak.


Sedangkan Sultan sudah terlebih dahulu di perbolehkan pulang . Hanya sehari saja lelaki itu dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya, lelaki berperawakan tegap dan kekar itu sudah di perbolehkan pulang ke rumah dengan catatan, harus rajin meminum obat yang diresepkan oleh dokter.


Fatan sangat berterima kasih kepada Sultan dan juga Bu Enah yang sudah berbaik hati menampung dan merawat istrinya.


Fatan menepikan mobilnya dan berbalik menatap Mitha.


" Aku mau jujur, sebenarnya aku mau mengajak kamu untuk tinggal di apartemen aku. Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga. Keluarga kecil yang isinya hanya ada kamu, aku dan anak kita." ujar Fatan.


Mulut Mitha ternganga mendengar perkataan Fatan. Aduh... gimana ini? Tinggal di apartemen Fatan dan hanya berdua saja. Astaga..... otak parno Mitha langsung travelling memikirkan hal yang tidak - tidak.

__ADS_1


Mendadak, Mitha menjadi panik. Bagaimana jika nanti Fatan mau menuntut haknya sebagai suami? Mitha tak akan pernah siap. Ya Tuhan, bagaimana ini? Dia tak mau berdosa namun dia juga tak mau jika harus memenuhi kewajibannya sebagai istri Fatan Bramantyo. PUSING....


__ADS_2