
"Tenang, Edo. Tenang. Sebaiknya kamu segera lapor polisi sebelum mereka menyadari kehadiran dirimu.. " kata Edo pada dirinya sendiri.
***
***
Guyuran air di wajahnya membuat Mitha seketika terbangun. Wanita cantik itu tersadar dari pingsannya dan membuka matanya. Dia melihat Arumi berdiri dengan angkuh sambil berkacak pinggang tersenyum mengejek ke arah Mitha. Di belakangnya, berdiri ke tiga orang preman yang menjadi kaki tangannya.
Apa maumu, Arumi...? " Tanya Mitha dengan raut wajah kesal. Dia mengusap wajahnya yang basah dengan ujung lengan bajunya.Wanita itu berusaha untuk mengingat kembali bagaimana bisa dia berada di tempat ini.
Terakhir saat Mitha menerima SMS dari seseorang yang memintanya datang ke dermaga tua peti kemas. Setelah sampai di tempat itu, ternyata Mitha bertemu Arumi. Mantan kekasih Fatan itu yang datang bersama tiga orang preman berbadannya kekar yang kemudian memaksa dia untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, mereka melakukan sesuatu terhadap Mitha hingga kemudian dia tak sadarkan diri sampai tadi, saat Arumi menyiramnya dengan air.
Mereka menempatkan wanita malang itu di gudang yang terletak di ruang bawah tanah rumah itu. Mitha yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri itu disekap di gudang yang kotor dan berbau pengap tanpa ada penerangan sedikitpun di dalam ruangan ini. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke tempat itu yang berasal dari lampu ruangan di luar gudang.
"Ck, ck, Ck! Nyonya Fatan.., akhirnya kamu bertanya juga. Bagaimana tidurmu semalam..?" tanya Arumi seraya berjongkok mendekati Mitha.
Lalu secara mendadak, tangannya menjambak rambut wanita di depannya. Wanita yang sangat dia benci. Wanita yang sudah membuat dia kehilangan kesempatan untuk kembali bersama Fatan.
Mitha meringis seraya memegangi tangan Arumi. Wanita itu berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan Arumi yang kuat di rambutnya.
Wanita itu berontak sekuat tenaga hingga akhirnya cengkraman Arumi pun terlepas.
Giliran Mitha yang kemudian mengambil alih keadaan. Wanita itu menerjang Arumi tanpa memberi kesempatan pada wanita itu untuk menghindar. Jadilah Arumi bulan - bulanan Mitha. Sampai suatu ketika Arumi berhasil membebaskan diri.
Dengan berang Arumi menatap ke arah Mitha. Wanita ini, dia terlalu menganggapnya remeh.
"Rozak, pegang tangannya. Aku mau memberi wanita ini, pelajaran. Berani sekali dia melawanku..!! "
Preman yang bernama Rojak itu langsung memegangi tangan Mitha.
"Tangannya diikat aja, Bos. Biar kaga bisa melawan..!! "
"Tunggu apa lagi, bodoh..!?! Cepat ikat tangan wanita itu...!! " bentak Arumi kepada ketiga orang itu.
Kedua teman Rojak segera mengambil tali tambang yang banyak terdapat di gudang itu. Ketiganya kemudian mendudukkan Mitha secara paksa pada sebuah kursi dan mengikat tubuhnya menjadi satu dengan kursi.
"Hahaha, sekarang kamu sudah tidak bisa lagi melawanku. Rasakan ini..!! "
Plak... plakk
__ADS_1
Tangan Arumi melayang dua kali di pipi Mitha. Darah mengalir dari sudut bibir Mitha. Namun tak sedikitpun wanita itu mengeluh. Dia hanya menatap Arumi dengan pandangan kasihan.
"Hmm, aku sungguh kasihan sama kamu. Kamu melakukan ini semua hanya karena amarah dan kebencian kamu karena tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan.." kata Mitha kemudian.
"DIAM, sebaiknya tutup mulutmu jika tidak ingin merasakan kembali tamparanku...!! " bentak Arumi.
Wanita itu kembali tersulut emosinya karena mendengar perkataan Mitha yang baginya menghina dirinya.
"Andai saja tak ada kejadian malam itu, kamu tak akan mendapatkan Fatan.! bentak Arumi. Mitha kaget setengah mati mendengar ucapan Arumi. Dari mana Arumi tahu tentang kejadian malam itu.
"Kamu sengaja, kan, menyerahkan tubuhmu agar bisa menjerat Fatan dengan pernikahan..?" teriaknya emosi.
Mitha menggeleng dengan air mata yang kini sudah menetes di kedua pipinya. Dia sakit hati mendengar tuduhan Arumi kepadanya.
"Tidak, aku tak pernah melakukan itu semua. aku tak pernah meminta Fatan menikahiku. Aku cukup tahu diri siapa aku di mata Fatan. Aku bahkan sudah menolak tawaran Fatan untuk menikah saat itu.." jawab Mitha.
"Cuih, kamu hanya berpura-pura menolak menikah dengannya hanya untuk memberi kesan bahwa kamu bukan cewek matre. Padahal sebenarnya kamu hanya mengincar harta dan kedudukan keluarga Bramantyo...! "
"Sungguh mati, tak ada niat di hatiku untuk melakukan seperti yang kau tuduhkan itu, Arumi. Aku juga tak tahu jika kamu adalah kekasih Fatan." kata Mitha kemudian.
"Kamu sudah merusak hidupku. Kamu sudah menghancurkan harapanku. Jika tak ada kamu, pasti kami akan kembali lagi bersama." kata Arumi dengan intonasi naik. "Fatan itu cinta mati padaku. Hanya saja, kamu dengan hadir dalam hidup Fatan dengan cara - cara yang licik...!!"
"Bos, sepertinya wanita itu pingsan." kata Rojak. Arumi langsung menghentikan kegiatannya. Napasnya memburu karena amarah dan juga emosi yang memuncak.
Setelah mengetahui bahwa rivalnya pingsan, Arumi kemudian pergi begitu saja meninggalkan Mitha.
"Tinggalkan saja dia di situ. Jangan berikan dia makan...! " kata Arumi wajah dengan gusar. Hatinya sebenarnya masih belum puas untuk menyiksa Mitha karena Mitha sudah keburu pingsan.
***
***
Sementara itu, Fatan dan teman - temannya sedang berusaha melacak keberadaan Mitha. Terakhir saat Fatan mendatangi lokasi yang di lacak Ryan, Fatan hanya mendapatkan handphone milik Mitha yang rupanya sengaja di tinggal untuk mengelabui Fatan. Rupanya penculiknya menyadari bahwa handphone Mitha sudah dipasangi alat pelacak lokasi.
Mereka sedang sibuk mencari informasi tentang keberadaan Mitha ketika handphone wanita itu berbunyi. Fatan segera meraih handphone tersebut untuk melihat siapa yang menghubungi sang istri.
"Edo..?" Kening Fatan berkerut. "Untuk apa laki-laki itu menghubungi Mitha..?"
Fatan segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Mitha, kamu harus lihat video yang ku kirim. Sepertinya si Gadis lagi di culik. Dia dalam bahaya. Aku mau ke dalam sana sekarang. Tugas kamu lapor polisi, ya. Alamatnya sudah aku kirim sama videonya... ! " suara Edo terdengar di handphone.
" Halo.. " suara Fatan menyahut telepon Edo.
"Eh, maaf. Kirain Mitha..! Istri lo kemana...? " Tanya Edo lagi.
"Mitha juga di culik, Do. Aku dan teman - temanku sedang berusaha melacak keberadaannya.. "
"Jangan - jangan, Mitha dan Gadis di culik oleh orang yang sama.. " Kata Edo.
Fatan tersentak. Dia teringat ucapan Agra tempo hari. Orang yang telah mencelakai Gadis memiliki ketertarikan yang sama dengan istrinya.
Cepat - cepat dia membuka video yang Edo kirimkan ke handphone Mitha. Di bawahnya ada alamat tempat Gadis di culik.
"Ryan.., Reno, Aldo... sepertinya aku menemukan titik terang tentang keberadaan Mitha dan Gadis...!"
Reno dan Aldo langsung menoleh. Nama Gadis membuat ingatan mereka tentang cewek perkasa itu kembali muncul.
"Gadis..? Emangnya Gadis juga di culik..?" tanya mereka bersamaan.
"Oke, Do. Aku sudah melihat Video yang kamu kirimkan. Terima kasih karena sudah menelpon dan mengabari. Aku akan ke sana secepatnya.. " kata Fatan dengan tulus.
"Iya, cepetan. Aku tunggu di sini... " kata Edo seraya menutup panggilannya.
"Ryan, lacak alamat ini...! " kata Fatan seraya memberikan alamat yang di kirim Edo kepada Ryan.
"Baik, Bos.. "
Fatan segera menghubungi Agra. Lelaki itu sejak tadi sibuk memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan calon istrinya.
"Halo... " Agra mengangkat telpon dari Fatan.
"Tuan Agra, lihat Video yang saya kirimkan...! " setelah itu Fatan mematikan teleponnya.
Agra segera membuka handphone dan melihat video yang Fatan kirimkan. Darahnya langsung mendidih melihat video yang dikirimkan Fatan.
"Bangsat.... berani sekali dia menyentuh wanitaku...! "
Agra segera memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi alamat yang Fatan kirimkan bersama video tadi.
__ADS_1