
Mata Gadis membulat sempurna saat melihat Agra. Baru kali ini Gadis melihat Agra kembali.
" Agra, kamu bisa berdiri....? "
Gadis merasa senang melihat Agra yang ternyata sudah bisa berdiri dan berjalan kembali. Hampir saja Gadis lompat dan memeluk laki - laki itu andai saja dia tak ingat kondisinya. Gadis sangat senang melihat kondisi Agra. Selama hampir tiga bulan, rupanya banyak hal yang telah dia lewatkan. Termasuk fakta bahwa kini lelaki itu sudah bisa berdiri dan berjalan.
Namun kemudian, senyum di bibir Gadis perlahan - lahan lenyap. Berganti dengan raut sedih cewek tomboy itu. Gadis menyadari bahwa kini dirinya bukan lagi kekasih Agra. Agra, pemuda itu sudah memutuskan cintanya.
Bahkan Agra sendiri yang meminta Gadis untuk menjauh dan melupakan pemuda itu.
Tapi tunggu dulu.. Apa tadi yang Agra katakan..? Dia tidak boleh pulang...? Apa maksudnya ? Mengapa dia tak di perbolehkan pulang ke rumahnya sendiri.. Emang dia siapanya Gadis. Seenak perutnya saja dia tidak memperbolehkan Gadis pulang. 'Kalau pun harus pulang, dia pulang ke rumah saya...' Bah, ...Pulang ke rumah dia? Enak saja.. Gadis tak akan sudi. Back to mantan's house..? Tunggu dulu...
Gadis menggelengkan kepala setelah beberapa saat terdiam.
" Tidak, mengapa saya tidak diperbolehkan pulang ke rumah saya sendiri? Dan mengapa harus ke rumahmu? " tanya Gadis pada Agra. Dia sengaja menghilangkan panggilan kakak pada Agra untuk menegaskan bahwa kini di antara mereka sudah tak ada apa-apa lagi.
" Itu karena sekarang rumah kamu sudah tidak aman lagi untuk kamu tinggali. Bagaimana kalau pelakunya kembali lagi..?" jawab Agra.
" Saya bisa menjaga diri saya sendiri. " kata Gadis dingin. " Tidak usah anda repot - repot mengurus saya. Saya bukan siapa-siapa anda." Gadis menatap Agra dan kemudian beralih pada dokter Ahmad yang sejak tadi masih tetap asyik menjadi pendengar setia.
__ADS_1
"Dokter, besok saya minta pulang saja, karena saya tidak ingin merepotkan siapa - siapa lagi. Lagi pula, luka saya sudah cukup kering, kan Dok? "
Baru saja Dokter Ahmad akan menjawab ucapan Gadis, tapi Agra sudah lebih dahulu berucap.
" Aku tidak pernah berkata bahwa aku repot menjaga kamu. Lagi pula, Ini bukan waktunya berdebat tentang masalah mampu atau tidak mampu menjaga diri, tapi kita sedang berhadapan dengan situasi yang tidak bisa kukatakan sepele .. " kata Agra. Dia kesal karena Gadis menolak untuk pulang ke rumahnya dan memilih untuk tinggal di kosan saja.
Dokter Ahmad senyum - senyum melihat kedua orang yang saling bersitegang itu. Keduanya sama - sama keras. Sama-sama kepala baru. Yang wanita keras demi sebuah harga diri dan yang laki-laki keras dengan sebuah ego.
" Sebaiknya, kalian selesaikan masalah kalian berdua dulu. Hubungi saya kalau nanti kalian berdua sudah menemukan jalan tengah dari masalah ini. Saya permisi, selamat siang.. "
Dokter Ahmad berlalu pergi meninggalkan Gadis dan Agra yang masih bersitegang di kamar itu. Dia tak ingin mencampuri urusan anak muda. Baginya, urusan anak muda zaman sekarang terlalu ribet.
" Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Tapi aku tak bisa lagi menerima semua kebaikan dan pertolongan kamu karena aku takut tak bisa membalasnya. Jadi, cukup sudah yang kamu lakukan untuk aku. Aku bisa menjaga diri aku sendiri." kata Gadis lagi.
Agra geleng-geleng kepala melihat kekerasan sikap Gadis.
"Kalau begitu, kamu tidak usah pulang. Kamu tetap di rumah sakit ini sampai aku dapat menangkap pelakunya. " tegas Agra.
Mata Gadis melotot memandang ke arah Agra. Lelaki yang satu ini ternyata sangat suka sekali mempermainkan perasaannya.
__ADS_1
Kemarin dia memutuskan hubungan dengan dirinya. Namun ternyata laki-laki itu masih saja peduli dan mengawasi dirinya secara diam-diam. Lelaki itu juga yang kembali menyelamatkan dirinya.
Gadis tak mengerti, untuk apa lelaki itu masih sok peduli kepadanya. Kehadiran dirinya justru akan membuat Gadis semakin sulit untuk melupakan Lelaki itu. Padahal, bukankah seharusnya mereka tidak usah lagi saling bertemu agar Gadis bisa melupakan Agra secepatnya.
" Tidak, Kamu tidak bisa menyuruh aku untuk tinggal di rumah sakit ini atau tinggal di rumah kamu. Aku inginnya pulang ke rumah aku saja, aku ingin istirahat di sana. " kata Gadis sengit. Emosinya naik karena Agra tetap ngotot mempertahankan keinginannya. Ingin rasanya Gadis ******* - ***** dan membanting cowok itu andai bisa.
Gadis membuang pandangannya ke arah lain ketika Agra berjalan menghampiri dirinya. Lelaki yang kembali menggoreskan luka di hati Gadis untuk yang kedua kalinya itu kini sudah berdiri tegak di depannya. Menatap Gadis gemas.
" Gadis, aku mohon kali ini saja, menurut dan patuhlah padaku. Aku tidak mau mendengar lagi kata -kata penolakan. "kata Agra dengan kesal. Dia gusar sekali dengan sikap keras kepala Gadis kali ini.
" Tuan Agra yang budiman, saya dan anda tidak memiliki hubungan apapun juga. Jadi, sangatlah tidak pantas jika saya menumpang di rumah anda. Apa nanti kata orang. Mengertilah, saya tidak bisa menerima kebaikan anda lagi. " kata Gadis. Dia sudah kehabisan kata untuk mendebat cowok yang satu ini. Sangat keras kepala dan suka memaksa.
"Jadi itu masalahnya, karena aku dan kamu tidak memiliki hubungan apa - apa, maka kamu menolak semua kebaikanku dan juga menolak untuk kuajak tinggal di rumahku...?"
Gadis diam tak menanggapi pertanyaan Agra. Baginya sudah cukup jelas. Dia tak mungkin tinggal di rumah Agra karena mereka tak memiliki ikatan apapun. Dia juga bukan lagi kekasih Agra.
"Baiklah, kalau karena kita tidak memiliki hubungan apapun kamu jadikan alasan untuk menolakku, maka sekarang juga aku akan jadikan kau dan aku memiliki hubungan. Kita menikah..." kata Agra. Tegas dan tak bisa dibantah.
" APA...!" Gadis terlonjak dan matanya melotot hampir mau keluar saking kagetnya dengan ucapan Agra.
__ADS_1
"Apa kurang jelas. KITA MENIKAH HARI INI, Gadis Prameswari." ucap Agra dengan lantangnya.