
Pagi hari, Mitha sudah disibukkan dengan aktivitas rutin mulai dari mencuci pakaian hingga menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Rencananya, pagi ini dia akan pergi ke rumah mertuanya diantar oleh Fatan.
Fatan juga nantinya akan ke sana tapi setelah pulang dari rumah sakit. Akhir - akhir ini, kesibukan suaminya semakin banyak. Dan sebagai istri seorang dokter, apalagi dia juga seorang mahasiswa kedokteran, tentu saja amat memahami akan hal itu.
" Kak, bangun. Ini Sudah siang. Nanti kakak telat pergi ke rumah sakit." kata Mitha.
Namun Fatan masih tetap bergeming.
" Kak, ayolah. Ini sudah siang." Mitha kembali mengguncang - guncang tubuh Fatan. Namun, Fatan hanya bergerak sesaat, lalu kemudian tidur kembali. Mitha jadi dibuat gemas dengan kelakuan Fatan.
" Kenan, anak mommy, ayo kita bangun. Kita mau ke rumah oma, loh. Kita tinggalkan saja papa kamu yang lagi malas bangun pagi."
Sama, Kenan hanya menggeliat sedikit saat Mitha mencium dengan gemas balita berumur empat bulan itu.
Mitha menjadi kesal sekarang. Kenapa susah sekali buat membangunkan papa dan anak ini, pikirnya. Keduanya bukannya terbangun, malah makin menarik selimut. Dan Kenan, sama seperti papanya, bayi mungil itu walaupun tadi sempat terganggu sesaat karena ciuman sang bunda, tapi sekarang sudah kembali tertidur di sisi sang papa.
Mitha geleng kepala saat melihat kedua orang yang sudah mirip udang goreng. Yang satu udangnya besar, yang satu udangnya kecil sedang meringkuk di kasur. Kedua papa dan anak itu sama sekali tidak terganggu dengan suara Mitha yang dari tadi sibuk membangunkan keduanya.
" Ok, mommy hitung, kalau papa nggak bangun juga, mommy akan siram pake air. "
Fatan langsung membuka mata. "Coba ulangi lagi kata - katamu, sayang. Aku mau denger sekali lagi."
Mitha langsung mengernyitkan alisnya. " Kata - kata yang mana? " katanya sambil menarik selimut yang di pakai Fatan. Tampak olehnya tubuh Fatan hanya memakai yang hanya memakai celana pendek. Otot-otot kekar sang suami jelas terekspos matanya. Aduh... pikiran Mitha langsung berkelana karena pagi - pagi sarapan roti sobek.
" Itu, kata - kata 'mommy' yang barusan.."
" Lha, iya... kalau nggak Bangun juga, mommy siram pake air. Emang apa yang aneh..?" tanya Mitha tak mengerti.
"Kamu menggemaskan sekali, sayang... aku suka saat kau menyebut dirimu mommy. Jadi seperti berasa kalau aku papanya Kenan dan suami kamu seutuhnya." kata Fatan seraya memeluk Mitha. Dia lalu mencium pipi Mitha lalu beralih ke bibirnya.
Mitha segera mengurai pelukan Fatan sebelum Fatan mulai memanas. Sisa pertempuran tadi malam saja masih membekas. Selangkangannya masih terasa nyeri. Fatan benar-benar menghabisi dirinya tadi malam. Untung saja Kenan terbangun. Mungkin karena mendengar suara berisik papa dan mommy-nya yang beradu desah. Jadi, Fatan mengurungkan niatnya untuk memperpanjang ronde permainan.
" Sudah, Kak. Nanti kakak telat ke rumah sakit gara-gara telat bangun... " kata Mitha sambil segera bangkit dan mengangkat bayi Kenan dan membawa bayi itu ke dalam gendongannya.
Fatan terkekeh mendengar omelan Mitha. Istri cantiknya itu memang selalu mengingatkan dia akan tugasnya sebagai seorang dokter. Namun Mitha belum tahu, jika Fatan memiliki pekerjaan lain selain sebagai dokter. Nanti saja, Fatan berniat memberitahu semua saat memberi kejutan untuk Mitha nanti. Dia berniat untuk memberi kejutan pada Mitha saat hari ulang tahun pernikahan mereka.
" Jadi kan ke rumah mommy.. " tanya Fatan saat keluar dari kamar mandi.
" iya, dong. Nanti kakak nyusul kita, kan... " tanya Mitha balik.
" Iya, sepulang dari rumah sakit.. Sekarang, aku harus mengantarmu ke rumah mommy dulu. Aku harus pastikan, bahwa Nyonya Fatan tiba di tempat tujuan dengan selamat. Tidak di culik sama Rahwana..."
" Husss, siapa juga yang nyulik istrimu, Kak. Ngaco aja.... "
" Hahaha, becanda, sayang... " Kata Fatan sambil mengangkat dia jari membentuk tanda V.
" Eeh tapi beneran loh, kamu itu cantik. Siapa tahu aja, ada yang diam - diam suka. Nanti aku bisa - bisa benar-benar kehilangan istri aku yang cantik ini... " kata Fatan lagi sambil kembali memeluk Mitha.
Sebenarnya, Fatan tak sepenuhnya bercanda. Memang ada yang orang yang mengincar istrinya tersebut. Hanya saja, dia belum bisa memberitahukan hal ini kepada Mitha istrinya, karena dia takut Mitha menjadi panik dan ketakutan. Dan lagi pula, dia ingin menangkap basah sang stalker itu. Maka secara diam-diam, Fatan menugaskan Ryan untuk mengawasi Mitha dan menyadap nomor telpon istrinya tersebut. Tujuannya, biar mudah melacak jika sewaktu-waktu Mitha dalam bahaya.
Fatan sudah mengantarkan Mitha ke rumah orang tuanya. Mommy Amel dan Papa Bram sudah menunggu mereka sejak tadi. Begitu sampai, Mommy Amel langsung mengajak Mitha masuk ke dalam.
Dia mengambil bayi Kenan dari gendongan Mitha.
" Cucu Oma... aduh gantengnya. Ayo bangun... Ini sudah sampai di rumah oma.."
Bayi yang sedang tidur itu terjaga setelah merasakan ketenangannya sedikit terusik. Dia menggeliat bangun dan melihat wajah omanya yang sedang senyum menatap gemas padanya.
Bayi itu seolah tahu jika itu sang Oma sehingga dia juga tersenyum sambil tangannya meraih rambut sang Oma.
Sementara itu, Fatan bermaksud ingin langsung ke rumah sakit. Namun papa Bram menahan putranya.
__ADS_1
" Fatan, ada yang ingin papa bicarakan sama kamu.Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Nanti malam saja, sepulang kamu kerja. Kita bicara di ruang kerja papa." kata papa pada Fatan..
" Baik, pah. Fatan titip anak dan istri Fatan. Assalamu'alaikum...." pamit Fatan pada papanya.
Setelah itu, mobil Fatan meninggalkan rumah kediaman Bramantyo.. Sedangkan papanya, memandangi kepergian anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
...----------------...
Sementara itu, Gadis mendapat pesan dari sebuah nomor tak dikenal. Orang itu mengajak Gadis untuk bertemu di cafe Z yang letaknya tak jauh dari rumah sakit ini.
Sebenarnya Gadis malas untuk menerima tawaran itu. Dia tidak mengenal orang itu. Jadi untuk apa dia menerima tawaran orang itu. Jadi dia memutuskan untuk menolak tawaran tersebut. Tak habis sampai disitu, orang tersebut lalu menyebutkan sebuah nama. Agra.... lalu menuliskan sebuah pesan lagi. Apa kamu tak ingin tahu, mengapa Agra sampai lumpuh..? Apa kamu tidak merasa bahwa semua itu ada hubungannya dengan kamu????
Perasaan Gadis langsung menjadi tak enak. Mengapa dirinya disangkut pautkan dengan kelumpuhan Agra. Penasaran....
Akhirnya dia menerima tawaran orang itu untuk bertemu. Tapi nanti, setelah Gadis selesai bertugas. Orang itu menyetujuinya. Mereka janji akan bertemu sore nanti di cafe Z.
Setelah membalas pesan, Gadis kembali terpekur sendiri.Dia. masih penasaran, mengapa orang itu mengatakan bahwa kelumpuhan yang dialami Agra ada hubungannya dengan dirinya. Sedangkan, dirinya saja baru mengenal Agra. Dia juga baru mengetahui kalau Agra adalah saudara kembar Gara. Makin pelik saja, teka teki antara Agra, Gara, dan dirinya.
Apakah mungkin Agra itu Gara..? Atau cowok yang dia lihat bersama cewek
di mall itu adalah Agra..?
Akh..... Gadis sampai pusing kepalanya. mencari jawaban atas teka teki tersebut.
Akhirnya, Gadis menjajakan kakinya ke cafe Z. Tempat dia membuat janji untuk bertemu dengan orang yang mengirimi Dia pesan tadi.
Dia datang karena memenuhi rasa penasaran di hatinya. Benarkah dia ada hubungannya dengan kelumpuhan Agra. Dan juga dia ingin tahu, siapa orang yang telah mengirimkan pesan tersebut.
Mata Gadis celingukan seperti mencari - cari sesuatu atau seseorang.
Itu Gara....
Jadi yang menghubungi dia dan mengirimkan pesan itu adalah dia, pikir Gadis. Tapi mengapa dia katakan kalau aku ada hubungannya dengan kelumpuhan Agra. Apakah ini hanya akal - akalan Gara agar dia mau datang, dan dia bisa menemui Gadis...?
Gadis memutuskan ingin pergi setelah tahu bahwa yang mengirim pesan itu adalah Gara. Tapi kata - kata Gara kembali membuat dia harus mengurungkan niatnya.
" Gara adalah Agra...... "
...----------------...
Gadis membolak - balikkan tubuh, gelisah. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau saat ini. Ingin rasanya Gadis berteriak untuk menumpahkan semua uneg - uneg di hatinya.
Benarkah, ...benarkah semua yang dikatakan Gara itu. Benarkah Agra adalah Gara seperti yang dikatakan Gara ketika di cafe tadi sore.
Bagaikan disambar petir rasanya Gadis mendengar ucapan Gara. Untuk sesaat, Gadis hanya bisa diam terpaku. Dia mencoba mencerna ucapan Gara. Agra adalah Gara.... jadi Gara yang selama ini dia kenal adalah sebenarnya Agra.
Gara menceritakan semua kepada Gadis dengan lancar.
" Agra adalah saudara kembarku yang satu sekolah denganmu. Sedangkan aku, bersekolah di SMA yang berbeda. Sebagai seorang saudara kembar, hubungan kami sangat dekat. Agra selalu bercerita tentang apa saja yang dia alami, termasuk ketika dia menyukaimu." kata Gara sambil menyeruput minumannya.
Gadis memutuskan untuk mendengarkan cerita Gara tanpa ada paksaan.
" Dia bercerita padaku, bahwa dia berhasil berkenalan denganmu. Kau tahu, itu adalah saat yang paling berkesan dalam hidupnya. Terlebih saat akhirnya dia berhasil nembak kamu. Dia sampai berjingkrak - jingkrak memelukku. Aku turut senang dan bahagia untuk abangku itu." kata Gara. Sampai di sini, dia menghentikan ceritanya. Dia menghela nafas seolah menahan beban berat untuk melanjutkan cerita selanjutnya.
" Sampai suatu kejadian naas menimpa abangku. Kau ingat, pagi itu Agra datang agak terlambat....."
Aku mencoba mengingat kembali potongan peristiwa pagi itu. Iya... Gara atau Agra memang telat sedikit telat menjemputku.
" Pagi itu Agra mengalami kecelakaan
__ADS_1
saat hendak menjemputmu..."
Gadis menutup mulutnya, memekik tertahan, dan kemudian berucap Astagfirullah....
" Dia tetap sadar walaupun dia terluka dan kemudian menghubungi diriku. Aku yang datang kemudian, diminta untuk mengantar kamu ke sekolah. Aku terpaksa memenuhi permintaannya walaupun dalam hati aku ingin membantah. Aku ingin bersama abangku tapi abangku memintaku untuk mengantarkan kamu ke sekolah.. Setelah aku mengantarkan kamu, barulah aku menyusul Abangku ke rumah sakit."
Gadis rasanya tak sanggup mendengar kelanjutan cerita Gara. Dia terlalu shock mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Agra... kenapa cowok itu merahasiakan semua ini darinya.
" Dirumah sakit, sebenarnya aku berniat untuk memberitahu kamu tentang Agra. Tapi Agra memohon padaku agar jangan memberitahukan hal itu padamu. Juga saat akhirnya Agra divonis lumpuh. Abangku itu masih tetap menolak untuk memberitahukan kepadamu. Alasannya, dia takut kamu berubah pikiran jika mengetahui kalau dia lumpuh. Abangku memintaku untuk tetap berpura-pura menjadi dia. Toh, katanya tak masalah. Karena saat ia memperkenalkan dirinya, dia mengaku sebagai Diriku, Gara." kembali Gara menghela nafas dan berhenti sejenak, seolah - olah mengumpulkan semua potongan memori yang selama ini berserakan dibuang waktu.
" Jadi, Agra tidak ingin aku mengetahui jati dirinya dan juga tentang kecelakaan yang menimpa dirinya? Tapi apa alasannya...? Mengapa dia tidak jujur mengatakan dari awal kalau dia adalah Agra, bukan Gara.. " kataku dengan airmata yang sudah jebol sejak tadi. Aku begitu terpukul. Agra merahasiakan semuanya dariku.
"Akupun tak tahu.. " kata Gara. "Namun, aku harus mengecewakan dirinya. Semua terjadi karena kebodohanku. Ketika kamu memergoki aku yang sedang berdua dengan Kania. Hancur.. semua jadi hancur. Kamu memutuskan diriku atau Agra. Berulang kali aku mendatangi dirimu untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Namun, kamu seolah - olah menutup telinga dan juga mata hatimu untuk memaafkan diri aku yang saat itu kamu anggap sebagai Agra."
Aku tamat.!!!
Aku benar-benar dihempaskan ke ruang rasa bersalah dan penyesalan yang mendera dan datang bertubi - tubi.
" Sejak hari itu, Agra tak pernah lagi mau membuka hatinya untuk siapapun. Agra juga tidak pernah lagi datang ke sekolah. Dia memilih melanjutkan sekolah melalui home schooling. Agra juga enggan untuk berobat dan tak ada keinginan untuk sembuh."
" Lantas, mengapa baru sekarang dia ingin bertemu denganku?" tanyaku lirih.
" Kamu ingat waktu pertama kita bertemu di rumah sakit ini..? "
Aku mengangguk. " Aku ingat.. Waktu itu aku sangat sebel dan benci banget sama kamu, ehhh maksudku Agra.. "
" Dia juga melihatmu secara tak sengaja. Bertemu dan melihat kamu kembali, membuat abangku menjadi kembali mendapatkan semangat hidupnya. Itulah sebabnya, kami nekat menemui kamu."
Aku tertegun. " Kami..? "
" Iya, aku dan Kania. Kami merasa perlu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Maka dari itu, kukatakan jika apa yang kamu lihat itu bukanlah yang sebenarnya terjadi. "
kata Gara saat itu.
Dreettt... dreettt
Bunyi suara telepon membuyarkan lamunan Gadis tentang Gara. Gadis melirik handphone miliknya yang tergeletak di sisinya. Sebuah chat masuk melalui aplikasi whatsapp miliknya. Gara....? Ada apa lagi ini?
Penasaran, bergegas Gadis membuka chat milik Gara. Apalagi yang dimaui oleh cowok itu.
' Cepatlah datang, Agra demam dan menggigil. Aku sudah menghubungi dokter Rendi, tapi katanya dokter Rendi sedang keluar kota.. '
Oh, ****...
Jantung Gadis berdegup kencang. Kenapa juga dia yang harus datang..?
Apa boleh buat. Dia memang harus datang untuk menggantikan dokter Rendi karena kemarin dia sudah berjanji akan membantu dokter Rendi dalam menangani cowok itu.
Gadis segera menyambar sweater, tas kerja, dan kunci mobilnya. Dia bergegas datang ke rumah kediaman keluarga Dewantara untuk menemui Agra. Dia ingin tahu bagaimana kondisi pasien dokter Rendi itu sekarang ini.
Gadis memasuki halaman rumah Agra dengan hati berdebar - debar. Semakin keras rasa debaran di hatinya ketika kakinya mulai memasuki ruang tamu kediaman keluarga Dewantara itu.
" Gadis, Syukurlah kamu akhirnya datang juga. Masukkah... dia ada di dalam.. "
Gara mengajak Gadis ke kamar Agra.
Di sana, tampak Agra, cowok itu yang terbaring lemah dan dalam keadaan yang menyedihkan sekali.
Tubuhnya demam tapi dia menggigil kedinginan. Gadis menduga, ini adalah efek dari terapi yang dia lakukan kemarin.
' Gadis...jangan pergi ... "
__ADS_1