
"Hah, penjara.. ?? " Axel menatap Gadis dengan pandangan seram. Astaga...
Baik Arumi dan juga Axel sangat terkejut. Mereka baru menyadari akan hal itu. Namun semuanya telah terlambat. Apa yang mereka telah lakukan baik terhadap Mitha maupun terhadap Gadis adalah salah.
Kini keduanya tak bisa lagi berkutik. Baik Arumi maupun Axel, mereka berdua harus bertanggung jawab terhadap perbuatan mereka berdua yang telah mencelakai Mitha dan Gadis.
Kedua manusia yang sebenarnya sakit jiwa itu akhirnya di giring ke kantor polisi untuk di mintai keterangan guna penyelidikan lebih lanjut
Sementara itu, di lain tempat, Fatan segera melarikan istrinya ke rumah sakit. Sepanjang jalan, Fatan tak henti - hentinya berdoa untuk keselamatan sang istri. Sementara Reno yang sedang memegang Stir mobil dan Aldo yang berada di depan merasa sangat gugup.
Dia sangat takut kehilangan wanita itu. Itulah perasaan yang ada di dalam hatinya saat ini. Saat melihat Mitha yang jatuh terkulai dengan tubuh yang bersimbah darah membuat jantungnya seakan-akan berhenti berdetak.
Kini dia semakin takut karena kemudian Mitha berhenti bergerak.
"Mitha, jangan tidur sayang..!! Jangan kamu pejamkan matamu..! Sayang.., sadarlah...! Kamu harus tetap sadar..!" Fatan tak hentinya berusaha agar istrinya itu bangun. Dia takut jika istrinya tak bangun - bangun lagi.
"RENO...!! lebih cepat lagi. Keadaan Mitha semakin lemah karena kehabisan darah...! " kata Fatan dengan raut wajah Panik.
"Sabar, Bro. Ini kita sudah hampir sampai di rumah sakit...! " jawab Reno seraya mempercepat laju kendaraannya. Tubuh mereka sampai terguncang - guncang ketika melewati jalan yang rusak. .
Setibanya di rumah sakit, Fatan segera turun seraya membopong tubuh Mitha yang bersimbah darah berjalan memasuki rumah sakit. Wajah dan bajunya sudah penuh dengan noda darah yang berasal dari luka di leher Mitha.
__ADS_1
"Siapkan operasi.Panggil dokter terbaik di sini dan cepat selamatkan istri dokter Fatan..!!" perintah Reno.
Tentu saja mereka langsung bergerak untuk menangani Mitha. Terlebih yang memerintahkan mereka merupakan anak dari pemilik rumah sakit ini.
Mitha segera mendapatkan penanganan medis yang terbaik. Fatan sendiri juga turun tangan membantu para dokter yang sedang sibuk menangani luka di leher Mitha.
Selama dua Jam, akhirnya selesai juga pekerjaan mereka. Fatan akhirnya bisa menarik nafas lega setelah melihat keadaan sang istri yang kini sudah lumayan lebih baik.
Sementara itu, Gadis dan Arga sedang berada di ruang tunggu rumah sakit. Mereka berdua menyusul ke rumah sakit setelah memberikan keterangan di kantor polisi. Gadis sangat mencemaskan keadaan Mitha. Bersama Reno dan Aldo mereka menunggu di ruang tunggu pasien dengan harap- harap cemas.
Mitha akhirnya kembali tersadar dan membuka mata setelah tertidur selama tiga jam paska operasi dirinya.
"Di mana aku...?" tanya Mitha yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Kita di rumah sakit... " jawab Fatan.
"Bagaimana dengan Arumi..? " tanya Mitha yang mulai sedikit mengingat tentang kejadian - kejadian sebelum mereka akhirnya sampai di tempat ini.
"Arumi dan Axel, menurut Gadis dan Agra, mereka berdua sudah di serahkan ke pihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka yang telah mencelakakan dirimu dan juga Gadis." jelas Fatan.
"Gadis...?" Mitha tersadar bahwa dirinya ingat bahwa alasan mengapa dirinya berniat untuk menemui orang itu adalah karena sahabatnya itu. "Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik - baik saja? " tanya Mitha.
__ADS_1
"Kamu tak usah khawatir. Sahabatmu itu adalah wanita yang tangguh. Dia hanya mengalami beberapa luka memar dan lecet. Tapi sekarang sudah ditangani oleh dokter. Sekarang ini justru kamulah yang membuat kami semua khawatir. Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan berbuat seperti ini lagi. Kamu membuat jantungku seakan berhenti berdetak karena ketakutan. " kata Fatan.
Mitha menatap wajah Fatan yang begitu dekat dengan wajahnya. Mata itu, begitu sarat akan cinta untuknya. Dia bisa melihat itu. Melihat cinta di mata Fatan, dan dia yakin sekali bahwa itu untuk dirinya. Mitha menangis sambil menganggukkan kepala."Aku berjanji..!" jawabnya.
Keduanya saling berpelukan dengan haru. Bahkan setelah itu, tak tahan akan gelora di dadanya, Fatan ******* habis bibir Mitha yang ranum.
"Hemm, sayang. Tutup matamu. Ada adegan yang belum pantas kamu lihat..!" itu suara Agra yang masuk bersama Gadis dan melihat dokter dan pasien itu saling berciuman.
"Agra, itu tidak benar! Justru Gadis itu harus melihat adegan tadi supaya tak canggung saat mempraktikkannya di malam pertama kalian nanti..! " balas Fatan yang langsung mendapat peloton mata dari Gadis. Sedangkan Agra hanya tertawa terbahak - bahak.
Gadis langsung mencubit lengan calon suaminya. "Berisik sekali. Ini rumah sakit, bukan taman bermain..! " ucapnya ketus. Gadis merasa jengkel. Dimana - mana, laki-laki sama saja. Selalu mencari kesempatan dalam kesempitan. Menggunakan segala dalil untuk memanfaatkan segala situasi.
"Sorry, Tapi dokter Fatan benar, sayang. Kamu harus belajar dari Mitha, tentang semuanya. Biar nanti tidak canggung saat melayani aku.. " kata Arga seraya melempar senyum smirk ke arah Gadis.
Merah merona wajah Gadis mendengar ucapan Agra. Dia membuang pandangan ke samping karena malu. "Tau, akh.. mesum.. "ujarnya kemudian.
Fatan dan Agra kembali tertawa. Dasar wanita..., pikir mereka. Mereka makhluk yang unik. Bibirnya berkata A sedang hatinya berkata Z, sungguh ajaib.
****
****
__ADS_1