Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 9 Perjanjian


__ADS_3

" Minggu depan kita nikah. "


" Apaaa?! "


" Iya, aku sudah meminta mommy dan papa aku, untuk bicara pada kedua orang tuamu."


Mata bulat indah milik Mitha membulat sempurna mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Fatan.


" Cuih, KAU GILA...!!! Mengapa kamu tak bertanya dulu padaku. Apa kamu pikir aku sudi menikah denganmu?! " bentak Mitha kalap. Dadanya kembang kempis karena menahan amarah yang meluap - luap di hatinya.


Dia tak menyangka jika Fatan sudah bertindak sendiri tanpa berbicara terlebih dahulu padanya. Terlebih lagi, sudah melibatkan kedua orang tua mereka.


" Batalkan saja pernikahan itu!!!" pintanya dengan berani. Matanya berkilat penuh dengan amarah.


" Tapi, Mitha..." Fatan tampak kebingungan melihat sikap Mitha. Cewek itu menyatakan tak sudi untuk menikah dengannya. Padahal saat ini Mitha sedang mengandung anaknya. Rahang Fatan mengeras mendengar penolakan Mitha.


" Apa alasannya kamu menolak menikah denganku, Mitha? "


" Karena aku tidak mencintaimu!!." jawab Mitha lantang.


Sejenak Fatan terkesima mendengar jawaban Mitha. Cinta.....??


" Hahaha..... " Fatan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Mitha.


Kening Mitha berkerut heran melihat Fatan. " Memangnya ada yang lucu dengan perkataanku..? " tanyanya heran.


Setelah puas tertawa, Fatan kemudian berjalan mendekat ke arah Mitha. Lalu kemudian berdiri lurus menatap cewek bermata bulat itu. Tatapannya tajam menghujam ke manik mata cewek itu. "Apa kamu pikir aku juga mencintaimu?" balas Fatan kemudian.


Mitha tergugu dengan pernyataan Fatan. Dia menggeleng kecil ketika menyadari satu hal. Tak mungkin juga Fatan mencintainya. Cowok setampan Fatan tidak mungkin tidak memiliki pacar. Mungkin saja sekarang ini cowok itu juga memiliki seorang yang spesial, sama seperti dirinya yang diam - diam mencintai seorang Edo.


Sekarang sebuah pertanyaan muncul di benaknya, apa tujuan cowok itu ingin menikah dengannya.? Tadi sudah jelas - jelas cowok itu juga mengatakan jika dia juga tidak mencintai dirinya.


" Hah, sudah jelas diantara kita tak ada rasa cinta. Jadi, mengapa kita harus melanjutkan pernikahan ini ? Dengar, Ya. Aku sama sekali tak menginginkan pernikahan ataupun anak ini. Maka aku berniat akan menggugurkannya, karena aku tak mau mengorbankan masa depan dan cita - citaku." kataku dengan napas memburu.


Aku tak tahu apa yang merasuki otakku sampai bisa berkata demikian.


Seketika wajah Fatan menegang setelah mendengar ucapanku.

__ADS_1


" Kau sudah tak waras..?!! Menggugurkan kandungan itu dosa besar. Sama halnya dengan membunuh satu jiwa. Dimana kode etikmu sebagai seorang calon dokter." sergahnya sambil menarik dan mencekal tanganku.


Aku meringis karena merasakan sakit akibat cengkraman tangan Fatan.


" Lepaskan. Sakit tau..!!" Aku berusaha meronta agar terlepas dari cengkraman tangannya.


" Tidak..! Sebelum kamu berjanji untuk tidak menggugurkan kandunganmu.! Rupanya otakmu perlu dibersihkan dari pikiran - pikiran kotor. " sentaknya. Ada kilatan amarah terpancar di matanya. Namun aku tak gentar sedikitpun. Aku pun terus meronta.


" Apa pedulimu.?! Perut, perut aku..! Otak, otak aku! Lagi pula, apa kamu tidak dengar alasanku. Aku tak ingin masa depanku hancur karena ini semua. " bentakku seraya menghempaskan cengkraman tangan Fatan. Cengkraman tangan Fatan akhirnya terlepas juga.


Fatan menggelengkan kepala menyadari kekerasan hatiku. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiranku yang menolak menikah dengannya dan berniat untuk menggugurkan kandunganku.


Aku pun juga tak tahu, setan mana yang telah merasuki pikiranku hingga berniat untuk menggugurkan janin yang sedang aku kandung ini dan menolak ajakan Fatan untuk menikah. Yang jelas aku kalut sekali dan juga merasa takut jika masa depan yang dengan susah payah kurintis, namun ternyata harus gagal dan hancur tak bersisa lantaran kehamilan ini.


" Baik, baik... Lalu, apa mau kamu..! " tanya Fatan akhirnya. Dia memilih mengalah dan mengikuti kemauanku.


" Mauku ..? Mauku adalah ..... aku tak ingin menikah denganmu dan juga ingin menggugurkan janin sialan ini agar aku bisa kembali melanjutkan kuliahku, masa depanku!!! " bentakku sambil berlalu pergi meninggalkan Fatan. Air mataku sudah berhamburan keluar karena kekesalan dan juga kegusaran yang membuncah dalam hati.


Fatan berlari mengejar diriku yang terus berjalan meninggalkan tempat itu.


" CUKUP, pembicaraan kita selesai. Tak akan ada pernikahan dan tak akan ada anak. Aku akan menggugurkan anak ini." tandasku sambil kembali meneruskan langkah kakiku.


" Bagaimana jika aku katakan kamu bisa menikah denganku dan tetap masih bisa melanjutkan kuliahmu sampai meraih gelar dokter meskipun dalam keadaan hamil."


Langkah kakiku terhenti. Apa tadi yang dia katakan..? Aku langsung berbalik menatapnya.


" Kau pikir aku bodoh? Mana ada peraturan kampus yang mengizinkan mahasiswanya yang sudah menikah apalagi sedang hamil bisa terus melanjutkan kuliahnya. Apa anda lupa bahwa ini adalah kampus kedokteran, Bung..! " aku berkata dengan nada kesal.


Cowok ini bego atau pura-pura bego. Sudah jelas - jelas peraturan di kampus ini mengatakan bahwa mahasiswa kedokteran dilarang menikah apalagi hamil..


" Papa aku sudah mengatur semuanya. Papanya Reno sudah memberi izin agar kamu bisa tetap melanjutkan kuliahmu kecuali nanti saat kamu hamil besar dan melahirkan, kamu bisa mengajukan cuti kuliah."


Mitha langsung terdiam setelah mendengar ucapan Fatan. Benarkah apa yang diucapkan oleh Fatan..?


" Mengapa diam..? Apa kamu masih meragukan ucapanku? tanya Fatan seraya kini sudah berdiri tepat di hadapanku.


" Benarkah begitu..? Ta.. tapi, bagaimana bisa? "

__ADS_1


" Hahaha, kamu lupa siapa calon mertuamu?"


Aku terdiam sesaat. Iya, benar..!! Aku lupa tentang satu hal. Aku benar-benar melupakan sosok seorang Bramantyo. Siapa yang tak mengenal papanya Fatan. Dengan kekuasaan dan juga kekayaannya, apa yang tak bisa dia lakukan.


" Tapi tetap saja aku tak bisa terima. Kamu memutuskan sendiri semuanya tanpa bicara dulu kepadaku." Aku tetap kekeuh mempertahankan pendapatku.


Fatan terkekeh mendengar ucapanku yang bernada kesal.


" Jika aku ngomong duluan ke kamu, apa kamu mau mendengar atau terima...? Orang kamunya didekati aja marah- marah, apalagi diajak ngomong." sahutnya sambil tersenyum.


"Jadi ini sebabnya, kamu menghilang selama seminggu. Ternyata kamu diam - diam merencanakan semuanya di belakangku." sahut Mitha sengit. Dia masih merasa kesal dengan sikap Fatan yang semaunya sendiri bertindak.


" Maafkan aku, tapi aku tak bisa sabar jika melihat calon ibu anak - anakku dihina oleh orang lain karena hamil tanpa suami. Papa dan mommy aku sudah melamar kamu. Kedua orang tuamu sudah menerima dan keduanya juga setuju dengan rencana pernikahan kita yang akan dilaksanakan minggu ini. Jadi aku mohon, kamu bisa terima semua ini. Karena semua ini demi kebaikan kita bersama."


" Kebaikanmu, bukan kebaikanku. Kamu melakukan semua ini karena tak ingin di dera rasa bersalah. Dan untuk kedua orang tuamu, tentu saja demi nama baik dan juga kehormatan keluarga kalian. " cibir Mitha.


" Terserah kamu mau mikir apa atau mau bilang apa. Aku akui, aku memang merasa sangat bersalah padamu karena peristiwa itu. Tapi jika kamu katakan bahwa aku dan kedua orang tuaku melakukan ini semua demi melindungi nama baik dan kehormatan keluarga kami, itu tak sepenuhnya benar.


Mungkin saja dengan menikahimu, nama baik keluargaku tidak tercoreng. Tapi ketahuilah, masalah nama baik dan kehormatan keluargaku tak akan tercemar walaupun aku tidak menikah denganmu." kata Fatan dengan mimik serius.


Mulut Mitha menganga karena mendengar pernyataan Fatan. Cowok di hadapannya ini rasanya pengen dia sampal mulutnya dengan sendal jepit. Ngomong atau ngebacot.


" Kau.....!! " tangan Mitha terkepal di samping siap untuk menghajar Fatan. Emosinya naik ke ubun - ubun. Telinga dan kepalanya seperti berasap karena terbakar emosi.


Fatan menyeringai melihat ekspresi Mitha yang seperti kepiting rebus.


" Iya, kenapa? Apa kamu marah dengan perkataan aku barusan? Jujur saja, aku mungkin seharusnya senang dan bersyukur jika kamu tidak mau menikah denganku dan berniat menggugurkan kandungan itu. Berarti aku bebas dari dari tuntutan rasa bersalah dan juga dosa. Tapi, apa kamu tidak memikirkan sedikitpun bagaimana nanti nasib dirimu dan juga jamin yang kau kandung. Dia tak berdosa, Mit.... Sepertinya dia juga berhak untuk hidup.."


Aku terdiam cukup lama setelah mendengar ucapan Fatan. Fatan memang benar. Dia sebenarnya tak merasa rugi karena aku menolak untuk menikah dengannya atau niatku yang ingin menggugurkan janin di perutku ini. Justru akulah yang akan dirugikan.


Ya Tuhan, ..... jadi Fatan bermaksud untuk melindungi diriku dan juga janin yang ada di perutku. Baiklah, untuk ini aku sepertinya harus minta maaf.


Untuk sesaat, aku sempat terharu dan juga merasa tersanjung.


"Baiklah, aku setuju untuk menikah denganmu. Tapi hanya sampai anak ini lahir saja Setelah itu, kita bercerai..!" putusku kemudian.


" Oke, deal....! " jawab Fatan

__ADS_1


__ADS_2