
Mitha tak berkedip memandang mobil mewah yang terpajang di depannya. Mulutnya sampai terbuka lebar dan tak mampu lagi dia berucap.
" Kak, ini mobil beneran buat aku..? " tanya Mitha masih tak percaya. Seumur hidupnya bermimpi pun tidak terpikirkan dalam benaknya, memiliki sebuah mobil, apalagi mobil mewah. Dia punya satu motor saja sudah suatu keberuntungan baginya.
Orangtuanya, walaupun bukan orang susah, tapi tak juga cukup mampu untuk membeli kendaraan beroda empat. Hanya motor scoopy bekas yang mampu orang tuanya belikan untuk dipakai pergi kuliah. Dia saja, bisa kuliah atas beasiswa yang dia dapatkan karena prestasi akademik saat SMA dulu.
" Kamu kok tak percaya, itu jelas - jelas BPKB nya atas nama kamu. Apalagi yang harus diragukan.. " kata Fatan.
Dia jadi gemas melihat tingkah sang istri. Karuan saja dia lalu memeluk Mitha. Diciumnya sekilas tengkuk sang istri dan memberikan tanda merah di sana. Mitha merinding karena merasakan geli.
" Selamat ulang tahun pernikahan kita. Dan mobil ini adalah hadiah dari aku." kata Fatan lagi.
" Tapi ini terlalu berlebihan. Harga mobil ini mahal sekali, Kak. Dari mana kakak mendapatkan uang... " kata Mitha lagi..
Dia tahu persis berapa gaji seorang dokter. Walaupun Fatan adalah anak konglomerat, tapi masa iya, Fatan membeli mobil itu dari hasil meminta uang pada orang tuanya. Nggak lucu banget..
" Sayang, kamu tak usah merisaukan dari mana aku memperoleh uang itu.
Itu semua murni dari usaha aku. Aku, Reno, dan Aldo membangun beberapa bisnis kecil - kecilan dan hasilnya kita bagi bertiga. Yah, lumayan lah, hasilnya bisa buat beliin mobil istriku yang cantik ini... " jelas Fatan.
Mitha menatap lekat wajah suaminya untuk mencari kebohongan di sana. Hasilnya nihil. Tidak ada kebohongan yang di dapati di sana.
Semua yang dikatakan Fatan benar adanya. Fatan telah berkata jujur tentang siapa dirinya dan apa pekerjaannya. Di samping profesi nya sebagai dokter, Fatan juga seorang pengusaha.
" Terima kasih, Kak. Ini adalah hadiah pernikahan yang paling mahal dan berkesan buat aku. Walaupun sebenarnya aku tak meminta, Kak. Hanya cinta dan kesetiaan kakak saja yang aku inginkan. Selebihnya, aku tak membutuhkan yang lain." kata Mitha dengan terharu. Dia memeluk suaminya dengan perasaan haru dan juga bahagia.
" Sama-sama, sayang.'" kata Fatan balas memeluk Mitha.." Meskipun Aku bukanlah laki-laki yang romantis. Tapi aku bisa pastikan satu hal, bahwa laki-laki yang tak romantis ini hanya mencintai satu wanita saja, yaitu Paramitha Putri. Aku mencintai kamu, wanitaku, Ibu dari anak - anakku." bisik Fatan di telinga Mitha.
Hati Mitha diliputi bunga - bunga saat mendengar pernyataan cinta Fatan. Itu adalah pernyataan cinta yang paling indah yang dia dengar. Alih - alih terbang maka Mitha semakin mempererat pelukannya.
Fatan juga tak mau kalah. Dia mengangkat dan memutar - mutar tubuh Mitha. Senyum bahagia terlukis di wajah tampannya.
" Sayang, ayo kita buat adek untuk Kenan.. " ajaknya kemudian.
" Loh, kok larinya ke situ.. "
" Mendadak pengen lagi... " kata Fatan sambil tangannya menunjuk ke bagian bawah celananya yang kini sudah menonjol.
" Kak Fatan.... "
__ADS_1
-^°°°
Hadeuh si Fatan... Kayaknya gencar banget bikin adeknya. Padahal, Kenan masih kecil juga....
......................
Setiap hari sepulang dari rumah sakit, Gadis kini tak lagi pulang ke kosannya tetapi menemani Agra yang masih dalam masa perawatan dokter Rendi. Dia menghabiskan waktunya bersama cowok yang sudah berlabel kekasihnya itu setiap hari selama Agra dirawat. Dia memberikan dukungan moril dan
Seperti hari ini, selepas masa tugasnya, dia bermaksud untuk kembali lagi ke kamar Agra.
Gadis menenteng beberapa bungkus makanan dan juga buah - buahan. Sebelum kemari, Agra menelpon Gadis dan minta di belikan makanan dan juga buah - buahan segar. Agra memesan semua makanan itu dengan alasan bahwa dia sudah bosan dengan makanan rumah sakit yang menunya tidak sesuai dengan seleranya.
" Hai.. " sapa Gadis pada Agra yang sedang duduk di atas kursi roda.
Hai juga.." balas Agra sambil beringsut menggerakkan kursi roda ke arah jendela.
Sementara itu Gadis meletakkan makanan dan juga buah - buahan itu di laci lemari yang terdapat di samping tempat tidur. Setelah itu dia berjalan menghampiri Agra.
Cowok itu tampak sedang merenung dan terlihat kurang bersemangat. Dia memandang lurus keluar jendela. Pemandangan dari dalam kamar menuju keluar sangat indah. Namun berbanding terbalik dengan apa yang sedang dirasakan pemuda itu.
"Ada apa, kenapa wajahmu terlihat murung... " tanya Gadis.
Agra menghela nafas dalam sebelum berucap untuk menjawab pertanyaan Gadis. Berat sekali rasanya mengungkap hal ini pada Gadis. Namun, dia harus mengatakannya. Dia tak ingin membohongi Gadis tentang keadaan dirinya saat ini.
" Aku tadi habis bertemu dokter Rendi. Dan dia mengatakan bahwa.... ada kemungkinan aku akan menderita kelumpuhan permanen." kata Agra sambil menatap wajah Gadis dalam - dalam. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Gadis saat mendengar berita itu.
" Ada urat syaraf yang putus dan cedera pada tulang ekor, jadi kemungkinan aku akan kembali lumpuh seperti waktu itu.." kata Agra.
Gadis diam saja. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi keterkejutan di sana. Datar dan tanpa ekspresi.Kini malahan Agra yang dibuat terkejut atas sikap tenang dan tanpa ekspresi dari Gadis.
" Kamu tampaknya tidak terkejut dengan semua ini. Apa kamu sudah mengetahui semuanya dari awal." tanya Agra penasaran.
Gadis menganggukkan kepalanya." Iya, aku sudah mengetahui perihal kondisi kakimu. Memang kenapa dengan semua itu...?
" Gadis, masa kamu tak faham juga?" tanya Agra. Gadis kembali menggeleng. " Tidak, aku tidak faham. Coba jelaskan padaku !" jawab Gadis.
" Gadis, aku lumpuh... Aku cacat! Selamanya aku tak bisa berjalan. Apa kamu masih mau sama cowok cacat seperti aku.?" tanya Agra dengan nada yang sedikit tinggi.
__ADS_1
" Apa kemarin saat kamu memintaku menjadi kekasihmu, kamu tidak lumpuh? " tanya Gadis kemudian. Dia menatap Agra tepat di manik mata cowok itu.
Agra tergagap tak bisa menjawab pertanyaan Gadis.
" Ayo, jawab. Apa saat kamu menyatakan cinta padaku, kamu merasa tidak cacat? " tanya Gadis lagi.
" Iya, tapi waktu itu aku.... "
" Waktu itu apa? Kamu hanya becanda maksudnya? Apa semua yang kamu katakan itu hanya kebohongan semata? Kamu cuma mau mempermainkan perasaanku saja, begitu..... ?"
Agra menggeleng cepat. Dia kehabisan kata - kata untuk mendebat Gadis.
" Tidak, semua yang ku katakan saat itu adalah benar adanya. Aku mau kamu menjadi kekasihku. Tapi saat itu aku.. "
" Tapi apa? Kamu mau mengatakan bahwa saat itu kamu sedang tidak sadar. Kamu tidak sadar bahwa kondisimu saat itu tidak lebih baik dari hari ini. Bulshit , tahu.... " kata Gadis dengan berapi-api.
" Gadis, coba mengertilah. Aku tak mungkin meneruskan hubungan ini. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku. Aku tak bisa mendampingi dirimu. Aku tak bisa membahagiakan kamu. Aku hanya cowok cacat yang tak berguna. Maafkan aku, Gadis. " kata Agra sedih.
Serasa ada ribuan paku yang menghujani hati dan jantungnya saat mengatakan hal itu. Dia tahu, Gadis pastinya terluka dengan keputusannya itu. Sebenarnya, dia lebih terluka lagi. Cinta yang dia miliki untuk Gadis begitu besar. Namun dia tak boleh egois. Gadis berhak untuk bahagia.
Hening....
Dia dan Gadis sama - sama terdiam untuk beberapa lama.
Kebisuan ini sungguh menguras emosi keduanya.
" Jadi , kamu mau kita putus...?" tanya Gadis kemudian setelah keheningan itu.
Agra terdiam...
Dirinya tak mampu menjawab. Putus..? Apakah ini yang Agra inginkan...?
Tidak.... sungguh mati, bukan ini yang Agra inginkan....
Tapi, kenapa kepalanya mengangguk....
Gadis terhenyak menatap ke arah cowok di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Cowok itu memutuskan cintanya...?
Kenapa rasanya seperti ada bongkahan tiba-tiba menghantam dadanya.
__ADS_1