
"Tadi malam kamu mengigau dan menyebut namanya sambil menangis."
Astaga, benarkah apa yang baru saja Mas Sultan katakan itu..? Aku mengigau menyebut nama Fatan.
......................
Tanpa terasa usia kandunganku sudah memasuki bulan ke enam. Perutku sudah semakin terlihat membuncit. Setelah sempat beberapa waktu yang lalu aku menghidupkan handphoneku, aku kemudian mencabut sim card nomorku sehingga nomor whatsapp dan juga teleponku tak lagi aktif. Aku menyimpannya agar Fatan tak bisa melacak di mana keberadaan ku melalui GPR yang terdapat pada nomorku.
Hari ini aku menemani Bu Enah berjualan di pasar karena aku bosan seharian berada di rumah saja. Tak ada yang bisa aku lakukan di rumah Mas Sultan karena semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh Mbak Mira.
Mbak Mira adalah tetangga mereka yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Bu Enah. Mbak Mira memang digaji oleh Bu Enah untuk mengurus segala urusan rumah tangga di rumahnya. Wanita pendiam dan sabar itu adalah seorang janda beranak satu.
Suami Mbak Mira menikah lagi dengan seorang janda yang merupakan tetangga mereka sendiri dan lantas menceraikan dirinya. Meninggalkan Mbak Mira dan putrinya yang semata wayang demi bisa bersama dengan istri barunya itu.
Karena merasa iba dengan nasib yang digunakan alami oleh Mbak Mira, Bu Enah kemudian menawarkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumahnya.
Untuk itulah, Mas Sultan dan juga ibunya melarang aku untuk bekerja di dapur walaupun sekedar untuk menyapu atau membersihkan rumah. Karena katanya jika aku melakukan nya maka kasihan Mbak Mira jadi nggak punya kerjaan. Mas Sultan dan Bu Enah bisa aja, hehehe....
Padahal sebenarnya mereka berdua takut jika terjadi sesuatu dengan diriku atau pun bayi yang ada dalam kandunganku.
Pekerjaan sehari - hari Bu Enah adalah berdagang kue - kue basah di pasar tradisional yang letaknya tak seberapa jauh dari rumah Mas Sultan. Di pasar tradisional itu, Bu Enah memiliki sebuah lapak yang memang khusus menyediakan aneka kue - kue basah tradisional. Beraneka macam jenis kue basah yang dijual di lapak Bu Enah. Mulai dari kue lapis hingga bolu, dari getuk hingga nagaSemuanya kue basah itu adalah titipan dari orang-orang. Tak ada kue yang dibuat sendiri oleh Bu Enah. Bu Enah dilarang bekerja terlalu keras oleh Mas Sultan.
Sebenarnya, Bu Enah memiliki tiga orang anak. Selain Mas Sultan sebagai anak tertua, Bu Enah masih memiliki dua orang putri yaitu Musdalifah dan Rina. Kedua - duanya sudah menikah dan masing - masing dari mereka ikut suami.
Musdalifah masih berada di sekitaran pulau Jawa, tepatnya di Semarang, Jawa Tengah. Sedangkan Rina, harus rela terpisah jauh ke seberang pulau yaitu Kalimantan karena mengikuti suaminya yang pindah tugas ke Bontang, Kalimantan Timur. Suami Rina bekerja di PT. Pupuk Kalimantan Timur sebagai salah seorang staf di bagian keuangan.
__ADS_1
Mas Sultan sendiri, lelaki santun dan pendiam itu sebenarnya sudah pernah menikah dengan wanita yang telah dijodohkan dengannya. Namun sayangnya, pernikahan itu tak bertahan lama, karena ternyata wanita yang menjadi istrinya Mas Sultan itu tidak mencintai Mas Sultan dan akhirnya lebih memilih pergi bersama kekasihnya dan meninggalkan Mas Sultan seorang diri.
Mas Sultan memiliki usaha taksi online. Malam itu, kebetulan sekali, Mas Sultan sedang menggantikan salah seorang driver yang berhalangan hadir. Sepulang dari mengantarkan penumpang dia memilih lewat jalur perumahan karena terbilang sepi dan jauh dari macet hingga akhirnya tanpa sengaja bertemu denganku. Dia yang merasa iba kepadaku akhirnya menawarkan padaku untuk menginap di rumahnya.
Walaupun terbilang sederhana, tapi rumah Mas Sultan sangat nyaman. Rumah Mas Sultan seperti rumah kebanyakan warga kampung di sini, hanya saja dinding dan lantainya dipasangin keramik. Sedangkan rumah warga sini kebanyakan hanya berlantai dan berdinding kayu.
Sebenarnya, Mas Sultan dan anak - anak Bu Enah yang lain sudah melarang beliau untuk berjualan di pasar. Uang belanja rutin mereka berikan untuk Bu Enah setiap bulannya. Uang tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan Bu Enah.
Mereka sangat sayang kepada sang Ibu dan merasa khawatir dengan kondisi phisik Bu Enah yang sudah sepuh tapi masih suka melakukan berbagai macam aktivitas. Bu Enah beralasan bahwa dia kesepian di rumah, sehingga dia nekat berjualan di pasar karena di sana dia memiliki banyak kawan dan juga kenalan.
" Bu,.... kue basahnya berapa harganya?" tanya salah seorang pembeli.
Aku langsung sigap membantu Bu Enah melayani para pembeli yang ingin membeli aneka kue basah.
"Yang mana, ..? " aku bertanya sambil meraih plastik kemasan yang akan digunakan untuk tempat kue.
" Risoles mayo harganya lima ribu dua, sedangkan donat harganya, lima ribu empat" jawabku
" Kalau begitu, saya ambil risoles mayo dua puluh biji dan donat dua puluh."
Aku langsung mengambil dua puluh risoles mayo dan dua puluh donat lalu kemasukan ke dalam kemasan plastik dan menyerahkannya kepada pembeli tersebut.
" Ini bu, kuenya.... " kataku lagi.
Ibu tersebut menerima kemasan plastik yang berisi kue basah pesanannya seraya menyerahkan uang pecahan lima puluh ribu sebanyak dua lembar.
__ADS_1
" Risoles mayo dua puluh biji jadi lima puluh ribu ditambah donat dua puluh biji dua puluh lima ribu, total semuanya jadi tujuh puluh lima ribu, ya Bu." kataku. Ibu itu mengangguk mengiyakan hasil perhitunganku sambil tersenyum.
" Jadi kembaliannya dua puluh lima ribu. Ini ya Bu, kembaliannya.. "
Aku lalu menyerahkan selembar pecahan dua puluh ribuan dan selembar pecahan lima ribuan.
Setelah mengucapkan terima kasih, ibu itu pun berlalu.
Tanpa terasa siang hari sudah berlalu Pukul setengah dua belas siang, Bu Enah mengemas semua barang dagangan kami dan menghitung semua harga kue titipan orang-orang yang harus di setor, termasuk jumlah kue yang masih tersisa. Setelah selesai, barulah kami berdua pulang.
Mas Sultan yang menjemput kami berdua. Aku dan Bu Enah baru saja sampai di pelataran parkir dan bermaksud untuk memasukkan semua barang - barang perlengkapan berdagang. Tiba-tiba saja aku merasakan perutku kembali keram. Aduh, bagaimana ini. Aku tak bisa lagi menahan rasa sakit dan juga keram di perutku. Aku langsung menunduk dan memegangi perutku yang terasa sakit.
Bu Enah, yang melihat aku meringis sambil terbungkuk - bungkuk memegangi perutku menjadi panik. Langsung saja dia berteriak memanggil Mas Sultan yang sedang memasukkan barang - barang Bu Enah.
Mas Sultan bergegas mendatangiku. Dia langsung menyangga tubuhku yang hampir tersuruk ke tanah.
" Bu, tolong bukakan pintu mobilnya." piƱtanya pada ibunya.
Bu Enah bergegas membukakan pintu mobil lebar - lebar agar Mas Sultan bisa leluasa memasukkan aku ke dalam mobil.
" Bu, sepertinya kandungan dek Mitha ada masalah." kata Mas Sultan.
"Kalo begitu, tunggu apa lagi ? Ayo cepat kita bawa Mitha ke rumah sakit..!!" samar aku masih mendengar suara Bu Enah yang cemas dan meminta Mas Sultan agar membawa aku secepatnya ke rumah sakit.
Aku masih setengah sadar saat kurasakan mobil Mas Sultan melaju menuju rumah sakit dengan terburu - buru. Bu Enah memeluk tubuhku dengan erat.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, kami tiba di rumah sakit. Mas Sultan segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Tubuhku serasa lunglai dan tak bertenaga karena menahan rasa sakit dan keram yang teramat sangat. Kenapa rasanya sesakit ini. Karena tak kuat dengan rasa sakitnya, akupun pingsan tak sadarkan diri sebelum Mas Sultan membawa aku ke masuk dalam.