Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 55 Rasa itu milik Gara atau Agra.......


__ADS_3

Gadis mundur untuk memberi ruang kepada mereka. Ada desiran aneh di hatinya kala dia bersentuhan pisik dengan Agra. Rasa yang sudah lama hilang di hatinya kini kembali hadir.


Saat melihat tatapan mata Agra tadi, dia merasakan debaran aneh di hatinya. Tatapan mata itu sama seperti tatapan mata milik Garanya yang dulu. Apakah Agra.....kenapa semua yang dimiliki Gara ada pada Agra..? Apakah ini terjadi karena dia merindukan Gara atau memang Gara adalah Agra.....


Mengapa perasaan ini hadir.. Dari mana datangnya debaran aneh di dadanya. Mengapa harus kepada Agra. Bukankah cintanya ditujukan kepada Gara? Atau ....


Sedangkan Agra, dia amat menikmati moment di mana dia dapat kembali merasakan lembutnya sentuhan kulit Gadis dan aroma tubuh cewek itu yang sudah lama sekali dia rindukan.


" Ayo, Dokter Gadis, kita mulai lagi.... " suara dokter Rendi memecahkan lamunan sesaat Gadis.


Cepat - cepat Gadis menepis debaran rasa yang sempat dia rasakan tadi. Kini kembali dia fokus pada Agra yang kini terlihat juga tengah bersiap - siap.


Agra mulai lagi menggerakkan kakinya di air. Dia mencoba menggerakan kakinya dengan sebelah tangan berpegangan pada tepi kolam.


Setelah cukup lama Agra menggerakkan kakinya di kolam, Dia kemudian mencoba untuk melangkah kembali. Hasilnya dia bisa melangkah hanya pada hitung ke tiga. Sama seperti pada sesi yang pertama tadi. Namun, bedanya, Agra tidak sampai terjatuh tersungkur ke air, karena posisinya yang masih berada di pinggir kolam. Agra sempat berpegangan pada tepi kolam.


" Ok, sepertinya cukup untuk sesi kolam kali ini. Pelan - pelan saja. Jangan dulu di paksakan. Sekarang kita ke tahapan selanjutnya." kata Dokter Rendi.


Gadis membantu Agra bergerak ke pinggir kolam yang lain. Setelah sampai, asistennya membantu Agra untuk keluar dari dalam kolam renang.


Selanjutnya, kini giliran Gadis yang keluar dari dalam air.


' Ok, sekarang kita lanjutkan ke tahap selanjutnya. Agra, cobalah berdiri dan berjalan ke arah Gadis... " kata Dokter Rendi memberi instruksi pada Agra.


Agra melirik ke arah Gadis.. Sungguh mati, Agra ingin kembali masuk ke dalam kolam renang saja. Kaos putih Gadis yang basah mencetak


lekuk sempurna cewek itu sehingga Agra yang melihat kembali menjadi gagal fokus.


Merasa jadi incaran mata Agra, Gadis menjadi gugup.Dia melotot pads Agra yang kini tersenyum smirik ke arahnya.

__ADS_1


Sialan nih orang, minta dicuci juga tuh otaknya, rutuknya dalam hati.


Mendapat peloton dari Gadis, Agra mencoba untuk kembali fokus. Dia mencoba untuk berdiri dan menggerakkan kakinya ke arah Gadis.


Satu kaki kanannya diangkat. Terasa berat untuk dia gerakan. Namun dia mencoba untuk sekuat tenaga menggerakkannya. Akhirnya berhasil..... dia menggerakkan kakinya untuk yang pertama kali.. Kali ini giliran kaki kirinya. Sama seperti tadi, terasa berat sekali rasanya kaki itu bergerak. Dia seperti robot yang karatan. Untuk bergerak saja susah sekali. Nyaris putus asa rasanya Agra untuk bergerak. Namun dia paksakan juga untuk itu.


Semua demi Gadis. Dia ingin sembuh dan dapat kembali mengantar Gadis. Walaupun bukan ke sekolah seperti waktu itu tapi kemana saja yang Gadis mau.


Akhirnya, kaki kirinya mampu juga di gerakan. Hingga dapat dia melangkah sebanyak-banyaknya tiga langkah. Setelah itu, dia benar-benar tak sanggup lagi. Sakit sekali.


" Ok, saya rasa tahapan ini selesai." kataSaya akan memberikan resep obat yang harus diminum dan penahanan nyeri apabila demam. Saya khawatir, karena untuk kali pertama, biasanya pasien akan merasakan nyeri bahkan demam. Karena itu saya menambahkan obat pereda rasa nyeri untukmu ,Agra"


" Terima kasih, dokter Rendi. Saya harap semoga terapi ini mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan.. " kata Agra sambil meringis menahan sisa rasa sakit di kakinya. Namun tak urung dia tersenyum juga walaupun setengah terpaksa.


Dokter Rendi terkekeh mendengar perkataan Agra. " Kita lihat saja. Semua tergantung seberapa besar niat kamu untuk kembali bisa berdiri dan berjalan. Kami hanya bisa membantu dengan metode dan alat, selebihnya adalah murni usaha dan kemauanmmu.. "


Agra kembali tersenyum mendengar perkataan dokter Rendi. Dia merasa tersentil karena selama ini memang tak ada keinginan di hatinya untuk sembuh dan dapat berjalan kembali semenjak Gadis memutuskan kisah cinta mereka karena peristiwa itu.


Dokter Rendi dan Gadis berpamitan karena hari sudah menjelang siang. Sebenarnya Agra masih ingin menahan Dokter Rendi dan Gadis lebih lama lagi di tempat itu dengan alasan menjamu tamu, tapi karena dokter Rendi masih ada pasien, maka dengan berat hati terpaksa dokter Rendi menolak ajakan makan siang di rumah Kediaman keluarga Dewantara tersebut.


Agra masih tak dapat menutupi kekecewaannya. Dia masih berharap Gadis tak ikut pergi bersama Dokter Rendi. Namun, lagi - lagi dia harus kecewa, karena Gadis tidak mau juga menolak ajakan makan siang itu dengan alasan dia ada kegiatan lain.


...-----...


Hari ini, Edo sedang tidak bertugas. Jadi dia bisa sepuasnya tidur di kamar yang memang di sediakan khusus untuk dokter yang menginap di rumah sakit ini. Dia memang malas untuk pulang ke rumah. Sehingga dia memilih untuk beristirahat saja di rumah sakit.


Sedang asyik - asyiknya tidur, Edo dibangunkan oleh seseorang. Ternyata itu adalah dokter Bayu, rekan kerjanya sesama dokter koas.


"Diluar ada nyariin dokter, tuh... "

__ADS_1


" Siapa....? " tanya Edo dengan mata yang masih berat.


" Kayaknya sih, cewek yang biasa membawakan makanan buat dokter... "


Astaga, Queen!!


Itu pasti Queen yang mengantarkan makanan buat Edo. Bisa - bisanya Edo melupakan Queen.


Edo baru ingat, dia kan yang selalu minta Queen untuk mengantarkan makanan buatnya.


Bergegas Edo bangun dan mencuci muka lalu buru - buru keluar mendatangi Queen. Mudah - mudahan Queen masih ada. Soalnya Edo tahu dan sudah hapal sekali dengan tabiatnya Queen. Mana mau dia menunggu Edo atau pun menunggu sesuatu yang dianggapnya tidaknya penting. Seperti mengantarkan makanan untuk Edo.


Bukan sesuatu yang penting bagi Queen. Dia hanya menganggap itu adalah suatu kewajiban yang harus dia jalani berhubungan dengan peristiwa kecelakaan tempo hari.


" Queen, tunggu.... " seru Edo sesampainya Edo di ruang resepsionis. Dilihatnya, Queen sudah mau beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Tuh kan, betul dugaannya, Queen pasti bakalan pergi setelah mengantarkan makanan buat Edo. Udah mirip kurir grab food saja layaknya..


Queen berbalik dan melihat Edo yang berlari kecil menghampiri dirinya.


" Apaan, sih... Aku harus buru - buru. Kerjaanku masih banyak... " kata Queen sebelum Edo meminta yang tidak - tidak.


" Aku antar kamu, yah.... "


Queen terpana sejenak. Dia kira Edo akan memintanya untuk tinggal dan menemani cowok itu makan seperti hari yang lalu - lalu.


" Eh, nggak usah. Dokter kan sibuk... Lagian, saya naik motor, kok." kata Queen yang tiba-tiba merasa gugup dan canggung saat berhadapan dengan dokter Edo.


" Hem, kalau begitu, ayo kita ke restoran kamu. Biar aku yang bawa motor kamu... " kata Edo kemudian. Dia langsung merebut kunci motor yang di tangan Queen dan bergegas menyambar nasi bekal makanan siangnya yang di titipkan Queen pada resepsionis tadi.


Queen tak bisa lagi menolak atau pun berkata tidak. Susah memang kalau berhadapan dengan dokter Edo. Tukang Paksa dan keras kepala. Akhirnya, terpaksa Queen mengalah. Dia membiarkan Edo membawa motornya sedangkan dia hanya dibonceng saja.

__ADS_1


Sesampainya di Restoran, Edo langsung masuk dan duduk di restoran. Untung saja, restoran sedang sepi. Seperti biasa, dia minta Queen untuk menemani dia makan. Tapi kali ini tidak minta di suapin. Lagi, .... Queen harus rela duduk dan menemani Edo makan sampai cowok itu selesai.


Setelah makan, Edo langsung kembali ke rumah sakit dengan membawa motor Queen. Dengan begitu, kalau Queen pulang, dia yang akan mengantarkan Queen pulang. Otaknya Edo memang cerdas. Edo, siapa dulu...!!


__ADS_2