Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 19 Arumi Datang lagi....


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, Mitha akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter Indar. Dokter kandungan itu berpesan agar Mitha banyak beristirahat dan menjaga pola makan serta harus rutin untuk memeriksakan kesehatan kandungannya. Di samping itu, Dokter Indar juga mengingatkan agar Mitha tidak boleh banyak berpikir dan menghindari stress yang dapat berakibat buruk bagi kesehatan bayinya.


"Antarkan aku ke tempat kosan Gadis...!" pinta Mitha sesaat setelah mereka berada di dalam mobil.


Kening Fatan langsung berkerut mendengar permintaan Mitha. " Mitha, ayolah. Aku kan, sudah minta maaf. Mengapa kamu masih tak mau kembali ke rumahku? " tanya Fatan dengan raut wajah memelas.


Mitha memandang wajah suaminya yang memelas itu. Dalam hati dia ingin tertawa geli melihat tingkah konyol Fatan. Mitha hanya memintanya untuk mengantar dirinya ke tempat kosannya Gadis karena dia ingin mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di rumah Gadis, bukan bermaksud ingin kembali tinggal di sana.


" Siapa yang bilang aku mau tinggal di tempat kosannya Gadis..? " tanya Mitha akhirnya.


" Loh.... tadi yang barusan ngomong minta diantar ke rumah kosannya Gadis, bukannya kamu? " tanya Fatan dengan ekspresi yang tak mengerti.


Meledaklah tawa Mitha setelah mendengar jawaban Fatan.


" Astaga.... Kak, aku itu mau ke kosannya Gadis bukan bermaksud mau tinggal di sana, tetapi aku bermaksud untuk mengambil beberapa barang aku yang ketinggalan di sana." jelas Mitha.


Fatan menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir. Dia malu sekali karena sudah berprasangka buruk terhadap istrinya itu.


Tapi, tunggu dulu. Tadi Mitha panggil dia apa? Kak..? Mitha memanggil dirinya dengan sebutan 'Kak'. Hati Fatan langsung berdesir hangat. Rasanya dia ingin melompat saking senangnya.


Entahlah, mengapa rasanya terdengar indah hingga mampu membuat Fatan rasa melambung. Diam - diam hati Fatan menghangat karena merasa bahagia dapat panggilan baru yaitu ' kakak' dari Mitha. Apa sebaiknya aku juga menyiapkan panggilan baru juga untuk Mitha, ya? pikir Fatan.


Fatan melajukan mobilnya menuju ke tempat kosannya Gadis. Setelah mengambil beberapa barang yang dia perlukan, Mitha kembali lagi ke mobil Fatan.


" Sudah semua, nggak ada yang ketinggalan?" tanya Fatan.


Mitha hanya mengangguk lalu meletakkan barang bawaannya di jok belakang.


Setelah itu, keduanya kembali melaju menuju ke arah rumah Fatan.


" Sini, barang - barangmu biar aku yang bawa.. " kata Fatan. Sebelah tangannya menuntun Mitha dan sebelah lagi menenteng tas bawaan milik Mitha.


" Tapi, kak... "


" Sudah, nggak usah protes. Apa kamu lupa pesan dokter Indar. Kamu tak boleh lelah... "


Terpaksa Mitha menurut kali ini. Dia tak ingin kembali bertengkar dengan Fatan. Di depan rumah, Mang Diman, sopir keluarga datang tergopoh-gopoh menyambut kedatangan kami.

__ADS_1


" Mang, tolong masukin mobil saya ke garasi, yah.. " pinta Fatan pada sopir keluarganya itu.


" Baik, den Fatan... " Fatan lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Mang Diman.


" Mang, mommy dan papaku sudah pulang, belum? "


" Belum, tapi mommynya dengan Fatan pesan, bahwa dia belum bisa pulang minggu - minggu ini, karena beliau dan tuan besar mau langsung ke Belanda. Katanya kangen sama cucu." jawab Mang Diman.


Fatan langsung faham maksud perkataan Mang Diman. Berarti mommy dan papanya mau ke rumah Kak Darryl. Kakak laki-laki satu - satunya itu memang sudah menikah dengan Laura. Wanita berkebangsaan Belanda yang kak Darryl kenal saat kuliah di Belanda dulu.


Berarti di rumah ini, hanya dia dan Mitha saja serta tiga orang pembantu. Satu tukang cuci dan setrika, satu Koki dan satu sopir.


Fatan membantu Mitha berbaring di kasur.


" Mitha, sebaiknya kamu istirahat. Kata dokter kan, kamu butuh banyak istirahat. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal panggil aku."


" Eh, iya.... " jawab Mitha canggung. Berada kembali di rumah Fatan sungguh membuat Mitha serba salah.


Dia sebenarnya merasa risih dan malu karena tidak terbiasa dengan kehidupan Fatan yang serba mewah. Tapi, apa boleh buat. Dia tak bisa menolak.


...------...


Pagi-pagi sekali, Mitha sudah berpakaian rapi. Dia memutuskan untuk kembali masuk ke kampus karena merasa sudah sehat. Memar di pelipis dan rahangnya juga sudah lama hilang.


" Kamu mau kemana? " tanya Fatan. Dia merasa heran melihat Mitha sepertinya sudah bersiap - siap hendak keluar rumah.


" Ke kampus..! "


Alis Fatan terangkat. " Apa kamu sudah merasa sehat..? tanya Fatan lagi. Dia sebenarnya khawatir jika Mitha belum sehat benar.


" Sudah. Lagi pun, aku bosan di rumah terus." jawab Mitha.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan bersiap-siap. Kita perginya bareng saja." kata Fatan kemudian pergi ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia sudah muncul dengan berganti stelah. Kali ini dia memakai kemeja kotak-kotak biru. muda dengan Jean warna senada. Ketampanan cowok itu langsung meningkat berlipat-lipat.


Hati Mitha langsung berdesir melihat betapa tampannya suaminya.


Kak Fatan ganteng pake banget...!!! Sayang pernikahan gue dan dia hanya sementara saja. Nyesel juga gue buat perjanjian sama dia hanya sampai bayi ini lahir, coba....., bathin Mitha .

__ADS_1


Stop, Mitha....!! Kamu nggak boleh jatuh cinta sama Fatan. Pernikahan kalian hanya sementara saja. Bisa bakalan repot jika sampai dia jatuh cinta pada Fatan. Bukankah perjanjiannya cuma sampai bayi dalam perutnya lahir. Begitu bayi itu lahir, maka kalian akan segera bercerai, suara hati Mitha mengingatkan.


Ups..... mengapa aku jadi berharap bisa menjadi Nyonya Fatanul Paqih selamanya. Dasar tak tahu diri kamu, Mitha, rutuknya dalam hati.


" Ayo...!" Fatan menjawil lengannya. Mitha pun langsung tersadar dari lamunan. Dia pun akhirnya menggelengkan kepala saat menyadari akan khayalannya yang terlalu muluk.


Fatan memparkirkan mobilnya di parkiran kampus. Dia melangkah keluar dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membukakan Mitha pintu.


" Fatan....! " sebuah suara memanggil namanya.


Fatan dan Mitha langsung menoleh. Tampaklah Arumi berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu juga baru saja turun dari mobilnya.


" Arumi..! " seru Fatan keheranan.


" Maaf, sepertinya pacar kamu yang cantik sudah datang. Aku permisi dulu...!" kata Mitha ketus sambil berlalu pergi meninggalkan Fatan tanpa sempat dicegah oleh Fatan.


Mengapa sepagi ini , Arumi sudah berada di sini, sih....!!


Arumi melangkah mendekati Fatan.


"Apa yang kamu lakukan di sini? " tanya Fatan kesal.


Fatan geram karena Arumi lagi - lagi datang ke kampusnya. Mana pagi - pagi buta, lagi. Cewek itu sungguh sangat menyebalkan. Dia takut Mitha jadi salah faham lagi. Yang kemarin saja, dia masih belum menjelaskan apa-apa terkait kedatangan Arumi ke kampusnya. Karena keburu terjadi insiden yang berakhir dengan Mitha masuk rumah sakit.


" Surprise....!" seru Arumi riang.


Kening Fatan berkerut. "Apa lagi yang kamu rencanakan..? " tanya Fatan curiga.


" Hem, tenang, Baby Fat. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa kita bakalan akan sering bertemu." jawab Arumi masih dengan senyum di bibirnya yang merah.


" Apa maksudmu..? Cepat katakan, aku tak punya waktu untuk meladeni ocehanmu..!?" ujar Fatan ketus sambil melirik jam tangan rolex miliknya.


Sial....Mitha pasti salah sangka lagi...


" Kau tahu? Aku sudah memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan melanjutkan kuliahku di sini. Jadi, sekarang kita bisa satu kampus lagi, hanya saja kita beda jurusan.. "


" Hah.....?

__ADS_1


Fatan, sebentar lagi kamu akan kembali bertekuk lutut padaku, batin Arumi.


Senyum kemenangan langsung tercetak di wajah cantiknya yang mulus bak model iklan produk kecantikan....


__ADS_2