Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 36 Bertemu Kembali


__ADS_3

Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri, namun yang jelas saat Aku bangun dan membuka mata, aku langsung disambut dengan bau yang sangat kusukai. Bau yang begitu menusuk tercium di hidungku membuat aku segera menyadari di mana aku kini berada.


Aku langsung teringat dengan Mas Sultan dan juga Bu Enah. Mereka berdua yang telah membawa aku ke tempat ini. Namun sekarang mereka tak terlihat lagi. Aku jadi cemas dan juga takut.Takut jika seseorang bisa saja mengenali diriku. Mengingat ini adalah rumah sakit tempat dimana aku dan Fatan biasa praktek dan menimba ilmu. Jadi aku rasa mereka di sini sudah pasti banyak yang mengenali diriku.


Memikirkan hal ini membuat aku nekat untuk beranjak bangun dan turun dari kasur lalu berjalan perlahan - lahan meninggalkan tempat ini. Tujuannya hanya satu, yaitu keluar dari tempat ini secepatnya agar tidak bertemu dengan Fatan.


Walaupun jauh di lubuk hatiku, aku tak bisa memungkiri, ada keinginan untuk bertemu Fatan yang begitu besar. Namun, sekuat hati aku berusaha untuk menepis rasa itu. Aku masih sakit hati atas ucapannya tempo hari.


Baru saja aku hendak meraih gagang pintu, seseorang seperti sedang membuka pintu dari luar....


Aku tak bisa lagi menghindar, sulit bagiku untuk bergerak leluasa karena kondisi perutku yang lumayan besar, terlebih saat ini keram di perutku belum juga hilang. Aku hanya bisa tertegun di depan pintu. Mudah - mudahan itu bukan seperti yang aku pikirkan, doaku.


" Nak Mitha, kenapa bangun sendiri..? Aduh.... ayo, kembali ke tempat tidurmu lagi, Nak..? " Alhamdulillah, aku menarik nafas lega.Ternyata itu adalah Bu Enah. Tapi loh, Mas Sultan kemana?


"Mas Sultan mana, Bu...? " tanyaku sambil meringis memegangi perutku.


Bu Enah terlihat gugup saat aku bertanya soal Mas Sultan. Melihat hal itu, aku jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Mas Sultan. Bukannya tadi Mas Sultan yang mengantar aku ke rumah sakit ini.


" Ada di luar. Sudah ndak usah dipikirkan Masmu itu. Mari ibu bantu kamu berbaring di tempat tidurmu"


" Endak, Bu. Mitha mau pulang aja. Mitha sudah nggak papa, kok Bu." jawabku. Aku bersikeras tak mau kembali ke tempat tidur karena aku ingin secepatnya meninggalkan tempat ini.


" Loh, ndak bisa begitu, Nak. Perut kamu, kan masih sakit. Ibu takut kenapa - napa nanti sama bayi kamu. Mas Sultan sekarang sedang ngantar penumpang." sahut Bu Enah cepat.


Aku mengernyitkan alis heran dengan perkataan Be Enah barusan. Tadi katanya Mas Sultan ada di luar. Terus baru saja dia mengatakan bahwa Mas Sultan sedang mengantar penumpang.. Sepertinya aku mencium sesuatu yang tak beres. Atau jangan - jangan.....


Pikiranku mulai traveling kemana-mana, nih. Aku parno jika Bu Enah atau Mas Sultan sudah bertemu dengan Fatan. Bisa saja mereka mengatur cara agar aku tak bisa lari lagi. Sejujurnya, walau ada keinginan untuk bertemu dengan Fatan, namun aku lebih memilih membunuh rasa itu saat mengingat apa yang telah dia ucapan.


"Tadi ibu bilang Mas Sultan ada di luar, terus sekarang ibu bilang Mas Sultan sedang mengantar penumpang. Mana yang benar, Bu. Sebenarnya apa yang sedang ibu sembunyikan dari Mitha...? " tanyaku pada Bu Enah dengan lembut lembut, tetapi penuh tekanan.


Bu Enah akhirnya tak bisa berkutik setelah aku bujuk untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku mengancam akan memilih pergi jika Bu Enah tidak mengatakan apa yang dia sembunyikan dari diriku.


Wajah Bu Enah langsung berubah lesu. Dia sungguh tak pandai untuk berbohong apalagi untuk menyembunyikan sesuatu dari hadapanku.


" Tadinya ibu ingin menyembunyikan kondisi Sultan darimu, takut dianya malu nanti. Tapi sepertinya kamu bersikeras ingin tahu, jadi ibu nyerah, deh. Mas mu itu....." Bu enah akhirnya menceritakan sesuatu mengenai Mas Sultan yang membuat aku jadi ingin tertawa karena geli sekaligus juga merasa iba dan kasihan.


" Masmu tadi pingsan, tepat sesaat setelah memanggil dokter." kata Bu Enah pelan.

__ADS_1


Aku langsung melongo, kok bisa..?


" Apa, Bu..? Mas Sultan, pingsan..? Terus sekarang Mas Sultan gimana, Bu. Di mana Mas Sultan,Bu..?" Pertanyaanku sudah seperti petasan renteng yang meledak. Beruntun dan bertubi - tubi karena aku tak mempercayai pendengaranku. " Koq bisa, Bu...?" aku penasaran, mengapa lelaki yang berpenampilan kekar dan tangguh seperti Mas Sultan bisa Selemah itu? aku jadi tak habis pikir.


---- POV end ----


Sementara itu, di ruang yang berbeda, Sultan sepertinya sudah sadar dari pingsannya. Lelaki yang berperawakan kekar dan berkulit agak gelap itu langsung teringat pada Mitha. Dia segera bangun dari tidur dan berniat hendak keluar mencari ibunya dan juga Mitha. Dia sangat khawatir dengan keadaan Mitha.


" Sial, mengapa aku sampai bisa pingsan, sih... " rutuknya dalam hati.


Sultan masih ingat beberapa waktu yang lalu ketika dia turun dari taksi dan memanggil beberapa petugas medis untuk membantu dirinya membawa Mitha ke dalam. Kala itu dia sangat panik sekali karena melihat Mitha yang terus saja merintih kesakitan di jok belakang.


Saat melihat Mitha seperti itu, Sultan merasa seperti melihat Adel. Wanita yang pernah singgah mengisi hari - harinya namun setelah itu pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Peristiwa itu terjadi sama persis dengan kejadian saat ini.


Kepala Sultan serasa berputar - putar hingga kemudian dia jatuh tak sadarkan diri dan berakhir di dalam ruangan ini.


Sultan menelpon ibunya untuk menanyakan ruangan tempat Mitha berada. Setelah memperoleh informasi, dia kemudian memutuskan untuk menengok keadaan Mitha.


Sultan berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Dia sibuk mencari - cari ruangan Bougenville 3. Ruangan tempat perawatan wanita hamil dan melahirkan.


Setelah beberapa saat, dia akhirnya menemukan ruangan yang dia cari. Ruangan Bougenville 3. Dia segera menemui perawat jaga untuk menanyakan di mana letak ruangan Mitha.


Sementara itu, Ibunya nampak sedang ikut membantu mengusap - usap perutnya Mitha agar ibu muda yang sedang hamil itu sedikit tenang dan tidak tegang.


Tadi setelah mendengar cerita Bu Enah tentang Sultan, sebenarnya Mitha ingin melihat keadaan Sultan. Namun kembali rasa sakit dan keram itu datang menghujam perutnya.


Akhirnya Bu Enah membantunya berbaring ke tempat tidur dan memanggil dokter.


Dokter kemudian memberikan obat yang berguna untuk mengurangi rasa sakit. Namun, mereka meminta Mitha untuk beristirahat dan jangan banyak bergerak dulu.


Sultan bergerak pelan mendekati ibunya. "Gimana keadaan Dek Mitha, Bu? " bisik Sultan kepada Ibunya yang sedang duduk di sisi Mitha.


" Yah, begitulah. Dia masih kesakitan dan terus saja merintih - rintih. Ibu ndak tega melihat Mitha seperti itu, Nak." isak Bu Enah yang merasa sedih melihat keadaan Mitha seperti itu.


" Jadi kita harus bagaimana, Buk..?" Sultan merasa bingung. Kembali kepala Sultan terasa sakit. Dia langsung memegangi kepalanya yang kini sudah mulai berdenyut - denyut.


" Kamu ndak papa, Nak? " tanya ** Enah saat melihat Sultan yang tampak meringis sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


" Kepala Sultan sakit, Buk! " jawabnya.


" Yah, sudah kalo begitu. Kamu istirahat aja dulu. Biar Mitha ibu yang jagain."


Sultan mengangguk kemudian segera beranjak pergi meninggalkan ruangan tempat Mitha dirawat. Dia ingin kembali ke ruangannya sendiri karena dia tak kuat melihat Mitha yang kesakitan.


Sementara itu, dokter yang menangani Mitha, dokter Mala SPOg sedang berada di ruangannya. Dia sedang menganalisa kasus yang terjadi pada Mitha.


" Serius sekali, Dok? " sapa Gadis. Saat itu Gadis sedang berada di ruangan dokter Mala. Dia sedang bertugas sebagai dokter koas dan mendampingi dokter Mala, sesuai dengan profesi yang sedang dia tekuni sebagai dokter ahli kandungan.


" Iya, ini ada seorang pasien. Ibu hamil dengan usia kandungan enam bulan. Sepertinya pasien ini menderita keram otot pada bagian perut. Biasanya gejala ini dipicu jika pasien mengalami kelelahan atau stress."


Gadis kemudian ikut memeriksa data pasien yang sedang di pegang oleh Dr. Mala. Kening Gadis berkerut saat membaca nama pasien. Apa dia tak salah lihat.


Gadis langsung menelpon Fatan yang saat ini sedang beristirahat di ruangan dokter koas.


" Fatan, lo harus kemari. Temui gue di ruangan dokter Mala. Cepat kalo lo masih mau ketemu sama Mitha.. " ujar Gadis di telpon.


Secepat kilat Fatan langsung berlari ke ruangan dokter Mala. Dia yang awalnya lelah mendadak kembali bersemangat saat mendengar nama Mitha disebutkan.


" Apa benar yang kamu ucapkan tadi? Jadi Mitha di rawat di rumah sakit ini? Di ruangan mana?" tanya Fatan tak sabar.


" Jika benar dugaan, gue. Maka pasti sekarang Mitha berada di ruangan Bougenville 3, tempat perawatan ibu hamil. Karena pasien dokter Mala pasti berada di sana."


Tanpa membuang waktu lagi, Fatan segera bergerak menuju ke ruangan Bougenville 3. Hatinya penuh harap bahwa benar itu adalah Mitha. Ada rasa rindu yang diam - diam membuncah di dalam dadanya.


Jantung Fatan seakan berhenti berdetak saat memasuki ruangan Bougenville 3. Melalui Gadis dia mengetahui jika Mitha di rawat di kamar 05. Kamar yang terletak paling ujung.


Bergegas dia menuju kamar no.5, kamar yang di sebutkan Gadis yang merupakan kamar tempat Mitha dirawat. Tangannya sedikit gemetar saat meraih gagang pintu.


Perlahan - lahan, Fatan membuka pintu kamar agar tidak menimbulkan suara gaduh. Hatinya membuncah oleh rasa bahagia, rindu dan juga iba.


Betapa tidak, dilihatnya Mitha yang sedang tertidur pulas di ranjang rumah sakit dengan wajah yang sembab seperti habis menangis. Hati Fatan terenyuh melihat penderitaan istri kontraknya itu. Andai tak berdosa, sebenarnya dia lebih memilih menggugurkan saja kandungan Mitha, daripada melihat betapa menderita wanita yang telah dia nodai dan renggut kesuciannya itu.


Fatan tak dapat lagi menahan hatinya untuk tidak mendekati Mitha. Dia lalu bergerak masuk mendatangi Mitha yang sedang tertidur dan tanpa ragu dia langsung memeluk Mitha dan menciumi wajah ibu muda yang hamil itu dengan segenap rindunya.


" Siapa kamu..? Apa yang kamu lakukan di sini? " sebuah suara menegurnya membuat Fatan seketika menghentikan perbuatannya.

__ADS_1


Tepat pada saat itu, Mitha juga terjaga dari tidurnya karena merasakan seperti ada seseorang yang sedang mencium dirinya.


" Kak Fatan...?! " ucapnya.


__ADS_2