Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 33 Dimana Kamu Mitha


__ADS_3

" Mithanya ada di dalam, nggak, Dis? " Fatan langsung bertanya kepada Gadis.


" Nggak ada, ...? Emangnya kenapa..?" tanya Gadis lagi dengan ekspresi wajah bingung.


Fatan langsung terdiam. Mitha tidak ke pergi ke kosannya Gadis, lalu kemana istrinya itu pergi..?


" Nggak ada papa. Tadi kami bertengkar sedikit, lalu Mitha memutuskan pergi dengan taksi. Aku sempat mengejarnya tapi aku kehilangan jejak. Akhirnya aku memutuskan pergi kemari, karena kupikir dia akan ke kosan kamu. Tapi aku salah, Mitha ternyata dia tidak kesini." kata Fatan dengan lesu. Dia pun akhirnya pamit pada Gadis untuk mencari Mitha lagi.


Fatan meninggalkan kosan Gadis untuk kembali mencari Mitha. Namun yang jadi masalahnya, dia tak punya petunjuk untuk menemukan keberadaan Mitha. Fatan bingung, kemana harus mencari Mitha. Sementara malam sudah semakin larut.


Sementara itu, Gadis yang mendengar bahwa Mitha pergi meninggalkan rumah menjadi panik. Dia langsung kepikiran dengan Mitha. Membuat kantuknya lenyap seketika. Apa yang terjadi dengan Mitha..? Mudah - mudahan tidak terjadi sesuatu dengan e Mitha, doa Gadis dalam hati.


Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin sahabatnya itu minggat dari rumah. Apalagi malam - malam begini.


Apakah telah terjadi pertengkaran yang hebat di antara mereka hingga membuat Mitha akhirnya memutuskan untuk angkat kaki dari rumah Fatan?


Karena penasaran, Gadis buru - buru berlari ke kamar dan menyambar hapenya yang tergeletak di samping tempat tidur.


Bergegas dia menekan nomor Mitha. Namun, sudah berkali-kali dia menghubungi nomor Mitha. Walaupun nomor itu terhubung tapi tak diangkat.


Gadis menjadi gelisah. " Mitha, angkat, dong..." harapnya cemas. Dia melirik jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Gadis semakin gelisah." Mitha, dimana kamu berada. Please, Mitha. angkat dong." omel Gadis cemas.


Gadis tiba-tiba ingat Edo. " Nah, itu die. Si Edo..! Barangkali Edo bisa nolongin gue buat nyari Mitha.... " pikir Gadis.


Langsung saja, Gadis menghubungi nomor Edo. Tak perlu waktu lama, teleponnya langsung diangkat oleh Edo.


" Halo, do. Lo harus bantuin gue sekarang..! " todong Gadis begitu telepon mereka terhubung.


" Memangnya lo mau minta tolong apaan, sih..? " tanya suara Edo dari seberang sana.


" Mitha kabur dari rumah Fatan. Tadi


Fatan kemari. Dia nyariin Mitha.... " lapor Gadis pada Edo.


Hening untuk beberapa saat. Gadis merasa heran....


" Halo, Edo..! Lo masih hidup, kan..?"


"Hus, sembarangan lo do'ain gue mati." semprot Edo.


" Habisnya, lo diajak bicara kagak respon. Kenapa sih, lo..?" tanya Gadis kesal.

__ADS_1


" Nah itu dia, Dis. Gimana ya. Gue. . . bingung buat ngejelasinnya."


Ucapan Edo membuat Gadis menjadi ikutan bingung. Apaan sih, Mitha yang kabur, Fatan yang kesal, tapi mengapa Edo yang bingung. Apa semua ini saling berhubungan...?


" Kalian semua aneh banget. Udah deh, jangan bertele-tele. Gue mau nyari Mitha. Lo mau kaga nemenin gue..?


Edo kembali terdiam. " Tapi ini sudah malam, Dis. Mana mungkin Mitha masih keluyuran malam - malam begini. Mungkin saja dia menginap di rumah salah satu temannya. Atau mungkin juga rumah keluarganya." jawab Fatan.


Gadis terdiam mencerna ucapan Edo. Ada benarnya juga ucapan Edo. Tapi tiba-tiba Gadis tersentak. "Mitha nggak punya siapa - siapa di sini. Satu - satunya temannya juga hanya gue, do. Jadi semua yang lo ucapin nggak mungkin terjadi. Ada kemungkinan tuh bocah masih di jalanan, deh."


Mendengar itu, Edo mendadak was - was. Dia kepikiran dengan ucapan Gadis. " Kalo gitu, gue jemput elo sekarang...!" kata Edo. Dia menutup telpon dan langsung menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas. Sebenarnya, dia malas memakai mobil. Dia lebih nyaman memakai sepeda motor jika ingin kemana-mana. Praktis dan hemat katanya.


Tak sampai setengah jam, Edo sudah berada di depan kosan Gadis.


" Nyari kemana, Dis. Ini sudah malam." tanya Edo sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Hampir pukul dua belas malam.


Gadis yang ditanya langsung bengong. Dia melihat sekelilingnya. Sepi banget.....


"Iya juga sih. Eh.. entar dulu. Tadi lo kata Fatan dan Mitha habis dsti rumah lo. Emang ada apa di rumah lo? " tanya Gadis penasaran.


" Itu, eh.. anu. Bokap gue ngadain pesta jamuan makan malam di rumah gue, keluarga Fatan adalah salah satu yang termasuk ke dalam tamu undangan."


" Jamuan makan malam? Gile.... bokap lo emangnya kenal sama keluarganya Fatan..? "


" Terus apa hubungannya kepergian Mitha dengan jamuan makan malam dj rumah lo?" tanya Gadis makin penasaran.


Setelah menarik napas panjang, akhirnya Edo menceritakan kedatangan Fatan dan Mitha ke rumahnya dan pertengkaran dirinya dengan Fatan di rumah Edo.?


" Gile.. jadi ternyata lo adalah anak dari Tuan Pramono Agung, pengusaha batubara yang terkenal itu..? komentar Gadis setelah selesai Edo menceritakan penyebab pertengkaran dia dan Fatan dan penyebab kepergian Mitha... yang tak terima ketika Fatan menyebutnya Perempuan murahan ketika marah.


" Rasain si Fatan. Kapok, kapok deh, sekalian. Mulutnya lemos banget. Gue do'ain tuh mulut dan muke digilas traktor biar lempang dan rata sekalian." ucapnya gemas. Hatinya geram banget setelah mengetahui apa penyebab perginya Mitha.


Karena hari sudah malam, akhirnya mereka memutuskan untuk menunda mencari Mitha hingga besok.


" Lo kan besok ada jadwal operasi. Terus rencana kita untuk nyari Mitha, kapan? "


Edo menepuk - nepuk jidatnya sendiri. Dia sendiri sebenarnya juga bingung. Dia dan Mitha sama - sama tahu, bahwa status mereka sebagai dokter koas membuat mereka tidak memiliki banyak waktu luang.


" Entar deh, gue cari waktu luang. Kita pergi sama-sama nyari Mitha.. "


" Iya, deh. Gue ikut aja." timpal Gadis setengah bengong. Hatinya masih mencemaskan nasib Mitha.

__ADS_1


" Woi, Gadis. Lo denger kagak...?"


" Iye, denger. Dasar kolor ijo. Lo kagak takut digebrek warga, tereak - tereak malam gini. Entar lo di sangka mau berbuat onar..."


" Ya, udah. Lo masuk, gih. Gue mau pulang."


" Iye, bawel amat, whea... " Gadis menjulurkan lidahnya mengejek Edo lalu masuk kembali ke dalam kosan.


Edo menggelengkan kepala sambil tersenyum. Gadis dan Mitha adalah dua sosok yang bertolak belakang. Mitha lembut dan cenderung penurut, berbeda dengan Gadis yang sedikit bar - bar dan cenderung berani. Inilah yang Edo suka dari kedua cewek itu. Keduanya mampu membuat Edo bisa tersenyum menatap hidupnya yang hampa.


...-----...


Sementara Fatan sibuk menyusuri hampir setiap sudut kota - kota di Jakarta dan Gadis yang mencemaskan keadaan Mitha di kosannya, sekarang kita beralih ke yang empunya diri.


Kira - kira, dimanakah Mitha berada saat ini..?


Seorang wanita cantik terlihat sedang duduk termenung seorang diri. Di tangannya menggenggam benda berbentuk segi empat tipis yang sejak tadi terus saja menyala, walaupun tak ada suara. Di layarnya tertera nama 'Es Balok'.


Yah, wanita cantik yang sedang duduk termenung itu adalah Mitha. Sejak tadi dia hanya memandang saja ke layar hapenya tanpa berniat untuk mengangkat panggilan dari Fatan.


" Nak, Mitha. Masuklah, sudah larut malam. Lagi pula, di luar udaranya sangat dingin. Tak baik bagi kesehatan nak Mitha sendiri dan juga bayi dalam kandungan nak Mitha." kata Bu Enah.


Bu Enah adalah ibu dari Mas Sultan, supir dari taksi yang tadi dia setop.


Saat menyuruh Mas Sultan pergi, Mitha sebenarnya bingung harus pergi kemana karena di sini dia tak punya sanak saudara. Namun, jika dia pergi ke tempat kosan Gadis, dia yakin Fatan pasti akan mencarinya ke sana.


akhirnya dia minta di turunkan di depan ATM. Setelah membayar ongkos taksinya, Mitha kemudian duduk seorang diri di pinggir jalan.


Sultan yang belum beranjak dari sana merasa heran melihat tingkah laku Mitha. Akhirnya dia memberanikan diri bertanya mengapa cewek itu duduk di pinggir jalan.


Ditanya oleh Sultan, Mitha menjadi semakin sedih. Cewek itu tak kuasa lagi menahan air mata yang sejak tadi ditahannya.


Sultan menjadi bingung sekaligus iba. Sultan pun akhirnya menawarkan Mitha untuk singgah ke rumahnya.


" Iya, Bu." Mitha langsung mematikan hapenya dan melangkah masuk ke dalam rumah sederhana milik keluarga itu.


" Beristirahatlah di kamar itu. Kamar itu sudah lama kosong. Dulunya ditempati oleh Rina, anak ibu. Tapi sekarang Rina sudah menikah dan ikut suaminya ke Kalimantan." kata Bu Enah sambil menunjuk ke arah kamar yang berada di depan ruang tamu.


Mitha mengangguk, " Terima kasih, bu. Maaf, jadi merepotkan ibu." katanya sungkan.


" Tidak ada yang direpotkan, nak. Ibu malah senang jika nak Mitha mau tinggal di sini." jawab Bu Enah sambil tersenyum bijak.

__ADS_1


Mitha merebahkan diri di kasur kecil yang tersedia di kamar itu. Kamar yang sederhana namun cukup nyaman dan juga tenang.


Tak berapa lama, Mitha pun akhirnya tertidur pulas.


__ADS_2