Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 81 Ternyata itu Kamu


__ADS_3

Tuan Agra, lihat Video yang saya kirimkan...! " setelah itu Fatan mematikan teleponnya.


Agra segera membuka handphone dan melihat video yang Fatan kirimkan. Darahnya langsung mendidih melihat video yang dikirimkan Fatan.


"Bangsat.... berani sekali dia menyentuh wanitaku...! "


Agra segera memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi alamat yang Fatan kirimkan bersama video tadi.


Sementara itu, Gadis yang di sekap dalam sebuah kamar mulai sadar dari pingsan. perlahan-lahan ia membuka matanya. Karena gelap, dia harus terbiasa dengan keadaan di sekelilingnya.


"Dimana aku...? " kata Gadis dalam hati. Dia teringat bahwa dia dibawa ke sebuah rumah dan kemudian di giring masuk ke sebuah ruangan. Seseorang memukul tengkuknya dengan keras hingga membuat dia tak sadarkan diri. Begitu terbangun dirinya sudah dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat.


Gadis kemudian berusaha untuk membuka membebaskan diri dari jeratan tali ikatan di tangan dan juga kakinya.


Namun hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan meskipun Gadis adalah cewek yang tangguh. Dia perlu berusaha keras agar bisa membuka simpul ikatan tali di tangannya.


Akhirnya, melalui usaha yang gigih, tali yang melilit di tangannya itupun akhirnya terlepas. Gadis menarik nafas lega. Sekarang tinggal membuka ikatan di kakinya. Namun baru saja dia hendak membuka ikatan di kakinya, ada seseorang yang sepertinya membuka pintu ruangan. Bergegas Gadis membenahi kembali tali yang melilit di kakinya dan tangannya. Tali di tangannya yang sudah lepas, pura-pura dia lilitkan kembali seolah - olah masih terpasang. Dan Gadis pura-pura masih terbaring pingsan.


"Dimana gadis itu...? " tanya seseorang. Dari nada bicaranya sepertinya orang itulah yang dimaksud Bos oleh ketiga orang yang telah menyekap Gadis di ruangan ini. Suaranya adalah suara laki-laki. Berarti orang yang telah mengupah ketiganya adalah seorang laki-laki. Siapa orang itu..? Di dalam hati Gadis bertanya - tanya. Apakah dia mengenal orang itu..?


Lampu ruangan menyala. Gadis dapat merasakan cahaya lampu ruangan yang terang karena dia tak lagi pingsan hingga menyadari situasi di sekitarnya.


"Sepertinya gadis ini masih pingsan, Bos.... " kata salah seorang dari mereka. Gadis bisa menebak bahwa yang bersuara tadi adalah lelaki yang sama yang kemarin menodongkan belati ke perutnya. Orang itu kemudian memeriksa keadaan Gadis yang masih pulas tertidur


"Biarkan saja, itu lebih baik. Aku suka melihatnya saat tertidur... " kata Orang yang di panggil Bos itu. "Kalian boleh pergi. Tugas kalian sudah selesai. Ini bayaran untuk kalian... " katanya sambil melemparkan tiga gepok uang pecahan berwarna merah ke arah ke tiga orang itu.


Mereka menerima dengan mata berbinar. "Terima kasih, Bos. Kalau ada bisnis begini lagi, panggil kita - kita aja. Kami dengan senang hati akan melayani, Bos." kata salah seorang dari mereka yang mungkin saja adalah pemimpin ketiganya.

__ADS_1


Mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan senyuman lebar bersama beberapa gepok uang yang sudah mereka terima dari laki-laki aneh yang mengupah mereka.


Sepeninggalnya ketiga orang itu, laki-laki itu menyeringai lebar.


"Bukalah matamu, aku tahu kamu tidak tidur....! " katanya dingin dan datar.


Gadis membuka matanya. Gadis benar-benar kaget saat melihat lelaki yang ada di depannya.


"Kau...!!!" Serunya setengah berteriak. Dia tak percaya dengan siapa kini dia berhadapan. Axel..!!


Astaga...!


Sungguh mati, Gadis tak pernah menyangka jika Axel adalah orang yang berniat menculik dan mencelakakan dirinya. Meskipun feelingnya sempat mencurigai lelaki itu berbuat yang tidak baik terhadap Mitha sahabatnya, akan tetapi dia sungguh tak menyangka bahwa jika dirinya juga merupakan target Axel.


"Selamat datang, sayang.! Senang bertemu kembali denganmu , Nona Gadis.." senyum licik Axel tercetak saat melihat keterkejutan di mata Gadis.


Gadis seolah menjelma bagai dewi perang yang membangkitkan hasrat dan emosi Axel sehingga dirinya terpicu untuk berfantasi dengan cewek itu untuk melakukan sebuah permainan yang kerasterhadap cewek itu.


Gadis dan Mitha bagai dua sisi mata uang yang berbeda namun sama - sama mampu membangkitkan hasrat dan fantasi Axel.


"Mengapa kamu kaget saat melihatku. Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya..? " kata Axel kepada Gadis.


Gadis jadi ingat tentang Axel yang pernah berbicara dengan Arumi, mantan kekasih Fatan.


"Kau... kau rupanya. Bukankah kamu juga adalah kakaknya Arumi..! "kata Gadis.


"Lebih tepatnya kakak sepupu. Aku dan Arumi saudara sepupu. Sejak kecil, aku dan Arumi hidup bersama. Aku dibesarkan oleh orang tua Arumi karena papi dan mommy aku bercerai sejak aku masih kecil. Mommyku pergi bersama kekasihnya dan meninggalkan Aku dan papaku yang lemah. Pada akhirnya papaku yang sering mabuk - mabukan harus tewas secara menggenaskan karena ditabrak kareta api. Tinggallah Axel kecil seorang diri yang tak tahu apa - apa menjadi korban dari keegoisan cinta. Aku melihatmu sama seperti mommyku, begitu liar dan suka menggoda. Semua wanita itu rasanya sama saja. Hanya uang dan kepuasan saja yang ada dalam otak mereka. Mereka mengumbar tubuh hanya demi bisa mendapatkan keduanya. Harta dan kepuasan." kata Axel sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Gadis. Dia menggigit Bibir Gadis hingga berdarah dan kemudian menghisap darahnya dengan seringai yang mengerikan.

__ADS_1


"Kau sakit...! " kata Gadis seraya meludah ke wajah Axel.


"Hahaha, aku tidak sakit, Nona. Kau lihat, aku baik - baik saja. Tak kurang sesuatu pun. Aku juga sangat mampu bahkan untuk memuaskan dirimu sepanjang malam... " kata Axel masih dengan seringainya.


"Bukan tubuhmu yang sakit, tapi jiwamu. Jiwamu yang sakit, Axel..." desis Gadis.


"Ahh, barangkali saja kamu benar. Jiwaku memang sakit. Untuk itulah aku butuh penawar. Dan kurasa, kamu adalah obat yang tepat untuk rasa sakitku itu.. " kata Axel. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya.


Mata Gadis nanar memandang pisau belati di tangan Axel. Gila.... apa yang akan dilakukan oleh lelaki ini, pikirnya.


Seketika insting cewek itu merasakan adanya bahaya. Sontak dia menerjang ke arah Axel. Namun, sialnya, dia lupa bahwa kakinya masih dalam keadaan terikat. Lagi - lagi, dengan mudahnya, Axel berhasil menaklukkan cewek itu.


"Kamu sangat cantik dan menggairahkan, Nona. Teruslah memberontak karena dengan begitu aku semakin bergairah... " kata Axel seraya berusaha menindih tubuh Gadis dan melepaskan pakaian yang melekat di tubuh cewek itu. Sementara itu Gadis mati - matian berusaha melepaskan diri dari cengkraman nafsu Axel yang sudah dikuasai setan. Lelaki itu sangat bernafsu sekali ingin merasakan legitnya liang Gadis yang sempat dia masuki beberapa waktu yang lalu meskipun tak berhasil menerobos gawang cewek itu.


Axel masih berusaha untuk menerobos gawang Gadis ketika handphone yang ada di dekatnya berbunyi. Dia melirik siapa yang memanggilnya. Dengan malas dia meraih handphone tersebut sementara sebelah tangannya menahan tubuh Gadis yang masih saja terus memberontak.


"Apa uang yang aku berikan untukmu dan anak buahmu masih kurang...? " bentaknya gusar.


"...... "


Axel tertegun setelah menerima telpon dari orang itu. Mendadak dia menghentikan kegiatannya. Dia bergerak turun dari atas tubuh gadis dan kemudian membalikan tubuh cewek itu.


"Sepertinya, aku harus menunda dulu untuk bersenang-senang denganmu. Ada sesuatu yang harus aku bereskan." kata Axel kepada Gadis. Dia lalu kembali mengambil tali dan mengikat tubuh cewek itu. Kali ini dia memastikan bahwa ikatannya benar dan kuat. "Aku akan kembali lagi, sayang." katanya seraya mengecup bibir Gadis sekilas lalu pergi meninggalkan Gadis. Tak lupa dia mengunci pintu namun tidak mematikan lampu.


Sepeninggal Axel, Gadis kembali berusaha untuk membuka tali yang mengikat erat tubuhnya. Berkat kegigihannya, tali itu kembali terbuka.


Bergegas Gadis membuka tali yang mengikat di kakinya. Kini dia sepenuhnya bebas. Dengan tergesa-gesa, Gadis memungut bajunya yang berserakan di lantai dan memakainya kembali. Meskipun keadaannya sudah compang - camping. Namun, Gadis tak ambil perduli. Dia harus keluar dari tempat ini dan mencari Mitha. Dia harus menolong sahabatnya itu secepatnya. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan...

__ADS_1


__ADS_2