Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 14 Makan Siang


__ADS_3

" Mitha.... Mit. Tunggu sebentar. Aku mau bicara... " Edo berseru memanggil Mitha sambil mengejar langkah cewek itu yang terlihat terburu - buru menuju ke area parkir.


Mereka berdua baru saja keluar dari kampus dan akan menuju ke rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus.


"Entar aja, Do. Aku lagi buru - buru, nih." jawab Mitha yang kini sudah berada di atas motor kesayangan.


" Iya, sama. Aku juga. Kita kan satu tujuan." tukas Edo tak mau kalah.


" Tapi aku takut telat..." Mitha masih berusaha untuk menghindari Edo yang akhir - akhir ini semakin gigih mendekatinya.


" Kamu kenapa sih, Mitha? Akhir - akhir ini sikap kamu aneh banget. Kamu kayaknya berusaha untuk menghindar dari aku..." akhirnya keluar juga uneg - uneg yang ada di hati Edo.


Calon dokter berwajah ganteng itu memang sempat dibuat galau dan frustasi ketika baru kembali dari KKN, mendapati sikap Mitha yang berubah seratus delapan puluh derajat menghindarinya.


" Bukan begitu, Do. Aku memang takut aja telat. Kan kamu tahu, bagaimana kalo dokter Rendi marah." elakkan Mitha.


" Kamu nggak usah ngeles. Aku tahu kamu berusaha buat menghindar dari aku. Sebenarnya ada apa sih, Mitha. Lu ngomong dong. Jangan bikin gue penasaran seperti ini.. " keluh Edo frustasi.


" Itu hanya perasaan kamu saja, Do. Sumpah, benaran nggak ada apa-apa. Udah ya, ... aku pergi dulu." kata Mitha sudah buru - buru mau tancap gas.


" Kalau beneran nggak ada papa, lo ikut gue sekarang. Kita bareng ke rumah sakit."


" Tapi, Do.. "


" Please Mitha. Nggak ada tapi - tapian lagi.... " tukas Edo dengan raut wajah memelas.


Sementara itu, dari kejauhan sepasang mata tajam Fatan tak berkedip mengawasi keduanya. Entahlah, ada rasa yang sulit dia lukiskan saat ini, saat melihat kedekatan kedua orang itu.


Di dalam hatinya, ada semacam perasaan tak rela jika melihat Edo mendekati Mitha. Meskipun jujur saja, saat ini di antara mereka tidak ada perasaan cinta yang mengikat, namun tetap saja dia merasa tak nyaman membiarkan laki-laki lain berada di sisi sang istri.


Bergegas dia menghampiri kedua manusia itu.


" Mitha,...! "yang punya nama langsung menoleh. Demikian juga Edo yang sejak tadi terus berusaha membujuk Mitha agar bersedia bareng ke rumah sakit bersamanya. Edo merasa heran melihat kedatangan Fatan.


" Fatan.. " suara Mitha tercekat di kerongkongan. Dia mendadak gugup karena menyadari raut wajah Fatan yang tidak bersahabat.


" Eh, lo.. Tan. Tumben - tumbenan, lo manggil Mitha. Ada apa, emang? " tanya Edo penasaran. Baru kali ini Fatan berbicara pada Mitha. Meskipun mereka satu jurusan, namun jarang sekali Fatan mau terlibat dekat dengan makhluk yang berlebel hawa itu.


" Nggak, gue cuma ada perlu dikit sama, Mitha. Gue nggak ganggu kalian, kan?" tanya Fatan seraya menatap tajam ke arah Mitha. Yang di tatap, balas menatap ke arah Fatan. Sejenak keduanya saling berpandangan.

__ADS_1


" Jelas enggak, lah. Gue juga tadi pengen ngajak Mitha bareng ke rumah sakit, tapi dia menolak ajakan gue. Kalo emang ada perlu, noh.. nanya aja sama orangnya langsung...! " tunjuk Edo ke arah Mitha yang masih duduk di atas motornya.


Fatan menoleh ke arah Mitha. Istri cantiknya itu sepertinya sudah bersiap - siap untuk pergi.


" Eh,.... tapi sepertinya Mitha udah mau pergi." katanya kepada Fatan.


" Mitha, ... nih, Fatan ada perlu sama kamu, sebentar." kata Edo bermaksud untuk menyampaikan keinginan Fatan.


Mitha hanya mendengus kesal mendengar suara Edo. " Gue sibuk!!" sahutnya ketus.


"Baiklah, jika memang lo sibuk, entar aja di rumah sakit, Mit. Lo pergi aja duluan. Entar gue dan Edo nyusul..... " kata Fatan seraya menatap Mitha.


Sejenak Mitha menatap suaminya itu . Saat ini, Mitha seperti merasa jika Fatan berusaha untuk mengatakan kepada dirinya jika dia tidak boleh bersama Edo.


Tanpa bicara lagi, Mitha segera melarikan motor scoopy miliknya menuju ke kampus.


Sampai di rumah sakit, Mitha disambut oleh Gadis yang baru saja tiba sesaat sebelum Mitha.


" Muka, lo kenapa? " cecar Gadis sambil saat melihat wajah cemberut Mitha yang baru turun dari motor.


" Habis ketemu balok Es..... " Gadis langsung tergelak mendengar jawaban Mitha. Dia tahu siapa yang dimaksud Mitha dengan sebutan itu.


" Hati - hagi, lo. Antara benci dan cinta itu bedanya tipis... "


Gadis hanya gelang - geleng kepala saat mendengar curhatan sahabat baiknya tersebut.


...-------...


Mitha melirik jam yang melingkar di lengan kirinya. Pukul tiga lebih dua puluh menit. Perutnya sudah sejak tadi bernyanyi minta diisi.


" Sabar.... sabar.... ya, dek. Sebentar lagi bunda selesai. Entar kita cari makan. " Mitha bergumam sendiri sambil mengusap perutnya yang agak sedikit buncit.


Dia baru saja selesai membantu dokter Yahya menangani pasien yang melahirkan secara cesar. Sejak tadi pagi, belum ada sepotong makanan yang masuk ke perutnya. Hanya segelas susu untuk ibu hamil saja yang sempat dia minum.


Pantas saja jika benih Fatan di dalam sana sudah mengamuk minta diisi asupan nutrisi.


Baru saja Mitha hendak keluar mencari makan, pintu kamarnya di buka seseorang.


Mitha menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Edo. Mitha

__ADS_1


" Boleh aku masuk.. ? "tanya Edo sesaat setelah melihat Mitha hanya berdiam terpaku di tempatnya.


Tak berniat membuka mulutnya, Mitha hanya mengangguk. Dia sebenarnya merasa tak nyaman jika membiarkan Edo masuk. Bagaimanapun juga, dia sadar diri, jika sudah bersuami. Walaupun tak ada yang mengetahui tentang statusnya di tempat ini, termasuk Edo, namun dia tak ingin menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan Fatan.


Edo masuk sambil membawa menenteng dua buah bungkusan.


"Aku tahu kamu belum makan sejak tadi pagi. Nih, aku bawain Nasi padang pake telur balado kesukaanmu... " Edo menyodorkan sebungkus nasi ke arahnya.


" Lo tau aja, kalo gue belum makan."


" Lah, iya. Sejak tadi pagi keluar dari kampus, kita semua berkutat dengan pasien. Jadi gue tau, lah. Kebetulan , gue juga belum makan."


" Hehehe, benar juga. Any way, makasih, Do. Entar kapan - kapan, gantian gue yang traktir lo.. " Mitha langsung mengambil nasi bungkus tersebut dan duduk di meja kerjanya.


" Cih, elo tuh, Mit. Macam sama orang lain aja. Udah, buruan makan sebelum ada panggilan lagi.... " ajak Edo.


Cowok itu langsung mengambil tempat duduk di hadapan Mitha dan membuka bungkusan nasi lalu mencomot lauk dengan santainya.


" Ihhh.... jorok. Cuci tangan, Do... " Mata Mitha melotot seraya mencubit tangan Edo.


" Duh, sakit, Mit... "


" Habisnya, siapa suruh jorok. Calon dokter, kok jorok.. " omel Mitha.


" Iya, iya.... ini aku sedang cuci tangan nona Paramitha yang cantik." Edo langsung beranjak menuju wastafel yang ada di sudut ruangan dan mencuci tangannya.


Selesai, dia kembali duduk di hadapan Mitha.


" Nih,...udah, yah. Aku mau makan dulu. Jangan diomelin lagi. Lagak lo udah kayak bini lagi minta jatah uang bulanan aja kalo lagi ngomel, Mit... "


Wusss..... pipi Mitha langsung bersemu merah. Kata - kata Edo menyentilnya.


Membuat Mitha bungkam tak mampu menjawab.


Mereka berdua makan dengan lahap karena memang perut mereka sudah lapar sekali.


Sementara itu, diam - diam, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi kedua manusia yang sedang makan di dalam sana.


Rahangnya mengatup sempurna karena menahan emosi yang membakar di hatinya. Sedangkan tangannya yang menenteng bungkusan nasi bergerak meletakkan bungkusan nasi di tangannya ke sembarangan tempat.

__ADS_1


Setelah itu, dia pergi begitu saja meninggalkan tempat itu dengan berbagai perasaan yang masih berkecamuk di dalam dada. Marah, kesal, kecewa, dan juga... CEMBURU.


Apa, Cemburu.????


__ADS_2