Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 15 Kedatangan Arumi.


__ADS_3

" Mitha,.... Mitha. Bangun..!" terdengar suara Gadis sedang membangunkan Mitha. Namun, cewek itu hanya bergerak sesaat lalu tidur lagi.


" Woi...bangun..! Mitha, buruan bangun. Entar lo telat lagi ke rumah sakit...!" lengkingan suara Gadis kembali terdengar. Kali ini rupanya berhasil. Mitha segera membuka matanya ketika mendengar suara cempreng Gadis.


" Apaan, sih. Dis. Pagi - pagi, suaramu sudah bikin rusuh..!" protes Mitha kepada Gadis.


" Hey, nenek gayung. Harusnya lo tuh bersyukur, gue masih mau bela-belain buat bangunin lo. Kalo nggak, bisa telat lo ke rumah sakit..! Lagian, lo tidur apa mokat...?"


" Sumpah, Dis. Baru kali ini, gue. bisa tidur nyenyak banget. Semenjak gue nikah sama tuh bocah, gue kagak bisa tidur nyenyak.. " sahut Mitha yang di sambut gelak oleh Gadis.


" Kenapa...? Tuh bocah ngajakin lo olahraga malam terus...? "


Mitha beranjak bangun dan langsung mencubit ujung bibir Gadis yang tipis. "Lo, tuh. Kalo ngomong suka sembarangan. Mana ada gue sama dia begituan. Yang ada, gue tidurnya di kasur, sedang tuh bocah, tidur di sofa..!"


Mata Gadis membulat sempurna. Dia tak menduga Mitha akan menceritakan hal ini secara terang-terangan kepadanya.


" Dia kagak mau nyentuh, lo..? "


" Cih, bukan dia, tapi gue. Gue yang kagak mau disentuh sama tuh, bocah. Lagian, itu semua sudah ada dalam Perjanjian pramuka nikah kalo gue tak sudi disentuh kecuali atas dasar keinginan gue sendiri." jelasku yang membuat Gadis kembali membelalakakan mata dan menutup mulut.


" Gile, lo. Gimana kalo suamimu kagak tahan dan cari perempuan lain..? "


" Bodo amat!!! Denger ya, Gadis. Gue nikah sama tuh bocah lantaran dia yang udah janji bakalan ngejamin kalau kuliah gue nggak bakalan keganggu. Nah, masalah dia mau sama perempuan lain, kek. Mau apa , kek. Gue kagak peduli. Dan lagi pula, habis ngelahirkan, kami juga bakalan cerai. Itu sudah ada dalam kontrak. " tegasku.


" Nah, itu die yang gue kagak demen. Bagi gue, nikah itu cuma sekali, Mit. Kagak peduli apa pun alasannya. Gue sih, masih berharap pernikahan lo dan Fatan bakalan langgeng. Sebenarnya, tuh bocah baek, hanya saja punya teman yang kagak baek."


Aku hanya mengemdikkan bahu mendengar pujian Gadis untuk Fatan.


" Tau, Akh... pusing gue mikirnya. Gue mau mandi aja. Entar telat lagi.. " sahut Mitha sambil beranjak ke kamar mandi.


Yah, Mitha sekarang ini sedang berada di kosannya yang dulu dia tempati bersama Gadis. Bukan tanpa alasan dia kembali ke tempat ini. Semalam dia sudah memutuskan untuk kembali ke kosan ini setelah bertengkar hebat dengan Fatan.


Masih terbayang dalam ingatannya, kemarin saat pulang dari rumah sakit, dan masuk ke kamar dan menemukan Fatan yang sudah berbaring di kasur. Tumben sekali nih cowok berbaring di kasur, pikir Mitha.


Fatan membuka mata saat menyadari kehadiran Mitha di kamar mereka. "Akhirnya lo pulang juga... " ucapnya lirih.


Kening Mitha berkerut mendengar ucapan Fatan. " Memangnya kenapa ? Apa ada yang salah? "


Fatan bergerak bangun dan duduk di kasur. " Ini sudah jam berapa, Mitha. Bukannya sudah sejak pukul lima sore tadi kamu pulang? "


Mitha mengangguk membenarkan ucapan Fatan. Hari ini, dia memang agak terlambat pulang ke rumah karena masih harus membantu dokter Ira karena ada pasien gawat darurat yang mengalami kecelakaan.

__ADS_1


" Maaf, aku lupa bilang kalau tadi aku harus mendampingi dokter Ira di ruang operasi. Ada pasien gawat darurat yang mengalami kecelakaan." jelasnya.


Fatan terdengar menghela nafas sebelum berdiri dan beranjak menuju sofa. Sedangkan Mitha meletakkan tasnya di samping tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, Mitha keluar dan memakai pakaian di ruang ganti. Selesai berpakaian, Mitha bermaksud untuk keluar kamar mencari angin. Namun, sebuah tangan mencekal lengan kirinya hingga membuatnya reflek menoleh karena terrkejut.


" Aku mau bicara.. "


Mitha urung meraih gagang pintu dan berbalik menatap ke arah Fatan. Sesaat, matanya menangkap ada kegusaran di wajah Fatan. Ada apa lagi dengan cowok ini, pikirnya.


" Ada apa lagi, sih..? " tanya Mitha dingin. Belum apa - apa, emosinya sudah naik saat melihat wajah Fatan.


" Duduklah, dulu..! " titah Fatan sambil bersandar di dinding.


Mitha menurut saja. Dia kemudian memilih duduk di sofa yang biasa di tiduri Fatan.


" Sekarang bicaralah. Apa yang ingin kamu sampaikan.. " ujar Mitha dengan tidak sabar.


" Aku mau kamu istirahat kuliah saja mulai sekarang... " kata Fatan setelah untuk beberapa saat cowok itu terdiam.


Mitha langsung terjangkit kaget saat mendengar ucapan Fatan. Cewek itu langsung berdiri karena kesal setelah mendengar permintaan Fatan.


" Karena kamu yang nggak bisa jaga komitmen. Kamu juga tidak disiplin dan bahkan kamu sudah menelantarkan anak kita."


Mitha merasa heran atas tuduhan Fatan. Sejak kapan dia menelantarkan anak yang ada dalam kandungannya. Jika karena keterlambatan dia pulang tadi itu dijadikan alasan untuk Fatan bisa marah- marah kepadanya, maka dia sungguh tidak terima.


" Apa maksud kamu mengatakan kalo aku tidak komitmen dan menelantarkan anak yang ada dalam kandunganku.?"


Fatan melangkah mendekati Mitha. Kemudian berdiri tepat dihadapkan Mitha. Fatan memegang kedua bahu Mitha, menatap lurus ke dalam bola mata istrinya.


"Katakan padaku, apa tadi siang kamu sudah makan? " tanya Fatan kemudian.


" Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku sudah makan siang meskipun terlambat. "


" Kamu bohong, Mitha. aku tidak melihatmu di kantin saat jam istirahat." sahut Fatan cepat.


" Aku memang tidak sempat ke kantin. Tapi Edo membawakan aku nasi bungkus untuk makan siang. " jawab Mitha. Setelah itu Mitha langsung menyesali ucapannya. Mengapa juga dia sampai keceplosan mengatakan jika Edo yang mengantarkan makan siang.


" Hemmm, akhirnya kamu ngaku jika mantan kamu itu yang sudah berbaik hati membawakan makan siang buat kamu..? "


" Bukan, bukan itu. Aku tadinya mau ke kantin buat makan siang, tapi Edo sudah keburu nongol ke ruangan aku. Jadinya aku nggak enak juga buat nolak. Lagi pula, nggak ada salahnya juga, kan. sesekali menerima kebaikan teman."

__ADS_1


" Memang, nggak salah juga sih, kalo temannya juga menganggap kamu hanya sebagai teman... "


" Apa maksud kamu, Fatan? Kamu mau bilang kalo Edo dan aku lebih dari sekedar teman? "


" Bagaimana kalau iya. Apa kamu pikir perhatian yang Edo berikan ke kamu itu sama dengan perhatian yang dia berikan pada Gadis temanmu itu? Bukankah kalian sama - sama temannya Edo?"


" Tapi aku hanya menganggap Edo hanya sebatas teman. Kamu jangan mengada-ngada...! " bentakku tak Terima atas tuduhan Fatan.


"Oh, yah. Benarkah..? Tapi mengapa aku meragukannya..?


Aku terdiam mendengar argumen yang dikeluarkan oleh Fatan. Perkataan Fatan memang ada benarnya. Dia memang mencintai Edo. Tapi Edo..? Benarkah Edo juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Benarkah Edo juga mencintainya seperti yang dikatakan Fatan.


Entahlah..... mendadak Mitha merasa aneh ketika menyadari bahwa dia tidak merasa senang atau gembira ketika mengetahui bahwa ternyata Edo juga mencintainya. Padahal seharusnya dia merasa bahagia karena kini Edo membalas perasaannya.


" Aku rasa memang sebaiknya kamu mengambil cuti kuliah saja. Aku tak mau jika terjadi sesuatu dan aku akan menyesalinya nanti... " kata Fatan sambil beranjak hendak keluar kamar.


" Bagaimana kalau aku menolak....? tantang Mitha. Dia tak terima dengan keputusan Fatan yang menurutnya telah melanggar kesepakatan mereka.


" Aku sendiri yang akan meminta cuti kuliah untuk kamu.. "


" Tidak..! Aku tidak mau. Kamu tidak bisa melakukan semua itu, Fatan. Kamu bohong padaku. Kamu jahat..!" teriak Mitha kesal sambil menangis. Dia tak peduli lagi jika orang rumah mendengar teriakannya.


Bahkan Fatan juga sama tak pedulinya. Cowok itu malah memasang wajah cueknya dan berlalu keluar rumah. Dia mengambil motor besarnya yang terparkir cantik di garasi dan pergi ke luar rumah untuk menemui teman - temannya yang kini sedang menunggunya di tempat biasa.


Sementara Mitha yang kini sudah beranjak tenang segera mengemasi barang - barangnya. Dia memutuskan untuk pergi ke kosan Gadis. Siapa tahu di sana dia bisa lebih tenang.


...----------------...


Seperti biasa, seusai kuliah di kampus, Mitha biasanya langsung ke rumah sakit. Dia kini sudah berada di halaman kampus sambil menunggu Gadis. Hari ini dia menumpang mobil Gadis karena motornya sedang diservis di bengkel.


"Permisi, Mbak. Boleh numpang nanya?" Seorang gadis cantik yang berpakaian modis bertanya kepadanya.


" Iya, Mbaknya mau nanya apa? " jawab Mitha.


" Kenal Fatan, nggak Mbak. Itu yang anak kedokteran tingkat tujuh..." Mendadak hati Mitha berdesir saat mendengar cewek di depannya ini menanyakan suaminya.


" Oh, Fatan yang itu. Iya kenal. Mbak ini siapanya, ya? Kok baru liat... " tanya Mitha bermaksud menyelidiki.


" Saya kekasihnya, mbak. Nama saya Arumi... " jawab Gadis itu sambil tersipu malu.


Oh........

__ADS_1


__ADS_2