Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab 48 Teror SMS


__ADS_3

Fatan dan Mitha memutuskan untuk berbelanja di super market dekat apartemen mereka karena di rumah mereka tidak memiliki persediaan makanan.


Fatan sambil menggendong Kenan menemani Mitha berbelanja dan memilih barang - barang kebutuhan mereka. Mereka bertiga. seperti layaknya sebuah keluarga kecil yang sedang berbelanja. Beberapa pasang mata menatap iri pada pasangan itu. Karena selama berbelanja, tangan Fatan tak lepas menggandeng tangan Mitha. Fatan sudah tak malu untuk menunjukkan sikap posesifnya pada sang istri. Dia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Mitha itu miliknya dan demikian pula sebaliknya.


Dreett..... dreettt......


Ponsel Fatan berdering. Teryata ada pesan yang masuk.Tapi Fatan tak tahu dari siapa karena tidak tertulis nama pengirimnya. Karena penasaran Fatan membuka lalu membuka ponselnya.


"Aku mengawasi dirimu. Istrimu sangat cantik dan anakmu, dia sangat lucu dan menggemaskan sama seperti ibunya. Hati - hati menjaga mereka.!!!! "


Rahang Fatan mengeras begitu selesai membaca SMS itu. Tangannya terkepal menahan geram.


Sialan..... siapa yang iseng mengirim pesan konyol itu, pikir Fatan. Matanya nanar menatap pesan itu. Ada nada ancaman di balik pesan itu. Ancaman terhadap istri dan anaknya.


Fatan memandang ke sekeliling tempat itu. Melihat apakah ada orang yang mencurigakan yang patut dia curigai. Dia yakin, orang itu berada di sekitar tempat ini. Buktinya dia bisa melihat istri dan anaknya. Mata Fatan liar mengawasi tempat itu. Namun tak ada tanda - tanda yang mencurigakan dari si pengirim SMS itu.


Pandangan Fatan beralih ke atas. Apa mungkin orang yang mengawasi dirinya berada di lantai atas. Jika dia berada di. atas, akan sulit lagi bagi Fatan untuk mengetahui karena terhalang oleh orang - orang yang lalu lalang di supermarket itu.


" Kak, aku sudah selesai. Apakah kakak masih perlu yang lainnya. " suara Mitha memecah konsentrasinya. Dia mengalihkan pandangannya pada sang Istri. Di lihatnya keranjang troli di tangan Mitha sudah penuh.


" Oh, tidak. Apakah barang - barang kebutuhan Kenan sudah kau beli semua, sayang..?"


" Sudah semua, kak. Ayo kita pulang.. Aku dah lelah sekali... "


Dia segera menghampiri sang istri dan mengambil alih troli dari tangan Mitha dan berjalan ke kasir.


"Kau yakin sudah semua, sayang?" kata Fatan sambil mengeluarkan debit card untuk membayar belanjaan mereka.


Mitha mengangguk mengiyakan. "Oh, iya. Sebentar kak, aku melupakan sesuatu." Mitha bergegas berbalik dan melangkah tergesa-gesa mengambil sesuatu.


Dia mau mengambil sebuah baby holders tapi karena letaknya agak tinggi, sehingga dia agak kesulitan untuk menggapainya.


Sebuah tangan terulur menjangkau baby holders dan memberikannya kepada Ibu dari Kenan itu.


Mitha tertegun sejenak. Seorang cowok seumur Fatan suaminya, sedang berdiri sambil tersenyum ramah padanya.


" Maaf, aku lancang mengambilnya untuk kamu. Soalnya kamu terlihat kesulitan untuk meraihnya. Kebetulan aku melihat dan berinisiatif untuk mengambilnya. Maaf sekali lagi kalau aku lancang." kata Cowok itu dengan wajah yang sangat menyesal.

__ADS_1


Mitha tak sampai hati untuk marah. Malahan seharusnya dia berterima kasih karena berkat cowok itu dia tidak perlu susah Payah untuk meraih baby holder itu.


"Tidak apa - apa. Aku malah seharusnya yang berterima kasih. Terima kasih, yah karena sudah berbaik hati mau menolongku." kata Mitha sambil melempar senyum manisnya ke arah cowok itu.


Mitha pun pergi dengan menenteng babby holder di tangan. Dia segera mendatangi Fatan yang sudah menunggunya sejak tadi. Dari kejauhan, Fatan memperhatikan Mitha yang tampak seperti sedang berbicara dengan seseorang. Tapi dia tak bisa melihat lawan bicara sang istri karena terhalang oleh rak pajangan. Dia hanya melihat Mitha berbicara kemudian berbalik pergi.


"Bicara dengan siapa barusan?" tanya Fatan sesampainya Mitha di hadapannya. Ada nada curiga dalam pertanyaan Fatan. Bukan apa - apa. Semenjak menerima SMS yang bernada mengancam tadi, pikiran Fatan sudah tak bisa lagi tenang.


Kini dia harus mengawasi siapa saja yang dekat dengan sang Istri dan juga dirinya. Karena dia tak mau terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.


" Bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan menolongku mengambil baby holder ini. " jawab Mitha.


Dia lalu menyerahkan baby holder itu ke kasir dan segera mengambil Kenan dari gendongan Fatan.


Fatan tak mau mempermasalahkan lebih lanjut masalah tersebut. Dia tak ingin Mitha menjadi curiga. Akhirnya setelah membayar belanjaan di kasir, Fatan segera memasukkan barang - barang belanjaan ke bagasi mobilnya. Sementara Mitha sudah duduk manis menunggu di dalam mobil bersama Kenan.


Sementara di tempat lain, seorang cowok tampak sedang menyendiri di sudut sebuah toilet. Sejak masuk ke dalam toilet itu tak hentinya dia menyeringai penuh misteri. "Fatan, istrimu sangat cantik dan menggemaskan....." gumannya nyaris tak terdengar.


Pikirannya travelling kemana-mana. Dia membayangkan, Mitha lah yang berada di bawahnya.


Sial... aku ereksi hanya dengan melihat dan membayangkan istri orang. Satu senyuman licik terukir dari sudut bibirnya. "Aku tak akan melepasmu, Paramitha Putri... "


...----...


Fatan sejak tadi diam saja dan fokus mengemudi sampai mereka tiba di apartemen. Otaknya masih di penuhi oleh SMS yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Siapa orang itu...? Apa maksud orang itu dengan mengirimkan SMS yang bernada ancaman itu padanya. Dan siapa tadi yang sudah berbicara kepada sang istri. Apakah orang itu ada hubungannya dengan SMS yang dia terima?


Otak Fatan terus saja memikirkan hal itu. Benaknya masih dipenuhi tanda tanya besar tentang siapa yang sudah mengirimkan pesan itu.


Dia tak memberitahu Mitha soal SMS itu karena tak ingin membuat sang istri menjadi ketakutan dan cemas.


" Halo, Reno. Kita ketemuan di markas. Ada hal penting yang ingin gue bahas."


" Oke, brother. Apakah Aldo juga diajak?"


" Iya, ajak sekalian tuh bocah, Daripada kerjaannya ngecengin pisau bedah mulu."


" Oke, nanti gue hubungi tuh bocah. Sampai ketemu di markas."

__ADS_1


Fatan mematikan handphonenya bersamaan dengan Mitha yang muncul dari dalam kamar. Mitha heran melihat Fatan sudah bersiap - siap hendak pergi.


" Mau kemana, kak? " tanya Mitha.


"Aku mau keluar sebentar. Mau ketemu sama Aldo dan Reno. Biasa, kumpul - kumpul. Sudah lama kami tak kumpul - kumpul. Kamu tak keberatan, kan? "


" Tidak. Pergilah.... tapi jangan sampai pulang larut malam. Besok kan, kakak sudah kembali bekerja." kata Mitha mengingatkan Fatan.


Fatan tersenyum mendapati perhatian dari istrinya. Duh, senangnya. Kalo sudah begini, rasanya Fatan pengen di rumah saja. Rasanya akan lebih menyenangkan jika dia bersama sang istri.


Tapi dia teringat masalah SMS tadi. Dia terpaksa meminta tolong kepada teman - temannya untuk melacak siapa pengirim SMS itu. Reno dan Aldo, mereka bisa di percaya dan dapat di andalkan.


" Iya, sayang. Aku tak akan lama, kok. Paling jam sembilan sudah balik. Kamu di rumah jaga diri baik - baik.. Kunci pintu dan jendela jika aku sudah pergi. Aku akan menelpon kamu jika sudah sampai. Dan aku juga akan menelpon kamu jika sudah sampai di rumah." kata Fatan memberi arahan kepada sang istri.


Maklum, ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan Mitha seorang diri. Apalagi sekarang Mitha hanya sendiri. Mbak Asih sudah kembali ke rumah mama.


Meskipun merasa heran dengan ulah sang suami yang over protektif, tak urung Mitha mengangguk juga. Hatinya bertanya - tanya, mengapa Fatan seperti mencemaskan sesuatu. Apa telah terjadi sesuatu yang tak dia ketahui? Pikir Mitha menebak - nebak.


Fatan akhirnya pergi juga ke Markas. Dia sekali lagi berpesan kepada Mitha agar tak sembarangan membuka pintu. Apalagi untuk orang yang tak dia Kenal.


Sepeninggal Fatan, Mitha menutup pintu rapat - rapat. Dia juga mengunci jendela sesuai dengan pesan Fatan.


Sambil tiduran, iseng Mitha membuka ponselnya. Dia berseluncur di media sosial miliknya. Sudah lama dia tak bermain di media sosial.


Ting...... sebuah pesan masuk melalui messenger.


Mitha tidak menggubris isi pesan tersebut. Dia asik saja membuka beranda miliknya. Ada banyak pemberitahuan di media sosial miliknya.


Salah satunya adalah permintaan pertemanan dari seseorang. Iseng Mitha membuka foto profil dari orang yang telah mengirimi pertemanan tersebut.


Mata Mitha membelalak karena kaget dan juga tak percaya. Dia......!!!


Author: Hayo....!! Siapa yang meminta pertemanan dengan Mitha????


Bagaimana usaha Fatan untuk mengetahui siapa yang telah mengirimkan SMS itu.


Simak terus kelanjutan cerita Fatan dan Mitha. Jangan lupa Like dan Gift nya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2