Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 31 Putra Tuan Pramono


__ADS_3

Fatan bolak - balik di depan kamar menunggu Mitha yang masih didandani oleh dua orang MUA yang sengaja dia datangkan untuk mempercantik sang istri.


Sudah hampir satu jam lamanya dia menunggu. Sekarang sudah hampir pukul tujuh malam. Rasanya dia sudah tak sabar lagi menunggu. Mengapa lama sekali, keluhnya diam - diam.


Dia ingin masuk untuk memperingatkan Mitha, bahwa sekarang sudah hampir pukul tujuh. Mereka tidak boleh terlambat datang kesana. Namun, baru saja Fatan ingin mengetuk pintu, ternyata pintu sudah lebih dahulu dibuka dari dalam oleh seseorang.


Muncullah Lena, salah seorang MUA yang disewa Fatan. Wajah Lena tersenyum sumringah saat menatap ke arah Fatan. Dia tahu, bosnya itu pasti sudah tak sabar untuk berangkat menunggu sang istri.


" Kenapa lama sekali. Sekarang sudah hampir pukul tujuh."gerutu Fatan. Wajahnya menampakan kegusaran yang tak bisa dia sembunyikan.


" Maaf, Bos. Agak lama, habisnya tadi istrinya bos Fatan nggak mau dimake over. Tapi jangan khawatir, sudah selesai, koq..." jawab Lena sambil memberi isyarat agar Mitha segera keluar dari kamar.


Jantung Mitha berdebar kencang saat melangkah keluar. Dia sebenarnya takut dan merasa tidak percaya diri karena baru kali ini dia dia berdandan seperti ini.


" Nah, ini dia orangnya, Bos." kata Lena sambil menarik Mitha yang tampak gelisah dan cemas ke depan Fatan.


Mata Fatan sejenak tak berkedip memandang Mitha yang penampilannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Baju yang dipilih Mitha memang sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih hingga memunculkan kecantikannya yang bersinar luar dalam. Ditambah, Mitha memakai perhiasan yang Fatan beli tadi untuknya, maka semakin bersinarlah kecantikan wanita muda yang sedang hamil itu.


' Hem, cantik juga si miss Nuve kalo didandani' ucap Fatan tapi hanya di dalam hati. Sedangkan di luar, dia tidak mengeluarkan komentar apapun.


Fatan sendiri sebenarnya susah siap semenjak tadi. Setelan tuksedo berwarna biru navi yang dipadu dengan dalaman berupa kemeja putih tulang, membuat ketampanan Fatan semakin menjadi - jadi. Wajah bulenya semakin terlihat.


Sejenak Mitha terpesona melihat Fatan. Dia baru menyadari betapa tampannya suaminya itu. Pantas saja Arumi gagal move on dari Fatan. Kalau begini, bisa - bisa dia jatuh cinta beneran sama suaminya.


"Buruan, kita sudah hampir telat...!" Ucapan Fatan membuyarkan Mitha yang dibuai oleh pesona Fatan.


Fatan yang sudah tak sabaran segera menarik tangan Mitha. "Lena, bayaran lo entar gue transfer aja, ya. Sekalian bonusnya..! "


" Oke, Bos. Selamat bersenang-senang." jawab Lena sambil melambaikan tangan kepada keduanya.


...----...


Kedua pasangan itu tiba di tempat pesta tepat pada saat pesta itu baru saja dimulai. Tuan Pramono dan istri, selaku tuan rumah langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


" Selamat datang, tuan Muda Fatan. Kami senang sekali anda berkenan hadir di pesta jamuan makan malam ini. Papa anda sudah mengatakan padaku jika dia berhalangan hadir karena masih berada di Belanda. Dia bilang tak usah khawatir karena Tuan Muda Fatan akan mewakili beliau. Terima kasih tas kedatangan anda." ucap Tuan Pramono seraya menjabat tangan Fatan. Dia melirik ke arah Mitha yang sejak tadi hanya tertunduk saja di sebelah Fatan.


" Kalau boleh tahu, siapa wanita cantik yang hadir bersama anda malam ini." Tanya Tuan Pramono sambil menatap ke arah Mitha.


" Oh, iya. Saya hampir lupa. Perkenalkan, ini adalah istri saya, Mitha. Kami baru saja menikah." jawab Fatan.


Dia meraih tangan Mitha dan Menggandeng tangannya dengan mesra.


" Wah, ternyata pasangan pengantin baru rupanya. Tapi mengapa keluarga Bramantyo mengadakan pesta pernikahan tanpa mengundang kami. Kami merasa tak enak karena tidak bisa menghadirinya pesta pernikahan kalian. Karena sungguh, kami tidak tahu jika Anda sudah menikah Tuan Fatan. Untuk itu, kami benar-benar minta maaf." kata Tuan Pramono dengan raut wajah yang terlihat sedih.

__ADS_1


Fatan yang mendengar hal itu jadi merasa tidak enak. " Bukan seperti itu, Tuan Pramono. Kami berdua baru menikah secara siri. Karena istri saya masih ingin sekolah. Disamping itu juga, mommy sudah ngebet pengen punya mantu lagi." jawab Fatan sekenanya. "Nanti, jika keadaan sudah memungkinkan, kami akan menikah secara hukum. Dan Insyaallah kami tidak akan lupa untuk mengundang seluruh Keluarga Pramono Agung." jawab Fatan.


Tuan Pramono terkekeh ketika mendengar ucapan Fatan. Setelah itu dia mempersilahkan kepada Fatan dan Mitha untuk bergabung dan menikmati jamuan yang sudah tersedia di meja makan.


Fatan kemudian mengajak Mitha untuk bertemu dengan beberapa relasi bisnis keluarga Bramantyo yang rata - rata adalah pengusaha sukses dan beberapa diantaranya masih sebaya dengan mereka.


" Kami tidak mengira, ternyata anda memiliki seorang istri yang sangat cantik, Tuan Fatan." kata Arkan. Salah seorang pengusaha yang terbilang sukses dalam bisnis properti kepada Fatan. Matanya sejak tadi tak pernah lepas dari Mitha.


Secarik garis tipis membentang di ujung bibirnya. Dia bukannya bodoh tidak bisa melihat tatapan ketertarikan dan kagum di mata Arka terhadap Mitha.


"Benar sekali, istri Tuan Fatan ternyata sangat cantik. Anda sungguh beruntung sekali, Tuan." Deni, rekan Fatan membenarkan ucapan Arka.


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan - tuan. Anda semu terlalu berlebihan." ujar Fatan. Dia memeluk pinggang Mitha seolah - olah ingin menunjukkan kepada kedua rekannya tersebut bahwa Mitha miliknya.


" Kami permisi dulu, karena ingin menemui relasi rekan kita yang lainnya." kata Fatan sambil berlalu menggandeng tangan Mitha.


Fatan sebenarnya kesal karena rata-rata hampir semua mata rekan bisnisnya tertuju kepada sang istri.


" Apakah kau lelah? " tanya Fatan saat melihat Mitha terlihat kelelahan karena semenjak tadi terus saja berdiri.


" Kenapa mesti bertanya lagi..?" sahut Mitha ketus. Dia merasa kesal karena semenjak tadi, kakinya sudah merasa pegal - pegal sebab high heels lima centimeter di kakinya ternyata cukup merepotkan dirinya. Meski tidak terlalu tinggi, namun cukup menggangu kenyamanan dirinya selaku ibu hamil.


Fatan mengajak Mitha untuk duduk di salah satu kursi tamu yang ada di ruangan tersebut. " Kamu duduk dulu di sini. Aku akan mengambilkan minuman dan kudapan untukmu." kata Fatan.


Dia meninggalkan Mitha seorang diri untuk mengambil minuman dan juga beberapa makanan kecil untuk Mitha.


Seseorang memanggil Mitha sehingga wanita hamil yang sedang duduk seorang diri itu tersentak kaget.


Mata bulat Mitha membesar saat melihat Edo sedang berdiri dengan stelan tuksedo berwarna putih yang membuat cowok yang sebentar lagi akan menyadang gelar doktor itu terlihat sangat tampan.


"Edo, apa yang kamu lakukan di sini..?" tanya Mitha yang merasa penasaran melihat kehadiran Edo di tempat ini.


" Aku, ehmm... itu. Aku hanya iseng saja berada di sini."


" Hem, benarkah...? "


Edo tersenyum mendengar ucapan Mitha. Dia segera menghampiri Mitha. "Suamimu kemana? " Edo bertanya karena tidak melihat kehadiran Fatan.


" Dia sedang mengambil minuman." jawab Mitha.


" Oh.. " Edo hanya ber - oh saja ketika mendengar jawaban Mitha.


" Ngomong - ngomong, kamu terlihat cantik sekali malam ini..? "

__ADS_1


Mitha tersipu malu mendengar pujian Edo. " Terima kasih. Kamu juga terlihat ganteng malam ini, do. Tumben..." jawab Mitha. Dia mencoba bersikap''p


" Mitha, boleh aku ngomong sesuatu?" tanya Edo sambil menatap serius ke wajah Mitha.


" Edo, please. Aku rasa di sini bukan waktunya untuk kita membahas masalah itu. Aku tak ingin kamu dan Fatan terlibat pertengkaran lagi." ujar Mitha.


Edo terlihat menghela napas. Sebenarnya dia juga tak bermaksud untuk memulai pertengkaran dengan Fatan. Dia hanya merasa kesal karena Fatan sudah membuat Mitha menderita karena ulah brengsek cowok itu.


" Maaf, aku tak bermaksud demikian. Soal kejadian tempo hari. Aku juga minta maaf. Tapi meskipun demikian, keputusanku tidak berubah. Aku masih tetap akan menunggu kamu bercerai dari suamimu dan menikah denganmu setelah itu."


" Maaf, tapi aku belum memikirkan kearah sana.... " jawab Mitha. Ada rasa jengah dan juga canggung saat Edo kembali mengingatkan dirinya tentang peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.


Dia sebenarnya merasa tidak nyaman ketika Edo membicarakan masalah yang terjadi kemarin. Dia takut jika Fatan kembali berbuat kasar hingga nanti berakhir dengan membuat kekacauan lagi. Dia sungguh tak menginginkan hal itu terjadi di sini.


" Baiklah, aku menghargai keputusan yang kau buat. Tapi aku sangat berharap agar kamu dapat mempertimbangkan kembali ucapanku. Percayalah Mitha, aku tulus saat mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu."


" Sayang sekali, di dunia ini ada saja manusia bodoh yang mencintai istri orang. Hem, aku jadi bertanya - tanya, A


Apa di dunia ini sudah kekurangan stok wanita...." sindir seseorang di belakang mereka.


Edo dan Mitha menoleh bersamaan. Di belakang Mitha telah berdiri Fatan dengan menenteng dua buah gelas minuman di tangannya.


Edo tersenyum sinis mendengar sindiran yang ditujukan Fatan terhadap dirinya. Dengan tenang dia menjawab sindiran Fatan dengan mengatakan, "Memang di dunia ini ada banyak wanita, namun semua itu tak berguna jika hati kita sudah terpaut dengan seseorang. Aku bahkan tak peduli sekalipun wanita itu sudah bersuami. Bagiku, toh sebuah pernikahan bisa saja berakhir suatu waktu, apalagi pernikahan yang hanya terikat oleh selembar kertas.. "


Emosi Fatan langsung memuncak mendengar jawaban Edo. Bergegas dia maju dan menarik kerah baju Edo dengan kasar.


" Tutup mulutmu..! Sampai mati pun aku tak akan pernah menceraikan istriku. Kau camkan itu. Jadi jangan bermimpi untuk mencoba merebut Mitha dari tanganku karena kamu akan tahu akibatnya." bentak Fatan geram. Tangannya sudah bersiap untuk melayangkan pukulan ke wajah Edo. Namun keburu dicegah oleh Mitha.


"Kak, sudah..! Tahan emosi kakak. Aku mohon, jangan membuat malu keluarga Bramantyo dengan membuat keributan di tempat ini." bisik Mitha sambil memeluk Fatan.


Fatan menurunkan tangannya dan urung memukul Edo. Dia kemudian memilih balas memeluk Mitha untuk menenangkan hatinya.


Edo memalingkan wajahnya Ke lain arah. Hatinya merasa terluka. Dia merasa tak sanggup melihat pemandangan itu. Dirinya terbakar cemburu dan juga emosi.


" Apa yang sedang terjadi di sini..?" Suara Tuan Pramono mengagetkan mereka semua. Edo langsung membuang muka, kesal.


" Dan kau ...! " Telunjuk Tuan Pramono mengarah ke Edo.


" Apa yang kamu lakukan terhadap tamu kita, hah..?!" bentaknya.


Fatan dan Mitha saling berpandangan. Apakah tuan Pramono mengenal Edo..?


Edo hanya bergeming tak menjawab. Hanya sorot matanya saja yang menyorotkan kekesalan dan juga kemarahan.

__ADS_1


"Jawab papa, Edo....!! "


Hah...!!! APA...??


__ADS_2