
Mitha membuka matanya dan mendapati sebuah tangan melingkar erat di perutnya. Itu tangan suaminya. Rupanya dia tadi ketiduran sehingga tidak mengetahui kepulangan suaminya.
Mitha bergerak bangun bermaksud ingin menggeser tubuhnya. Namun
Fatan yang merasakan pergerakan tubuh Mitha menjadi terbangun. Dia pun membuka matanya. Melihat Mitha bangun dari tidur m, dia lantas meraih tubuh Mitha agar kembali tidur.
Mitha pun jatuh kembali ke tempat tidur. Namun kini posisi tubuh Mitha berada dalam pelukan Fatan. "tidurlah kembali.. " ujarnya.
" Kapan kakak pulang? Kenapa tidak membangunkan aku..?" tanya Mitha pada Fatan. Dia ingin memejamkan matanya tapi tak bisa lagi.
" Tadi pukul sembilan, kayaknya. Aku mau bangunkan kamu tapi tak tak tega. Kamu tidur nyenyak sekali. Sepertinya kamu lelah. Mungkin kelelahan karena menjaga dan mengurus Kenan." kata Fatan dengan suara seraknya.
" Akh, tidak juga. Aku suka menjalankan peranku sebagai ibu. Lagi pula Kenan sangat lucu." kata Mitha sambil menoleh ke arah box bayi Kenan. Bayi mungil itu nampak pulas tertidur di boxnya seperti tanpa beban.
"Kamu juga lucu dan imut... " kata Fatan seraya mengecup pucuk kepala Mitha.
Mitha tersipu malu oleh pujian Fatan. Untung saja wajahnya yang bersemu merah terlindung di balik dada bidang Fatan.
Fatan menarik wajah Mitha hingga mendongak ke atas. Dia lalu mengecup bibir lembut istrinya yang sudah menjadi candu baginya. Mel*m*tnya dengan penuh hasrat sembari mempererat pelukannya.
"Sayang, aku merindukanmu.... " bisiknya di antara dengus nafasnya yang mulai memburu. Dia membenamkan wajahnya di antara dua buah bukit kembar Mitha yang merupakan tempat favoritnya.
Mitha hanya bisa pasrah ketika detik berikutnya tubuh Fatan sudah mengukung dirinya.
Dan terjadi lagi, pergumulan sengit mereka yang kemudian berakhir dengan keduanya terkapar dengan tubuh bermandikan peluh.
" Sayang, aku sudah mendaftarkan kamu kembali di kampus. Mulai bulan depan, kamu sudah bisa kembali kuliah? "kata Fatan kepada Mitha usai mereka beradu desah.
" Benarkah, terima kasih, kak. Aku senang sekali... " Mitha tak dapat mengungkapkan kebahagiaannya. Dia masih bisa mengejar mimpinya. Tapi dia teringat dengan Kenan. Bagaimana dengan bayi mungilnya itu..?
"Kenapa..? " tanya Fatan menyadari kebimbangan Mitha.
" Kenan, Kak. Bagaimana dengan anak kita....? "
Fatan tersenyum saat mendengar Mitha menyebutkan Kenan dengan 'anak kita'.
" Iya, tinggal saja sama Mbak Asih... " kata Fatan kemudian. Sebenarnya dia hanya ingin tahu sejauh mana rasa tanggung jawab dan kasih sayang sang istri pada anak mereka.
__ADS_1
"iya nggak bisa begitu, kak. Kenan itu terbiasa dengan aku. Nanti kalo aku kuliah, dia nyariin mommynya, gimana?"
Fatan kembali tersenyum. Benarkan dugaannya, nyonyanya itu tak akan tega untuk meninggalkan sang Putra seorang diri. Akhirnya diapun berkata.
" Mommy bilang, kalau kamu kuliah, mommy rela untuk jagain Kenan. "
"Tapi apa tidak merepotkan mommy. Mommy kan sibuk, Kak.?
" Kan ada mbak Asih yang bantuin. Pokoknya, kamu nggak usah pusing mikirin soal Kenan. Pokus saja sama kuliah kamu. " kata Fatan.
Mitha terharu. Ternyata suaminya amat memikirkan dirinya.. Juga keluarga suaminya. Mereka tidak egois memikirkan diri sendiri. Mereka juga memikirkan tentang keluargaku. Ternyata suaminya menepati janjinya. Dia bisa kembali kuliah dan mengejar cita-cita dan mimpinya.
Mendapati kenyataan ini, Mitha tak dapat lagi menahan haru. Dia memeluk suaminya dengan perasaan hari bercampur gembira. Terima kasih, bisiknya lirih.
" Sayang, aku boleh minta lagi, tidak..? "
...----------------...
Queen melenggang menuju ke parkiran dengan lesu. Semalam dia dan Edo harus menginap di hotel gratisan rumah tahanan kantor Satpol PP. Setelah mereka dinikahkan paksa di hadapan orang tua mereka. Sungguh Queen benar - benar menyesal mengenal makhluk yang bernama Edo. Gara - Gara Edo, hidup dia berubah. Benar - benar pengalaman yang memalukan dan membagongkan....
Dia mencoba mengingat - ingat kembali apakah ia marah saat dinikahkan dengan Edo. Jawabannya tidak...
Dia hanya merasa kesal ketika Satpol PP menikahkan mereka. Bayangan tentang pernikahan sakral yang dia mimpi - mimpikan dan bulan madu yang indah sekarang tinggal angan-angan saja. Semuanya sudah dirusakkan oleh si Kampret Edo.
Menyesal, tentu saja iya. Dia menyesali hari dimana dia bertemu Edo. Karena semenjak hari itu, hidupnya penuh dengan masalah. Bahkan yang terparah, dia digebrek Satpol PP karena di sangka berbuat mesum dan dinikahkan secara paksa dengan cowok itu.
"Queen, tunggu... " seru Edo.
Dia berlari kecil menjejari langkah Queen yang kini sudah mendekati motornya. Napasnya ngos - ngosan karena tadi buru - buru berlari mengejar Queen yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan kantor Satpol PP sementara dia harus menandatangani beberapa berkas dulu.
" Apaan, sih.... " ketus suara Queen menjawab panggilan Edo.
" Barengan, Queen.... Masa aku di tinggalin di sini..... " kata Edo cengengesan sambil menggaruk kepala. Dia tahu, Queen pasti marah dan kesal padanya karena peristiwa semalam.
" Bodo amat.. aku mau pulang sendiri. Lagian, kita nggak searah. Naik taksi aja.... Jangan kayak orang miskin..." kata Queen lalu bergegas menaiki motornya meninggalkan Edo sendiri.
Terpaksa Edo memesan taksi online karena Queen ngambek dan tak mau berboncengan dengannya. Begitu mendapatkan taksi, Edo segera meluncurkan meninggalkan tempat itu. Eh... tapi itu taksi, kenapa meluncur ke arah rumah Queen....
__ADS_1
Queen sampai di rumah terlebih dahulu. Dia memarkirkan motor di halaman depan rumah setelah itu melangkah memasuki rumahnya.
Baru saja Queen hendak membuka pagar rumahnya, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Lalu muncul Edo dari dalam taksi.
What..... apa yang terjadi...? Kenapa Edo ada di sini. Bukankah seharusnya Edo kembali ke rumahnya...
Tunggu dulu....
jangan - jangan Edo...
Tangan Queen urung membuka pintu pagar rumah. Dengan berkacak pinggang, dia berdiri di depan pada rumahnya.
"Ngapain kamu kesini? " tanya Queen to the point.
" Loh, kita kan suami istri sekarang. Jadi aku ke rumah istriku.. " jawab Edo enteng.
" What, mana bisa begitu. Itukan pernikahan karena terpaksa saja.. "
" Queen, terpaksa atau tidak, pernikahan kita sudah terjadi. Kita sudah resmi jadi suami istri. Jadi, sekarang suamimu ini mau masuk ke rumah istrinya. Aku lelah dan mau istirahat.. Minggir.. ! " kata Ed lagi.
Queen mendengus kesal mendengar jawaban Edo. Dia bersikeras Edo tak boleh masuk ke dalam rumahnya. Terjadi keributan di luar rumah Queen.
Keributan itu pun terdengar sama ayah dan ibunya Queen yang sedang sarapan di dapur. Mereka bergegas keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi.
Sesampainya di luar, mereka melihat Queen sedang dorong - dorongan dengan Edo. Edo yang ingin masuk ke dalam dan Queen yang menghalangi jalan masuk Edo.
"Queen...!!" seru ayah dan ibu bersamaan. ( Duh, kompak banget, dah).
Queen langsung menghentikan gerakannya menghalangi tubuh Edo. Edo pun juga langsung terdiam, dia tidak lagi mendorong dan memaksa untuk masuk. Keduanya hanya berdiam diri sambil saling lirik satu sama lain.
" Nak Edo, Queen, ada apa ini ribut - ribut?" tanya Pak Satria, ayah Queen.
Edo dan Queen berebut ingin menjelaskan pada Pak Satria hingga keadaan jadi kembali ribut.
" Sudah....sudah. Kalian ini sudah jadi suami istri masih saja bertengkar. Kapan akurnya." kata ayah Queen.
Queen langsung terkena Serangan jantung.
__ADS_1