
Mitha sedang duduk seorang diri di kantin rumah sakit. Setelah dari kampusnya dia langsung ke rumah sakit dengan menumpang bareng Gadis. Dia tidak mau diantar Fatan, walaupun cowok itu sudah berbaik hati untuk menawarkan tumpangan.
Ogah banget dirinya berdekatan apalagi melihat tampang si Fatan yang hari ini mendadak menjadi sangat menyebalkan. Padahal Mitha sudah bela - belain berusaha belajar menerima dan membuka diri untuk Fatan. Tapi entah mengapa, semuanya kembali lagi terasa menyebalkan dan memunculkan kembali sebuah alasan untuknya membenci seorang Fatanul Faqih Bramantyo.
Semua itu berawal dari peristiwa tadi pagi. Peristiwa yang membuka matanya bahwa ternyata Fatan masih tak bisa berpaling dari masa lalunya.
Mitha masih mengingat dengan jelas, tadi pagi, saat bertemu Arumi, Fatan seolah melupakan dirinya. Fatan bukannya menyusulnya, tapi malah asyik berbicara dengan rubah Jepang itu. Mereka terlihat pembicaraan serius. Mitha tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi tampaknya serius dan Arumi terlihat senyum - senyum. Dasar kecentilan...!!
Iya, Mitha menjuluki Arumi dengan rubah Jepang karena entah mengapa, mendadak Mitha merasa tidak suka terhadap Arumi setelah mengetahui bahwa Arumi itu adalah mantan Fatan yang masih mencintai Fatan yang saat ini berstatus sebagai suaminya.
Walaupun pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak dan nantinya juga akan berakhir. Namun Mitha sungguh sangat kesal ketika pagi - pagi sudah melihat Si rubah itu datang ke kampus mereka.
" Permisi, apa kamu sudah kenyang hanya dengan makan menu 'melamun " di sini... " suara Edo membuyarkan semua lamunan Mitha yang sedari tadi pikirannya sudah berkelana entah kemana.
" Ganggu aja..." Mitha memasang muka jutek. " Suka - suka gue. Otak - otak gue. Gue melamun juga gratis. Kaga bayar. Lagian, ngapain juga lo ada di mari. Bukannya hari ini lo ada jadwal mendampingi operasi pemasangan Implant bareng dokter Rendi."
Mendengar jawaban Mitha, Edo garuk - garuk kepala sambil cengengesan cengar - cengir.
"Yaelah, markonah. Judes amat sih, jadi orang. Jadwal operasi gue masih lama. Jam empatan, noh. Sekarang gue mau makan dulu bareng lo sambil kita ngobrol... " balas Edo.
" Yaudah..., makan aja sendiri. Tapi nggak pake menu ngobrol.Nggak ada dalam daftar menu..!" ucap Mitha sambil hendak bersiap untuk pergi.
" Mau kemana, Mit...? Ini gue juga baru pesan makanan.Nah, elo sudah mau maen pegi - pegi aja...!" tanya Edo dengan mimik memelas.
" Lah, nih bocah. Makan aja pake ditemenin. Macam bocah TK. Kalo mau makan, lo makan aja sendiri, gue kagak nafsu... " jawab Mitha sambil berlalu.
Dia sebenarnya ingin menghindar dari Edo. Sejak kedatangan dia tadi pagi, Edo memang selalu berusaha untuk mendekatinya. Mitha tahu, cowok yang duduk di hadapannya ini pasti masih menyimpan sejuta tanya tentang dirinya dan juga tentang peristiwa tempo hari.
" Mitha, gue pengen lo ngomong jujur pada gue. Please, kali ini aja, gue pengen dengar sendiri semuanya dari lo. Please, Mit... " pinta Edo dengan sorot mata memohon. Mitha jadi nggak tega melihat Edo yang menatapnya penuh harap.
Akhirnya, dia kembali mendudukkan bokongnya di tempatnya semula.
Lama keduanya terdiam. Sampai makanan yang di pesan Edo datang. Edo kemudian menyantap sedikit makanan yang sudah dia pesan.
" Jadi, semua itu benar..? "
__ADS_1
" Hah..? Apa..? "
" Gue nanya, semua yang gue dengar saat di rumah sakit itu benar. Lo dan Fatan beneran sudah Nikah. Dan bahkan kini lo sedang hamil" tanya Edo dengan mimik serius.
Nah loh, .....
Kini gantian Mitha yang jadi salah tingkah.
Jantung Mitha langsung berdetak kencang. Ini yang dia takutkan. Dia sudah bisa menduga, jika Edo pasti ingin membicarakan masalah kemarin. Apakah memang sudah saatnya dia jujur sama Edo, bathin Mitha sibuk bertanya.
" Mitha..... " Edo menyentuh tangannya dengan lembut.
Mitha langsung tergagap. Dia gelabakan sendiri sampai - sampai salah tingkah. Akibatnya gelas minuman milik Edo tumpah dan mengenai jas putih Edo.
" Maaf, aduh.... gue sungguh nggak sengaja, do! " kata Mitha.
Dia sungguh merasa tidak enak hati dengan kekacauan ini.
" Mitha...! Mitha.. sudah! Sudah!" . sentak Edo ketika Mitha masih saja sibuk membersihkan jas Edo yang terkena tumpahan minumannya.
" Maafkan gue.... " bisiknya lirih.
" Maaf untuk apa..? " tanya Edo.
" Untuk semuanya... juga untuk semua kekacauan beberapa hari yang lalu. Gue sungguh tak tahu harus bagaimana cara gue mengatakan semuanya sama lo. "
" Jadi semua itu benar?"
Mitha hanya mengangguk dan tertunduk karena tak kuasa menahan kesedihan yang telah lama dia pendam. Mitha menceritakan semua apa yang telah terjadi dengan dirinya. Mulai dari pemerkosaan yang dilakukan oleh Fatan terhadap dirinya pada malam pelantikan itu, hingga kemudian akhirnya dia mendapati dirinya hamil akibat perbuatan Fatan. Juga tawaran Fatan untuk menikah dan semua perjanjian pra nikah antara mereka berdua."
Edo menghela nafas kesal. Selera makannya mendadak hilang. " Mengapa lo kagak cerita dari awal, mit. Apa ini yang lo bilang sahabat..? Andai saja lo cerita semuanya dari awal, mungkin saja gue bisa bantu lo.. " Jawab Edo.
" Gue takut dan malu, do. Lagian, apa yang bisa lo lakuin buat bantuin gue. Di sini sudah jelas - jelas, kalo Fatan sudah nodai gue sampai akhirnya gue hamil. Jadi, gue nggak punya pilihan lain selain menerima tawarannya untuk menikah guna nutupin kehamilan gue. Lagi pula dia sudah berjanji akan menjamin bahwa aku bisa lanjut kuliah meskipun aku sudah berbadan dua." jelas Mitha pada Edo.
" Jadi lo mau nikah sama bajingan itu lantaran dia ngejanjiin lo masih bisa kuliah meskipun sedang hamil, gitu..?"
__ADS_1
Mitha kembali mengangguk pasrah.
Edo mengepalkan tangannya geram. Dia marah sekali setelah mengetahui alasan Mitha menikah dengan Fatan. Dia tidak terima karena Fatan dianggapnya telah merusak cita - cita dan masa depan Mitha.
" Tapi sebentar lagi kami akan bercerai... "
" Maksud lo, apa Mit..? " tanya Edo tak mengerti.
"Yah, sesuai perjanjian kami, begitu anak dalam kandunganku ini lahir, kami akan bercerai. Anak ini akan ikut Edo. Dan aku bebas untuk kembali melanjutkan kuliahku, cita - citaku." jelas Mitha lagi.
Mulut Edo terbuka lebar setelah mendengar semua penjelasan Mitha. Tanpa sadar dia bergumam. " Itu artinya sebentar lagi lo bakalan jadi jandanya Fatan..?
" Itu semua tak akan terjadi....! " sahut sebuah suara dari arah belakang mereka.
" Kak Fatan... ! " seru Mitha dengan keterkejutan yang terlihat jelas di matanya. Mata Fatan melotot dengan tangan terkepal menahan emosi.
" Kamu, istri macam apa berdua - duaan dengan laki-laki lain dan menceritakan aib suami dan keluargamu, hah..? tanya Fatan dengan sorot mata tajam.
" Aku...., aku tak bermaksud begitu. Aku hanya... "
" Hanya supaya dia bisa mengerti dan berbelas kasih padamu, lalu kamu bisa kembali merajut kasih dengannya, begitu? Jangan mimpi. Aku tak akan pernah menceraikan kamu..! "
" Tapi, ... Kak Fatan...? Kamu sudah berjanji padaku. Kita sudah membuat perjanjian tentang ini sebelum menikah."
" Maaf, aku berubah pikiran. Sekarang ayo pulang..! " Fatan langsung menarik tangan Mitha dan berlalu dari tempat itu.
" Mitha, jika kamu sudah resmi bercerai dengannya, aku bersedia menikahmu ..." kata Edo.
Mitha terdiam mendengar perkataan Edo yang tak di sangka - sangkanya. Sedangkan Fatan, emosinya langsung tersulut.
Dia berbalik dan melayangkan pukulan telak di rahang dokter muda yang ganteng itu hingga membuatnya jatuh tersungkur.
" Jangan mimpi lo mau dapetin istri gue, karena sampai mati pun gue nggak akan menceraikan dia, ngerti, lo!! "
Setelah itu, Fatan berlalu dari tempat itu sambil menarik paksa tangan Mitha yang masih saja terpaku diam tak bergerak.
__ADS_1