Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 26 Pagi Yang Manis


__ADS_3

Hari masih pagi sekali, Mitha menggeliat dan membuka matanya dan mendapati sebelah tangan melingkar erat di pinggangnya. Dirinya baru ingat jika semalam dia dengan tanpa malu-malu meminta Fatan untuk memeluknya. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa seseorang yang sedang memeluk dirinya dengan sangat posesif seolah - olah takut jika dirinya bakal hilang jika pelukan itu terlepas adalah sang suami, Fatan.


" Kau sudah bangun...?" pemilik suara serak itu membuat lamunan sesaat Mitha langsung buyar. Mitha merasa malu karena Fatan sudah melihat dirinya yang baru bangun tidur dengan jarak sedekat ini.


"Iya, Kak. Bisa tidak? Kak Fatan lepasin dulu tangannya! Aku mau ke kamar mandi. Sudah kebelet pipis, nih.. " pinta Mitha sambil mengangkat tangan Fatan yang melingkar erat di pinggangnya.


Fatan mengangkat sebelah tangannya yang melingkari pinggang Mitha dan menggeser sedikit tubuhnya agar Mitha bisa beranjak turun ke kamar mandi.


Rambut Mitha yang tergerai panjang sempat menyentuh wajah Fatan ketika cewek itu bergerak turun melewati Fatan, menebar aroma shampoo yang langsung menggoda kelelakian Fatan di pagi hari.


****...! Maki Fatan dalam hati ketika merasakan batangnya di bawah sana mulai mengeras dan membesar dan kini terasa memadati pakaian dalamnya.


Dia lelaki normal. Apalagi tidur sekamar dengan wanita yang secara hukum dan agama telah sah menjadi istrinya. Belum lagi semalam, wanita itu sudah memintanya untuk memeluk dirinya sepanjang malam hingga pagi hari.


Dan sepanjang malam juga, setengah mati Fatan berusaha menahan hasrat kelelakiannya yang terus saja bergejolak. Mitha begitu menggoda dengan segala kepolosan dan kerapuhannya.


Namun Fatan segera sadar diri. Dia tak mau, Mitha memiliki anggapan jika dirinya mencari kesempatan dalam kesempitan saat memeluk dirinya. Apalagi kemudian sampai kembali membenci dirinya, pikir Fatan lagi.


" Akhhh........ Aduh....! " Lamunan Fatan buyar seketika saat mendengar suara gaduh dari kamar mandi.


Secepat kilat dia langsung berlari mendobrak pintu kamar mandi karena panik.


" Kak....! " panggil Mitha lirih.


" Mitha, apa yang terjadi...? " Fatan bergegas memeluk Mitha yang terlihat gemetaran terduduk di sudut kamar mandi bersandar pada toilet.


Bibir Mitha terlihat pucat pasi. Terlihat beberapa bekas ceceran muntah yang masih belum disiram di dalam toilet.


" Perutku mual. Tadi aku sempat kembali mengalami morning sickness. Tapi saat muntah, perutku kembali kram dan tegang. Makanya aku panggil Kak Fatan." jawab Mitha dengan suara lemah.


Fatan membantu Mitha berdiri dan membersihkan diri. Kemudian memapah cewek itu kembali ke tempat tidur. Menyelimuti tubuh Mitha dengan selimut hangat dan bergegas turun ke bawah untuk meminta Bi Surti untuk membuatkan sarapan dan juga teh hangat untuk mereka berdua. Setelah itu dia kembali lagi ke atas, ke kamarnya.


Tak berapa lama kemudian bi Surti sudah datang membawakan sarapan buat mereka berdua tepat pada saat Fatan sudah selesai mandi dan berpakaian.


" Mitha, bangunlah, dulu. Ayo kita sarapan. Bi Surti sudah membuatkan teh manis hangat. Minumlah dulu, supaya mual dan pusing kamu bisa berkurang."


Mitha berusaha bangun dan duduk di sofa dengan dibantu Fatan. Rasa mual dan kram di perutnya sudah hilang. Sekarang hanya tinggal pusing dan lemas.

__ADS_1


" Ini, tehnya diminum dulu biar kamu merasa sedikit baikan.! " titah Fatan.


Mitha menyesap beberapa tegukan teh manis hangat buatan Bi Surti. Rasa hangat langsung menjalari seluruh tubuhnya melewati kerongkongan.


" Apakah kamu juga mau cobain bubur ayam buatan Bi Surti? "Fatan bertanya seraya menyodorkan semangkuk bubur ayam yang masih hangat lengkap dengan taburan ayam dan emping melinjo.


Komplit banget, dah. Sama persis dengan tampilan bubur ayam buatan Pakde Karso, tukang bubur ayam yang biasa mangkal di depan kampus.


Mitha langsung menerima dan melahap habis bubur yang Fatan sodorkan sampai tak bersisa. Perutnya memang sangat lapar sekali. Isi perut Mitha terkuras habis saat muntah tadi.


Dan sekarang, bayi di perut Mitha kembali lagi berbuat ulah. Sepertinya kali ini dia sangat ingin mendapat perhatian lebih dari ayahnya.


Nah, kan. Benar saja. Dia mulai berulah lagi. Perut Mitha kembali terasa kram dan sakit setelah diisi. Dasar orok nakal, nyusahin orang tua! maki Mitha dalam hati sambil meringis. Tanpa sadar tangan Mitha langsung bergerak ke perut dan menekan perutnya dengan kuat.


Rasakan,.... gue pites, lo. nyusahin banget. Dikit - dikit, lo betingkah. mana nyakitin gue lagi, ...


Hal ini rupanya tak luput dari perhatian Fatan yang sejak tadi mengunyah makanan dengan tenang.


Dia menghentikan makannya dan menatap Mitha dengan teliti.


" Perutmu sakit, lagi? " tanyanya kemudian.


Mitha mencoba bangkit dari sofa dan berniat kembali ke tempat tidur. Dia pikir rasa sakit di perutnya yang dia rasakan akan hilang sendiri jika dia bawa tidur. Lagi pula, pusingnya masih belum lagi hilang.


Fatan yang melihat Mitha bangkit dari duduknya dengan wajah yang seperti meringis menahan sakit sontak dia juga ikut berdiri. Dengan tergesa-gesa, dia menghampiri dan membantu memapah Mitha yang kini sedang berjalan tertatih - tatih menuju ke tempat tidur.


" Pelan - pelan saja..." ucapnya pada Mitha sambil membaringkan tubuh Mitha di tempat tidur. Dia mengusap perut Mitha secara perlahan-lahan.


" Sayang, jangan nakal di dalam sana, yah. Jadi anak yang sholeh dan baik. Jangan bikin mama kamu sakit...!" bisiknya di perut Mitha. "Bolehkah....?" dia sejenak mendongak ke arah Mitha. Mitha hanya mengangguk pelan dan membiarkan Fatan melakukan apa pun yang dia inginkan. Dia sudah terlalu lemah untuk sekedar marah atau berontak terhadap apa yang dilakukan Fatan.


Di dalam hati sebenarnya Mitha bersyukur. Andai saja Fatan tak memintanya cuti kuliah, maka sudah dapat dipastikan dia tak akan kuat untuk menjalani hari - harinya di kampus dan di rumah sakit nanti.


Cup....


Mitha kaget karena merasakan sentuhan lembut di perutnya. Reflek dia menoleh ke bawah. Apa yang terjadi? Terlihat Fatan sedang membungkuk di depan perut Mitha.


" Kak..... "

__ADS_1


Fatan menoleh ke arah Mitha yang kini bergerak bangun dan duduk di kasur. Wajah Mitha sedikit merona. Melihat itu Fatan menjadi gugup. Dia terlihat salah tingkah saat Mitha menatapnya dengan pandangan aneh.


" Maafkan aku. Aku hanya sedang menenangkan anak kita, agar dia tenang dan tidak mengganggu ibunya lagi."


Fatan menatap Mitha yang juga sedang menatap ke arahnya. Keduanya kini jadi saling memandang satu sama lain.


Dan lagi, Mitha kembali merutuki dirinya sendiri. Benar memang kata pepatah, apabila ada dua anak adam yang berlainan jenis berdua - duaan, maka yang ketiganya adalah setan. Entah setan mesum dari mana yang ada di antara mereka sekarang ini, yang jelas kini dua benda kenyal saling bertaut dan menyecap. Mitha memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Fatan di bibirnya.


Keduanya saling berpagut dan saling beradu ciuman. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Lidah Fatan kini sudah mengabsen setiap rongga mulut Mitha. Mitha terlena. Dirinya terhempas pasrah oleh ciuman Fatan yang entah mengapa terasa begitu memabukkan bagi diri Mitha.


Benar-benar diluar kendalinya. Mitha sendiri juga heran, mengapa dia sebegitu murahnya. Padahal walaupun rasa benci di hatinya sudah mulai berkurang terhadap diri Fatan, namun tetap saja dia tak boleh semudah itu juga menyerahkan dirinya untuk di jamah Fatan.


Tersadar oleh semua itu, mendadak Mitha menghentikan ciumannya. Wanita itu menundukkan wajahnya sambil mendorong tubuh Fatan dengan pelan.


" Maafkan aku. Aku tak bisa menahan diriku saat melihatmu..... " bisik Fatan lembut lalu beranjak menjauh dari ranjang.


Mitha tergugu. Benarkah Fatan menginginkan dirinya. Lalu bagaimana dengan dirinya yang sesaat tadi terlihat begitu bernafsu membalas setiap ciuman Fatan. Apa itu tandanya dia juga menginginkan Fatan. Atau itu hanya bawaan dari bayi yang ada di perutnya yang memang sangat ingin di belai sang ayah.


" Aku pergi dulu. Telepon aku jika kau perlu sesuatu." ujar Fatan.


Mitha hanya diam. Otaknya masih sibuk mencerna semua yang terjadi barusan.


" Mitha, kamu denger tidak apa yang aku katakan..?" Fatan menyentuh bahu Mitha agar cewek itu berhenti melamun.


" Eh, iya kak... " Mitha tergagap dan menoleh ke arah Fatan.


"Ya udah, aku pergi dulu." Fatan kemudian meraih tas dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja.


" Kak... " panggil Mitha. Cewek itu kemudian turun dari ranjang dan berjalan menghampiri Fatan. Dengan ragu dia meraih tangan Fatan yang menenteng tas.


Fatan keheranan dengan tingkah Mitha. Apa Mitha melarangnya pergi ke kampus? Tapi Mitha seolah tak peduli apa yang ada di pikiran Fatan. Dia kemudian mencium punggung tangan cowok itu, membuat Fatan langsung melongo.


"Hati-hati, ya kak." ucap Mitha kemudian berbalik pergi meninggalkan Fatan yang masih terus melongo.


" Eh, Mitha tunggu...! " Fatan tersadar dari bengong dan berjalan menghampiri Mitha.


" Kamu juga, jaga diri di rumah, yah. " ucapnya, tapi kaku dan canggung. Lalu...

__ADS_1


Cup.....


Fatan mengecup kening Mitha dan setelah itu buru - buru melangkah pergi keluar kamar. Dia merasa sangat malu karena baru kali ini tangannya dicium orang. Dan orang yang menciumnya adalah Mitha.


__ADS_2