
"Bajingan....! "
Bug.... Bug..... Bug
" Agra... ?? "
Benarkah pendengarannya.
Antara sadar dan tidak Gadis melihat Agra yang datang menolong dirinya. Dia melihat cowok itu menghajar lelaki yang menyerang Gadis hingga lelaki itu kemudian mengurungkan niatnya untuk menggagahi Gadis dan memilih kabur.
Setelah itu, Gadis sudah tak ingat apa - apa lagi.
Gadis membuka mata dan mendapati dirinya berada di dalam ruangan yang serba hijau. Bau obat - obatan begitu kuat tercium. Gadis merasa asing dengan tempat ini.
" Ahh.... aduh....?" erang Gadis saat merasakan sakit di perutnya. Dia meraba perutnya yang kini sudah terbalut perban.
" Dokter Gadis, kau sudah sadar..? Syukurlah...kamu akhirnya berhasil melewati masa kritis dan sekarang sudah sadar. Kamu memang cewek yang tangguh... " Kata dokter Ahmad.
" Dokter Ahmad..!" seru Gadis tertahan. Dia mengenali orang yang baru saja menyapanya.
Dokter Ahmad adalah dokter bedah umum senior. Dia yang kebetulan bertugas di rumah sakit tempat Agra membawa Gadis yang terluka parah akibat tusukan pisau dari orang yang tak dikenal yang menerobos masuk dan berniat menggagahinya.
Dia amat terkejut saat mengenali korban penyerangan dan penusukan itu adalah Gadis, adik tingkatnya.
Segera saja dia turun tangan langsung untuk menyelamatkan nyawa yuniornya yang sekarat karena kehilangan banyak darah.
" Dokter, siapa yang membawa saya kemari..? " tanya Gadis. Dia berusaha untuk mengingat - ingat kembali kejadian yang dia alami. AGRA...
Gadis ingat benar bahwa terakhir yang dia dengar adalah suara Agra. Tapi apa mungkin orang yang menyelamatkan dia saat itu adalah Agra. Bukankah Agra tak bisa berjalan. Atau jangan - jangan itu adalah Gara.
Tapi suara itu..
Gadis tak mungkin salah..
Dia hapal sekali suara Agra.
Suara Agra dan Gara berbeda walaupun mereka kembar identik.
Gadis menjadi penasaran siapa orang yang menolongnya. Agra....?
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain. Seseorang lelaki masuk ke sebuah apartemen dengan tertatih - tatih. Kakinya sebelah kirinya terlihat pincang. Dia mengumpat saat tak sengaja kakinya yang sedang sakit malah membentur meja yang terletak di tengah-tengah sofa.
" Sial, Aghh....kaki..ku." makinya sambil berjalan dengan sebelah kaki diangkat ke atas.
Dia mengutuk lelaki yang telah membuatnya seperti sekarang ini.
" Kurang ajar, lelaki itu telah memukul kakiku dengan tongkat baseball miliknya. Aku harus membuat perhitungan dengannya."
Dia lalu membuka kain penutup kepalanya sehingga wajahnya yang lebam dan membiru itu terlihat jelas. Dia meringis ketika meraba pipi dan sudut bibirnya.
" Huh, Gadis. Aku hampir mendapatkan cewek itu. Tapi keburu ada yang datang... Siapa laki - laki itu? "
" Axel..!"
Seseorang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar itu dan mendapati dirinya yang sedang duduk di sofa dengan keadaan yang menyedihkan.
" Apa yang terjadi. Mengapa kamu sampai babak belur begini...? " tanya orang itu yang tak lain adalah Arumi.
" Semuanya karena lelaki keparat itu. Kenapa dia datang di saat aku hampir mendapatkannya. Agrrhhh.... kakiku. Sakit sekali, Arumi..!"
Arumi mengernyitkan kedua alisnya. "Tunggu dulu! Apa maksud ucapanmu, Axel..? " tanya Arumi." Jangan bilang dia yang kau maksud adalah Gadis."
Axel memandang ke arah Arumi dengan tatapan dingin. "Gadis, dia bisa merusak rencana kita, rencanaku untuk mendapatkan Mitha. Sebenarnya aku ingin menghabisi Gadis saat itu, tapi gagal karena ada seseorang yang menyelamatkan dirinya. Kemudian, aku punya rencana lain dengan Gadis.. Sayangnya, kembali gagal karena lagi - lagi ada seseorang yang menolongnya. Bukan itu saja, orang itu berhasil melukai aku. Hasilnya... seperti yang kau lihat saat ini... " jelas Axel.
Dia lalu menceritakan kepada Arumi bagaimana beberapa bulan yang lalu dia bermaksud ingin menabrak Gadis namun keburu diselamatkan oleh seseorang. Dan kini, dia bermaksud ingin mencelakakan Gadis, namun hal serupa terulang kembali. Dia keburu ketahuan. Sehingga dia pun babak belur seperti sekarang ini.
Arumi tercengang mendengar penuturan Axel. Astaga.... sepupunya itu berbuat sampai sejauh ini. Dia jadi bergidik ngeri saat membayangkan hal yang terjadi seandainya benar - benar terjadi Gadis tertabrak mobil Axel.
Sepupunya benar-benar sudah tidak waras. Gara - gara obsesinya pada seorang wanita, sampai rela melakukan segala cara. Bahkan sampai harus melukai dan mencelakakan orang lain.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang juga. Kamu harus mendapatkan perawatan. Luka di kaki kamu itu bisa mengalami infeksi atau barangkali lebih parah lagi. Bisa saja cedera.. "
" Tidak... aku tidak mau ke rumah sakit. Aku tak ingin ada orang yang tahu.. Bisa jadi sekarang mereka sedang menyelidiki kasus ini. Aku tak ingin tertangkap dan membusuk di penjara. Kau harus menolongku, Arumi... "
"Iya, aku memang akan menolongmu. Makanya aku mau membawa kamu ke dokter. Kamu harus mendapatkan perawatan medis. Aku lihat, lutut kirimu cedera. Apa kau mau menjadi cacat.. "
" Tidak... aku tidak mau.. " Axel menggelengkan kepala. " Begini saja, kamu carikan aku obat penahan sakit dan anti biotik serta perban elastis. Kalau perlu tolong carikan juga kruk. Karena untuk beberapa hari ini aku perlu barang - barang itu."
__ADS_1
Arumi tak bisa bicara lagi. Axel memang begitu. Sepupunya itu adalah orang yang sulit dibantah.
Dengan bersungut-sungut, Arumi akhirnya pergi juga ke apotek untuk mencari obat dan barang - barang yang dibutuhkan Axel. Namun sayangnya, untuk anti biotik, tidak ada yang dijual bebas. Terpaksa dia harus mendapatkannya di toko penjual obat pinggir jalan.
Seorang Agra sedang menatap ke arah ruang lain. Dari ruangan tempat dia sekarang ini berada, dia bisa melihat seseorang yang selama ini dia rindukan namun tak mampu dia dekati karena sesuatu hal.
Jari - jemarinya terkepal saat mengingat kejadian malam itu.
Entah mengapa, malam itu dia merasakan sangat gelisah.. Dia selalu teringat akan Gadis. Instingnya mengatakan bahwa dia harus segera pergi ke rumah cewek tomboy itu.
Diapun akhirnya mengajak sopir pribadinya untuk pergi ke rumah Gadis. Karena dia belum mampu berjalan sepenuhnya.
Benar saja, saat sampai di rumah Gadis, dia mendengar suara gaduh yang berasal dari dalam rumah.
Segera saja dia menyuruh sopir pribadinya untuk mendobrak pintu rumah Gadis.
Darahnya mendidih saat melihat seseorang sedang berusaha untuk melecehkan Gadis, wanita yang menjadi pujaan hatinya.
Hingga tanpa sadar dia berdiri dan menerjang lelaki tersebut dengan tongkat baseball yang tadi sempat dia ambil dari dalam mobil.
Laki-laki itu tak berkutik saat di serang membabi buta oleh Agra. Pada satu kesempatan dia berhasil meloloskan diri dan kabur di kegelapan malam.
"Gadis....Demi Tuhan, Gadis. Bertahanlah...! " ucap Agra cemas.
Gadis tak dapat bertahan lagi lebih lama lagi. Tubuhnya semakin lemah karena karena telah kehilangan banyak darah.
" Andra... cepat kemari dan bantu aku membawa Gadis ke rumah sakit sekarang juga...! " teriaknya pada Andra, supir pribadi sekaligus sahabatnya itu.
Dengan susah payah, Agra bangkit dan berdiri. Dengan dibantu Andra, dia berusaha untuk mengangkat tubuh Gadis lalu membawa tubuh cewek itu ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
" Tuan, saya sudah menyelidiki semuanya. Juga mengenai hal yang anda minta, sudah saya laksanakan. Ini berkas penyelidikannya... " kata pria itu seraya menyerahkan satu amplop coklat besar kepada Agra.
Agra menerima amplop coklat itu dengan wajah cerah. " Terima kasih, Pak. Nanti akan saya transfer seperti biasa... "
Orang itu mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tempat Agra berada.
" Sekarang kita lihat, siapa orang yang berada dibalik semua ini, Gadis... "
__ADS_1
?
?