
" Gadis.....jangan pergi."
Agra rupanya mengigau dan menyebut nama Gadis dalam tidurnya.
Hati Gadis terasa dicubit. Kerongkongannya mendadak kering. Mengapa rasanya sangat sakit, setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Kini, mendengar Agra mengigau memanggil namanya. Semakin besar rasa bersalah di hati Gadis kepada cowok yang sedang terbaring itu. Sebegitu rindunya kah kau padaku, Agra ...
Gadis menyeka air mata yang diam - diam hadir di sudut matanya. Dia memeriksa keadaan Agra untuk memastikan tindakan yang tepat bagi cowok itu.
Setelah memeriksa, Gadis menyadari ada yang tidak beres dengan keadaan Agra. Dia pun memutuskan untuk menelpon dokter Rendi. Namun berkali-kali dihubungi, handphone dokter Rendi tidak aktif.
Gadis menjadi gelisah. Apa sebaiknya dia membawa Agra ke rumah sakit saja untuk ditangani lebih lanjut. Dia sedikit khawatir karena Agra mengalami demam yang tinggi sampai mencapai empat puluh derajat. Pantas saja tubuh pemuda itu menggigil.
Baiklah, jika dalam waktu setengah jam lagi dokter Rendi tidak menjawab telepon dariku, maka aku akan membawa Agra ke rumah sakit, pikir Gadis.
Gadis pun kini memilih mendekati dan duduk di sebelah ranjang cowok itu.
Dia mencoba untuk membangunkan Agra.
" Agra... bangunlah. Aku di sini. " kata Gadis mencoba untuk berbicara dengan cowok itu. Walaupun lirih dan nyaris tak terdengar. Gadis berharap, Agra mendengar. Dan ternyata harapan Gadis terkabul, Agra mendengarnya.
Perlahan-lahan, Agra membuka matanya. Dia melihat Gadis. Apakah dia sedang bermimpi melihat Gadis yang duduk di samping tempat tidurnya. Kalau ini cuma mimpi, mohon jangan bangunkan aku, Tuhan, do'a Agra dalam hati.
Gadis belum menyadari jika Agra sudah terbangun. Dia masih duduk dengan kepala tertunduk dan tangan yang menutupi wajah.
" Gadis.... " panggilnya lirih.
Dia berharap jika panggilannya dijawab berarti ini bukan mimpi.
Gadis tersentak dan berpaling menatap Agra. Namun bibirnya kelu untuk berucap. Masih terlalu canggung baginya untuk memulai percakapan ini. Dirinya mendadak menjadi serba salah berhadapan dengan cowok ini. Terlebih setelah dia mengetahui semuanya.
"Gadis, kau datang..? " kembali suara Agra menyapanya.
" Iya, ini aku. Gara tadi menghubungi aku dan mengabarkan keadaanmu. Katanya kamu demam dan tubuhmu menggigil. Apa kamu tidak meminum obat yang diberikan oleh dokter Rendi?" tanya Gadis pada Agra.
Agra menggelengkan kepala. Sejak dahulu, dia memang malas kalau disuruh minum obat. Apalagi obat yang berbentuk tablet dan rasanya pahit.
Namun, tak urung dia tersenyum juga. Akhirnya Gadis datang juga, pikir Agra. Apa mesti sakit dulu baru cewek itu datang menemuinya. Jika demikian, maka dia rela sakit terus asal saja Gadis mau datang menemuinya.
" Aku tak biasa minum obat. Apalagi yang rasanya pahit." kata Agra kemudian.
Gadis menghela nafas kesal. Nih orang, kenapa ada manusia segede ini masih takut minum obat.
" Makanya kamu sakit. Sebenarnya obat itu harus anda minum, tuan Agra. Sesuai pesan Dokter Rendi kamu harus meminum obat yang dia resepkan untukmu tiga kali sehari. Dia pasti sudah menduga kalau ini bakal terjadi.... " omel Gadis.
Agra terdiam mendengar omelan Gadis. Baginya, omelan Gadis bagaikan irama lagu yang merdu terdengar di telinganya. Sehingga dia betah saja mendengarkan Gadis mengomel.
Merasa tak ada tanggapan dari Agra Gadis menghentikan ocehannya. Dia
lalu bangkit dan menyimpan kembali peralatan medisnya.
" Sepertinya, kedatangan saya percuma. Anda terlalu keras kepala bahkan hanya sekedar untuk mematuhi aturan minum obat saja anda sudah mengabaikan hal itu... " kata Gadis seraya hendak berlalu meninggalkan kamar Agra.
" Baiklah, aku mau meminum obatnya. Mana, berikan padaku..... " kata Agra.
Mata Gadis melotot ke arah Agra. "Jangan bercanda, tuan Agra pasti lebih tahu dimana tuan meletakkan obat itu. "
Agra menepuk jidatnya. Tentu saja Gadis tidak tahu dimana dia menaruh obatnya. Gadis kan, tidak tinggal di sini. ( Ngarep ya Mas, sabar..... belum saatnya).
Agra pun memberitahukan letak obat itu. Rupanya dia menaruhnya di laci nakas di atas tempat tidurnya.
Tangan Gadis bergerak ke arah laci nakas yang berada persis di atas kepala Agra. Karena sulit menjangkau, secara tak sengaja, tubuh Gadis jatuh persis di atas tubuh Agra. Gadis menjadi panik dan gelagapan. Semakin dia panik, karena Agra bukannya Menghindar, malahan cowok itu membiarkan saja tubuhnya di timpa Gadis.
Tangan Agra kini terulur memegang tengkuk Gadis. Menahan kepala cewek itu agar tidak bangun.... dan dengan perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Gadis..
Gadis terkesima. Untuk sesaat dia terhanyut dalam pesona tatapan mata elang Agra yang menembus sampai ke relung hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Dua benda kenyal itu bertemu sesaat. Hanya sesaat. Sebab akhirnya Gadis tersadar dan buru - buru melepaskan diri.
" Maaf, .... " kata Gadis. Dia lalu berjalan ke meja dan mengambil air mineral lalu memberikannya pada Agra agar cowok itu bisa meminum obatnya.
Keduanya menjadi canggung. Agra nampak serba salah. Dia mengambil air minum dan obat di tangan Gadis dan meminumnya dengan mata terpejam. Gayanya persis seperti anak kecil yang meminum obat.
Gadis yang melihat hal itu rasanya ingin tertawa, tapi dia menahan dirinya untuk tidak tertawa.Dia takut Agra akan marah. Baru kali ini dia melihat orang dewasa yang minum obat seperti anak kecil. Lucu sekali...
Setelah minum obat, Gadis meminta Agra untuk beristirahat. Sementara dia pamit untuk pulang, karena hari sudah malam.
Agra berniat untuk mengantar Gadis, tapi Gadis dengan tegas menolaknya. Dia bisa pulang sendiri. Dan lagi pula kondisi Agra belum pulih benar.
Sebelum pulang, Agra masih menyempatkan diri bertanya.
' Gadis, apakah kamu marah kepadaku atas kejadian tadi.... "
Gadis hanya terdiam mendengar pertanyaan Agra. Dia juga sedang meneliti isi hatinya. Otaknya sedang mencerna tentang momen yang baru saja terjadi. Mengapa dia diam saja ketika Arga menyentuhnya. Bahkan, dirinya tak menolak ketika Agra menciumnya. Apakah memang benar, bahwa yang dia cintai itu Agra dan bukan Gara.
Sedangkan Agra mengira diamnya Gadis adalah karena cewek itu betulan marah atas kejadian tadi.
Dia sungguh menyesal, mengapa dia melakukan itu. Dia lupa, kalau Gadis menganggap dirinya Agra, bukan Gara. Cowok yang dia cintai..
...----------------...
Sementara itu, Fatan baru saja pulang dari rumah sakit. Dia langsung pulang ke rumah orang tuanya karena saat ini istri dan anaknya sedang berada di sana.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam ketika Fatan tiba di kediaman orang tuanya. Dia langsung mendatangi istrinya dan anaknya yang berada di kamar pribadinya. Dilihatnya Mitha sedang tertidur bersama Kenan. Dia jadi tak tega untuk membangunkan Mitha. Dia lalu keluar untuk menemui papanya di ruang kerja.
"Duduklah....! " kata papa begitu Fatan sudah berada di ruang kerjanya. Papanya memandang Fatan dengan pandangan menyelidik.
Fatan duduk di kursi di depan meja kerja papanya.
" Fatan, sebelumnya papa mau tanya, apakah kamu memiliki musuh di luar sana?" tanya Papa Bram setelah beberapa saat terdiam.
Fatan berpikir sejenak. " Entahlah, Pah. Dalam dunia usaha, kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada rekan bisnis kita. Bisa saja rekan bisnis kita berkhianat. Siapa tahu....ada yang tidak suka dengan Fatan." jawab Fatan.
Papa Bram terlihat menghela nafas sebelum melanjutkan pembicaraan.
" papa paham, tapi apa kamu sudah memikirkan dampak untuk Mitha... "
" Apa maksud perkataan papa...? Bisnis aku tak ada sangkut pautnya dengan Mitha. Mengapa jadi membawa - bawa istriku segala dalam masalah ini..." Kata Fatan dengan nada kesal.
" Lalu ini apa, tolong kamu jelaskan pada Papa..." tanya papa Bram seraya melemparkan beberapa foto ke arah Fatan.
Mata Fatan terbelalak tak percaya. Ada beberapa lembar foto Mitha dengan berbagai pose. Tapi semua foto itu di potong pada bagian kepala. Apa maksud semua itu.....
Namun dia juga heran, dari mana papanya mendapatkan semua foto - foto ini.
Fatan tercekat menatap semua foto - foto itu. "Apa maksud semua ini, pah?" tanya Fatan gusar.
Seseorang sedang mempermainkan dirinya. Namun permainan ini telah melibatkan Mitha, istrinya. Tidak, dia tidak terima. Dia tidak terima jika seseorang mengusik keluarganya. Darahnya mendidih seketika. Sialan, siapa orang yang telah melakukan hal itu.
" Itulah yang ingin papa tanyakan. Apa bisnis yang sedang kamu jalankan?" tanya papa seraya menunjuk pada foto - foto Mitha yang kita sudah berserakan di atas meja kerja papanya.
" Papa tahu pasti tentang bisnis yang kujalankan. Dan semua itu tidak ada yang ilegal. Sekarang aku mau tanya, dari mana papa mendapatkan foto - foto ini..?" tanya Fatan lagi.
Dia heran, mengapa orang itu tidak mengirimnya langsung kepada dirinya.
Tapi kenapa justru kepada papanya.
" Seseorang mengirimkannya kepada papa beberapa hari yang lalu.." jawab papa Bram.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Orang ini harus di beri pelajaran, pah.. "
" Papa setuju dengan kamu. Tapi masalahnya, apa kau tahu siapa orang yang mengirimkan semua itu...??"
__ADS_1
Fatan terdiam.... papanya memang benar. Dia tak tahu siapa yang telah mengirimkan foto tersebut. Bisa jadi salah satu kolega bisnis papanya atau dirinya.
" Sebaiknya, kita selidiki dulu hal ini. Kita jangan gegabah dalam mengambil langkah kalau tidak ingin Mitha celaka. Bisa saja, itu adalah orang terdekatnya Mitha... "
" Baik, pah...Fatan juga akan menugaskan beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga Mitha."
" Bagus, kerjakan dengan rapi. Ingin, jika sampai kenapa - napa dengan menantu dan cucunya papa, maka kamu adalah orang yang paling bertanggungjawab atas jalur ini... " kata Papanya.
Fatan hanya mengangguk. Dia masih merasa gusar terkait perihal foto - foto tersebut.
" Sebaiknya, jangan dulu memberitahukan masalah ini sama Mitha. Takutnya dia menjadi cemas dan ketakutan. Nanti malah berdampak pada Kenan." kata Papa pada Fatan.
" Tentu saja. Fatan juga tak ingin istri Fatan stress karena masalah ini." jawab Fatan.
" Ok, papa percaya padamu... "
" Terima kasih, pah.. "
" Ngomong - ngomong, kapan menantu papa dibelikan mobil? " tanya Papa Bram pada Fatan.
" Kalau masalah itu, sudah beres, Pah. Tinggal dikirim pada saat hari H nya. Fatan mau ini jadi kejutan pada hari jadi pernikahan kami nanti." jawab Fatan.
Papa tersenyum mendengar Fatan begitu bersemangat membicarakan kejutan untuk sang istri.
"Baiklah, kita lihat saja nanti.... " kata papa sambil melirik Fatan. Dia kini bersiap hendak pergi ke kamarnya. Istrinya pasti sudah menunggu di sana. Walaupun sudah tua, tapi untuk urusan yang satu itu, papa Bram tidak pernah melewatkan satu kesempatan pun.
...----------------...
Malam semakin beranjak Larut. Sebagian orang sudah terlelap dan terbuai dalam mimpi. Tapi ada segelintir manusia yang masih aktif beraktivitas. Salah satunya, adalah dokter Edo dan Queen. Kini keduanya sedang berada di tepi pantai. Menikmati keindahan pantai pada malam hari.
Sebenarnya, Queen sudah menolak untuk pergi ke tempat ini. Dia beralasan bahwa hari sudah malam. Tapi, dasar memang Edo tukang paksa, maka akhirnya Queen terpaksa mengikuti kemauan Edo walaupun dengan berat hati.
Baru saja Queen ingin duduk di atas batu karang yang terdapat di pinggir pantai itu, mendadak tangannya seperti menyentuh sesuatu. Seperti benda, dengan tekstur licin dan basah.
Sontak dia menjerit dan reflek dia memeluk Edo. Edo yang tak menyangka akan di peluk Queen menjadi hilang keseimbangan dan jatuh. Maka Queen juga yang sedang memeluk Edo ikut pula jatuh. Keduanya jatuh berguling di pasir dan saling berhimpit.
Belum hilang rasa kaget karena jatuh, mereka dikagetkan lagi dengan teriakan dari arah belakang mereka.
Rupanya ada beberapa satpol PP yang sedang bertugas di sekitar pantai itu. Mereka menyangka Edo dan Queen melakukan perbuatan tak senonoh di tempat itu.
Edo dan Queen digiring ke kantor satpol PP dan mereka di interogasi di sana..
Mereka sudah menceritakan yang sebenarnya dan mati - matian menyangkal perbuatan yang tidak mereka lakukan, namun satpol PP itu tetap tidak percaya.
Bahkan, Edo sampai mengeluarkan KTP dan kartu yang menyatakan bahwa dirinya adalah dokter. Namun tetap saja mereka tak percaya.
" Masnya ini dokter, koq mau berbuat mesum di tempat ini. Apa tidak ada tempat lain? " kata salah seorang satpol PP tersebut.
Edo sangat geram mendengar tuduhan itu. Dia ingin maju dan meninju wajah anggota satpol PP yang telah menghinanya. Namun Queen keburu mencegahnya.
Akhirnya, seorang satpol PP tersebut lalu menghubungi kedua orang tua mereka.
Kini, kedua orang tua dari Edo dan Queen sudah berada di kantor satpol PP. Mereka heran, mengapa Edo dan Queen sampai berada di tempat ini.
Edo dan Queen lalu menceritakan semuanya. Mengapa mereka sampai di bawa ke kantor satpol PP. Mendengar cerita Queen dan Edo, sontak kedua orang tua mereka tertawa terbahak-bahak. Kini mereka paham, mengapa Queen dan Edo sampai di tahan oleh satpol PP.
Karena orang tua Edo adalah keluarga terpandang dan terhormat. Mereka tak memperpanjang masalah ini. Mereka pada akhirnya menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.
Di hadapan kedua orang tua Queen dan Edo, mereka dinikahkan secara siri.
Maka kini Edo dan Queen resmi menjadi suami istri.
Queen masih belum mempercayai, bahwa kini dia dan Edo sudah menjadi pasangan suami istri.
Sedangkan Edo, cowok itu nampak tenang - tenang saja. Justru dia tertawa sambil berkata bahwa malam ini adalah malam yang paling berkesan dalam hidupnya.....
__ADS_1
Queen merasa gondok setengah mati.