Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 62 Agra Kecelakaan


__ADS_3

Gadis menjejakkan kaki di pelataran parkir dekat kampus. Hari ini dia ada janji dengan profesor Haryo untuk menyerahkan laporan. Profesor berambut klimis itu mengatakan bahwa pagi - pagi sekali dia sudah harus menyerahkan laporan tersebut, karena siang harinya Professor Haryo ada seminar.


Jika dia tidak menyerahkan laporan tersebut maka dia tidak akan ikut serta dalam ujian akhir. Dan cita - citanya jadi dokter bakalan terancam gagal.


Sedang asyik berjalan, tanpa sengaja, pandangan matanya tertuju pada seseorang.


Itu bukannya Axel...?


Cowok yang diperkenalkan Mitha pada Gadis beberapa hari yang lalu.


Tapi tunggu dulu...


Siapa cewek yang terlihat sedang berbicara bersamanya. Kayaknya kenal.


Mata Gadis membulat sempurna saat melihat lebih dekat dan mengenali siapa lawan bicara Axel. ARUMI ...


Tepat pada saat itu Arumi juga melihat ke arah Gadis. Namun Gadis pura - pura tidak melihat dan bergegas berjalan melewati keduanya.


"Axel, sepertinya Gadis telah melihat kita berdua. " kata Arumi. Dia jadi khawatir jika Gadis akan melaporkan apa yang dia lihat kepada Mitha. Tentu saja Mitha tak boleh sampai tahu kalau dia dan Axel ada hubungan darah. Bisa gawat nantinya.


" Tenanglah Arumi, aku akan membereskan masalah Gadis. Sekarang kamu fokus saja sama tujuan kita semula. Lagi pula, aku juga harus mendapatkan Mitha bagaimana pun caranya. .. " kata Axel. Sorot matanya berkilat aneh dan terlihat mengerikan


Diam - diam Arumi bergidik ngeri.. Terlebih saat melihat Axel yang menatap ke arah Gadis. Tatapan mata Axel seolah mengisyaratkan sesuatu. Tapi Arumi tak tahu apa itu.


Semoga saja Axel tidak kambuh lagi, doa Arumi dalam hati.


...****************...


Hari sudah sore ketika Gadis memutuskan untuk pulang ke Kosan saja. Hari ini Dia off sampai besok pagi. Tapi rencananya besok pagi dia ada janji dengan dokter Rendi untuk datang ker rumah Agra untuk sesi kedua.


Gadis sudah bersiap - siap hendak meninggalkan ruang kerjanya saat handphonenya yang masih tergeletak di atas meja berbunyi.


drettt... drettt


Sebuah panggilan telepon dari nomor tak dikenal masuk melalui handphone miliknya. Kening Gadis berkerut tanda dia tak mengenal nomor tesebut. Nomor siapa sih, pikirnya.


" Halo... " kata Gadis.. Dia memutuskan untuk mengangkat telepon itu karena siapa tahu itu nomor dari seseorang yang dia kenal. Dan kali aja ada sesuatu yang penting.

__ADS_1


Tak ada Jawaban..


Lalu sipenelpon memutuskan telepon secara sepihak.


Gadis mengangkat bahu heran. Namun dia tak ambil pusing. Kali aja orang salah sambung...


Handphone Gadis kembali berbunyi beberapa saat kemudian. Gadis melihat nomor yang sama yang tadi menghubunginya.


Biasa saja...Gadis kembali mengangkat telpon tersebut.


" Halo, dokter Gadis disini..Dengan siapa saya bicara..? " tanya Gadis


Kali ini kembali telepon diputuskan secara sepihak.


Gadis kesal karena merasa dipermainkan. Dia sudah berbicara sopan tapi malah dimatikan.. Ada saja orang yang seperti itu, pikir Gadis.


Gadis pun melanjutkan langkah keluar dari ruang kerjanya. Kembali handphone Gadis berdering. Namun kali ini Gadis memilih untuk tidak mengangkat handphonenya. Dia biarkan saja handphonenya berdering beberapa kali. Setelah itu dia berinisiatif untuk menonaktifkan handphonenya.


Klik...


Handphone Gadis kini mati.


Sementara itu, seseorang tampak sedang uring-uringan saat Gadis mematikan handphonenya. Kesal dia membanting berkas yang ada di tangannya hingga isinya berserakan jatuh di mana - mana.


Arga kesal setengah mati...


Saat ini, Agra yang sedang di ruang kerjanya bermaksud hendak menelpon Gadis. Dia ingin memberitahu Gadis bahwa dirinya sudah mampu berjalan meskipun hanya beberapa langkah saja tapi sudah tak menggunakan bantuan tongkat lagi.


Namun, setelah di telepon berkali-kali tak diangkat oleh Gadis dan malah akhirnya telepon di matikan. Tentu saja Agra menjadi gondok setengah mati.


" Sial... kenapa Gadis mematikan ponselnya.. Tidak biasanya Gadis mematikan ponselnya. Ada apa, ya? " tanya Agra dalam hati.


Pikiran Agra jadi tidak enak. Apakah Gadis marah padanya. Tapi apa salahnya...?


Karena kesal Gadis mematikan ponselnya sehingga dia tidak bisa menghubungi cewek itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menyusul Gadis. Dia ingin tahu kenapa Gadis mematikan telepon saat dia mencoba menghubungi cewek itu.


Gadis kini sudah berada di parkiran. Dia bermaksud hendak berjalan mendekati mobilnya yang terparkir agak jauh dari mobil - mobil yang lain. Tiba-tiba saja terlintas keinginan Gadis untuk membeli nasi goreng yang berada di seberang rumah sakit. Dia berpikir untuk makan nasi goreng saja sesampainya dia di kosan nanti.

__ADS_1


Akhirnya dia pun membelokkan arah menuju ke halaman rumah sakit untuk membeli nasi goreng yang ada di seberang.


Nasi goreng yang ada di depan rumah sakit itu memang terkenal lezat. Walaupun merek kaki lima, namun rasanya tak kalah dengan nasi goreng yang ada di rumah makan atau restoran. Untuk itulah, Gadis kerap memesan nasi goreng di situ untuk bekal makan malamnya. Lumayan, murah meriah...


Cukup lama Gadis menunggu hingga pesanan nasi gorengnya selesai di buat. Setelah membayar pesanannya, Gadis pun bermaksud untuk kembali.


Saat melintas di sisi jalan, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan tinggi dan hendak menabrak Gadis.


Gadis tak sempat lagi menghindar. Sepersekian detik berikutnya sebuah tangan mendorong tubuh Gadis hingga jatuh ke belakang..


Gadis menjerit... dan detik berikutnya


yang terjadi adalah..


Brughh.....


Mobil itu menabrak tubuh seseorang. Tapi bukan tubuh Gadis...


Setelah menabrak, mobil tersebut bukannya berhenti tetapi malah buru - buru kabur meninggalkan tempat kejadian.


Orang - orang berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian dan bermaksud menolong korban.


Gadis terbelalak tak percaya setelah mengenali bahwa yang menolongnya barusan rupanya adalah Agra..


Agra datang tepat di saat Gadis selesai membeli nasi goreng. Dia bermaksud untuk menghampiri dan menyapa Gadis yang dilihatnya hendak menyeberang.


Namun tiba-tiba saja dilihatnya dari kejauhan ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan hendak menabrak Gadis. Sontak saja, Agra jadi panik dan tanpa pikir panjang Agra berjalan cepat meskipun dengan tertatih - tatih untuk menyelamatkan Gadis. Tepat saat mobil itu hendak menyentuh tubuh Gadis, Agra sampai di tempat Gadis dan langsung mendorong tubuh Gadis. Tubuh Gadis terdorong dan jatuh ke trotoar sebagai gantinya, tubuh Agra yang ditabrak mobil. Karena Agra tak sempat lagi mengelak.


'Agra....! " jerit Gadis histeris. Tubuhnya gemetar memeluk tubuh Agra yang sudah berlumuran darah. Dia masih tak Mempercayai apa yang baru saja terjadi. Agra mengorbankan diri demi untuk menyelamatkan dirinya. Tanpa terasa air mata Gadis jatuh membasahi pipinya yang sebagian sudah berwarna merah karena darah Agra.


Polisi yang datang ditempat kejadian tak berhasil mengidentifikasi mobil yang menabrak Agra. Tubuh Agra kemudian dilarikan ke rumah sakit yang kebetulan berada di depan TKP untuk mendapatkan pertolongan.


" Agra, bertahanlah. Aku mohon. " pinta Gadis pada Agra . Dia yang mengantar dan menemani Agra di rumah sakit. Air matanya sedari tadi tak mau berhenti mengalir.


Dia sangat mencemaskan keadaan Agra. Tiba-tiba saja, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya hadir menghampiri dirinya. Perasaan takut akan kehilangan. Dia menjadi takut kehilangan Agra untuk yang kedua kalinya.


Sementara itu, supir pribadi Agra segera menghubungi pihak keluarga Dewantara untuk mengabari tentang kejadian yang menimpa Agra. . Kebetulan yang mengangkat telepon adalah Gara.

__ADS_1


Gara sangat shock menerima kabar tersebut. Dia pun segera menyusul Agra ke rumah sakit setelah memberitahu papa dan mamanya yang ada di Australia terlebih dahulu.


__ADS_2