Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 42 Kelahiran prematur


__ADS_3

Pukul 06.00 pagi, tetapi Gadis sudah siap sejak tadi di ruangan dokter Rendi. Hari ini sesuai jadwal tepat pukul delapan nanti, dia bersama dokter Edo akan bersama - sama mendampingi dokter Rendi untuk melakukan operasi pemasangan pen pada pasien patah tulang paha dan betis.


Menurut perkiraan Gadis, sepertinya operasi akan berjalan cukup lama. Mungkin kurang lebih dua jam. Sekarang baru pukul 06.00, masih lama, pikirnya. Akhirnya dia pun berinisiatif untuk mencari sarapan saja di kantin.


Sesampainya di kantin, Gadis langsung memesan soto ayam dan sebotol kecil air mineral untuk pasokan energinya pagi ini. "Hari ini jadwal gue padat banget", keluhnya saat melirik jadwal kegiatannya hari ini melalui handphone.


Dia memang selalu menyimpan jadwal kegiatan di benda kecil tipis segi empat itu dengan alasan mudah dan praktis di bawa kemana - mana.


Tak lama kemudian, pesanannya pun tiba. Dengan semangat dia langsung menyantap soto ayam yang sudah tersaji di hadapannya.


Sedang asyik - asyiknya makan, seorang cewek tiba-tiba muncul di hadapannya. Cewek itu langsung bertanya kepada Gadis.


"Hai, kamu pasti yang bernama Gadis, kan?"


Gadis menghentikan makannya dan menatap heran pada cewek itu. Dia merasa tidak mengenal cewek itu.


"Maaf, sepertinya saya tidak mengenal anda. Darimana anda tahu nama saya?" tanya Gadis heran.


" Dari kak Gara... " jawab cewek itu singkat.


Deg, ...


Jantung Gadis serasa berhenti saat cewek itu menyebutkan nama Gara. Astaga, kenapa lagi dia harus diingatkan akan nama itu.


Gadis memandang ke arah cewek itu. Dia ingat sekarang. Bukankah cewek itu adalah cewek yang sama yang pernah dilihatnya dulu bersama Gara.


Mendadak Gadis kehilangan selera untuk melanjutkan sarapannya. Dia ingin secepatnya menyingkir dari hadapan cewek itu. Dia memang paling malas jika harus kembali berhubungan dengan masa lalu yang sangat ingin dia lupakan.


"Maaf, anda salah orang. Saya tak kenal dengan orang yang bernama Gara...!" jawabnya ketus.


Gadis meraih minuman yang ada di hadapannya dan langsung meminumnya sampai tandas tak bersisa. Dia langsung bangkit hendak beranjak ke kasir untuk membayar pesanannya.


" Permisi, saya buru - buru... " ucapnya sambil berlalu meninggalkan cewek itu yang sejak tadi terus saja menatapnya lekat.


" Gadis....!" seseorang yang baru saja namanya disebutkan oleh cewek itu kini sudah berdiri tak jauh dari hadapannya.


Kaki Gadis terasa seperti dipaku, tak bisa bergerak. Gadis kesal sekali dengan keadaan seperti ini. Mengapa dia harus kembali bertemu dengan cowok itu. Apa dunia ini beneran sempit. Mengapa setelah dia bersusah payah menjauh pergi kini malah harus kembali bertemu.


Gadis membuang wajah tak ingin matanya bertemu dan bertatapan langsung dengan mata cowok itu.

__ADS_1


" Bisakah kita berbicara sebentar saja. Ada banyak sekali hal yang ingin aku jelaskan padamu. Tentang kesalah pahaman kita selama ini. Beri aku kesempatan untuk meluruskan kesalahan pahaman ini. " ucapnya penuh harap.


Mulut Gadis terbungkam mendengar perkataan Gara. Apa dia bilang? Kesalah pahaman? Apa yang dia lihat selama ini Gara bilang hanya salah paham belaka. Salah pahamnya🇮🇩 dimana?


Lalu kilas bayangan itu kembali lagi melintas di matanya. Apa yang dia salah pahamkan dari apa yang dia lihat saat itu ?


Ada bongkahan besar di dadanya yang terasa begitu menyesakkan hingga membuatnya terus saja terbungkam.


Bunyi ponsel menyadarkan Gadis dari ketertegunannya sesaat. Rupanya itu panggilan dari nomornya Edo.


Alhamdulillah, akhirnya gue selamat, ucapnya dalam hati.


" Halo, ada apa, Do? " tanya Gadis begitu telepon mereka tersambung.


" Gadis, cepatan. Lo sudah ditunggu sama dokter Rendi. " sahut Edo dari Seberang.


Mata Gadis berputar tak percaya. Edo benar-benar sinting. Rasanya Gadis ingin sekali menjitak kepala cowok itu. Bayangkan saja, secara tak sengaja, mata jeli Gadis menangkap bayangan cowok itu berdiri tak jauh di belakang Gara. Kenapa Edo nggak datang langsung menghampiri dirinya? Kenapa malah menelponnya..?


Edo terlihat menatapnya sambil memberi isyarat kepada Gadis.


" Permisi, saya benar-benar sudah ditunggu." putus Gadis dingin seraya berlalu meninggalkan kedua manusia yang tadi mencekal langkahnya. Keduanya hanya bisa menatap punggung Gadis yang berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang.


" Maafkan Adis, Kak. Semua ini gara - gara aku. Gadis jadi salah paham." ucap Adisty lirih. Matanya sudah berkaca - kaca karena rasa bersalah yang kini menyeruak dalam hatinya.


Adisty mengangguk sambil menyeka air mata di sudut matanya yang masih terlihat jelas jejaknya di sana.


Dari kejauhan, kembali sepasang mata menyaksikan semua itu dengan tatapan terluka. Satu helaan napas keluar dari mulutnya.


" Kenapa? Kesal melihat mantan sedang berduaan dengan cewek lain?"


Mata Gadis melotot ke arah Edo." Bacot lo memang mesti di sekolahin, yah. Bukannya bersimpati atas penderitaan gue, malah ngeledek lagi. Udah bosan hidup, lo?"


Edo tergelak mendengar ucapan Gadis. Kalo orang lain yang tak terbiasa dengan perangai Gadis itu, mungkin bakalan mengira bahwa mereka sedang bersitegang. Namun, Edo hanya menanggapi ucapan Gadis dengan tawa yang keras.


Setelah cukup mentertawakan Gadis, tiba-tiba wajah Edo berubah serius.


" Gue mo nanya, ada hubungan apa lo sama tuh cowok? Apa dia mantan, lo ?" tanya Edo kemudian.


Gadis hanya mengangguk lemah. Edo pun tersenyum seraya menepuk pundak Gadis. " Jangan terlalu terpaku pada masa lalu. Move on, Neng.!!" cengir Edo seraya berlalu meninggalkan Gadis.

__ADS_1


" Nang, neng, nang neng. Apaan.... lo pikir gue Jubedah. Lagian siapa juga yang masih ngarepin Gara. Cih, najis gue....!" seru Gadis sambil berjalan cepat menyusul langkah kaki Edo yang sudah lebih dahulu berjalan.


Masih terdengar suara Edo yang setengah mengejek dirinya yang gagal move on. "Gagal move on? Udah, sama abang aja, Neng. Nanti abang kasih obat amnesia buat mantan. Hahaha... "


"Edo...! " Gadis gemas sekali dengan mulut Edo yang lemes." Awas saja kalo hal ini sampe bocor ke telinga para dokter - dokter di rumah sakit ini. Pokoknya kamu adalah orang yang paling pertama ku mutilasi pake pisau bedah." ancam Gadis kesal.


...----...


Usia kandungan Mitha sudah memasuki bulan ke tujuh. Akhir - akhir ini Mitha sering sekali merasakan keram di sekitar perut bagian bawah. Fatan sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi Mitha saat ini sehingga dia selalu saja merasa was - was jika harus meninggalkan istrinya itu seorang diri di apartemen. Untuk itulah, dia meminta Bi Asih, salah seorang ART yang bekerja di rumah mommy nya untuk datang ke apartemennya untuk mengawasi dan membantu Mitha di apartemen mereka.


Fatan baru saja pulang dari rumah sakit. Sesampainya di rumah, dia langsung menanyakan keberadaan Mitha pada Bi Asih.


" Non Mitha ada di kamar, Den." jawab Bi Asih.


Fatan langsung mencari Mitha di dalam kamar. Namun dia tak menemui keberadaan istrinya itu di sana.


" Mitha...? Kamu di mana? " Fatan langsung berubah panik karena tak menjumpai sang istri. Mitha tak ada di dalam kamar mereka. Apa jangan - jangan Mitha akhirnya memutuskan pergi meninggalkan dirinya. Berbagai pikiran - pikiran buruk sudah menghantui benak Fatan.


Namun telinganya menangkap suara rintihan pelan dari kamar kecil. Bergegas Fatan masuk ke kamar kecil. Betapa terkejutnya Fatan saat mendapati Mitha sedang tergolek di lantai kamar mandi. Ada darah yang mengalir di sela - sela paha dan betis Mitha.


" Mitha... Astaga. Ya Tuhan.... Sayang, bertahanlah. Kita akan segera ke rumah sakit sekarang juga.. "


Fatan segera membopong tubuh Mitha yang sudah lemas menuju lift dan segera melarikan sang istri ke rumah sakit.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit, jantung Fatan seakan tak hentinya berdetak kencang. Dia sangat ketakutan dan cemas sekali dengan kondisi Mitha. Dalam hati dia berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya.


...-----...


Sudah dua jam lamanya, dokter Fatan berada di ruang operasi bersama dokter Indar dan juga beberapa perawat yang membantu persalinan Mitha. Karena mengalami pendarahan hebat, dokter Indar terpaksa harus melakukan operasi pengangkatan bayi yang ada di dalam kandungan Mitha yang baru memasuki usia tujuh bulan. Semua itu demi untuk menyelamatkan nyawa sang ibu yang waktu itu yang sudah kehilangan banyak darah.


Sebenarnya, Fatan sempat dibuat bingung lantaran saat itu dia harus memilih antara dua pilihan yang sama sulitnya. Apakah dia harus menyelamatkan bayi yang ada di kandungan Mitha atau nyawa sang ibu sendiri.


Akhirnya Fatan lebih memilih untuk menyelamatkan Mitha saja. Karena dia berpikir, dengan dirinya memilih menyelamatkan Mitha, maka dia sudah menyelesaikan hutangnya pada cewek itu. Dia pun akhirnya turun tangan sendiri membantu dokter Indar untuk menangani operasi Mitha.


Namun rupanya, Tuhan Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Tuhan ternyata begitu sayang pada Mitha.


Keajaiban terjadi pada diri bayi mereka. Bayi mungil itu bisa bertahan hidup dan melewati gerbang kematian. Tangisnya nyaring memecah seisi ruangan sesaat setelah diangkat dari rahim Mitha.


" Alhamdulillah.. " ucap semua yang hadir di ruangan itu dengan ekspresi lega.

__ADS_1


*Author: Nah, anak mereka sudah lahir.. Apakah perjanjian Fatan dan Mitha akan berlaku.....?


Ikuti terus kisah Fatan dan Mitha. Dan jangan lupa gift dan votenya☺☺☺*


__ADS_2