Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 13 Kecemburuan Fatan


__ADS_3

Mitha termenung seorang diri di kamar setelah puas menangis. Mitha menumpahkan semua perasaannya dengan menangis sepuasnya di kamar. Dia sedih karena harus bertemu kembali dengan Edo, disaat dia sudah menjadi milik Fatan.


Kurang lebih sebulan yang lalu, dia sempat berharap jika Edo yang akan membantunya. Dia ingin menceritakan semua yang menimpa dirinya kepada Edo yang kala itu sempat merawatnya saat di rumah sakit. Namun niat itu urung terlaksana karena Edo tak muncul lagi pada keesokan harinya.


Menurut kabar dari Gadis, Edo sedang ada tugas KKN ke desa terpencil untuk kurang lebih tiga bulan.


Sehingga pada saat Mitha mengetahui dirinya hamil, Mitha menjadi kalap dan sempat berniat untuk menggugurkan kandungannya karena putus asa. Dia sempat punya pikiran untuk menghubungi Edo, tapi dia membatalkan niatnya itu karena keburu pada saat itu, Fatan menawarkan padanya perjanjian pra nikah tersebut yang secara tidak langsung membantu Mitha keluar dari masalah.


Hari ini, Edo kembali menampakan kehadirannya di rumah sakit. Awalnya, dia muncul dengan membawa oleh - oleh manisan yang dia titipkan melalui salah seorang perawat yang bertugas pagi tadi.


Namun, saat melangkah keluar dari ruang kerjaku, aku dikejutkan oleh kehadiran Edo yang tanpa terduga. Cowok itu sudah berada persis di depan pintu.


" Mitha... " Aku tertegun sejenak sambil menatap wajah Edo yang semakin tampan dengan rambutnya yang kini agak gondrong.


Aku menjadi gugup dan kelu. Jujur saja, rasa itu tak bisa kubuang jauh - jauh, malahan kurasa semakin bertambah kuat.


" Edo...Ngapain kamu kesini? " Aku bertanya setelah hilang rasa gugupku.


" Aku mau jemput kamu, lah. Kata perawat Adisty, kamu ada di dalam, makanya aku berinisiatif untuk menjemput kamu lalu sama-sama ke ruang breefing. " katanya sambil cengar - cengir.


" Oh, gitu, yah? Ayo kita pergi sekarang karena dokter Rendi sudah nungguin kita semua." jawabku sambil berlalu terlebih dahulu. Edo langsung berlari menyusuri langkahku. Langkahnya ngos - ngosan. Beberapa menit kemudian, dia sudah menyusul Mitha yang sudah lebih dahulu berjalan ke arah ruangan Breefing yang posisinya berada persis disebelah ruangan dokter Rendi.

__ADS_1


Sampai di ruangan Breefing, mata Fatan hampir keluar dari tempatnya saat melihat siapa yang datang bersama Mitha. Tatapan menghujam yang penuh kecemburuan tergambar jelas di matanya. Rahang cowok itu mengeras dan sebelah tangannya yang tidak memegang buku teks, mengepal erat di samping tubuhnya.


Mitha yang menyadari arti tatapan Fatan, memilih mundur diam - diam dari Edo. Juga selesai operasi dia buru - buru minta izin untuk pulang kepada dokter Rendi dengan alasan kurang enak badan.


Entah mengapa hari ini dia sangat malas untuk kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan aktivitas dan memilih untuk pulang ke rumah kemudian mengurung diri di kamar.


Pintu kamar tiba-tiba terkuak dan wajah dingin Fatan muncul di sana masih dengan seragam putihnya lengkap dengan stetoskop yang masih menggantung di leher.


Cowok itu masuk dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang selama ini menjadi tempat tidurnya jika kebetulan kami tidur dalam satu kamar. Meletakkan kemeja putihnya berikut stetoskop di ujung sofa, lalu merebahkan diri


" Kapan kamu pulang? " dia bertanya padaku setelah hening beberapa saat. Mungkin Fatan tadi memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya sekedar untuk menghilangkan penat.


" Tadi sore... " jawabku dengan suara serak, singkat tanpa repot - repot menoleh. Aku masih enggan untuk memperlihatkan wajah sembabku pada es balok itu.


Terlihat oleh Fatan jejak - jejak air mata di pipi Mitha.


" Kamu habis nangis?".....


" Apa pedulimu..?! " sentakku dengan marah. Aku sebenarnya sedikit tersinggung oleh cara dia tadi. Seenaknya saja dia main tarik dan sentak begitu saja.


" Jelas aku peduli. Bagaimana kalo anakku jadi ikutan sedih." jawab Fatan asal dan terkesan tak masuk di akal. "Aku hanya ingin memastikan anakku baik - baik saja. Aku tak ingin anakku jadi ikutan sedih lantaran mengetahui kalo ibunya sedang bersedih dan menangisi sang mantan yang hadir kembali setelah lama tak bertemu." sindir Fatan.

__ADS_1


Aku tak dapat lagi menahan emosi dan juga kekesalanku, maka melayanglah bantal ke wajah tengil Fatan.


Bantal itu mendarat tepat di wajah Fatan sesaat setelah dia selesai berucap. " TUTUP MULUTMU!! Tak usah bersikap sok tau. Kamu tak berhak menduga sesuatu yang faktanya saja kamu belum tahu."


" Ok, baiklah... teruskan saja kalo mau nangis. Maaf, sudah membuat kamu kesal dengan pertanyaanku. Kalau perlu kau bisa menangis di dada mantanmu itu." jawabnya dengan suara yang tak kalah keras dari suaraku.


Plakk.....


Aku terkesima....


Fatan terdiam.


Tangannya mengusap sebelah pipinya yang memerah selesai kutampar.


Aku kaget sendiri usai menampar wajah Fatan. Aku sebenarnya tak bermaksud untuk menamparnya. Hanya saja, ucapannya sungguh-sungguh keterlaluan. Aku tak Terima dengan tuduhannya terlebih pada kalimat terakhir dari ucapannya.


"Jangan melewati batasanmu, Fatanul Faqih Bramantyo !!! Jangan buat aku memutuskan untuk meninjau ulang keputusan aku untuk menerima tawaran menikah darimu." bentakku dengan tekanan yang agak tinggi.


" Kau yang harusnya jaga diri dan sikap. Kamu itu istriku..! Mana ada seorang istri yang jalan dengan laki-laki lain yang merupakan mantannya." bentak Fatan sarat dengan nada kecemburuan. Juga tak ketinggalan wajah yang sudah merah padam akibat menahan emosi.


" CUKUP..! Sekali lagi kamu ngomong ngawur, aku akan keluar dari rumah ini sekarang juga. Asal kamu tahu, Edo bukan mantanku karena kami belum pernah sekalipun berpacaran.....!! "

__ADS_1


????????????


__ADS_2