Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 32 Mitha Pergi...


__ADS_3

Edo hanya bergeming tak menjawab. Hanya sorot matanya saja yang menyorotkan kekesalan dan juga kemarahan.


"Jawab papa, Edo....!! "


Hah...!!! APA...??


Mitha shock mendengar semua itu Astagfirullah.....Ternyata, Edo adalah putra Tuan Pramono. Mengapa dia tak mengetahuinya. Dalam hati Mitha mengumpat dirinya habis - habisan yang bisa - bisanya tidak mengetahui siapa jati diri Edo yang sebenarnya. Sudah bersahabat dengan Edo semenjak di SMA, tak pernah sekalipun dia tahu jika seorang Edo adalah konglomerat. Pembawaan Edo yang sederhana dan biasa - biasa saja, sungguh jauh dari gambaran anak seorang pengusaha Sukses macam Pramono Agung.


Bahkan dari sejak di SMA hingga kuliah, motor Edo tak pernah ganti.


Kini, Mitha kebingungan sendiri, bagaimana kini harus bersikap terhadap Edo, setelah semuanya terkuak. Mendadak dia merasa jadi merasa serba salah dan canggung.


" Asem, Si Edo. Apa maksud Edo menyembunyikan jati diri keluarganya dariku. Apa dia takut jika aku hanya mencintai hartanya saja?" pikir Mitha.


Pantas saja... dia baru menyadari sesuatu sekarang. Selama ini, memang Edo tak pernah sekalipun menceritakan tentang asal usul keluarganya kepada aku dan Gadis. Walaupun dirinya dan Gadis sudah lama sekali menjalin persahabatan bertiga dengan cowok itu, namun cowok itu benar-benar tertutup dengan semua orang. Sikap Edo memang terkesan dingin dan datar.


Kini terjawab sudah, mengapa selama ini Edo seolah terkesan menutup - nutupi jati dirinya dari dirinya dan Gadis. Ternyata cowok itu adalah putra salah seorang yang berkuasa di kota ini dan memegang kerajaan bisnis yang cukup besar. Mungkin saja Edo memiliki alasan dirinya tak ingin dikenali oleh orang sebagai putra Tuan Pramono Agung. Entahlah... Mitha tak ingin tahu. Dia sudah cukup kecewa dengan sikap Edo terhadap dirinya.


Namun, berbeda dengan Fatan. Cowok itu terlihat biasa saja. Sebenarnya dia sudah mengetahui siapa jati diri Edo sebenarnya. Jauh sebelum dia menikah dengan Mitha, Fatan sudah mengenal Edo dan keluarganya.


Tanpa berkata apa lagi, Edo meninggalkan tempat itu diiringi pandangan heran dan penuh tanya dari para tamu yang hadir di tempat tersebut. Mereka semua ingin tahu apa yang telah terjadi.


" Tuan Fatan, maafkan atas Kekurang ajaran sikap Edo. Saya berjanji akan memberi teguran keras kepada putraku tersebut. Silahkan kembali menikmati pestanya." ujar Tuan Pramono dengan penuh sesal. Dia memang sangat menyesalkan sikap Edo kepada Mitha dan Fatan.


" Tak apa - apa, Tuan Pramono. Saya bisa mengerti emosi anak muda. Karena kami memang sebaya. Tapi saya harap, kedepannya nanti, Edo tidak lagi menggangu istri saya. Karena saya tidak berani menjamin kelak di lain hari, apakah saya masih menyimpan sabar atau tidak." ucap Fatan kemudian. Ada ketegasan didalam nada bicaranya.


" Iya, Tuan. Saya mengerti. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidak nyamanan ini. Saya berjanji, ini tak akan terulang kembali kelak, di kemudian hari."


" Baiklah, kalau begitu. Sebaiknya kami pamit mohon diri saja. Karena sepertinya istriku sudah mulai merasa tak nyaman. Dan saya juga ada panggilan dari rumah sakit." kata Fatan kemudian.


" Baiklah, jika Tuan bersikeras. Saya tidak bisa memaksa. Saya ucapkan terima kasih atas kesediaan tuan untuk datang ke pesta ini. Maaf, atas sambutan kami yang mungkin saja kurang berkenan, kami atas nama keluarga Pramono Agung, mohon maaf yang sebesar-besarnya." kata Tuan Pramono sambil menjabat erat tangan Fatan.


Fatan hanya mengangguk datar dan kemudian menggandeng tangan Mitha. Dia dan Mitha melangkah keluar meninggalkan rumah keluarga Pramono.


Mitha terlihat lesu dan tak bersemangat. Dia masih shock setelah mengetahui satu rahasia yang Edo pendam selama ini.


Edo adalah Putra Sang Taipan.! Benarkah...? Astaga.....


Menyadari akan fakta tersebut, hati Mitha mulai bimbang. Ucapan Edo masih terngiang - ngiang di telinganya. Edo begitu gigih memperjuangkan dirinya, tapi mengapa dia tidak jujur mengenai jati dirinya dengan Mitha.


" Mitha, tunggu..!!! " Edo berteriak memanggilnya. Mitha menoleh dan melihat cowok itu sedang berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


" Aku ingin bicara..." tandasnya t

__ADS_1


ketika sudah berada di hadapan Mitha. Dia menarik paksa tangan Mitha agar mengikuti dirinya. Dia tak peduli rontaan Mitha yang minta untuk dilepaskan.


" Lepaskan, Edo. Jangan berbuat bodoh..!" sentak Mitha sambil menarik tangannya dari cengkraman Edo. Dia masih kesal terhadap Edo, karena cowok itu sudah membohonginya. Ditambah lagi, sekarang Edo memaksa untuk mengikuti dirinya.


Sementara itu, Fatan yang sudah berniat untuk membuka pintu mobil, urung melakukannya saat melihat Edo sudah menarik paksa tangan Mitha untuk bergerak menjauhi mobil Fatan.


" Tapi, gue pengen menjelaskan semuanya agar lo nggak salah paham ke gue." ujar Edo.


" Gue rasa nggak ada yang perlu dijelaskan. Gue udah mengerti, koq. Cewek macam gue emang nggak pantas berharap lebih dari lo. Karena gue emang bukan siapa - siapa, do. Terima kasih atas persahabatan kita selama ini. Tapi gue rasa, persahabatan kita cukup sampai disini saja. Kita sudah tak selevel lagi."


Edo menggelengkan kepalanya. " Tidak, lo salah paham. Please, gue mohon lo mau dengerin penjelasan gue..." Cowok itu meraih tangan Mitha dan menggenggamnya. " Please, Mitha.. "


" Entahlah, do. Gue.... "


BUG.....


Belum selesai ucapan Mitha, sebuah bogem mentah bersarang di rahang Edo. Cowok itu langsung tersungkur ke tanah.


" Edo...! " Jerit Mitha. Dia kaget melihat Edo yang sudah jatuh tersungkur ke tanah. Sementara di dekatnya, Fatan masih berdiri dengan pandangan gelap karena di selimuti oleh kabut amarah.


" Dasar Bajingan, jauhi istriku !! " bentak Fatan berang. Dia benar-benar marah saat melihat Edo sudah berani menyentuh Mitha.


Kemarahan Fatan semakin memuncak ketika dilihatnya Mitha berlari menghampiri Edo.


Namun Edo tak menggubris kata - kata Mitha. Dia bangkit dan balik menerjang Fatan. Fatan yang tak menduga akan serangan balik Edo, menjadi lengah sehingga dengan mudah pukulan Edo bersarang telak di wajah tampannya.


"Gue sebenarnya sudah lama pengen ngelakuin ini. Tapi gue masih mandang Mitha. Namun sekarang, gue nggak peduli lagi. Ini balasan dari gue, karena sudah merusak masa depan sahabat gue. " setelah berkata demikian Edo kembali melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah dan tubuh Fatan.


Fatan tak bisa lagi mengelak terhadap serangan Edo yang bertubi-tubi. Cowok itu jatuh tersungkur ke tanah karena menerima pukulan Edo yang beruntun.


"Itu adalah balasan karena sudah menyakiti Mitha." teriaknya. Edo melampiaskan amarahnya yang selama ini dia pendam terhadap Fatan.


Sedangkan Fatan, cowok itu kini sudah bangkit kembali dan membenahi dirinya. Fatan menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan berdarah.


Mitha yang cemas melihat keadaan sang suami, bergegas mendekati Fatan. Namun Fatan malah mendorong tubuh Mitha. Untung saja tidak sampai terjatuh.


" Minggir, kamu perempuan murahan. Jangan sentuh aku...! " tepisnya penuh emosi.Dia marah pada Mitha karena dia merasa cewek itu lebih memilih membela Edo ketimbang dirinya yang jelas - jelas suaminya.


Mitha menggigit bibir bawahnya. Pedih, saat mendengar Fatan menyebut dirinya perempuan murahan. Sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan air matanya agar tak jatuh.


Sedangkan Fatan, cowok itu mengalihkan tatapannya kepada Edo. Dia menyeringai sinis ke arah Edo." Dan kamu..! Cara kamu memukul seperti banci..! Rupanya hanya segitu itu saja kemampuan kamu. .." ejeknya. "


Mendengar ejekan Fatan. Emosi Edo kembali terpantik. Dia kembali bergerak ingin menghajar Fatan, namun Mitha keburu mencegahnya. "Edo, sudah cukup.! Aku mohon tolong hentikan semua ini..." Kata Mitha sambil mendorong tubuh Edo.

__ADS_1


" Kau tak perlu melakukan semua ini. Aku tak butuh semua itu. Karena aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi atas diriku. Mulai sekarang, jangan lagi menemuiku. Dan kamu....." Mitha menunjuk tepat di depan wajah Fatan. Dia tak peduli lagi, jika dosa hukumnya menunjuk wajah suami sendiri. Dia sudah terlanjur sakit hati.


" Aku pikir - pikir, sepertinya aku harus memikirkan ulang masalah tawaranmu. Dan untuk itu, sepertinya aku berubah pikiran. Kurasa mulai sekarang lebih baik kita jalan sendiri - sendiri saja. Karena perempuan murahan ini sudah lelah menjalani kehidupan pernikahan yang seperti ini. Dia tak butuh laki-laki dingin yang bisanya cuma marah dan memaki saja." ucapnya lantang kemudian berlalu meninggalkan Edo dan Fatan yang masing-masing sudah terdiam.


" Mitha.... " Edo ingin mengejar Mitha, namun keburu ditarik Fatan. " Ngapain lo kejar istriku... " sentaknya.


" Sejak kapan lo nganggap Mitha sebagai istri..? Barusan aja lo bilang istri lo perempuan murahan. Suami macam apa lo...?" Edo balas menyindir Fatan dengan sinisnya.


Emosi Fatan meluap saat mendengar sindiran Edo. Tangannya terkepal menahan emosi. Andai saja dia tak bermaksud ingin mengejar Mitha, maka sudah dihajarnya mulut pedas Edo.


Dengan kesal dia berlari mengejar Mitha yang sudah jauh berjalan.


" Mitha,... tunggu...! Mitha....!!." serunya sambil berteriak dengan napas yang terengah-engah karena habis berlari mengejar Mitha.


Namun Mitha tak menggubris panggilan Fatan. Dia terus saja berjalan dengan langkah cepat. Tak lama, sebuah taksi lewat. Mitha bergegas menyetop taksi sebelum Fatan sampai mendekatinya.


" Mas, cepatan Mas. Jangan sampai orang itu berhasil mengejar saya... " pintar Mitha dengan wajah panik.


" Eh, iya...baik, Mbak... " supir taksi itu segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Malam semakin beranjak larut.


Fatan menghentikan langkahnya saat melihat taksi yang membawa Mitha sudah berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia menghela napas kesal mencoba untuk mengatur napasnya yang kembang kempis.


Gila, gue sudah ngelakuin kesalahan besar. Bisa - bisanya gue ngatain Mitha perempuan murahan. Akh..... sial... sial, pasti sekarang ini Mitha sedang marah pada gue dan bakalan akan semakin ngebenci gue, maki Fatan dalam hati.


" Maafkan gue, Mitha. Sungguh, gue nggak bermaksud buat ngatain lo perempuan murahan. Gue hanya sedang emosi saja, tadi. Aku mohon, maafkan gue, Mitha... " lirihnya.


Akhirnya, Fatan kembali ke mobilnya dengan langkah gontai. Dia mulai mencemaskan keadaan Mitha. Ini sudah malam. Dan Mitha yang marah, memutuskan pergi meninggalkan dirinya dengan mengendarai taksi online. Bagaimana jika terjadi apa - apa dengannya. Apalagi istrinya itu sekarang lagi hamil.


Pikiran Fatan dipenuhi oleh bermacam-macam dugaan. Dan semuanya berisi dugaan yang buruk.


Fatan akhirnya memutuskan untuk menyusul Mitha ke rumah Gadis. Dia menduga, pastilah istrinya itu akan pergi ke tempat kosannya Gadis karena hanya Gadis teman dan sahabat Mitha satu - satunya.


Hampir satu jam, Fatan mengendarai mobilnya hingga sampai di depan rumah kosannya Gadis. Dengan ragu, dia mengetuk pintu kosan Gadis.


Tak lama berselang, dari dalam rumah Gadis muncul dengan wajah bantal. Mukanya masih setengah mengantuk.


" Lo.... ? Ngapain lo malem - malem nongol di mari? " kening Gadis mengkerut. Dia menduga pasti telah terjadi sesuatu dengan sahabatnya.


" Mithanya ada di dalam, nggak, Dis? " Fatan langsung bertanya kepada Gadis.


" Nggak ada, ...? Emangnya kenapa..?" tanya Gadis lagi dengan ekspresi wajah bingung.


Sadarlah Fatan apa yang telah terjadi. Mitha benar-benar telah pergi.

__ADS_1


__ADS_2