Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab 23 Aku mampu untuk mengurus Istriku


__ADS_3

Hanya sehari Mitha dirawat di rumah sakit. Keesokan harinya Mitha sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Indar dengan catatan bahwa Mitha tidak boleh stress dan harus memperbanyak istirahat.


Sudah hampir dua minggu sejak keluar dari rumah sakit baik Mitha maupun Fatan tidak pernah bertegur sapa ataupun berkomunikasi satu sama lain. Keduanya sama - sama keras kepala untuk mempertahankan ego mereka masing-masing.


Sikap Fatan semakin dingin dan cuek terhadap Mitha. Cowok itu jarang sekali berada di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Demikian halnya dengan Mitha. Cewek itu lebih memilih banyak mengurung diri di kamar dari pada berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya terlebih lagi dengan Fatan.


Semenjak pertanyaan tak terduga itu terlontar dari mulut Fatan, cowok itu terkesan menghindarinya. Fatan hanya pulang ke rumah sekedar hanya untuk mandi dan mengganti pakaian lalu setelah itu pergi lagi.


Sebenarnya, keadaan demikian membuat Mitha sedikit tidak nyaman. Dia merasa semakin kesepian dan tersisih. Jauh dari sanak keluarga dan sahabat. Sedangkan di sini, walaupun rumah Fatan besar dan mewah, namun hanya dia dan tiga orang pembantu saja yang menjadi penghuninya. Sedangkan mommy dan papa, jarang sekali di rumah. Mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktunya di Belanda bersama kakak tertua Fatan sekaligus mengelola bisnis mereka berada di dataran Eropa.


Mitha sebenarnya amat menyesalkan lidahnya yang tak bertulang. Yang mungkin saja amat sangat melukai ego dan kelelakian Fatan, hahahaha.


Masih terekam jelas dalam ingatan Mitha, jawaban yang dia lontarkan atas pertanyaan Fatan kepadanya saat itu.


" Apa kamu stress karena menikah denganku? " tanya Fatan dengan mimik muka lucu. Antara ingin tahu, tapi juga terkesan mengejek.


Sontak saja, Mitha yang memang sejak awal sudah kesal lantaran sikap dan ucapan Fatan yang kasar, langsung saja menjawab dengan lantangnya.


" Iya, aku memang stress semenjak mengenalmu, ditambah lagi setelah menikah denganmu. Aku bukannya merasa tenang dan terlindungi, malahan makin menderita. Apa kamu sengaja bikin supaya aku keguguran, begitu ...?" tanya Mitha kesal.


Tak ada jawaban yang terlontar dari mulut Fatan. Cowok itu hanya diam tak menanggapi ucapan Mitha. Dia begitu terkejut dengan tuduhan Mitha. Seburuk itukah aku dalam pikiran kamu, Mitha..? keluhnya dalam hati.


Padahal, berpikir ke arah sana saja, tak pernah terlintas dibenaknya. Apalagi sampai menginginkan agar bayi mereka sampai keguguran. Hi.... amit-amit, pikir Fatan. Sebejat - bejatnya dia, dia masih punya akhlak. Dan lagi pula, entah disadari atau tidak, dia sebenarnya sudah mulai menyayangi anak yang ada di dalam kandungan Mitha. Bukan hanya semata-mata karena tanggung jawab, tetapi memang karena rasa kasih sayang dihatinya kepada sang calon buah hati dan juga..... kepada sang ibu, tentunya.


Melihat kebisuan Fatan, Mitha kembali berbicara.


"Apa kamu tahu, sebenarnya jika aku keguguran, hal itu justru lebih baik buat kita. Karena dengan begitu, perceraian kita akan semakin cepat terjadi. Jadi kamu dan aku bisa sama-sama terbebas dari ikatan sialan ini." kata Mitha.


Muka Fatan merah padam mendengar ucapan Mitha. Hais....mulut perempuan ini dasar memang tak punya rem, pikirnya. Sebenarnya isi otaknya terbuat dari apa sih, gelar saja hampir dokter, tapi pemikiran selalu kotor . Dia selalu berasumsi sendiri. Dasar cewek gesrek, maki Fatan dalam hati.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, cowok itu langsung melangkah keluar meninggalkan Mitha. Dia malas untuk meladeni Mitha. Bisa kacau nantinya, jika masih terus meladeni Mitha. Takut aja jika siapa tahu nanti cewek itu kembali menderita keram otot perut lagi atau bisa jadi pendarahan Haduhhhh bisa dicoret nama ane dari kartu keluarga nantinya, neng!!.pikir Fatan.


...----...


Hari sudah menjelang sore. Mitha sedang duduk santai sambil menikmati camilan yang dibuatkan oleh Bi Surti di teras halaman depan rumah.


Tak lama kemudian sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti di halaman depan rumah mereka. Mitha mengenali mobil siapa yang kini sedang parkir di depan rumahnya.


" Kalau tak salah lihat, itu kayaknya mobil Gadis, deh..? " tanya Mitha dalam hati. Dia melihat seseorang sedang duduk di dalam mobil Gadis, tapi tak terlalu jelas karena kaca mobil Gadis yang berwarna hitam.


Gadis terlihat berbicara dengan penjaga yang kemudian membukakan pintu untuk Gadis. Mobil Gadis pun kemudian melenggang memasuki halaman rumah Fatan dan berhenti tepat di depan Mitha.


Dari dalam mobil keluarlah seseorang cewek cantik dengan rambut gaya potongan bob yang di buat sedikit cepak. Kesan maskulin menguar dari penampilannya namun tetap terlihat cantik.


" Gadis,.... " Jerit Mitha sangking senangnya. Dia tak menduga, Gadis akan datang menemuinya. Dia sudah sangat rindu terhadap cewek tomboy yang berwajah cantik itu.


Keduanya asyiknya berpelukan dan saling melepas rindu. Mitha sampai menangis terharu karena jujur saja dia sangat merindukan sosok sahabat yang sudah seperti saudara itu baginya.


" Sama.... gue juga. Lagian, lo kagak pernah nongol di kampus dan di rumah sakit. Gue tanyain laki lo, jawabannya ketus amat. Fatan bilang lo lagi cuti kuliah. Makanye gue samperin lo di mari." jawab Gadis sambil terkekeh.


" Ngomong - ngomong tuh perut sudah berapa bulan, neng.. ? " tanya Gadis sambil melirik ke perut Mitha.


" Udah masuk empat, Dis. Napa emang, udah keliatan, ya? " Mitha balik bertanya pada Gadis sambil menengok ke arah dirinya sendiri.


" Kagak juga sih, cuma lo rada bulet dan montokan dikit. Beda ama yang dulu, kurus kayak cacing, hihihi... "


" Gadis, aish...jahat lo, ya. Masa sama teman tega amat ngomongnya kayak gitu...!!" Mitha mendelik kesal karena mendengar ucapan Gadis yang secara tak langsung mengatakan kalo dia gemuk.


Gadis tertawa cekikikan sambil berusaha untuk menghindar dari sasaran cubitan Mitha. Jadilah mereka berdua main kejar - kejaran seperti di film India kuchi kuchi hotha hai versi Sharuk Khan mengejar Kajol. Cuma sekarang kebalik, Gadis Khan yang di kejar sama Mitha Kajol.

__ADS_1


" Mitha... " sebuah suara di belakang memanggil namanya membuat langkah yang empunya nama mendadak jadi terhenti seketika.


Refleks Mitha menoleh ke belakang. Ada Edo yang sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan yang berada di kedua saku celananya. Kemeja biru muda dan celana bahan berwarna putih membuat ketampanan Edo bak dewa Yunani versi 2022.


Untuk sesaat, Mitha terpaku memandangi Edo. Dia mendadak jadi salah tingkah saat matanya bertatapan langsung dengan mata tajam Edo.


" Edo, .. kok bisa...?? " Mitha menatap ke arah Gadis. Yang ditatap hanya senyum - senyum.


Jadi seseorang yang dia lihat di dalam mobil Gadis itu adalah Edo.


" Iya, gitu deh..!" jawab Gadis sambil mengangkat bahu.


" Gimana ceritanya Edo bisa ikut sama lo?" tanya Mitha yang kini menjadi penasaran dan juga sedikit malu. Namun, perasaan terbesar saat ini yang dia rasakan adalah ketakutan jika nanti Fatan yang tiba-tiba datang. Bisa repot urusannya, kakak...


" Jadi gini, Mit. Tadi Edo maksa banget buat ikut kesini. Gue sih sebenarnya ogah ngajak die, ... Tapi dengan dalih mau nengokin elo. Jadi apa boleh buat. Gue pungut, deh. Kasian entar diculik sama tante - tante girang, bisa habis keperjakaanya.... " jawab Gadis sambil tersenyum lebar.


" Aku merasa khawatir padamu. Aku takut terjadi sesuatu padamu setelah peristiwa minggu lalu. Apakah kamu baik - baik saja. Apakah Fatan menyakiti kamu..? " tanya Edo dengan raut khawatir yang tak bisa dia sembunyikan.


" Aku baik - baik saja, Do. Kamu tidak perlu khawatir. Semuanya baik - baik saja... " jawab Mitha kemudian.


" Mitha, tentang pernyataan aku tempo hari itu, aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Aku... "


" Edo, cukup..! Tidak perlu diteruskan.." pinta Mitha. Sedangkan Gadis, hanya bisa bengong karena tak faham arah pembicaraan kedua insan tersebut.


' Tapi, Mit. Aku serius tentang semua perkataanku tempo hari Aku bersedia menikah denganmu selepas kata talak darinya." jawab Edo lagi dengan sorot mata memelas.


" Edo, cukup..... ?? "pinta Mitha memelas.


" Tapi, Mit....... "

__ADS_1


"Aku rasa jawaban istriku sudah cukup jelas saudara Edo.. Sebaiknya anda tak memang perlu repot - repot untuk mengurus segala keperluan istriku karena aku lebih dari kata mampu dan bisa untuk mengurus semua yang dibutuhkan oleh istriku... "


"Fatan.....


__ADS_2