
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan sebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Fatan bergegas turun dan membukakan pintu untuk Mitha.
" Turunlah, kita sudah sampai..!" ujar Fatan sambil membimbing Mitha turun dari mobil. " Hati - hati melangkah! " ucapnya memperingatkan Mitha untuk memperhatikan langkahnya.
Dengan ragu, Mitha melangkah turun dari mobil. Hatinya degan - degan karena sejujurnya dia merasa takut. Apalagi Fatan mengajaknya pindah ke apartemen ini tanpa pamit kepada mommy Amel dan papa Bram.
" Kak, apa mommy Amel dan papa Bram sudah tahu perihal kepindahan kita kemari? " tanya Mitha dengan ragu.
Fatan hanya mengangguk. Dia sibuk menurunkan barang - barang Mitha dari dalam bagasi.
" Ayo, apartemen kita ada di lantai tiga. Kita naik lift saja. " ajaknya. Sebelah tangannya menggandeng Mitha dan sebelah lagi menenteng barang - barang Mitha.
Mereka naik lift yang memang tersedia di apartemen itu. Fatan memencet tombol angka 3 dan lift pun bergerak naik sampai ke lantai 3.
Begitu sampai di apartemen Fatan, Mitha dibuat tercengang dengan keadaan apartemen Fatan. Apartemen itu walaupun tidak terlalu besar dan mewah, akan tetapi isinya sangat lengkap dan nyaman. Semua perabotan sudah tersedia di sana. Semuanya serba baru. Fatan juga sudah menyediakan ranjang bayi dan beraneka barang - barang keperluan untuknya dan juga untuk bayi mereka. Semua barang - barang itu di letakkan jadi satu di dalam kamar mereka.
Mitha sampai tak bisa bicara sangking suprisenya. Rupanya Fatan memang benar-benar sudah mempersiapkan semua itu untuk dirinya dan juga untuk bayi mereka. Mitha jadi terharu oleh apa yang telah Fatan lakukan.
Pandangan Mitha kemudian beralih ke arah jendela kamar mereka. Pandangannya terpaku ke arah pemandangan di luar jendela. Matanya berbinar - binar saat menatap ke luar.
"Astaga, pemandangan di sini sangat indah." serunya seraya menatap kagum ke arah pemandangan kota dari atas yang terlihat begitu menakjubkan. Deretan gedung - gedung pencakar langit dan juga bangunan - bangunan di bawah sana, sungguh sangat indah dipandang.
"Bagaimana? Apakah kamu bersedia tinggal di sini bersamaku ?" tanya Fatan penuh harap. Matanya menatap Mitha penuh harap.
Sejenak Mitha ragu. Apakah dia mampu untuk hidup serumah dengan cowok itu. Tapi Mitha merasa tak tega untuk menolak keinginan Fatan. Suaminya itu terlihat begitu bersungguh-sungguh ingin membina rumah tangga bersamanya.
" Please, Mitha. Aku mohon, hiduplah bersamaku. Kita belajar bersama mengarungi bahtera rumah tangga ini. Rumah tangga yang isinya aku, kamu , dan anak kita.Jika kamu ragu akan kesungguhanku, bertahanlah setidaknya sampai anak kita lahir. Aku akan menyerahkan semua keputusan di tanganmu. Apakah kamu tetap ingin melanjutkan hubungan kita atau memilih bercerai dariku."
Kerongkongan Mitha terasa tercekat mendengar ucapan Fatan. Baru hari ini dia mendengar Fatan bicara sebijak dan setulus ini. Mitha tak sanggup lagi untuk berkata - kata. Dia hanya mengangguk sambil meremas kedua tangannya.
Wajah Fatan langsung berubah cerah saat melihat anggukan kepala Mitha. Dia langsung memeluk Mitha sambil tak hentinya mencium ujung kepala Mitha. Ciuman itu kemudian turun ke perut Mitha. "Selamat datang di rumah kita, anak papa tersayang." bisiknya pada jabang bayi di perut Mitha.
Mitha sungguh terharu. Ada bahagia yang membuncah di dadanya. Sikap Fatan yang manis perlahan-lahan mengikis habis rasa takut dan juga ragu yang tadi sempat singgah sesaat di hatinya.
Fatan kembali memeluk Mitha dengan erat sambil berputar - putar di ruangan itu. Kemudian berhenti saat mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Tapi, Mitha. Aku mau minta maaf padamu." ucapnya ragu. Mitha menatap heran pada Fatan.
" Minta maaf untuk apa?" tanya Mitha heran.
" Aku tak mampu menyediakan apartemen yang layak untukmu. Apartemen ini terlalu kecil dan tidak mewah. Mungkin jauh dari kata nyaman. Tapi aku janji, suatu saat aku akan memberikan kepadamu sebuah apartemen yang lebih besar dari ini." ucapnya bersungguh-sungguh.
" Astaga.... aku kira apa, Kak. Ini saja aku sudah merasa sangat beruntung. Kakak sudah mau bersusah payah memikirkan kami berdua. Padahal pernikahan kita ini hanya.... "
Belum selesai Mitha berucap, bibirnya sudah dibungkam Fatan dengan ciuman lembut yang lama dan dalam. Mitha yang tak menyangka akan mendapat serangan mendadak ini hanya bisa pasrah. Pada akhirnya, dia juga menikmati ciuman Fatan yang semakin lama semakin panas dan menuntut.
Bahkan tak hanya itu, tangan Fatan juga sudah meremas dua gundukan Mitha yang kini sudah mulai mengeluarkan air.
" Akhhh.... " satu ******* berhasil lolos dari mulut Mitha membuat Fatan semakin terbakar gairah.
" Kak Fatan... " desahnya menyebut nama Fatan diantara deru napasnya yang kian memburu. Tubuh Mitha menegang tak kala tangan Fatan semakin jauh bergerilya. Kini tangan itu sudah menyentuh titik sensitifnya, membuat suara laknat itu kembali terlontar.
Fatan tersadar saat mendengar suara panggilan Mitha. Dia segera menghentikan cumbuannya.
"Jangan pernah ucapkan kalimat itu lagi atau aku akan menghukummu lagi seperti tadi... " bisik Fatan dengan nafas memburu. Matanya sudah di penuhi oleh kabut gairah. Perlahan, dia kemudian melepaskan pelukannya pada Mitha sebelum akhirnya melangkah masuk ke kamar mandi. Dia memilih menuntaskan semua hasratnya di dalam sana.
Mitha sendiri sudah terpejam sejak tadi menikmati setiap ciuman yang dilabuhkan Fatan di bibirnya. Bahkan hangatnya setiap sentuhan bibir Fatan di setiap inci tubuhnya, masih dapat dia rasakan. Mitha bergidik sendiri. Entahlah, selama masa kehamilan ini. Mitha suka sekali jika disentuh oleh Fatan. Dia juga tak memungkiri, jika hasratnya kadang bangkit oleh sentuhan cowok itu.
...------...
"Mbak Mira, ibu belum pulang, ya...?" tanya Sultan yang tiba-tiba sudah berada di belakang Mira.
Wanita itu kaget bukan kepalang karena tak mengetahui kedatangan anak majikannya tersebut. Tumben sekali anak majikannya itu sudah pulang jam segini. Ini masih pagi, baru juga pukul sepuluh pagi.
" Belum, Mas... " jawabnya. Sejenak perempuan itu menatap ke arah Sultan dengan pandangan cemas. " Apa Mas Sultan sedangkan sakit atau butuh sesuatu..?" tanyanya lagi.
" Tidak, aku hanya ingin minum obat, tapi aku belum makan sejak tadi. Apa kamu ada sedikit makanan buatku."
" Oh, kalo cuma sekedar nasi dan lauk sekedarnya saja ada sih, Mas." jawab Mira dengan wajah menunduk. Dia tampak segan dan takut dengan anak majikannya itu.
Wanita itu segara menyiapkan nasi dan juga dadar telur yang dia buatkan untuk Sultan dan segera menghidangkannya ke hadapan Sultan.
__ADS_1
" Ini, Mas. Cuma ada nasi dan juga telur dadar. Soalnya saya belum selesai masak sayur dan ikannya."
" Nggak papa, Mbak, itu saja sudah cukup. Cuma buat mau isi perut saja, agar tidak kosong saat minum obat. Terima kasih, ya Mbak Mira. " ucapnya tulus.
Mira mengangguk dan kemudian membalikan badannya bermaksud hendak kembali lagi ke dapur. Namun sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya.
Mira langsung berbalik menatap ke arah Sultan kemudian beralih ke arah tangannya yang masih dicekal Sultan.
" Ada apa, Mas.. Mas nya masih membutuhkan saya? " tanyanya masih dengan ekspresi bingung.
" Temani aku makan, mira.. " jawabnya. Tak ada lagi sapaan Mbak di depan kata Mira.
Sejenak mulut Mira terbuka lebar. Dia bukan main terkejutnya mendengar permintaan anak majikannya itu. Aduh, Bagaimana ini, jantung Mira berdegup kencang.
" Tapi, Mas.... " ucapnya ragu - ragu.
" Tolong, Mbak. Aku tak biasa makan sendiri. Biasanya ibu selalu duduk di depanku, menemani aku makan. Ayo Mbak, temani aku sebentar... " Sultan meminta sekali lagi kepada Mira.
Akhirnya Mira mengalah. Dia duduk di depan Sultan. Senyum kemenangan tertarik dari sudut bibirnya.. Yes..! pekik Sultan dalam hati. Dia bersorak kegirangan karena Mira bersedia menemani dia makan.
Tanpa malu - malu, Sultan makan di hadapan Mira.
" Mbak tolong potongkan telurnya." pintanya lagi.
Dengan sabar, Mira memotong - motong telur dadar yang ada di piring hingga menjadi beberapa bagian kecil.
" Ini, Mas. Sudah saya potong kecil - kecil." kata Mira sambil menyodorkan piring telur ke depan Sultan.
"Terima kasih, Mbak" ucap Sultan lalu mencomot telur dadar yang sudah dipotong - potong itu dan memakannya bersama nasi.
Tak lama kemudian, Sultan sudah selesai makan. Mira menuangkan air putih untuk anak majikannya itu agar Sultan bisa minum air sesudah makan sekaligus mengkonsumsi obatnya.
" Mas Sultan sudah selesai, saya mau pamit ke belakang. Kerjaan saya masih banyak. Nanti ibunya Mas datang, saya nggak enak jika belum selesai." kata Mira seraya membersihkan meja makan dan membereskan piring bekas makan Sultan.
"Iya, Terima kasih, Mira. " ucap Sultan seraya berdiri beranjak meninggalkan dapur.
__ADS_1
" Sama - sama, Mas." jawab Mira sambil tersenyum.
Sultan langsung melongo melihat senyum Mira. Alamak, Manis banget, pikirnya. Mati kakak, dek.!!!!!