Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.

Kau Renggut Mahkotaku, Ku Curi Hatimu.
Bab. 34 Diam - Diam Rindu


__ADS_3

Mitha merebahkan diri di kasur kecil yang tersedia di kamar itu. Kamar yang sederhana namun cukup nyaman dan juga tenang.


Tak berapa lama, Mitha pun akhirnya tertidur pulas.


...-----...


POV Fatan......


Aku membuka mata saat mendengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan.


Aku terpaksa tidur di rumah sakit setelah puas berputar - putar mengelilingi hampir seluruh wilayah kota ini untuk mencari Mitha.


" Maaf, saya kira tidak ada orang, dok." Pak Amat, salah seorang office boy yang bertugas membersihkan ruangan ini tampak gugup dan merasa sungkan. Mungkin dia tak enak karena sudah mengganggu istirahatku.


" Nggak papa, Pak Amat. Saya juga memang harus bangun karena jam delapan ada kunjungan dokter. Oh ya, pukul berapa sekarang, Pak Amat? " tanyaku pada Pak Amat sambil mengusap wajah. Rasa kantukku masih belum sepenuhnya hilang. Aku tak ingat persis jam berapa aku berada di rumah sakit ini, namun rasa - rasanya aku belum lama lagi tertidur.


" Baru jam setengah tujuh, Dok." jawabnya.


Aku segera beranjak ke kamar kecil untuk membersihkan diri. Aku memang sering menginap di rumah sakit ini selama menjadi dokter koas sehingga aku menaruh beberapa perlengkapan di loker agar aku tak perlu repot lagi jika harus menginap di sini.


Hanya butuh beberapa menit, aku sudah selesai membersihkan diri. Kutatap pantulan wajahku di cermin. Terlihat jelas kantung mata yang menggantung di bawah kelopak mataku.


" Akh.... Mitha, dimana kamu. Maafkan aku. Aku tak bermaksud berkata demikian. Aku hanya kesal saja karena melihatmu lebih peduli pada Edo ketimbang padaku" sesalku dalam hati.


Kuhela nafas panjang mencoba untuk mengusir beban dari rasa bersalah yang menggayut di hatiku. Aku juga cemas jika memikirkan keadaan Mitha yang sedang hamil. Bagaimana keadaannya sekarang. Apakah dia baik - baik saja...


Aku berdoa semoga dia dan juga bayi kami dalam keadaan baik - baik saja.


Pak Amat sudah selesai membersihkan ruangan tersebut ketika aku kembali lagi. Ku lihat beberapa rekanku sesama dokter koas juga sudah banyak yang hadir.

__ADS_1


" Dokter Fatan, ditunggu dokter Erika di ruang Ortopedi." kata Dokter Edwin, teman sesama dokter koas yang baru saja datang. Aku menepuk jidat. Hampir saja aku lupa jika hari ini aku akan bertemu dengan dokter Erika. sekarang dia yang menjadi dokter atasanku selama residen. Dia adalah salah satu dokter ortopedi yang terkenal cerdas dan memiliki jam terbang yang lumayan tinggi dalam menangani kasus penyakit tulang.


" Oh, iya. Ini juga saya akan segera ke sana, Dok...? " jawabku.


" Wah, dokter Fatan beruntung banget, pagi - pagi sudah ditunggu wanita cantik, dokter lagi.... " seloroh dokter Edwin.


Beberapa temanku yang juga sesama dokter koas langsung tertawa terbahak - bahak mendengar seloroh dokter Edwin.


Memang tak bisa dipungkiri, dokter Erika yang masih berstatus singel itu menjadi incaran banyak lelaki tak terkecuali para dokter di sini. Bukan hanya para dokter senior yang masih singel, tetapi juga para dokter koas.


" Itu sudah biasa, Dok. Bukan hal yang aneh bagi saya. Jangankan dokter Erika, pasien saya saja banyak yang tergila-gila sama dia, hahaha... " canda dokter Dipta. Dia adalah dokter atasan kami semua di sini.


" Hahaha,.... " tawa mereka semakin riuh menyambut candaan dokter Dipta.


Aku hanya meringis ketika mendengar candaan dokter Dipta. Sepertinya aku harus cepat - cepat keluar sebelum jadi bahan bulian mereka.


" Jangan lupa, jam delapan kita ada kunjungan pasien. Pastikan jam delapan kamu sudah ada di sana." ucapnya.


" Pasti, Dok." jawabku lalu menghilang di balik pintu. Sempat ku dengar celetuk salah seorang teman, " Sudah lampu hijau, bro. Tunggu apa lagi... " yang langsung disambut tawa oleh teman - temanku yang lain.


Andai saja mereka tahu, jika aku sudah menikah, pastilah mereka tak akan bicara seperti itu. Mendadak aku teringat Mitha. Dimana istriku itu sekarang? Bagaimana keadaannya..? Mengingat hal itu, aku menjadi tak bersemangat untuk memulai hari ini. Namun yang namanya tugas dan kewajiban, terpaksa aku akhirnya melangkahkan kaki menuju ke ruangan Ortopedi untuk bertemu dokter Erika.


Aku melewatkan jam makan siang karena kesibukan yang sangat menyita waktu. Mulai dari membahas masalah prosedur operasi pengangkatan tulang pada pasien yang mengalami pembusukan tulang, hingga kunjungan pasien. Dan terakhir adalah prosedur operasi pengangkatan tulang pada pasien dokter Erika hingga siang harinya ada pasien gawat fraktura akibat kecelakaan yang baru masuk.


Sore hari, barulah kesibukanku sedikit berkurang. Aku bergegas keluar dari rumah sakit untuk pulang ke. rumah. Rencananya, aku akan kembali mencari Mitha setelah pulang ke rumah dan berganti baju.


Semoga saja aku cepat menemukan Mitha sebelum papa dan mommy datang. Jika tidak, bakalan siap - siap di depak dari kartu keluarga.


......................

__ADS_1


POV Mitha.....


Sudah hampir satu minggu aku berada di rumah Mas Sultan. Dan selama itu juga aku tak pernah mengaktifkan handphone aku. Hingga hari ini, saat aku kembali menghidupkan handphoneku, ratusan panggilan tak terjawab dan chat langsung memenuhi catatan notifikasi di hapeku. Beberapa diantaranya berasal dari Gadis dan Edo. Juga ada panggilan tak terjawab dari mamaku dan juga Mommy Amel.


" Mitha, dimana kamu. Aku mohon maaf atas ucapanku kemarin. Aku tak bermaksud untuk mengatakan hal itu. Saat itu, aku sedang kesal dan marah padamu karena kamu lebih peduli pada Edo dari pada aku suamimu. Aku marah dan cemburu. Iya, aku cemburu karena melihat betapa pedulinya kamu kepada lelaki itu dari pada aku. Padahal di sini, jelas - jelas aku yang merasa terpojokkan atas semua yang Edo lakukan. Pikirkanlah, suami mana yang tak marah jika melihat ada lelaki lain yang merayu istrinya di depan mata. Namun, apa pun itu, aku juga bersalah padamu. Maaf, aku telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku ucapkan. Aku rela bersujud di kakimu, asal kamu mau memaafkan diriku dan kembali lagi padaku. Aku mohon, pulanglah.....


Itu adalah salah satu pesan yang dikirimkan Fatan yang isinya lumayan panjang. Selebihnya adalah chat pendek yang isinya semuanya sama, menanyakan dimana keberadaanku dan juga permohonan maaf yang ujung-ujungnya meminta diriku untuk pulang.


Aku menghela nafas karena mendadak dadaku terasa kebas. Ada nyeri yang menusuk. Perempuan murahan. Mengapa kata - kata itu selalu saja terngiang-ngiang di telingaku.


Serendah itukah aku dalam pandangan Fatan. Bukan aku yang menyerahkan diriku padanya. Bukan juga aku yang menawarkan diriku pada Edo. Tapi mengapa dia tega mengatakan hal itu. Aku sakit hati. Harga diriku serasa diinjak-injak dan direndahkan oleh orang yang mengaku sebagai suamiku.


Aku memukul dadaku sendiri karena tak tahan sakitnya. Hingga tanpa sadar aku terisak sambil memegangi dadaku yang masih terasa sakit.


" Dek Mitha, dicari ibu, loh... " Mas Sultan tiba-tiba datang mengagetkan diriku yang sedang menangis diam - diam. Cepat - cepat aku mengusap air mataku dan berbalik menoleh ke arah dirinya


" Ada apa, ya Mas? " Aku langsung beranjak. "Apa ibu Mas Sultan, perlu bantuan? " tanyaku lagi. Diam - diam aku mengemas sisa - sisa air mata yang masih kurasa mengalir di sudut mataku.


Mas Sultan hanya mengangkat bahu. Dia kemudian berjalan mendekati diriku yang sudah berdiri dan bersiap untuk masuk ke dalam.


" Siapa Fatan? Apakah dia suamimu, Dek? " tanya Mas Sultan tiba-tiba.


Aku tergagap mendengar pertanyaan Mas Sultan. Dari mana dia mengetahui tentang Fatan. Rasa - rasanya aku tak pernah bercerita apapun tentang diriku dan juga tentang Fatan kepada Mas Sultan semalam.


"Tadi malam kamu mengigau dan menyebut namanya sambil menangis."


Astaga, benarkah apa yang baru saja Mas Sultan katakan itu..? Aku mengigau menyebut nama Fatan.


...?????...

__ADS_1


__ADS_2